Kamis, 20 Februari 2020

Kisah Peperangan Sayidina Kholid Bin Walid Rd


Di dalam kitab Tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah oleh Ibnu Katsir disebutkan sebagai berikut :

اِسْتَهَلَتْ هذِهِ السَّنَةَ وَجُيُوْشُ الصّدّيْقِ وَ اُمَرَاؤُهُ الَّذِيْنَ بَعَثَهُمْ لِقِتَالِ اَهْلِ الرّدَّةِ جَوَّالُوْنَ فِي الْبِلاَدِ يَمِيْنًا وَ شِمَالاً لِتَمْهِيْدِ قَوَاعِدِ اْلاِسْلاَمِ وَ قِتَالِ الطُّغَاةِ مِنَ اْلاَنَامِ حَتَّى رَدَّ شَارِدُ الدّيْنِ بَعْدَ ذَهَابِهِ وَرَجَعَ الْحَقُّ اِلىَ نِصَابِهِ وَ تَمَهَّدَتْ جَزِيْرَةُ الْعَرَبِ وَ صَارَ الْبَعِيْدُ اْلاَقْصَى كَالْقَرِيْبِ اْلاَدْنَى.

Pada tahun ini pasukan muslimin yang dikirim oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memerangi kaum murtad dan para pemimpinnya telah tersebar berkeliling di negeri-negeri ke kanan dan ke kiri untuk meletakkan dan memperkokoh kekuatan Islam dan memerangi orang-orang yang dhalim sehingga mengembalikan wibawa agama ini setelah hilangnya, dan kebenaran kembali ke asalnya dan seluruh jazirah 'Arab menjadi mudah dijangkau, bahkan tempat yang sangat jauhpun terasa sangat dekat.

وَ قَدْ قَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ عُلَمَاءِ السَّيْرِ وَ التَّوَارِيْخِ اِنَّ وَقْعَةَ الْيَمَامَةِ كَانَتْ فِي رَبِيْعِ اْلاَوَّلِ مِنْ هذِهِ السَّنَةِ، وَ قِيْلَ اِنَّهَا كَانَتْ فِي اَوَاخِرِ الَّتِيْ قَبْلَهَا، وَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْقَوْلَيْنِ اَنَّ اِبْتِدَاءَهَا كَانَ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَ انْتِهَاءَهَا وَقَعَ فِي هذِهِ السَّنَةِ اْلآتِيَةِ.

Segolongan ahli sejarah dan tarikh mengatakan bahwa perang Yamamah terjadi pada bulan Rabi'ul awwal tahun ini, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa peperangan tersebut terjadi pada akhir tahun sebelumnya (11H). Namun kedua pendapat tersebut bisa dikompromikan bahwa peperangan Yamamah itu dimulai tahun lalu (11 H) dan selesainya tahun berikutnya (12 H). [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 736]

وَقَدْ قِيْلَ اِنَّ وَقْعَةَ جُوَاثَا وَ عُمَانَ وَ مَهْرَةَ وَ مَا كَانَ مِنَ الْوَقَائِعِ الَّتِي اَشَرْنَا اِلَيْهَا اِنَّمَا كَانَتْ فِي سَنَةِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ وَ فِيْهَا كَانَ قُتِلَ الْمُلُوْكُ اْلاَرْبَعَةُ حَمْدٌ وَ مَحْرَسٌ وَ اَبْضَعَةُ وَ مَشْرَحَا وَ اُخْتُهُمُ الْعَمْرَدَةُ الَّذِيْنَ وَرَدَ الْحَدِيْثُ فِي مُسْنَدِ اَحْمَدَ بِلَعْنِهِمْ وَ كَانَ الَّذِيْ قَتَلَهُمْ زِيَادُ بْنُ لَبِيْدٍ اْلاَنْصَارِيُّ

Dan ada yang mengatakan bahwa perang di Juwatsa, Oman, Mahrah dan peristiwa-peristiwa yang telah kami tunjukkan itu terjadi pada tahun 12 H, yang dalam peperangan tersebut terbunuh 4 orang raja yang terla'nat, yaitu Hamdun Mahros, Abdla'ah dan Masyroha, dan saudara perempuan mereka 'Amrodah yang dibunuh oleh Ziyaad bin Labiid Al-Anshariy sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Ahmad. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 736]

Pengiriman Khalid bin Walid ke negeri 'Iraq.
 لَمَّا فَرَغَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيْدِ مِنَ الْيَمَامَةِ بَعَثَ اِلَيْهِ الصّدّيْقُ اَنْ يَسِيْرَ اِلىَ الْعِرَاقِ وَ اَنْ يَبْدَأَ بِفَرْجِ الْهِنْدِ وَ هِيَ اْلاُبُلَّةُ وَ يَأْتِيَ اْلعِرَاقَ مِنْ اَعَالِيْهَا، وَ اَنْ يَتَأَلَّفَ النَّاسَ وَ يَدْعُوَهُمْ اِلىَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ، فَاِنْ اَجَابُوْا، وَ اِلاَّ اَخَذَ مِنْهُمُ الْجِزْيَةَ، فَاِنِ امْتَنَعُوْا عَنْ ذلِكَ قَاتَلَهُمْ، وَ اَمَرَهُ اَنْ لاَ يُكْرِهَ اَحَدًا عَلَى الْمَسِيْرِ مَعَهُ وَلاَ يَسْتَعِيْنَ بِمَنْ اِرْتَدَّ عَنِ اْلاِسْلاَمِ وَ اِنْ كَانَ عَادَ اِلَيْهِ، وَ اَمَرَهُ اَنْ يَسْتَصْحِبَ كُلَّ امْرِئٍ مَرَّ بِهِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Setelah Khalid bin Walid selesai dari menaklukkan Yamamah, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan Khalid bin Walid supaya ke 'Iraq dan agar memulai dari selat Hindia (Faraj Al-Hindi), yaitu yang terkenal dengan nama Al-Ubullah, kemudian barulah menuju ke 'Iraq dari daerah bagian atasnya.

Abu Bakar memerintahkan kepada Khalid untuk menarik hati masyarakat dan mengajak mereka agar menyembah Allah 'Azza wa Jalla. Maka jika mereka mau menerima ajakan itu, mereka selamat. Jika mereka tidak mau, maka Khalid supaya mengambil jizyah dari mereka. Dan jika mereka menolak jizyah, maka mereka supaya diperangi. Abu Bakar berpesan kepada Khalid agar tidak memaksa seorangpun untuk ikut pasukannya. Dan supaya tidak meminta bantuan kepada orang yang murtad dari Islam meskipun ia telah kembali kepada Islam. Dan Abu Bakar berpesan agar Khalid bersikap ramah terhadap orang Islam yang ditemuinya.

وَ شَرَعَ اَبُوْ بَكْرٍ فِي تَجْهِيْزِ السَّرَايَا وَ الْبُعُوْثَ وَ الْجُيُوْشَ اِمْدَادًا لِخَالِدٍ رض، قَالَ الْوَاقِدِيُّ اُخْتُلِفَ فِي خَالِدٍ فَقَائِلٌ يَقُوْلُ مَضَى مِنْ وَجْهِهِ ذلِكَ مِنَ الْيَمَامَةِ اِلىَ الْعِرَاقِ وَ قَائِلٌ يَقُوْلُ رَجَعَ مِنَ الْيَمَامَةِ اِلىَ الْمَدِيْنَةِ ثُمَّ سَارَ اِلىَ الْعِرَاقِ مِنَ الْمَدِيْنَةِ فَمَرَّ عَلَى طَرِيْقِ الْكُوْفَةِ حَتَّى انْتَهَى اِلىَ الْحِيْرَةِ. قُلْتُ: وَ الْمَشْهُوْرُ الْاَوَّلُ.

Setelah itu Abu Bakar mulai mempersiapkan pasukan dan tentaranya untuk dikirim sebagai bala bantuan pasukan Khalid RA. Al-Waqidi berkata, "Ahli sejarah berbeda pendapat tentang berangkatnya pasukan Khalid ini. Ada yang mengatakan bahwa Khalid berangkat langsung dari Yamamah menuju 'Iraq. Dan ada yang mengatakan bahwa Khalid kembali terlebih dahulu ke Madinah baru berangkat menuju 'Iraq melalui jalan Kufah hingga berhenti di Al-Hiiroh. Aku (Ibnu Katsir) berkata, "Yang masyhur adalah pendapat yang pertama tadi". [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 737]

Tanggal keberangkatan Khalid ke 'Iraq.

وَ قَدْ ذَكَرَ الْمَدَائِنِيُّ بِاِسْنَادِهِ اَنَّ خَالِدًا تَوَجَّهَ اِلىَ الْعِرَاقِ فِي الْمُحَرَّمِ سَنَةَ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ فَجَعَلَ طَرِيْقَهُ الْبَصْرَةَ وَ فِيْهَا قَطْبَةُ بْنُ قَتَادَةَ وَ عَلَى اْلكُوْفَةِ الْمُثَنَّى بْنُ حَارِثَةَ الشَّيْبَانِيُّ وَ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ اِسْحَاقَ عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ اِنَّ اَبَا بَكْرٍ كَتَبَ اِلىَ خَالِدٍ اَنْ يَسِيْرَ اِلىَ الْعِرَاقِ، فَمَضَى خَالِدٌ يُرِيْدُ الْعِرَاقَ حَتَّى نَزَلَ بِقَرَيَاتٍ مِنَ السَّوَادِ يُقَالُ لَهَا بَانْقِيَا وَ بَارْسُوْمَا وَ صَاحِبُهَا حَابَانُ فَصَالَحَهُ اَهْلُهَا. قُلْتُ وَقَدْ قَتَلَ مِنْهُمُ الْمُسْلِمُوْنَ قَبْلَ الصُّلْحِ خَلْقًا كَثِيْرًا، وَ كَانَ الصُّلْحُ عَلَى اَلْفِ دِرْهَمٍ وَ قِيْلَ دِيْنَارٍ فِي رَجَبَ، وَ كَانَ الَّذِي صَالَحَهُ بُصْبُهْرَي بْنُ صَلُوْبَا وَ يُقَالُ صَلُوْبَا بْنُ بُصْبُهْرَي، فَقَبِلَ مِنْهُمْ خَالِدٌ وَ كَتَبَ لَهُمْ كِتَابًا

Al-Madainiy menyebutkan dengan sanadnya bahwa Khalid bergerak menuju 'Iraq pada bulan Muharram tahun 12 H melalui jalan Bahsrah. Ketika itu gubernur di sana bernama Qothbah bin Qatadah, sedangkan gubernur di Kufah bernama Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibaniy.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Shalih bin Kaisan, ia berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar menulis surat kepada Khalid agar berjalan menuju 'Iraq. Maka bergeraklah Khalid menuju 'Iraq, sehingga ia berhenti di beberapa kota, seperti Baniqiya dan Barsuma (Barusma) yang wali kotanya pada waktu itu bernama Haaban. Kemudian penduduk kota ini memilih damai dengan pasukan Khalid. Aku (Ibnu Katsir) berkata, sebelumnya pasukan muslimin telah berperang dengan mereka, sehingga dari mereka banyak yang terbunuh, akhirnya mereka berdamai dengan syarat mereka membayar jizyah sebanyak 1.000 dirham, ada yang mengatakan 1.000 dinar. Kesepakatan damai ini terjadi pada bulan Rajab dan ditandatangani oleh Bushbuhra bin Shaluba (ada yang mengatakan Shaluba bin Bushbuhra). Khalid menerima perdamaian ini serta menuliskan untuk mereka jaminan keamanan. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 737]

ثُمَّ اَقْبَلَ حَتَّى نَزَلَ الْحِيْرَةَ فَخَرَجَ اِلَيْهِ اَشْرَافُهَا مَعَ قَبِيْصَةَ بْنِ اِيَاسِ بْنِ حَيَّةَ الطَّائِيّ وَ كَانَ اَمَّرَهُ عَلَيْهَا كِسْرَى بَعْدَ النُّعْمَانِ بْنِ الْمُنْذِرِ. فَقَالَ لَهُمْ خَالِدٌ: اَدْعُوْكُمْ اِلىَ اللهِ وَ اِلىَ اْلاِسْلاَمِ، فَاِنْ اَجَبْتُمْ اِلَيْهِ فَاَنْتُمْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، لَكُمْ مَا لَهُمْ وَ عَلَيْكُمْ مَا عَلَيْهِمْ، فَاِنْ اَبَيْتُمْ فَالْجِزْيَةُ، فَاِنْ اَبَيْتُمْ فَقَدْ اَتَيْتُكُمْ بِاَقْوَامٍ هُمْ اَحْرَصُ عَلَى الْمَوْتِ مِنْكُمْ عَلَى الْحَيَاةِ، جَاهَدْنَاكُمْ حَتَّى يَحْكُمَ اللهُ بَيْنَنَا وَ بَيْنَكُمْ.

فَقَالَ لَهُ قَبِيْصَةُ: مَالَنَا بِحَرْبِكَ مِنْ حَاجَةٍ بَلْ نُقِيْمُ عَلَى دِيْنِنَا وَ نُعْطِيْكُمُ الْجِزْيَةَ. فَقَالَ لَهُمْ خَالِدٌ: تَبًّا لَكُمْ اِنَّ اْلكُفْرَ فَلاَةٌ مُضِلَّةٌ فَاَحْمَقُ الْعَرَبِ مَنْ سَلَكَهَا. ثُمَّ صَالَحَهُمْ عَلَى تِسْعِيْنَ اَلْفًا وَ فِي رِوَايَةٍ مِائَتَيْ اَلْفِ دِرْهَمٍ فَكَانَتْ اَوَّلَ جِزْيَةٍ اُخِذَتْ مِنَ الْعِرَاقِ وَ حُمِلَتْ اِلىَ الْمَدِيْنَةِ هِيَ وَ الْقَرَيَاتُ قَبْلَهَا الَّتِى صَالَحَ عَلَيْهَا ابْنُ صَلُوْبَا.

Kemudian Khalid bin Walid melanjutkan perjalanan hiigga berhenti di Al-Hiirah. Kemudian keluarlah para pembesar kota tersebut bersama Qabiishah bin Iyaas bin Hayyah Ath-Thoo'iy, dia yang diangkat oleh Kisra sebagai penguasa kota itu setelah An-Nu'maan bin Mundzir. Kemudian Khalid berkata kepada mereka, "Aku mengajak kalian untuk menyembah Allah dan masuk Islam. Maka jika kalian mau menerimanya, maka kalian akan diperlakukan sama dengan kaum muslimin, dan kalian mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan mereka. Tetapi jika kalian tidak mau masuk Islam, maka kalian harus membayar jizyah. Tetapi kalau kalian menolaknya, maka sungguh aku datang kepada kalian dengan membawa orang-orang yang mereka itu sangat mengharapkan mati sebagaimana kalian sangat mengharapkan untuk hidup. Maka kami akan memerangi kalian sehingga Allah memberi keputusan antara kami dengan kalian".

Kemudian Qabiishah memberi jawaban, "Kami tidak menginginkan berperang dengan kamu, tetapi kami ingin tetap berada pada agama kami, dan kami bersedia membayar jizyah kepada kalian". Khalid berkata, "Celaka kalian, sesungguhnya kekafiran itu adalah pemikiran yang menyesatkan, dan sebodoh-bodoh orang 'Arab adalah orang yang  memilih jalan itu". Kemudian Khalid menerima perdamaian dengan mereka itu dengan perjanjian membayar jizyah sebesar 90.000 dirham. (dalam riwayat lain 200.000 dirham). Jizyah ini dan jizyah yang dari kota-kota sebelumnya yang diberikan oleh Ibnu Sholuba adalah merupakan pertama kali jizyah yang diambil dari daerah 'Iraq yang dikirimkan ke Madinah. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 737]

Khalid bin Walid berkirim surat ke Al-Madaain.

Kemudian Khalid bin Walid mengirim surat kepada para pejabat Kisra di Al-Madaain, kepada para penguasa dan para pembantunya, sebagaimana yang disebutkan oleh Hisyam bin Al-Kalbiy dari Abu Mukhonnaf dari Mujaahid dari Asy-Sya'biy, ia berkata, "Bani Baqiilah telah membacakan kepadaku suratnya Khalid bin Walid kepada penguasa di Madaain itu, sebagai berikut :

مِنْ خَالِدٍ ابْنِ الْوَلِيْدِ اِلىَ مَرَازِبَةِ اَهْلِ فَارِسَ.

سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى. اَمَّا بَعْدُ فَالْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ فَضَّ خَدَمَكُمْ وَ سَلَبَ مُلْكَكُمْ وَ وَهَّنَ كَيْدَكُمْ وَ اِنَّ مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَ اسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَ اَكَلَ ذَبِيْحَتَنَا فَذلِكُمُ الْمُسْلِمُ الَّذِيْ لَهُ مَالَنَا وَ عَلَيْهِ مَا عَلَيْنَا، اَمَّا بَعْدُ فَاِذَا جَاءَكُمْ كِتَابِي فَابْعَثُوْا اِلَيَّ بِالرَّهْنِ وَ اعْتَقِدُوْا مِنّي الذّمَّةَ وَ اِلاَّ فَوَالَّذِيْ لاَ اِلهَ غَيْرُهُ لاَبْعَثَنَّ اِلَيْكُمْ قَوْمًا يُحِبُّوْنَ الْمَوْتَ كَمَا تُحِبُّوْنَ اَنْتُمُ الْحَيَاةَ.

Dari Khalid bin Walid kepada para penguasa penduduk Persia.

Keselamatan semoga tercurahkan kepada siapasaja yang mau mengikuti petunjuk. Adapun sesudah itu, maka segala puji bagi Allah yang akan mencerai-beraikan para pembantu kalian dan yang akan melepas kerajaan kalian dan melemahkan tipu daya kalian. Sesungguhnya barangsiapa yang mau melaksanakan shalat sebagaimana shalat kami, menghadap qiblat kami, dan memakan sembelihan kami, maka itulah yang namanya orang Islam. Adapun sesudah itu, maka apabila telah datang suratku ini kepada kalian, maka kirimkanlah jaminan kalian kepadaku dan percayalah kalian akan mendapatkan jaminan perlindungan dariku. Tetapi jika kalian tidak mau, maka Demi Tuhan yang tidak ada Tuhan selain Dia, sungguh aku akan mengirimkan kepada kalian orang-orang yang mereka itu cinta mati sebagaimana kamu sekalian cinta hidup. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 738]

Penaklukan selat Hindia (perang Dzaatus Salaasil)

Ketika Khalid berangkat dari Yamamah menuju 'Iraq, Khalid membagi pasukannya menjadi 3 (tiga) bagian, dan mereka tidak melewati satu jalan, salah satu pasukannya yang dipimpin oleh Mutsanna dengan penunjuk jalannya Dhofar, mereka datang dua hari sebelum kedatangan Khalid. Sedangkan pasukan yang dipimpin 'Adiy bin Hatim dan 'Ashim bin 'Amr dengan penunjuk jalannya Malik bin 'Abbad dan Salim bin Nashr, kedatangan mereka pun tidak berama, yaitu selisih satu hari. Sedangkan pasukan Khalid dengan penunjuk jalannya Raafi', berangkatnya paling akhir. Dan mereka semua itu telah sepakat untuk bertemu di Al-Hafir, baru kemudian memerangi musuh.

Di dalam kitab Tarikh Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan sebagai berikut :
وَ كَانَ فَرْجُ الْهِنْدِ اَعْظَمَ فُرُوْجِ فَارِسَ بَأْسًا وَ اَشَدَّهَا شَوْكَةً، وَ كَانَ صَاحِبُهُ يُحَارِبُ فِي الْبَرّ وَ الْهِنْدِ فِي الْبَحْرِ وَ هُوَ هُرْمُزٌ. فَكَتَبَ اِلَيْهِ خَالِدٌ. فَبَعَثَ هُرْمُزٌ بِكِتَابِ خَالِدٍ اِلىَ شِيْرَي بْنِ كِسْرَى وَ اَرْدِشِيْرَ بْنِ شِيْرَي، وَ جَمَعَ هُرْمُزٌ وَ هُوَ نَائِبُ كِسْرَى جُمُوْعًا كَثِيْرَةً، وَ سَارَ بِهِمْ اِلىَ كَاظِمَةَ، وَ عَلَى مُجَنَّبَتَيْهِ قُبَاذُ وَ اَنُوْشَجَانَ وَ هُمَا مِنْ بَيْتِ الْمَلِكِ، وَقَدْ تَفَرَّقَ الْجَيْشُ فِي السَّلاَسِلِ لِئَلاَّ يَفِرُّوْا. وَ كَانَ هُرْمُزُ هذَا مِنْ اَخْبَثِ النَّاسِ طَوِيَّةً وَ اَشَدّهِمْ كُفْرًا، وَ كَانَ شَرِيْفًا فِي الْفُرْسِ. وَ كَانَ الرَّجُلُ كُلَّمَا ازْدَادَ شَرَفًا زَادَ فِي حِلْيَتِهِ، فَكَانَتْ قَلَنْسُوَةُ هُرْمُزٍ بِمِائَةِ اَلْفٍ.

Selat Hindia ini merupakan pertahanan bangsa Persia yang paling kuat. Raja Persia yang terkenal dengan raja Hurmuz selalu memerangi penduduk ('Arab) di daratan dan memerangi penduduk Hindia di lautan. Maka Khalid menulis surat kepadanya (menerangkan maksud kedatangannya). Setelah membaca surat Khalid tersebut, kemudian Hurmuz langsung mengirim surat Khalid tersebut kepada Syira bin Kisra dan Ardisyir bin Syira. Kemudian Hurmuz (sebagai wakilnya Kisra) mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya, lalu bergerak menuju kota Kadhimah.

Formasi pasukannya di sayap kiri dan sayap kanan dimpimpin oleh Qubaadz dan Anu Syajaan (keduanya dari keluarga istana). Dan pasukan tersebut dibatasi dengan rantai panjang agar mereka tidak lari. Hurmuz adalah seorang yang terkenal sangat bengis, kejam, dan amat sangat kekafirannya. Meskipun demikian dia dianggap bangsawan mulia di kalangan kerajaan Persia.

Kebiasaan dalam kerajaan Persia semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang maka akan semakin banyak atribut perhiasan yang dikenakannya. Maka topi yang dikenakan Hurmuz pada waktu itu senilai 100.000 dinar.
وَ قَدِمَ خَالِدٌ وَ مَنْ مَعَهُ مِنَ الْجَيْشِ وَ هُمْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ اَلْفًا، فَنَزَلَ تِجَاهَهُمْ عَلَى غَيْرِ مَاءٍ. فَشَكَى اَصْحَابُهُ ذلِكَ. فَقَالَ جَالِدُوْهُمْ حَتَّى تُجِلُّوْهُمْ عَنِ الْمَاءِ فَاِنَّ اللهَ جَاعِلُ الْمَاءِ لاَصْبَرَ الطَّائِفَتَيْنِ. فَلَمَّا اسْتَقَرَّ بِالْمُسْلِمِيْنَ الْمَنْزِلَ وَ هُمْ رُكْبَانٌ عَلَى خُيُوْلِهِمْ بَعَثَ اللهُ سَحَابَةً فَاَمْطَرَتْهُمْ حَتَّى صَارَ لَهُمْ غُدْرَانُ مِنْ مَاءٍ فَقَوِيَ الْمُسْلِمُوْنَ بِذلِكَ وَ فَرِحُوْا فَرَحًا شَدِيْدًا.

Setelah Khalid dengan tentaranya yang berjumlah 18.000 personil tiba di tempat tersebut, kemudian Khalid menempatkan pasukannya tepat menghadap ke arah musuh. Namun sayangnya pasukan ini tidak memmpunyai persediaan air, maka para tentaranya mengeluh dan melaporkan hal itu kepada Khalid. Kemudian Khalid berkata, "Usirlah mereka itu sehingga kalian bisa mendapatkan air, karena Allah hanya akan memberikan air kepada salah satu dari dua pasukan yang paling shabar".

Ketika kaum muslimin mulai mempersiapkan tempat tinggal, dan mereka masih di atas kuda, tiba-tiba Allah SWT mengirim awan tebal dan hujan yang lebat sehingga akhirnya mereka mempunyai persediaan air yang melimpah. Dengan demikian tentara Islam menjadi semakin kuat dan mereka sangat bergembira..

فَلَمَّا تَوَاجَهَ الصَّفَّانِ وَ تَقَاتَلَ الْفَرِيْقَانِ تَرَجَّلَ هُرْمُزٌ وَ دَعَا اِلىَ النَّزَالِ. فَتَرَجَّلَ خَالِدٌ وَ تَقَدَّمَ اِلىَ هُرْمُزٍ، فَاخْتَلَفَا ضَرْبَتَيْنِ وَ احْتَضَنَهُ خَالِدٌ وَجَاءَتْ حَامِيَّةُ هُرْمُزٍ فَمَا شَغَلَهُ عَنْ قَتْلِهِ، وَ حَمَلَ الْقَعْقاَعُ بْنُ عَمْرٍو عَلَى حَامِيَّةِ هُرْمُزٍ فَاَنَامُوْهُمْ، وَ انْهَزَمَ اَهْلُ فَارِسَ وَ رَكِبَ الْمُسْلِمُوْنَ اَكْتَافَهُمْ اِلىَ اللَّيْلِ، وَ اسْتَحْوَذَ الْمُسْلِمُوْنَ وَ خَالِدٌ عَلَى اَمْتِعَتِهِمْ وَ سِلاَحِهِمْ فَبَلَغَ وَقْرَ اَلْفِ بَعِيْرٍ، وَ سُمّيَتْ هذهِ الْغَزْوَةُ ذاتَ السَّلاَسِلِ لِكَثْرَةِ مَنْ سَلْسَلَ بِهَا مِنْ فُرْسَانِ فَارِسَ

Ketika kedua pasukan saling berhadapan dan mulai berperang, Hurmuz turun dari kudanya seraya mengajak berperang tanding. Maka Khalid segera turun menyambut tantangan Hurmuz dan langsung maju ke arah Hurmuz, lalu kedua pedang mereka mulai beraksi saling menyerang. Khalid berhasil mencekik leher Hurmuz dengan tangannya, sehingga bangkitlah kemarahan Hurmuz, namun dengan kemarahannya itu ia tidak dapat membunuh Khalid. Kemudian Al-Qa'qa' bin 'Amr segera menyerang pasukan Hurmuz karena kemarahan panglimanya sehingga pasukan muslimin berhasil mengalahkan mereka. Dan pasukan Persia kalah (tercerai-berai). Kaum muslimin terus mengejar pasukan musuh yang lari hingga malam hari. Akhirnya Khalid beserta kaum muslimin berhasil menguasai seluruh harta dan senjata mereka. Peperangan ini disebut dengan perang Dzaatus Salaasil (yang mempunyai rantai), karena banyaknya para penunggang kuda Persia yang menggunakan rantai.

وَ اَفَلَتْ قُبَاذُ وَ   اَنُوْ شَجَانَ. وَ لَمَّا رَجَعَ الطُلَّبُ نَادَى مُنَادِي خَالِدٍ بِالرَّحِيْلِ، فَسَارَ بِالنَّاسِ و تَبِعَتْهُ اْلاَثْقَالُ حَتَّى نَزَلَ بِمَوْضِعِ الْجِسْرِ اْلاَعْظَمِ مِنَ الْبَصْرَةِ الْيَوْمَ. وَ بَعَثَ بِالْفَتْحِ وَ الْبِشَارَةِ وَ الْخُمُسِ مَعَ زِرّ ابْنِ كُلَيْبٍ اِلىَ الصّدّيْقِ وَ بَعَثَ مَعَهُ بِفِيْلٍ. فَلَمَّا رَآهُ نِسْوَةُ اَهْلِ الْمَدِيْنَةِ جَعَلْنَ يَقُلْنَ: اَمِنْ خَلْقِ اللهِ هذَا اَمْ شَيْءٌ مَصْنُوْعٌ؟.

Pada peperangan ini Qubadz dan Anu Syajaan berhasil melarikan diri. Ketika pasukan yang mengejar musuh sudah kembali, Khalid segera memerintahkan pasukannya untuk berangkat meninggalkan tempat dengan membawa harta rampasan perang yang sangat banyak, hingga mereka berhenti, singgah di dekat jembatan besar (di kota Bashrah sekarang). Dan Khalid mengirimkan seperlima dari harta rampasan perang tersebut kepada Abu Bakar Ash-Shiddiiq dengan membawa berita kemenangan yang dibawa oleh Zirr bin Kulaib. Khalid juga mengirimkan bersamanya seekor gajah besar, dan ketika para wanita Madinah melihatnya, mereka kaget dan bertanya-tanya, "Gajah ini ciptaan Allah atau buatan manusia ?".

فَرَدَّهُ الصّدّيْقُ مَعَ زِرّ وَ بَعَثَ اَبُوْ بَكْرٍ. لَمَّا بَلَغَهُ الْخَبَرُ اِلَى خَالِدٍ فَنَفَلَهُ سَلْبَ هُرْمُزٍ وَ كَانَتْ قَلَنْسُوَتُهُ بِمِائَةِ اَلْفٍ وَ كَانَتْ مُرْصِعَةً بِالْجَوْهَرِ. وَ بَعَثَ خَالِدٌ اْلاُمَرَاءَ يَمِيْنًا وَ شِمَالاً يُحَاصِرُوْنَ حُصُوْنًا هُنَالِكَ، فَفَتَحُوْهَا عُنْوَةً وَ صُلْحًا، وَ اَخَذُوْا مِنْهَا اَمْوَالاً جُمَّةً، وَ لَمْ يَكُنْ خَالِدٌ يَتَعَرَّضُ لِلْفَلاَّحِيْنَ مَنْ لَمْ يُقَاتِلْ مِنْهُمْ وَلاَ اَوْلاَدِهِمْ، بَلْ لِلْمُقَاتَلَةِ مِنْ اَهْلِ فَارِسَ.

Kemudian gajah tersebut dikembalikan oleh Abu bakar dan dibawa kembali oleh Zirr (sambil membawa surat untuk Khalid). Kemudian Khalid menyerahkan rampasan pakaian Hurmuz. Dan ternyata topinya saja seharga 100.000 dinar yang terbuat dari intan permata. Kemudian Khalid mengirim para pemimpin pasukan untuk mengepung benteng-benteng yang ada di sekitarnya. Hingga akhirnya mereka berhasil menaklukkan seluruhnya, baik secara paksa ataupun dengan jalan damai. Dan pasukan muslimin kembali mendapatkan harta yang sangat banyak.

Pada waktu itu Khalid sama sekali tidak mengganggu para petani, karena mereka dan anak-anaknya tidak ikut berperang melawan kaum muslimin. Sebab itu yang diperangi hanyalah pasukan Persia saja. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 738]

Peperangan Al-Madzar (Ats-Tsiniy).

Tak berapa lama kemudian, tepatnya pada bulan Shafar tahun 12 H, pecah kembali peperangan Al-Madzar yang disebut juga dengan peperangan Tsiniy (peperangan sungai). Ibnu Jarir berkata, "Pada waktu itu orang-orang berkata, "Dalam bulan Shafar ini akan terbunuh setiap penguasa yang congkak, di tempat bertemunya beberapa sungai.

Peperangan ini terjadi karena Hurmuz telah mengirim surat kepada Ardisyir dan Syira tentang kedatangan Khalid ke kotanya setelah dari Yamamah. Maka Syira segera mengirimkan tentaranya lengkap dengan seorang panglima yang bernama Qarin bin Qiryanis.

Setelah bantuan ini sampai ke Hurmuz, ternyata seluruh pasukan Hurmuz telah dikalahkan (sebagaimana yang telah kami sebutkan). Qarin sempat berjumpa dengan sisa-sisa pasukan Persia yang melarikan diri. Kemudian pasukan yang tersisa ini menggabungkan diri dengan pasukan Qarin, lalu mereka berunding serta sepakat untuk kembali dan menyerang Khalid.

فَسَارُوْا اِلىَ مَوْضِعٍ يُقَالُ لَهُ الْمَذَارُ وَ عَلَى مُجَنَّبَتَيِ قَارِنٍ قُبَاذُ وَ اَنُوْشَجَانَ، فَلَمَّا انْتَهَى الْخَبَرُ اِلىَ خَالِدٍ قَسَمَ مَا كَانَ مَعَهُ مِنْ اَرْبَعَةِ اَخْمَاسِ غَنِيْمَةِ يَوْمِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ، وَ اَرْسَلَ اِلىَ الصّدّيْقِ بِخَبَرِهِ مَعَ اْلوَلِيْدِ بْنِ عُقْبَةَ، وَ سَارَ خَالِدٌ بِمَنْ مَعَهُ مِنَ الْجُيُوْشِ حَتَّى نَزَلَ عَلَى الْمَذَارِ وَ هُوَ عَلَى تَعْبِئَتِهِ، فَاقْتَتَلُوْا قِتَالَ حَنْقٍ وَحَفِيْظَةٍ، وَ خَرَجَ قَارِنٌ يَدْعُوْ اِلىَ البِرَازِ فَبَرَزَ اِلَيْهِ خَالِدٌ وَ ابْتَدَرَهُ الشَّجْعَانُ مِنَ اْلاُمَرَاءِ فَقَتَلَ مَعْقِلُ بْنُ اْلاَعْشَى بْنِ النَّبَّاشِ قَارِنًا وَ قَتَلَ عَدِيُّ بْنُ حَاتِمٍ قُبَاذَ وَ قَتَلَ عَاصِمٌ اَنُوْشَجَّانَ وَ فَرَّتِ الْفُرْسُ وَ رَكِبَهُمُ الْمُسْلِمُوْنَ فِي ظُهُوْرِهِمْ، فَقَتَلُوْا مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَلاَثِيْنَ اَلْفًا وَ غَرِقَ كَثِيْرٌ مِنْهُمْ فِي اْلاَنْهَارِ وَالْمِيَاهِ.

Kemudian mereka mulai bergerak ke suatu tempat yang disebut Al-Madzar. Di sayap kiri dan sayap kanan pasukan Qarin ini dipimpin oleh Qubaadz dan Anu Syajaan. Ketika berita ini sampai kepada Khalid bin Walid, maka Khalid segera membagi-bagikan empat perlima dari harta rampasan perang Dzaatus Salaasil, kemudian mengirim utusan bernama Al-Walid bin 'Uqbah untuk membawa laporan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq mengenai musuh. Kemudian Khalid mulai bergerak dengan pasukannya menuju Al-Madzar, lalu Khalid memberikan pengarahan kepada pasukannya.

Maka di tempat tersebut terjadilah peperangan yang sangat dahsyat. Kemudian Qarin mengajak berperang tanding. Maka Khalid langsung menyambutnya, namun seseorang dari amirnya, yaitu Ma'qil bin Al-'Asya bin An-Nabbasy yang sangat pemberani mendahului Khalid membunuh Qarin. Dan 'Adiy bin Hatim berhasil membunuh Qubaadz, sedangkan 'Ashim membunuh Anu Syajaan. Melihat para pemimpin mereka telah tewas, maka pasukan Persia lari tunggang langgang, lalu dikejar oleh tentara muslimin. Pada waktu itu tentara Khalid berhasil membunuh 30.000 personil pasukan Persia, dan banyak dari mereka yang hanyut di sungai. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 739]

Kemudian Khalid tetap berada di Al-Madzar dan membagi-bagi rampasan perang yang didapatkan oleh pasukannya. Dan Qarin yang telah terbunuh ini telah mencapai puncak kebangsawanannya di kalangan bangsa Persia.

Kemudian Khalid mengumpulkan sisa-sisa harta rampasan, lalu membagi menjadi lima bagian, yang seperlima dikirimkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq sambil membawa berita kemenangan yang ketika itu dibawa oleh Sa'id bin An-Nu'man saudara bani 'Adiy bin Ka'ab. Adapun Khalid masih tetap di sana hingga selesai membagi empat perlima dari harta rampasan dan tawanan perang dari kaum wanita dan anak-anak yang berhasil mereka dapatkan ketika mengepung benteng-benteng musuh, kecuali kaum petani, sebab mereka telah sepakat untuk membayar jizyah. Dan diantara tawanan perang tersebut terdapat Habib, yaitu ayahnya Al-Hasan Al-Bashriy yang ketika itu beragama Nashraniy, dan Mafannah maula 'Utsman serta Abu Ziyad maula Al-Mughirah bin Syu'bah. Setelah itu Khalid mengangkat Sa'id bin An-Nu'man sebagai pimpinan pasukan, dan ia menunjuk Suwaid bin Muqarrin untuk mengurusi jizyah, dan Khalid memerintahkannya supaya turun ke Al-Hafir untuk mengumpulkan harta. Adapun Khalid masih tetap singgah di tempat tersebut untuk mencari informasi tentang musuh.

Perang Walajah.

Perang Walajah ini terjadi pada bulan Shafar tahun 12 H. Ibnu Katsir menyebutkan di dalam Kitab Tarikhnya :
ثُمَّ كَانَ اَمْرُ اْلوَلَجَةِ فِي صَفَرَ اَيْضًا مِنْ هذِهِ السَّنَةِ فِيمَا ذَكَرَهُ ابْنُ جَرِيْرٍ. وَ ذلِكَ لاَنَّهُ لَمَّا انْتَهَى الْخَبَرُ بِمَا كَاَن بِالْمَذَارِ مِنْ قِبَلِ قَارِنٍ وَ اَصْحَابِهِ اِلىَ اَرْدِشِيْرَ وَ هُوَ مَلِكُ الْفُرْسِ يَوْمَئِذٍ بَعَثَ اَمِيْرًا شُجَّاعًا يُقَالُ لَهُ اْلاَنْدَرْزَغَرُ، وَ كَانَ مِنْ اَبْنَاءِ السَّوَادِ وُلِدَ بِالْمَدَائِنِ وَ نَشَأَ بِهَا، وَ اَمَدَّهُ بِجَيْشٍ آخَرَ مَعَ اَمِيْرٍ يُقَالُ لَهُ بَهْمَنْ جَاذَوَيْهِ فَسَارُوْا حَتَّى بَلَغُوْا مَكَانًا يُقَالُ لَهُ الْوَلَجَةُ.

Pertempuran di Walajah juga terjadi pada bulan Shafar tahun ini (12 H), sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir. Peperangan ini terjadi setelah berita kekalahan Qarin dan pasukannya di Al-Madzar sampai kepada Ardisyir yang ketika itu ia sebagai Raja Persia. Maka ia segera mengirim panglima perangnya yang paling pemberani, yang bernama Al-Andar Zaghar, ia seorang putra dari wilayah jajahan Persia yang lahir di Madaain dan dibesarkan di sana. Kemudian pasukan ini diperkuat dengan pasukan lain yang dipimpin oleh Bahman Jadzawaih. Kemudian mereka berangkat hingga tiba di suatu tempat yang bernama Al-Walajah.
فَسَمِعَ بِهِمْ خَالِدٌ فَسَارَ بِمَنْ مَعَهُ مِنَ الْجُنُوْدِ وَ وَصَّى مَنْ اِسْتَخْلَفَهُ هُنَاكَ بِالْحَذَرِ وَ قِلَّةِ الْغَفْلَةِ. فَنَازَلَ اَنْدَرْزَغَرَ وَ مَنْ نَاشَبَ مَعَهُ وَ اجْتَمَعَ عِنْدَهُ بِالْوَلَجَةِ، فَاقْتَتَلُوْا قِتَالاً شَدِيْدًا هُوَ اَشَدُّ مِمَّا قَبْلَهُ حَتَّى ظَنَّ الْفَرِيْقَانِ اَنَّ الصَّبْرَ قَدْ فَرَغَ. وَ اسْتَبْطَأَ كَمِيْنَهُ الَّذِي كَانَ قَدْ اَرْصَدَهُمْ وَرَاءَهُ فِي مَوْضِعَيْنِ فَمَا كَانَ اِلاَّ يَسِيْرًا حَتَّى خَرَجَ الْكَمِيْنَانِ مِنْ هَاهُنَا وَ مِنْ هَاهُنَا، فَفَرَّتْ صُفُوْفُ اْلاَعَاجِمِ، فَاَخَذَهُمْ خَالِدٌ مِنْ اَمَامِهِمْ وَ الْكَمِيْنَانِ مِنْ وَرَائِهِمْ، فَلَمْ يَعْرِفْ رَجُلٌ مِنْهُمْ مَقْتَلَ صَاحِبِهِ، وَ هَرَبَ الْاَنْذَرْزَغَرُ مِنَ الْوَقْعَةِ فَمَاتَ عَطْشًا.

Ketika Khalid mendengar keberangkatan mereka, ia segera berangkat menuju Walajah dengan membawa tentaranya. Khalid berpesan kepada wakilnya di Al-Madzar agar selalu waspada terhadap musuh, dan jangan sampai lengah.

Setelah tiba di Walajah, Khalid langsung menyerbu pasukan Andar Zaghar dan pasukan yang bergabung dengannya, maka terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat yang lebih hebat daripada sebelumnya, sehingga kedua pasukan mengira bahwa keshabaran telah habis. Sebelumnya Khalid sengaja menginstruksikan kepada dua pasukan pembantunya agar bersembunyi di belakang musuh dan selalu berjaga-jaga dan melihat situasi. Tak lama kemudian keluarlah mereka dari sana-sini menyerbu musuh. Mendapat serangan itu pasukan Persia lari tunggang langgang, dikepung dari dua arah. Khalid menyerbu dari depan dan dua pasukan yang lain menyerbu dari belakang, hingga mereka tidak lagi mengetahui kawan yang terbunuh. Adapun Andar Zaghar langsung melarikan diri dari medan perang dan mati kehausan.

وَقَامَ خَالِدٌ فِي النَّاسِ خَطِيْبًا فَرَغَّبَهُمْ فِي بِلاَدِ اْلاَعَاجِمِ وَ زَهَّدَهُمْ فِيْ بِلاَدِ الْعَرَبِ، وَ قَالَ: اَلاَ تَرَوْنَ مَا هَاهُنَا مِنَ اْلاَطْعِمَاتِ، وَ بِاللهِ لَوْ لَمْ يُلْزِمْنَا الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَ الدُّعَاءَ اِلَى اْلاِسْلاَمِ، وَ لَمْ يَكُنْ اِلاَّ الْمَعَاشُ لَكَانَ الرَّأْيُ اَنْ نُقَاتِلَ عَلَى هذَا الرّيْفِ حَتَّى نَكُوْنَ اَوْلَى بِهِ وَ نُوَلّي الْجُوْعَ وَ اْلاِقْلاَلَ مَنْ تَوَلاَّهُ مِمَّنْ اِثَّاقَلَ عَمَّا اَنْتُمْ عَلَيْهِ. ثُمَّ خَمَّسَ الْغَنِيْمَةَ وَ قَسَمَ اَرْبَعَةَ اَخْمَاسِهَا بَيْنَ الْغَانِمِيْنَ وَ بَعَثَ الْخُمُسَ اِلىَ الصّدّيْقِ، وَ اَسَرَ مَنْ اَسَرَ مِنْ ذَرَارِى الْمُقَاتَلَةِ، وَ اَقَرَّ الْفَلاَّحِيْنَ بِالْجِزْيَةِ. البداية و النهاية 6: 739

Kemudian Khalid berdiri di hadapan pasukannya, ia berpidato memberikan spirit kepada pasukannya untuk menaklukkan negeri 'Ajam sambil menganjurkan mereka agar tidak merasa puas dengan negeri-negeri 'Arab yang mereka kuasai. Khalid berkata, "Tidakkah kalian lihat di sini begitu melimpah ruahnya makanan ? Demi Allah, seandainya Allah tidak mewajibkan kita untuk berjihad di jalan Allah dan mengajak manusia kepada Islam, dan hidup kita hanya untuk makan saja, maka kita pasti akan berperang untuk merebut kota yang subur ini hingga menguasainya, dan kita meninggalkan kelaparan dan kemiskinan yang pernah kita rasakan. Kemudian Khalid membagi harta rampasan perang, ia membagikan empat perlima harta rampasan perang kepada pasukannya, dan mengirimkan seperlimanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada waktu itu Khalid juga banyak menawan para wanita dan anak-anak dari pasukan musuh. Dan Khalid menetapkan kepada para petani untuk membayar jizyah. [Al-Bidaayah wan Nihaayah : 6, 739]

Perang Ulayyas

Perang Ulayyas ini juga terjadi di bulan Shafar tahun 12 H. Dalam kitab Al-Bidaayah wan Nihaayah disebutkan :
ثُمَّ كَانَتْ وَقْعَةُ اُلَيَّسَ فِي صَفَرَ اَيْضًا وَ ذلِكَ اَنَّ خَالِدًا كَانَ قَدْ قَتَلَ يَوْمَ الْوَلَجَةِ طَائِفَةً مِنْ بَكْرِ بْنِ وَائِلٍ مِنْ نَصَارَى الْعَرَبِ مِمَّنْ كَانَ مَعَ الْفُرْسِ، فَاجْتَمَعَ عَشَائِرُهُمْ وَ اَشَدُّهُمْ حَنْقًا عَبْدُ اْلاَسْوَدِ الْعَجَلِيُّ وَ كَانَ قَدْ قُتِلَ لَهُ ابْنٌ بِاْلاَمْسِ. فَكَاتَبُوا اْلاَعَاجِمَ، فَاَرْسَلَ اِلَيْهِمْ اَرْدِشِيْرُ جَيْشًا فَاجْتَمَعُوْا بِمَكَانٍ يُقَالُ لَهُ اُلَيَّسُ.

Perang Ulayyas juga terjadi di bulan Shafar (12 H). Peperangan ini terjadi karena pada perang Walajah Khalid telah membunuh beberapa orang dari Bani Bakar bin Waail, dari kaum Nashrani 'Arab yang berada di bawah kekuasaan Persia. Maka berkumpullah seluruh keturunan Bani Bakar bin Waail. Yang paling besar dendamnya adalah 'Abdul Aswad Al-'Ajaliy, disebabkan karena pada peperangan yang lalu anaknya mati terbunuh. Kemudian mereka segera menulis surat kepada orang-orang 'Ajam, lalu ditindak lanjuti oleh Ardisyir dengan mengirimkan bantuan pasukan kepada mereka. Kemudian mereka berkumpul di suatu tempat yang bernama Ulayyas.
فَبَيْنَمَا هُمْ قَدْ نَصَبُوْا لَهُمْ سِمَاطًا فِيْهِ طَعَامٌ يُرِيْدُوْنَ اَكْلَهُ اِذْ غَافَلَهُمْ خَالِدٌ بِجَيْشِهِ. فَلَمَّا رَأَوْهُ اَشَارَ مَنْ اَشَارَ مِنْهُمْ بِاَكْلِ الطَّعَامِ وَعَدَمِ اْلاِعْتِنَاءِ بِخَالِدٍ. وَ قَالَ اَمِيْرُ كِسْرَى بَلْ نَنْهَضُ اِلَيْهِ، فَلَمْ يَسْمَعُوْا مِنْهُ. فَلَمَّا نَزَلَ خَالِدٌ تَقَدَّمَ بَيْنَ يَدَيْ جَيْشِهِ وَ نَادَى بِاَعْلَى صَوْتِهِ لِشُجْعَانَ مِنْ هُنَالِكَ مِنَ اْلاَعْرَابِ: اَيْنَ فَلاَنٌ؟ اَيْنَ فُلاَنٌ؟ فَكُلُّهُمْ تَلَكَّأُوْا عَنْهُ اِلاَّ رَجُلاً يُقَالُ لَهُ مَالِكُ بْنُ قَيْسٍ مِنْ بَنِي جَذَرَةَ، فَاِنَّهُ بَرَزَ اِلَيْهِ. فَقَالَ لَهُ خَالِدٌ: يَا ابْنَ الْخَبِيْثَةِ، مَا جَرَأَكَ عَلَيَّ مِنْ بَيْنِهِمْ وَ لَيْسَ فِيْكَ وَفَاءٌ؟ فَضَرَبَهُ فَقَتَلَهُ

Ketika mereka telah mempersiapkan makanan di meja makan, dan mereka siap memakannya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan tentara Khalid. Setelah mereka melihat tentara Khalid datang, banyak diantara mereka yang mengisyaratkan untuk segera makan dan tidak usah mempedulikan pasukan Khalid. Sedangkan panglima pasukan mereka memerintahkan supaya segera bangkit menghadapi tentara Khalid, akan tetapi perintah itu tidak didengar oleh para prajuritnya.

Setelah Khalid datang, lalu maju ke depan pasukannya dan menyeru sekeras suaranya, ia mengajak perang tanding sambil memanggil para jagoan 'Arab, "Mana si Fulan….?. Mana si Fulan….?". Semuanya tidak ada yang berani maju, kecuali seorang yang bernama Malik bin Qais dari Bani Jadzarah, hanya dia yang berani maju melawan Khalid. Khalid berkata kepadanya, "Hai anak wanita keji, mengapa hanya dirimu yang berani melawanku dari seluruh kaummu, sedangkan kamu tidak pantas melawanku ?". Khalid lalu memukulnya dengan pedang, dan langsung menewaskannya.

وَ نَفَرَتِ اْلاَعَاجِمُ عَنِ الطَّعَامِ وَ قَامُوْا اِلىَ السّلاَحِ فَاقْتَتَلُوْا قِتَالاً شَدِيْدًا جِدًّا، وَ الْمُشْرِكُوْنَ يَرْقُبُوْنَ قُدُوْمَ بَهْمَنَ مَدَدًا مِنْ جِهَةِ الْمَلِكِ اِلَيْهِمْ، فَهُمْ فِي قُوَّةٍ وَ شِدَّةٍ وَ كَلْبٍ فِي الْقِتَالِ، وَ صَبَرَ الْمُسْلِمُوْنَ صَبْرًا بَلِيْغًا. وَ قَالَ خَالِدٌ: اَللّهُمَّ لَكَ عَلَيَّ اِنْ مَنَحْتَنَا اَكْتَافَهُمْ اَنْ لاَ اَسْتَبْقِيَ مِنْهُمْ اَحَدًا اَقْدِرُ عَلَيْهِ حَتَّى اُجْرِيَ نَهْرَهُمْ بِدِمَائِهِمْ.

Pasukan Persia lalu berlarian meninggalkan makanan mereka dan mengambil senjata, maka terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Pada waktu itu pasukan musyrikin menunggu kedatangan bantuan Bahmanjadzawaih yang dikirim oleh raja Persia. Mereka itu sangat kuat, gigih dan terlatih dalam peperangan. Di sisi lain pasukan kaum muslimin benar-benar shabar dan tangguh dalam menghadapi tentara musuh.

Khalid berdo'a, "Ya Allah, aku bersumpah atas Nama-Mu, jika Engkau memenangkan kami atas mereka, maka semaksimalnya tidak satupun dari mereka aku sisakan hidup dan akan aku alirkan sungai mereka dengan darah mereka".

ثُمَّ اِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ مَنَحَ الْمُسْلِمِيْنَ اَكْتَافَهُمْ، فَنَادَى مُنَادِي خَالِدٍ اْلاَسْرَ اْلاَسْرَ، لاَ تَقْتُلُوْا اِلاَّ مَنْ اِمْتَنَعَ مِنَ اْلاَسْرِ. فَاَقْبَلَتِ الْخُيُوْلُ بِهِمْ اَفْوَاجًا يُسَاقُوْنَ سَوْقًا وَ قَدْ وَكَّلَ بِهِمْ رِجَالاً يَضْرِبُوْنَ اَعْنَاقَهُمْ فِي النَّهْرِ، فَفُعِلَ ذلِكَ بِهِمْ يَوْمًا وَ لَيْلَةً وَ يَطْلُبُهُمْ فِي الْغَدِ وَ مِنْ بَعْدِ الْغَدِ، وَ كُلَّمَا حَضَرَ مِنْهُمْ اَحَدٌ ضُرِبَتْ عُنُقُهُ فِي النَّهْرِ.

Kemudian Allah 'Azza wa Jalla memenangkan pasukan Islam. Salah seorang dari pasukan Khalid menyeru, "Tawanlah mereka, tawanlah mereka, jangan dibunuh kecuali yang tidak mau ditawan !". Tiba-tiba pasukan berkuda datang berduyun-duyun, lalu menggiring mereka ke tepi sungai. Dan Khalid telah menugaskan pasukannya untuk memenggal kepala musuh dan mencampakkan mereka ke sungai. Satu hari satu malam mereka bekerja memenggal kepala musuh, dan terus mengejar tentara musuh yang lari pada keesokan harinya dan hari berikutnya, setiap kali pasukan musuh tertangkap langsung dipenggal di sungai.
وَ قَدْ صُرِفَ مَاءُ النَّهْرِ اِلىَ مَوْضِعٍ آخَرِ، فَقَالَ لَهُ بَعْضُ اْلاُمَرَاءِ اِنَّ النَّهْرَ لاَ يَجْرِيْ بِدِمَائِهِمْ حَتَّى تُرْسِلَ الْمَاءَ عَلَى الدَّمِ فَيَجْرِيْ مَعَهُ فَتَبِرُّ بِيَمِيْنِكَ. فَاَرْسَلَهُ. فَسَالَ النَّهْرُ دَمًا عَبِيْطًا فَلِذلِكَ سُمّيَ نَهْرَ الدَّمِ اِلىَ الْيَوْمِ. فَدَارَتِ الطَّوَاحِيْنُ بِذلِكَ الْمَاءِ الْمُخْتَلِطِ بِالدَّمِ الْعَبِيْطِ مَا كَفَى الْعَسْكَرُ بِكَمَالِهِ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ وَ بَلَغَ عَدَدُ الْقَتْلَى سَبْعِيْنَ اَلْفًا، وَلَمَّا هَزَمَ خَالِدُ الْجَيْشَ وَ رَجَعَ مَنْ رَجَعَ مِنَ النَّاسِ عَدَلَ خَالِدٌ اِلىَ الطَّعَامِ الَّذِيْ كَانُوْا قَدْ وَضَعُوْهُ لِيَأْكُلُوْهُ فَقَالَ لِلْمُسْلِمِيْنَ: هذَا نَفَلٌ. فَانْزِلُوْا فَكُلُوْا! فَنَزَلَ النَّاسُ فَاَكَلُوْا عَشَاءً. البداية و النهاية 6: 740

Pada waktu itu air sungai telah dialirkan ke tempat lain. Sebagian pimpinan pasukan mengusulkan kepada Khalid, "Sesungguhnya sungai ini tidak akan dapat mengalir hanya dengan darah mereka saja, oleh karena itu bukalah saluran air itu dan alirkan darah dengan aliran air sungai ini, dengan demikian engkau dapat menepati sumpahmu". Maka Khalid segera mengalirkan air ke sungai, maka sungai itupun mengalir bercampur dengan darah, dan sejak itulah sungai itu dinamakan Sungai Darah, sampai hari ini.

Situasi telah berubah, dengan air yang bercampur darah itu pasukan memerlukan waktu tiga hari. Adapun musuh yang terbunuh mencapai sekitar 70.000 orang. Dan ketika Khalid telah berhasil mengalahkan musuh, dan orang-orang telah kembali, Khalid menuju ke tempat makanan tentara Persia yang telah mereka hidangkan, lalu berkata kepada kaum muslimin, "Ini adalah rezqi tambahan, kemarilah dan makanlah !". Maka mereka  lalu menyantap makanan tersebut sebagai makan malam. [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 740]

Ketika mempersiapkan makanan, orang-orang Persia meletakkan di atas makanan mereka kain serbet yang banyak. Orang-orang 'Arab yang berasal dari dusun bertanya-tanya, "Untuk apa kain-kain ini ?". Mereka mengira bahwa kain-kain itu adalah pakaian. Orang-orang yang tinggal di kota, berkata, "Pernahkah kalian mendengar orang yang hidupnya penuh dengan kesenangan (raqiiqul 'Aisy) ?". Mereka menjawab, "Ya". Orang-orang yang tinggal di kota itu berkata lagi, "Inilah raqiiqul 'Aisy". Sejak saat itu mereka menamakannya dengan Riqaaq, sedangkan sebelumnya mereka menyebutnya dengan Al-'Uud.

Ibnu Katsir di dalam Al-Bidaayah wan Nihaayah menyebutkan sebagai berikut :

رَكِبَ خَالِدٌ فِي جُيُوْشِهِ فَسَارَ حَتَّى انْتَهَى اِلىَ الْاَنْبَارِ، وَ عَلَيْهَا رَجُلٌ مِنْ اَعْقَلِ الْفُرْسِ وَ اَسْوَدِهِمْ فِي اَنْفُسِهِمْ يُقَالُ لَهُ شِيْرَزَاذُ. فَاَحَاطَ بِهَا خَالِدٌ وَ عَلَيْهَا خَنْدَقٌ وَ حَوْلَهُ اَعْرَابٌ مِنْ قَوْمِهِمْ عَلَى دِيْنِهِمْ، وَ اجْتَمَعَ مَعَهُمْ اَهْلُ اَرْضِهِمْ فَمَانَعُوْا خَالِدًا اَنْ يَصِلَ اِلىَ الْخَنْدَقِ فَضَرَبَ مَعَهُمْ رَأْسًا.

Khalid (bin Walid) segera berangkat bersama tentaranya hingga mereka tiba di Al-Anbar. Ternyata negeri itu dipimpin oleh seorang yang sangat cerdas dan sangat dihormati di kalangan bangsa Persia, dia bernama Syirazaadz. Khalid segera mengepung wilayah tersebut yang dikelilingi dengan parit, sedangkan di sekitarnya tinggal orang-orang 'Arab dari kaum yang seagama dengan mereka. Penduduk negeri itu bersatu padu untuk mencegah Khlaid agar tidak dapat menyeberangi parit yang mereka buat.

وَ لَمَّا تَوَاجَهَ الْفَرِيْقَانِ اَمَرَ خَالِدٌ اَصْحَابَهُ فَرَشَقُوْهُمْ بِالنّبَالِ حَتَّى فَقَأُوْا مِنْهُمْ اَلْفَ عَيْنٍ، فَتَصَايَحَ النَّاسُ ذَهَبَتْ عُيُوْنُ اَهْلِ اْلاَنْبَارِ، وَ سُمّيَتْ هذِهِ الْغَزْوَةُ ذَاتَ الْعُيُوْنِ. فَرَاسَلَ شِيْرَزَاذُ خَالِدًا فِي الصُّلْحِ. فَاشْتَرَطَ خَالِدٌ اُمُوْرًا اِمْتَنَعَ شِيْرَزَاذُ مِنْ قَبُوْلِهَا.

Setelah kedua pasukan tersebut saling berhadapan, Khalid memerintahkan kepada para tentaranya supaya menghujani mereka dengan anak panah, sehigga berhasil membutakan seribu mata musuh, maka orang-orang berteriak "Telah buta mata penduduk Anbar". Oleh karena itu peperangan ini disebut dengan perang Dzaatul 'Uyuun (yang mempunyai mata). Akhirnya pimpinan mereka Syirazaadz mengirim surat kepada Khalid meminta untuk berdamai. Lalu Khalid memberikan beberapa macam persyaratan yang membuat Syirazaadz tidak dapat menerimanya.
فَتَقَدَّمَ خَالِدٌ اِلىَ الْخَنْدَقِ فَاسْتَدْعَي بِرَذَايَا اْلاَمْوَالِ مِنَ اْلاِبِلِ فَذَبَحَهَا حَتَّى رَدَمَ الْخَنْدَقَ بِهَا وَجَازَ هُوَ وَ اَصْحَابُهُ فَوْقَهَا. فَلَمَّا رَأَى شِيْرَزَاذُ ذلِكَ اَجَابَ اِلىَ الصُّلْحِ عَلَى الشُّرُوْطِ الَّتِي اشْتَرَطَهَا خَالِدٌ، وَ سَأَلَهُ اَنْ يَرُدَّهُ اِلىَ مَأْمَنِهِ

Kemudian Khalid maju menuju parit, lalu meminta supaya didatangkan unta-unta yang kurus-kurus dan unta-unta afkiran yang jelek-jelek, kemudian Khalid menyembelihnya dan mencampakkannya ke dalam parit hingga menutup parit tersebut dengan bangkai-bangkai unta. Dengan demikian Khalid dan pasukannya bisa menyeberangi parit tersebut. Ketika Syirazaadz melihat Khalid mulai masuk menyerbu bersama pasukannya, dia segera menerima segala persyaratan damai yang ditetapkan Khalid, dan dia meminta agar Khalid mengembalikannya ke tempat yang aman.

فَوَفَى لَهُ خَالِدٌ بِذلِكَ، وَ خَرَجَ شِيْرَزَاذُ مِنَ اْلاَنْبَارِ وَ تَسَلَّمَهَا خَالِدٌ، فَنَزَلَهَا وَ اطْمَأَنَّ بِهَا. وَ تَعَلَّمَ الصَّحَابَةُ مِمَّنْ بِهَا مِنَ الْعَرَبِ الْكِتَابَةَ الْعَرَبِيَّةَ، وَ كَانَ اُولئِكَ الْعَرَبُ قَدْ تَعَلَّمُوْهَا مِنْ عَرَبٍ قَبْلَهُمْ وَ هُمْ بَنُوْ اِيَادٍ كَانُوْا ِبِهَا فِيْ زَمَانِ بُخْتَنَصَرَ حِيْنَ اَبَاحَ الْعِرَاقَ لِلْعَرَبِ. وَ اَنْشَدُوْا خَالِدًا قَوْلَ بَعْضِ اِيَادٍ يَمْتَدِحُ قَوْمَهُ:

              قَوْمِي اِيَادُ لَوْ اَنَّهُمْ اُمَمٌ

                     اَوْ لَوْ اَقَامُوْا فَتُهْزَلُ النَّعَمُ.

              قَوْمٌ لَهُمْ بَاحَةُ الْعِرَاقِ

                     اِذَا سَارُوْا جَمِيْعًا وَ اللَّوْحُ وَ الْقَلَمُ.

ثُمَّ صَالَحَ خَالِدٌ اَهْلَ الْبَوَازِيْجِ وَ كَلْوَاذِي. قَالَ: ثُمَّ نَقَضَ اَهْلُ اْلاَنْبَارِ وَ مَنْ حَوْلَهُمْ عَهْدَهُمْ لَمَّا اِضَّرَبَتْ بَعْضُ اْلاَحْوَالِ وَلَمْ يَبْقَ عَلَى عَهْدِهِ سِوَى الْبَوَازِيْجِ وَ بَانِقِيَا.

Maka Khalid mengabulkan permintaannya. Akhirnya Syirazaadz keluar dari Al-Anbar, dan Khalid menerima penyerahan benteng tersebut. Kemudian Khalid menempati benteng tersebut dengan aman dan tenteram. Kemudian para shahabat banyak yang belajar menulis 'Arab dari penduduk 'Arab yang bermuqim di situ. Dahulu penduduk 'Arab di situ mempelajari tulis-menulis dari orang-orang 'Arab dari Bani Iyaad, yang mereka telah bermuqim di sana sejak zaman Bukhtanashar (Nebukadnezar), ketika ia mengijinkan bangsa 'Arab menetap di 'Iraq. Penduduk di situ membacakan sya'ir kepada Khalid dari perkataan Bani Iyaad yang memuji kaumnya :

Kaumku, Iyaad adalah sesosok ummat,

Seandainya mereka bertamu, maka akan disembelihkan unta,

Kaum kebanggaan 'Iraq

Apabila mereka berjalan, pasti seluruhnya membawa buku dan pena.

Kemudian Khalid juga membuat kesepakatan damai dengan penduduk Al-Bawaaziij dan penduduk Kalwaadzi.

Ternyata di kemudian hari ketika terjadi kegoncangan, penduduk Anbar dan orang-orang di sekitarnya melanggar kesepakatan mereka dan tidak satupun yang tetap memegang perjajian dengan benar kecuali penduduk Al-Bawaaziij dan Baaniqiya.

قَالَ سَيْفٌ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ سِيَاهٍ عَنْ حَبِيْبِ بْنِ اَبِي ثَابِتٍ قَالَ: لَيْسَ لاَحَدٍ مِنْ اَهْلِ السَّوَادِ عَهْدٌ قَبْلَ الْوَقْعَةِ اِلاَّ بَنُوْ صَلُوْبَا وَ هُمْ اَهْلُ الْحِيْرَةِ وَ كَلْوَاذِي وَقُرًى مِنْ قُرَى الْفُرَاتِ. غَدَرُوْا حَتَّى دَعَوْا اِلَى الذّمَّةِ بَعْدَ مَا غَدَرُوْا.

Saif (bin 'Umar) meriwayatkan dari 'Abdul 'Aziz bin Siyah dari Habib bin AbuTsabit, dia berkata, "Setelah terjadi kegoncangan, tidak satupun dari penduduk ahli Dzimmah yang masih tetap memegang perjanjian dengan kaum muslimin, kecuali bani Sholuuba dari penduduk Hiirah dan Kalwaadzi dan beberapa kota di sekitar sungai Eufrat. Mereka melanggar perjanjian sehingga ditaklukkan untuk kedua kalinya dan mereka kembali menjadi ahli dzimmah.

وَ قَالَ سَيْفٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسٍ، قُلْتُ لِلشَّعْبِيّ اُخِذَ السَّوَادُ عُنْوَةً وَ كُلُّ اَرْضٍ اِلاَّ بَعْضَ الْقَلاَعِ وَ الْحُصُوْنِ؟ قَالَ: بَعْضٌ صَالَحَ وَ بَعْضٌ غَالَبَ. قُلْتُ: فَهَلْ لاَهْلِ السَّوَادِ ذِمَّةٌ اِعْتَقَدُوْهَا قَبْلَ الْحَرْبِ؟ قَالَ: لاَ وَ لكِنَّهُمْ لَمَّا دُعُوْا وَ رَضُوْا بِالْخَرَاجِ وَ اُخِذَ مِنْهُمْ صَارُوْا ذِمَّةً. البداية و النهاية 6: 743

Saif (bin 'Umar) meriwayatkan dari Muhammad bin Qais : Aku bertanya kepada Asy-Sya'biy, "Apakah seluruh negeri-negeri tersebut ditaklukkan dengan peperangan kecuali beberapa benteng saja ?". Ia menjawab, "Sebagian dengan cara damai, dan sebagian dengan cara ditaklukkan". Aku bertanya lagi, "Apakah penduduknya menjadi ahli dzimmah sebelum peperangan terjadi ?". Ia menjawab, "Tidak, namun setelah mereka menerima kesepakatan damai dan mau membayar jizyah, sejak itulah mereka menjadi Ahlu Dzimmah". [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 743]

Peperangan 'Ainut Tamr.

Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidaayah wan Nihaayah menyebutkan sebagai berikut :

لَمَّا اسْتَقَلَّ خَالِدٌ بِاْلاَنْبَارِ اِسْتَنَابَ عَلَيْهَا الزَبْرَقَانَ بْنَ بَدْرٍ. وَ قَصَدَ عَيْنَ التَّمْرِ، وَبِهَا يَوْمَئِذٍ مِهْرَانُ بْنُ بَهْرَامٍ جُوْبِيْنَ فِي جَمْعٍ عَظِيْمٍ مِنَ الْعَرَبِ وَ حَوْلَهُمْ مِنَ اْلاَعْرَابِ طَوَائِفُ مِنَ النَّمِرِ وَ تَغْلِبَ وَ اِيَادٍ وَ مَنْ لاَقَاهُمْ وَ عَلَيْهِمْ عَقَّةُ بْنُ اَبِي عَقَّةَ. فَلَمَّا دَنَا خَالِدٌ، قَالَ عَقَّةُ لِمِهْرَانَ: اِنَّ الْعَرَبَ اَعْلَمُ بِقِتَالِ الْعَرَبِ فَدَعْنَا وَ خَالِدًا. فَقَالَ لَهُ: دُوْنَكُمْ وَ اِيَّاهُمْ، وَ اِنِ احْتَجْتُمْ اِلَيْنَا اَعْنَاكُمْ. فَلاَمَتِ الْعَجَمُ اَمِيْرَهُمْ عَلَى هذَا. فَقَالَ: دَعُوْهُمْ، فَاِنْ غَلَبُوْا خَالِدًا فَهُوَ لَكُمْ، وَ اِنْ غُلِبُوْا قَاتَلْنَا خَالِدًا وَ قَدْ ضَعُفُوْا وَ نَحْنُ اَقْوِيَاءُ، فَاعْتَرَفُوْا لَهُ بِفَضْلِ الرَّأْيِ عَلَيْهِمْ.

Setelah Khalid menguasai Al-Anbar, ia menunjuk Az-Zabarqan bin Badr sebagai penggantinya di kota itu. Lalu Khalid bergerak menuju 'Ainut Tamr. Pada waktu itu kota 'Ainut Tamr dipimpin oleh Mihran bin Bahram Jubin. Maka dengan pasukan yang besar dari orang-orang 'Arab dan beberapa suku dari orang 'Arab gunung sekitarnya dari Bani Namir, Taghlib, Iyaad, dan suku-suku lain yang bersekutu dengan mereka, dengan dipimpin oleh seorang panglima yang bernama 'Aqqah bin Abi 'Aqqah telah siap untuk menghadapi kedatangan pasukan Khalid.

Ketika Khalid telah mendekati pasukan musuh, panglima 'Aqqah berkata kepada Mihran, "Sesungguhnya orang 'Arab lebih mengetahui bagaimana cara berperang dengan orang 'Arab, maka biarkanlah kami saja yang menghadapi pasukan Khalid".

Mihran menjawab, "Terserah kalian, perangilah mereka. Dan jika kalian butuh bantuan, kami segera membantu kalian". Kemudian orang-orang 'Ajam merasa kesal dan mencela sikap pemimpin mereka. Maka (Mihran) menjawab, "Biarkan mereka bertempur, jika pasukan mereka berhasil mengalahkan pasukan Khalid, maka kemenangan itu juga kemenangan kalian. Tetapi jika pasukan Khalid berhasil mengalahkan mereka, barulah kita bertindak memerangi Khalid yang pasukannya telah kehabisan tenaga dan telah melemah, sedangkan tenaga kita masih kuat". Akhirnya mereka mengakui kepiawaian pemimpin mereka.

وَ سَارَ خَالِدٌ وَ تَلَقَّاهُ عَقَّةُ. فَلَمَّا تَوَاجَهُوْا قَالَ خَالِدٌ لِمُجَنّبَتَيْهِ: اِحْفَظُوْا مَكَانَكُمْ فَاِنّي حَامِلٌ، وَ اَمَرَ حَمَاتَهُ اَنْ يَكُوْنُوْا مِنْ وَرَائِهِ، وَ حَمَلَ عَلَى عَقَّةَ وَ هُوَ يُسَوّي الصُّفُوْفَ فَاحْتَضَنَهُ وَ اَسَرَّهُ وَ انْهَزَمَ جَيْشُ عَقَّةَ مِنْ غَيْرِ قِتَالٍ، فَاَكْثَرُوْا فِيْهِمُ اْلاَسْرُ.

Kemudian Khalid terus berjalan, dan kini berhadapan dengan pasukan 'Aqqah. Setelah mereka berhadapan, Khalid berpesan kepada pasukannya yang berada di sayap kanan dan kiri, "Pertahankanlah posisi kalian, aku akan menyerbu ke dalam barisan musuh". Dan Khalid berpesan kepada pasukan yang berada di belakangnya agar tetap melindunginya. Kemudian Khalid maju mengejar 'Aqqah yang sedang merapikan barisan tentaranya, dan Khalid menyerangnya hingga berhasil menawannya. Dengan tertawannya pemimpin mereka, maka kalahlah pasukan 'Aqqah tanpa terjadi peperangan, dan banyak pasukan 'Aqqah yang ditawan.
وَ قَصَدَ خَالِدٌ حِصْنَ عَيْنِ التَّمْرِ. فَلَمَّا بَلَغَ مِهْرَانَ هَزِيْمَةُ عَقَّةَ وَ جَيْشِهِ نَزَلَ مِنَ الْحِصْنِ وَ هَرَبَ وَ تَرَكَهُ، وَ رَجَعَتْ فُلاَلُ نَصَارَى اْلاَعْرَابِ اَلىَ الْحِصْنِ فَوَجَدُوْهُ مَفْتُوْحًا فَدَخَلُوْهُ وَ احَتَمَوْا بِهِ، فَجَاءَ خَالِدٌ وَ اَحَاطَ بِهِمْ وَ حَاصَرَهُمْ اَشَدَّ الْحِصَارِ. فَلَمَّا رَأَوْا ذلِكَ، سَأَلُوْهُ الصُّلْحَ. فَاَبَى اِلاَّ اَنْ يَنْزِلُوْا عَلَى حُكْمِهِ. فَجَعَلُوْا فِي السَّلاَسِلِ وَ تُسَلَّمُ الْحِصْنُ. ثُمَّ اَمَرَ فَضُرِبَتْ عُنُقُ عَقَّةَ وَ مَنْ كَانَ اُسِرَ مَعَهُ وَ الَّذِيْنَ نَزَلُوْا عَلَى حُكْمِهِ اَيْضًا اَجْمَعِيْنَ. وَ غَنِمَ جَمِيْعَ مَا فِي ذلِكَ الْحِصْنِ.

Setelah itu Khalid bergerak menuju benteng pertahanan 'Ainut Tamr. Setelah Mihran mendengar kekalahan tentara 'Aqqah, dia segera turun dari benteng dan pergi melarikan diri meninggalkan benteng tersebut. Ketika sebagian dari pasukan Nashrani 'Arab kembali ke benteng, maka mereka mendapati benteng telah terbuka, lalu mereka masuk dan berlindung di dalamnya. Lalu Khalid datang dan mengepung benteng itu dengan ketat. Setelah musuh melihat yang demikian itu, maka mereka menawarkan kepada Khalid untuk berdamai. Khalid menolak tawaran tersebut dan memaksa agar mereka mau menerima keputusan apapun dari Khalid. Dengan terpaksa mereka pasrah menerima keputusan Khalid. Khalid memutuskan supaya mereka seluruhnya dirantai dan bentengnya diserahkan kepada Khalid. Kemudian Khalid memerintahkan agar 'Aqqah, para tawanan dan seluruh orang-orang yang menerima keputusan Khalid tersebut dibunuh, lalu mereka semua dipenggal lehernya. Dengan demikian Khalid berhasil menguasai seluruh barang-barang yang terdapat di dalam benteng tersebut.
وَ وَجَدَ فِي الْكَنِيْسَة ِالَّتِي بِهِ اَرْبَعِيْنَ غُلاَمًا يَتَعَلَّمُوْنَ اْلاِنْجِيْلَ وَ عَلَيْهِمْ بَابٌ مُغْلَقٌ فَكَسَرَهُ خَالِدٌ وَ فَرَّقَهُمْ فِي اْلاُمَرَاءِ وَ اَهْلِ الْغِنَاءِ. وَ كَانَ حُمْرَانُ صَارَ اِلىَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ مِنَ الْخَمْسِ وَ مِنْهُمْ سِيْرِيْنُ وَالِدُ مُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِيْنَ اَخَذَهُ اَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَ جَمَاعَةٌ آخَرُوْنَ مِنَ الْمَوَالِيَ الْمَشَاهِيْرِ اَرَادَ بِهِمْ وَ بِذَرَارِيْهِمْ خَيْرًا. البداية و النهاية 6: 744.

Dan Khalid mendapati sebuah gereja dalam keadaan terkunci, sedang di dalamnya terdapat empat puluh anak yang sedang mempelajari kitab Injil. Khalid menghancurkan pintunya, lalu membagi-bagikan anak-anak tersebut kepada para pimpinan orang-orang kaya. Diantara mereka ada Humran yang menjadi maula 'Utsman bin 'Affan yang pada waktu itu berusia lima tahun, dan diantara mereka terdapat pula Sirin yang kelak menjadi ayahnya Muhammad bin Sirin yang diambil oleh Anas bin Maalik, dan masih banyak lagi yang kelak menjadi tokoh ternama yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan.
لَمَّا فَرَغَ خَالِدٌ مِنْ عَيْنِ التَّمْرِ قَصَدَ اِلَى دُوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَ اسْتَخْلَفَ عَلَى عَيْنِ التَّمْرِ عُوَيْمِرَ بْنَ الْكَاهِنِ اْلاَسْلَمِيَّ. فَلَمَّا سَمِعَ اَهْلُ دُوْمَةِ الْجَنْدَلِ بِمَسِيْرِهِ اِلَيْهِمْ بَعَثُوْا اِلَى اَحْزَابِهِمْ مِنْ بَهْرَاءَ وَ تَنُوْخَ وَ كَلْبٍ وَ غَسَّانَ وَ الضَّجَاعِمِ. فَاَقْبَلُوْا اِلَيْهِمْ وَ عَلَى غَسَّانَ وَ تَنُوْخَ ابْنُ اْلاَيْهَمِ وَ عَلَى الضَّجَاعِمِ ابْنُ الْحَدْرَجَانِ. وَ جِمَاعُ النَّاسِ بِدُوْمَةٍ اِلَى رَجُلَيْنِ اُكَيْدِرِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ وَ الْجَوْدِيّ بْنِ رَبِيْعَةَ، فَاخْتَلَفَا، فَقَالَ اُكَيْدِرٌ: اَنَا اَعْلَمُ النَّاسِ بِخَالِدٍ لاَ اَحَدَ اَيْمَنِ طَائِرٍ مِنْهُ فِي حَرْبٍ وَلاَ اَحَدَ مِنْهُ وَلاَ يَرَى وَجْهَ خَالِدٍ قَوْمٌ اَبَدًا قَلُّوْا اَمْ كَثُرُوْا اِلاَّ اِنْهَزَمُوْا عَنْهُ، فَاَطِيْعُوْنِي وَ صَالِحُوا الْقَوْمَ. فَاَبَوْا عَلَيْهِ. فَقَالَ: لَنْ اُمَالِئَكُمْ عَلَى حَرْبِ خَالِدٍ. وَ فَارَقَهُمْ.

Setelah Khalid selesai menaklukkan 'Ainut Tamr, kemudian Khalid menuju ke Dumatul Jandal. Khalid menunjuk 'Uwaimir bin Al-Kahin Al-Aslamiy untuk memimpin wilayah 'Ainut Tamr. Ketika penduduk Dumatul Jandal mengetahui kedatangan pasukan Khalid, mereka segera mengirim surat minta bantuan kepada sekutu mereka, yaitu Bani Bahraa', Tanukh, Kalb, Ghassaan dan Adl-Dlajaa'im. Kemudian mereka berdatangan. Dari Ghassaan dan Tanukh dipimpin Ibnu Aiham, sedangkan dari Dlajaa'im dipimpin oleh Ibnul Hadrajaan. Kemudian seluruh pasukan di Dumatul Jandal berkumpul dibawah dua pimpinan, yaitu Ukaidir bin 'Abdul Malik dan Al-Jaudiy bin Rabi'ah. Namun keduanya berselisih, Ukaidir berkata, "Aku yang paling mengerti karakter Khalid, tidak ada orang yang lebih sigap dalam berperang dari dirinya, dan tidak ada yang lebih keras dalam berperang daripada dirinya, dan tidak satupun pasukan yang melihat wajah Khalid, baik jumlah mereka sedikit ataupun banyak, kecuali akan kalah. Oleh karena itu, ikutilah perkataanku. Lebih baik kita berdamai saja dengan mereka". Namun pasukannya menolak pendapatnya. Lalu dia berkata kepada mereka, "Aku tidak akan ikut kalian memerangi Khalid". Lalu dia pergi meninggalkan mereka.
فَبَعَثَ اِلَيْهِ خَالِدٌ عَاصِمَ بْنَ عَمْرٍو فَعَارَضَهُ فَاَخَذَهُ. فَلَمَّا اَتَى بِهِ خَالِدًا اَمَرَ فَضُرِبَتْ عُنُقُهُ وَ اُخِذَ مَا كَانَ مَعَهُ. ثُمَّ تَوَاجَهَ خَالِدٌ وَ اَهْلُ دُوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَ عَلَيْهِمُ الْجَوْدِيُّ بْنُ رَبِيْعَةَ وَ كُلُّ قَبِيْلَةٍ مَعَ اَمِيْرِهَا مِنَ اْلاَعْرَابِ. وَ جَعَلَ خَالِدٌ دُوْمَةً بَيْنَهُ وَ بَيْنَ جَيْشِ عِيَاضِ بْنِ غَنْمٍ. وَ افْتَرَقَ جَيْشُ اْلاَعْرَابِ فِرْقَتَيْنِ، فِرْقَةٌ نَحْوَ خَالِدٍ وَ حَمَلَ خَالِدٌ عَلَى مَنْ قِبَلَهُ وَ حَمَلَ عِيَاضٌ عَلَى اُولئِكَ. فَاَسَرَ خَالِدٌ الْجَوْدِيَّ وَ اَسَرَ اْلاَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ وَدِيْعَةً. وَ فَرَّتِ اْلاَعْرَابُ اِلىَ الْحِصْنِ فَمَلَأُوْهُ وَ بَقِيَ مِنْهُمْ خَلْقٌ ضَاقَ عَلَيْهِمْ، فَعَطَفَتْ بَنُوْ تَمِيْمٍ عَلَى مَنْ هُوَ خَارِجُ الْحِصْنِ فَاَعْطَوْهُمْ مِيْرَةً فَنَجَا بَعْضُهُمْ.

Kemudian Khalid mengirim utusan kepadanya yang bernama 'Ashim bin 'Amr untuk menangkapnya. Ketika dibawa ke hadapan Khalid, Khalid memerintahkan agar membunuhnya, lalu dipenggal lehernya, lalu seluruh harta miliknya diambil. Kemudian Khalid dan pasukannya berhadapan dengan pasukan Dumatul Jandal yang dipimpin oleh Al-Jaudiy bin Rabi'ah. Setiap qabilah dipimpin oleh seorang pemimpin dari kalangan 'Arab. Kemudian Khalid membagi wilayah yang akan diserbu menjadi dua bagian, sebagian Dumatul Jandal akan ditanganinya dan sebagian yang lainnya akan ditangani oleh 'Iyadl bin Ghanmin, sehingga pasukan musuh terpecah menjadi dua bagian. Sebagian menghadapi pasukan Khalid, dan sebagian lagi menghadapi pasukan 'Iyadl. Masing-masing pasukan bergerak menyerbu pasukan musuh. Khalid berhasil menawan Al-Jaudiy, sedangkan Al-Aqra' bin Habis berhasil menawan Wadi'ah. Melihat peristiwa itu para pasukan musuh dari warga 'Arab berlarian memasuki benteng dan memenuhinya. Namun jumlah mereka yang begitu banyak tidak dapat tertampung dalam benteng tersebut. Melihat yang demikian itu, Bani Tamim merasa kasihan terhadap orang-orang yang berada di luar benteng, lalu berusaha menyelamatkan mereka dengan memberikan makanan hingga akhirnya sebagian dari mereka selamat.

وَ جَاءَ خَالِدٌ فَضَرَبَ اَعْنَاقَ مَنْ وَجَدَهُ خَارِجَ الْحِصْنِ وَ اَمَرَ بِضَرْبِ عُنُقِ الْجَوْدِيّ وَ مَنْ كَانَ مَعَهُ مِنَ اْلاُسَارَى اِلاَّ اُسَارَى بَنِيْ كَلْبٍ فَاِنَّ عَاصِمَ بْنَ عَمْرٍو وَ اْلاَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ وَ بَنِي تَمِيْمٍ اَجَارُوْهُمْ. فَقَالَ لَهُمْ خَالِدُ: مَالِي وَ مَالَكُمْ اَتَحْفَظُوْنَ اَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَ تُضَيّعُوْنَ اَمْرَ اْلاِسْلاَمِ؟ فَقَالَ لَهُ عَاصِمُ بْنُ عَمْرٍو: اَتَحْسُدُوْنَهُمُ الْعَافِيَةَ وَ تُحَوّذُوْنَهُمُ الشَّيْطَانَ.

Kemudian Khalid datang, ia membunuh pasukan musuh yang berada di luar benteng. Setelah itu ia memerintahkan agar membunuh Al-Jaudiy dan orang-orang yang ditawan bersamanya, kecuali tawanan dari Bani Kalb karena telah diberikan jaminan keamanan oleh 'Ashim bin 'Amr, Aqra' bin Habis dan Bani Tamim. Kemudian Khalid bertanya kepada mereka, "Kenapa kalian berbuat begini ? Apakah kalian masih berpegang teguh dengan ikatan jahiliyyah dan meninggalkan ikatan Islam ?". Namun 'Ashim bin 'Amr menjawab, "Apakah kamu cemburu kepada keselamatan mereka dan menyerahkan mereka menjadi mangsa syaithan ?".

ثُمَّ اَطَافَ خَالِدٌ بِالْبَابِ فَلَمْ يَزَلْ عَنْهُ حَتَّى اِقْتَلَعَهُ. وَ اقْتَحَمُوا الْحِصْنَ فَقَتَلُوْا مَنْ فِيْهِ مِنَ الْمُقَاتِلَةِ وَسَبَّوْا الذَّرَارِيَ. فَبَايَعُوْهُمْ بَيْنَهُمْ فِيْمَنْ يَزِيْدَ وَ اشْتَرَى خَالِدٌ يَوْمَئِذٍ ابْنَةَ الْجَوْدِيّ وَ كَانَتْ مَوْصُوْفَةً بِالْجَمَالِ. وَ اَقَامَ بِدُوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَرَدَّ اْلاَقْرَعَ اِلَى اْلاَنْبَارِ ثُمَّ رَجَعَ خَالِدٌ اِلَى الْحِيْرَةِ، فَتَلَقَّاهُ اَهْلَهَا مِنْ اَهْلِ اْلاَرْضِ بِالتّقْلِيْسِ، فَسَمِعَ رَجُلاً مِنْهُمْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهِ مَرَّ بِنَا فَهذَا يَوْمٌ فَرِحَ الشَّرُّ. البداية و النهاية 6: 745

Kemudian Khalid berjalan mendekati pintu benteng dan berusaha untuk merobohkannya, dan akhirnya pintu tersebut pun roboh. Mulailah pasukan menyerbu benteng dan membunuh pasukan musuh yang berada di dalamnya, dan menawan para wanita dan anak-anak. Kemudian pasukan tersebut memperjual-belikan tawanan diantara sesama mereka. Pada waktu itu Khalid membeli putri Al-Jaudiy yang terkenal sangat cantik.

Setelah penaklukan Dumatul Jandal, Khalid tinggal sejenak di tempat tersebut, dan memerintahkan Aqra' untuk kembali ke Al-Anbar. Kemudian Khalid kembali ke Hiirah dan ia disambut oleh penduduknya dengan memukul rebana. Khalid mendengar salah seorang dari mereka berkata kepada kawannya, "Singgahilah kami, hari ini adalah hari gembira yang diliputi bencana". [Al-Bidaayah wan Nihaayah juz 6, hal. 745]

Perang Al-Hushaid

Tentang peperangan Al-Hushaid, Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidaayah wan Nihaayah menyebutkan sebagai berikut :

قَالَ سَيْفٌ عَنْ مُحَمَّدٍ وَ طَلْحَةَ وَ الْمُهَلَّبِ قَالُوْا: وَ كَانَ خَالِدٌ اَقَامَ بِدُوْمَةِ الْجَنْدَلِ فَظَنَّ اْلاَعَاجِمُ بِهِ وَ كَاتَبُوْا عَرَبَ الْجَزِيْرَةِ فَاجْتَمَعُوْا لِحَرْبِهِ وَ قَصَدُوا اْلاَنْبَارَ يُرِيْدُوْنَ انْتِزَاعَهَا مِنَ الزَّبْرَقَانِ وَ هُوَ نَائِبُ خَالِدٍ عَلَيْهَا. فَلَمَّا بَلَغَ ذلِكَ الزَّبْرَقَانَ كَتَبَ اِلىَ الْقَعْقَاعِ بْنِ عَمْرٍو نَائِبِ خَالِدٍ عَلَى الْحِيْرَةِ. فَبَعَثَ الْقَعْقَاعُ اَعْبَدَ ابْنَ فَدَكِي السَّعْدِيَّ وَ اَمَرَهُ بِالْحُصَيْدِ وَ بَعَثَ عُرْوَةَ بْنَ اَبِي الْجَعْدِ اَلْبَارِقِيَّ وَ اَمَرَهُ بِالْخَنَافِسِ

Ketika Khalid bermukim di Dumatul Jandal, orang-orang 'Ajam mengira bahwa Khalid akan bermukim lama di sana. Kemudian mereka menulis surat kepada warga 'Arab Jazirah untuk bersama-sama memeranginya. Dan mereka berjalan menuju Anbar dengan maksud merebutnya dari tangan Az-Zabraqan, wakil Khalid di sana. Ketika Az-Zabraqan mendengar berita itu, ia menulis surat kepada Al-Qa'qaa' bin 'Amr (wakil Khalid di Hiirah), lalu Al-Qa'qaa' segera memerintahkan A'bad bin Fadaki As-Sa'diy untuk berangkat menuju Hushaid, dan mengirim 'Urwah bin Abul Ja'diy Al-Bariqiy menuju Al-Khanaafis.

وَ رَجَعَ خَالِدٌ مِنْ دُوْمَةٍ اِلَى الْحِيْرَةِ وَ هُوَ عَازِمٌ عَلَى مُصَادَمَةِ اَهْلِ الْمَدَائِنِ مَحَلَّةِ كِسْرَى لَكِنَّهُ يَكْرَهُ اَنْ يَفْعَلَ ذلِكَ بِغَيْرِ اِذْنِ اَبِي بَكْرِ الصّدّيْقِ وَ شَغَلَهُ مَا قَدِ اجْتَمَعَ مِنْ جُيُوْشِ اْلاَعَاجِمِ مَعَ نَصَارَى اْلاَعْرَابِ يُرِيْدُوْنَ حَرْبَهُ، فَبَعَثَ الْقَعْقَاعَ بْنَ عَمْرٍو اَمِيْرًا عَلَى النَّاسِ فَالْتَقَوْا بِمَكَانٍ يُقَالُ لَهُ الْحُصَيْدُ

Setelah Khalid kembali dari Dumatul Jandal dan tiba di Hiirah dan ia berkeinginan keras untuk menaklukkan Madaain, tempat bermukim raja Kisra, namun ia merasa segan melakukan hal itu tanpa ijin Abu Bakar Ash-Shiddiiq terlebih dahulu. Dan ia juga disibukkan menghadapi pasukan 'Ajam yang telah bersekutu dengan pasukan Nashrani 'Arab yang ingin memerangi dirinya. Maka Khalid mengutus Al-Qa'qaa' bin 'Amr sebagai pimpinan pasukan. Kemudian mereka berhadapan dengan pasukan musuh di suatu tempat yang benama Al-Hushaid.
وَ عَلَى الْعَجَمِ رَجُلٌ مِنْهُمْ يُقَالُ لَهُ رُوزْبَهْ وَ اَمَدَّهُ اَمِيْرٌ آخَرُ يُقَالُ لَهُ زَرْمَهِرُ فَاقْتَتَلُوْا قِتَالاً شَدِيْدًا وَ هُزِمَ الْمُشْرِكُوْن فَقَتَلَ مِنْهُمُ الْمُسْلِمُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا وَ قَتَلَ الْقَعْقَاعُ بِيَدِهِ زَرْمَهِرَ وَ قَتَلَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ عِصْمَةُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الضَّبّيُّ رُوزْبَهْ وَ غَنِمَ الْمُسْلِمُوْنَ شَيْئًا كَثِيْرًا وَ هَرَبَ مَنْ هَرَبَ مِنَ الْعَجَمِ فَلَجَأُوْا اِلىَ مَكَانٍ يُقَالُ لَهُ خَنَافِسُ. فَسَارَ اِلَيْهِمْ اَبُوْ لَيْلَى بْنُ فَدَكِي السَّعْدِيُّ. فَلَمَّا اَحَسُّوْا بِذلِكَ سَارُوْا اِلىَ الْمُضَيَّحِ. البداية و النهاية 6: 746

Pasukan 'Ajam dipimpin oleh Ruzbah, yang dibantu panglima lain bernama Zarmahir. Maka terjadilah pertempuran yang dahsyat. Dan akhirnya orang-orang musyrik berhasil dikalahkan. Waktu itu tentara Islam berhasil membunuh pasukan musuh dalam jumlah besar, dan ada Al-Qa'qaa' berhasil membunuh Zarmahir dengan tangannya sendiri. Dan seseorang yang bernama 'Ishmah bin 'Abdullah Ad-Dlabbiy berhasil membunuh Ruzbah.

Kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan perang yang banyak. Sebagian dari tentara 'Ajam berhasil melarikan diri ke suatu tempat yang bernama Khanaafis. Kemudian Abu Laila bin Fadaki As-Sa'diy berangkat mengejar mereka. Setelah musuh mengetahui yang demikian itu akhirnya mereka melarikan diri menuju Al-Mu

Selasa, 18 Februari 2020

Shohabat Abi Dzar Al Ghifari

(,ابو ذر الغفارى رضي الله عنه)


بسم الله الرحمن الرحيم  
Untuk penulisan kali ini sengaja tidak dengan bahasa Indonesia. Akan tetapi dengan bahasa Arab sesuai riwayat dalam kitab Thobaqotusshohabah  dan kitab sejarah lainnya. Serta dah banyak penulisan riwayat yang sama dalam berbagai bahasa.‎
أبو ذر واسمه جندب بن جنادة الغفاري الكناني () أحد أكابر أصحاب رسول الله وهو رابع وقيل خامس من دخل في الإسلام وهو أول من حيا رسول الله بتحية الإسلام وأحد الذين جهروا بالإسلام في مكة قبل الهجرة ولقي في ذلك بلاء عظيما من قريش.
النسب
هو جندب بن جنادة بن سفيان بن عبيد بن حرام من غفار بن مليل بن ضمرة بن بكر بن عبد مناة بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن إلياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان، الغفاري الكناني من بني غفار من قبيلة بني كنانة ويجتمع نسبه مع الرسول محمد بن عبد الله في كنانة بن خزيمة. واختلف في اسمه فقيل أنه جندب بن السكن و قيل بريرة بن جنادة ولكن المشهور أنه جندب بن جنادة.
قبل الإسلام
كان أبو ذر ذو بصيرة، وممن يتمردون على عبادة الأصنام، ويذهبون إلى الايمان بإله خالق عظيم، فما أن سمع عن الدين الجديد حتى شد الرحال إلى مكة.
وروى مثله أحمد بن حنبل في مسنده.
المظهر و الشكل
كان أبو ذر آدم طويلا أبيض الرأس واللحية، أسمر اللون نحيفًا.
إسلامه
أسلم بمكة قديما وقال كنت في الإسلام رابعًا ورجع إلى بلاد قومه فأقام بها حتى مضت بدر وأحد والخندق ثم قدم المدينة.
ويروي أبو ذر قصة إسلامه في الحديث الذي رواه البخاريعن ابن عباس () قال: ألا أخبركم بإسلام أبي ذر؟ قال: قلنا بلى. قال: قال أبو ذر : قد صليت قبل أن ألقى رسول الله -- . بثلاث سنين .قلت : لمن ؟ قال : لله . قلت : أين توجه ؟ قال : حيث وجهني الله ، أصلي عشاء حتى إذا كان من آخر الليل ألقيت كأني خفاء حتى تعلوني الشمس وقد كنت رجلا من غفار فبلغني من أخي أنيس أن رجلا قد خرج بمكة يزعم أنه نبي فقلت لأخي انطلق إلى هذا الرجل كلمه وإتني بخبره فانطلق فلقيه ثم رجع فقلت ما عندك فقال والله لقد رأيت رجلا يأمر بالخير وينهى عن الشر قلت : فما يقول الناس ؟ قال : يقولون : شاعر ، كاهن ، ساحر . قال : وكان أنيس أحد الشعـراء ، فقال : لقد سمعت قول الكهنة ، وما هو بقولهم ، ولقد وضعت قوله على أقوال الشعراء فما يلتئم على لسان أحد أنه شعر ، والله إنه لصادق ، وإنهم لكاذبون ! فقلت له: لم تشفني من الخبر فأخذت جرابًا وعصا ثم أقبلت إلى مكة فجعلت لا أعرفه وأكره أن أسأل عنه وأشرب من ماء زمزم وأكون في المسجد قال فمر بي علي فقال كأن الرجل غريب قال: قلت: نعم. قال فانطلق إلى المنزل قال فانطلقت معه لا يسألني عن شيء ولا أخبره فلما أصبحت غدوت إلى المسجد لأسأل عنه، وليس أحد يخبرني عنه بشيء. قال فمر بي عليفقال: أما آن للرجل أن يعرف منزله بعد. قال: قلت لا. قال: انطلق معي قال: فقال ما أمرَّك وما أقدمك هذه البلدة؟ قال: قلت له إن كتمت عليَّ أخبرتك قال: فإني أفعل، قال: قلت له بلغنا أنه قد خرج ها هنا رجل يزعم أنه نبي فأرسلت أخي ليكلمه فرجع ولم يشفني من الخبر فأردت أن ألقاه.
فقال له: أما إنك قد رشدت هذا وجهي إليه فاتبعني ادخل حيث أدخل فإني إن رأيت أحدا أخافه عليك قمت إلى الحائط كأني أصلح نعلي وامض أنت فمضى ومضيت معه حتى دخل ودخلت معه على النبي فقلت له: اعرض علي الإسلام فعرضه فأسلمت مكاني فقال لي يا أباذر اكتم هذا الأمر وارجع إلى بلدك فإذا بلغك ظهورنا فأقبل فقلت والذي بعثك بالحق لأصرخن بها بين أظهرهم فجاء إلى المسجد وقريش فيه فقال يا معشر قريش إني أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، فقالوا قوموا إلى هذا الصابئ فقاموا فضربت لأموت، فأدركني العباس فأكب علي ثم أقبل عليهم فقال: ويلكم تقتلون رجلا من غفار ومتجركم وممركم على غفار؟! فأقلعوا عني فلما أن أصبحت الغد رجعت فقلت مثل ما قلت بالأمس فقالوا قوموا إلى هذا الصابئ فصنع بي مثل ما صنع بالأمس وأدركني العباس فأكب علي وقال مثل مقالته بالأمس قال فكان هذا أول إسلام أبي ذر.
تركت هذه الحادثة أثراً سلبياً على نفسية أبي ذر، وعاهد نفسه أن يثأر من قريش، فخرج وأقام بـ"عسفان"، وكلما أقبلت عير لقريش يحملون الطعام، يعترضهم ويجبرهم على إلقاء أحمالهم، فيقول أبو ذر لهم: لا يمس أحد حبة ‏حتى تقولوا لا إله إلا الله، فيقولون لا إله إلاّ الله، ويأخذون ما لهم.
إسلام قومه على يديه
حين رجع أبو ذر إلى قومه، نفّذ وصيّة رسول الله، فدعاهم إلى الله عز وجل، ونبذ عبادة الأصنام والإيمان برسالة محمد، فكان أول من أسلم منهم أخوه أنيس، ثم أسلمت أمهما، ثم أسلم بعد ذلك نصف قبيلة غفار، ‏وقال نصفهم الباقي، إذا قدم رسول الله إلى المدينة، أسلمنا، وهذا ما تم، وجاؤوا فقالوا يا رسول الله: إخوتنا، نسلم على الذي أسلموا عليه، فأسلموا. وفي ذلك قال رسول الله: "غفّار غفر الله لها، وأسلم سالمها الله "[1].
شهادته
روى البلاذري في كتاب الأنساب : لما أعطى عثمان مروان بن الحكم ما أعطاه، وأعطى الحارث بان الحكم ابن أبي العاص، ثلاثمائة ألف درهم، جعل أبو ذر يقول : بشر الكانزين بعذاب أليم، ويتلو قول الله عز وجل : « والذين يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها في سبيل الله، فبشرهم بعذاب أليم ».
فرفع ذلك مروان بن الحكم إلى عثمان. فأرسل إلى أبي ذر، ناتلا مولاه : أن انته عما يبلغني عنك. فقال : أينهاني عثمان عن قراءة كتاب الله. وعيب من ترك أمر الله ؟ فوالله، لئن أرضي الله بسخط عثمان، أحب الي، وخير لي، من أن أسخط الله برضاه. فاغضب عثمان ذلك، واحفظه، فتصابر، وكف. وقال عثمان يوما : أيجوز للامام أن يأخذ من المال، فاذا أيسر قضى ؟ فقال كعب الأحبار : لا بأس بذلك ! فقال أبو ذر : يا ابن اليهوديين، أتعلمنا ديننا ؟ فقال عثمان : ما أكثر أذاك لي، وأولعك باصحابي ؟ إلحق بمكتبك، وكان مكتبه بالشام، إلا أنه كان يقدم حاجا، ويسال عثمان الإذن له في مجاورة قبر رسول الله فيأذن له في ذلك، وانما صار مكتبه بالشام، لأنه قال لعثمان حين رأى البناء قد بلغ سلعا، أني سمعت رسول الله يقول : إذا بلغ البناء سلعا، فالهرب، فاذن لي أن آتي الشام فأغزو هناك. فأذن له.
وكان أبو ذر ينكر على معاوية اشياء يفعلها، وبعث اليه معاوية بثلاثمائة دينار، فقال : إن كانت من عطائي الذي حرمتمونيه عامي هذا ؟ قبلتها ! وان كانت صلة فلا حاجة لي فيها. وبعث اليه مسلمة الفهري بمائتي دينار، فقال : أما وجدت أهون عليك مني، حين تبعث الي بمال ؟ وردَّها.
وبنى معاوية الخضراء بدمشق، فقال : يا معاوية، إن كانت هذه الدار من مال الله ؟ فهي الخيانة، وان كانت من مالك ؟ فهذا الاسراف. فسكت معاوية، وكان أبو ذر يقول : والله لقد حدثت أعمال ما أعرفها، والله ما هي في كتاب الله، ولا سنة نبيه. والله اني لأرى حقا يطفأ، وباطلا يحيى، وصادقا يكذب، وأثرة بغير تقى، وصالحا مستأثرا عليه. فقال حبيب بن مسلمة لمعاوية : ان أبا ذر مفسد عليك الشام، فتدارك أهله إن كانت لكم به حاجة. فكتب معاوية إلى عثمان فيه.
ويروى ابن سعد في طبقاته:
عن أبي ذر قال قال النبي يا أبا ذر كيف أنت إذا كانت عليك أمراء يستأثرون بالفئ قال قلت إذا والذي بعثك بالحق أضرب بسيفي حتى ألحق به فقال أفلا أدلك على ما هو خير من ذلك اصبر حتى تلقاني قال أخبرنا هشيم قال أخبرنا حصين عن زيد بن وهب قال مررت بالربذة فإذا أنا بأبي ذر قال فقلت ما أنزلك منزلك هذا قال كنت بالشام فاختلفت أنا ومعاوية في هذه الآية والذين يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها في سبيل الله وقال معاوية نزلت في أهل الكتاب قال فقلت نزلت فينا وفيهم قال فكان بيني وبينه في ذلك كلام فكتب يشكوني إلى عثمان.
يروي المسعودي في مروج الذهب : وكان في ذلك اليوم قد أتي عثمان بتركة عبد الرحمن بن عوف الزهري من المال، فنثرت البدر، حتى حالت بين عثمان وبين الرجل الواقف، فقال عثمان : إني لأرجو لعبد الرحمن خيرا، لأنه كان يتصدق، ويقري الضيف، وترك ما ترون. فقال كعب الأحبار : صدقت يا أمير المؤمنين. فشال أبو ذر العصا، فضرب بها رأس كعب ولم يشغله ما كان فيه من الألم، وقال : يا ابن اليهودي، تقول لرجل مات وترك هذا المال إن الله أعطاه خير الدنيا وخير الآخرة، وتقطع على الله بذلك، وانا سمعت النبي يقول : ما يسرني أن أموت، وأدَعَ مايزن قيراطاً. فقال له عثمان : وارِعني وجهك. فقال : أسير إلى مكة. قال : لا والله ؟ قال : فتمنعني من بيت ربي أعبده فيه حتى أموت ؟ قال. إي والله. قال : فالى الشام، قال : لا والله. قال : البصرة. قال : لا والله، فاختر غير هذه البلدان. قال : لا والله ما اختار غير ما ذكرت لك. ولو تركتني في دار هجرتي، ما أردت شيئا من البلدان، فسيرني، حيث شئت من البلاد. قال : فاني مسيرك إلى الربذة. قال : الله أكبر، صدق رسول الله قد أخبرني بكل ما أنا لاق. قال : عثمان : وما قال لك ؟ قال : أخبرني بأني أمنع عن مكة، والمدينة، وأموت بالربذة، ويتولى مواراتي نفر ممن يردون من العراق نحو الحجاز.
جهاده بلسانه
ومضى عهد الرسول ومن بعده عهد أبو بكر وعمر، في تفوق كامل على مغريات الحياة وفتنتها، وجاء عصر عثمان وبدأ يظهر التطلع إلى مفاتن الدنيا ومغرياتها، وتصبح السلطة وسيلة للسيطرة والثراء والترف، رأى أبو ذر ذلك فمد يده إلى سيفه ليواجه المجتمع الجديد، لكن سرعان ما فطن إلى وصية رسول الله: (وما كان لمؤمن أن يقتل مؤمنا إلا خطأ).
فكان لابد هنا من الكلمة الصادقة الأمينة، فليس هناك أصدق من أبي ذر لهجة، وخرج أبو ذر إلى معاقل السلطة والثروة معترضا على ضلالها، وأصبح الراية التي يلتف حولها الجماهير والكادحين، وذاع صيته وهتافه يردده الناس أجمعين: (بشر الكانزين الذين يكنزون الذهب والفضة بمكاو من نار تكوى بها جباههم وجنوبهم يوم القيامة).
وبدأ أبو ذر بالشام، أكبر المعاقل (عجبت لمن لا يجد القوت في بيته، كيف لا يخرج على الناس شاهرا سيفه).
ثم ذكر وصية الرسول بوضع الأناة مكان الانقلاب، فيعود إلى منطق الإقناع والحجة، ويعلم الناس بأنهم جميعا سواسية كأسنان المشط، جميعا شركاء بالرزق، إلى أن وقف أمام معاوية يسائله كما أخبره الرسول في غير خوف ولا مداراة، ويصيح به وبمن معه: (أفأنتم الذين نزل القرآن على الرسول وهو بين ظهرانيهم؟؟).
ويجيب عنهم: (نعم أنتم الذين نزل فيكم القرآن، وشهدتم مع الرسول المشاهد)، ويعود بالسؤال: أولا تجدون في كتاب الله هذه الآية: {...وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ * يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ}.
فيقول معاوية: (لقد أنزلت هذه الآية في أهل الكتاب). فيصيح أبو ذر: (لا بل أنزلت لنا ولهم)، ويستشعر معاوية الخطر من أبي ذر فيرسل إلى الخليفة عثمان : (إن أبا ذر قد أفسد الناس بالشام). فيكتب عثمان إلى أبي ذر يستدعيه، فيودع الشام ويعود إلى المدينة، ويقول للخليفة بعد حوار طويل: (لا حاجة لي في دنياكم). وطلب الأذن بالخروج إلى (الربذة). وهناك طالبه البعض برفع راية الثورة ضد الخليفة ولكنه زجرهم قائلا: (والله لو أن عثمان صلبني على أطول خشبة، أو جبل، لسمعت وأطعت، وصبرت واحتسبت، ورأيت ذلك خيرا لي).
فأبو ذر لا يريد الدنيا، بل لا يتمنى الإمارة لأصحاب رسول الله ليظلوا روادا للهدى. لقيه يوما أبو موسى الأشعري ففتح له ذراعيه يريد ضمه فقال له أبو ذر: (لست أخيك، إنما كنت أخيك قبل أن تكون واليا وأميرا). كما لقيه يوما أبو هريرةواحتضنه مرحبا، فأزاحه عنه وقال: (إليك عني، ألست الذي وليت الإمارة، فتطاولت في البنيان، واتخذت لك ماشية وزرعا). وعرضت عليه إمارة العراق فقال: (لا والله. لن تميلوا علي بدنياكم أبدا).
سيرته مع عثمان
روى هشام ، عن ابن سيرين : أن رسول الله—قال لأبي ذر : "إذا بلغ البناء سلعا فاخرج منها - ونحا بيده نحو الشام - ولا أرى أمراءك يدعونك. قال : أو لا أقاتل من يحول بيني وبين أمرك ؟ قال : لا . قال : فما تأمرني ؟ قال : اسمع وأطع ، ولو لعبد حبشي .فلما كان ذلك ، خرج إلى الشام . فكتب معاوية : إنه قد أفسد الشام . فطلبه عثمان ; ثم بعثوا أهله من بعده ، فوجدوا عندهم كيسا أو شيئا ; فظنوه دراهم ، فقالوا : ما شاء الله فإذا هي فلوس .فقال عثمان : كن عندي . قال : لا حاجة لي في دنياكم ; ائذن لي حتى أخرج إلى الربذة . فأذن له ; فخرج إليها ، وعليها عبد حبشي لعثمان ، فتأخر وقت الصلاة -لمّا رأى أبا ذر- فقال أبو ذر : تقدم فصلِّ .
فضله ومناقبه
كان أبو ذر رابع أربعة، وقيل: خامس خمسة في الإسلام، وهو أول من حيا رسول الله بتحية الإسلام. وكان أبو ذر الغفاري من الرجال الذين أحبهم رسول الله ووصفه بصفتين التصقا به وأصبحا يوجهانه في المواقف المختلفة، وهما الصدق والوحدة والتفرد، ولقد دفع الصدق أبا ذر لأن يكون من أكثر الصحابة مجاهرة بالحق مهما عرضه ذلك للأذى فكان من القلائل الذين أعلنوا إسلامهم في قريش، أما الوحدة والتفرد فقد قال عنه رسول الله (رحم الله أبا ذر يمشي وحده ويموت وحده).
وردت أحاديث في كتب الصحاح في فضل أبي ذرالغفاري () ومناقبه ومنها: عن أبي حرب بن أبي الأسود قال سمعت عبد الله بن عمر قال سمعت رسول الله يقول "ما أقلت الغبراء ولا أظلت الخضراء من رجل أصدق من أبي ذر" رواه الإمام أحمد.
وعن الحارث بن يزيد الحضرمي عن ابن حجيرة الأكبر عن أبي ذر قال "قلت يا رسول الله ألا تستعملني قال فضرب بيده على منكبي ثم قال يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها وأدى الذي عليه فيها" رواه مسلم.
وعن ابن بريدة عن أبيه قال: قال رسول الله "إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا وأبو ذر والمقداد وسلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم" (رواه الترمذي وقال هذا حديث حسن غريب لا نعرفه إلا من حديث شريك)
وعن المعرور بن سويد قال لقيت أبا ذر بالربذة وعليه حلة وعلى غلامه حلة فسألته عن ذلك فقال إني ساببت رجلا فعيرته بأمه فقال لي النبي "يا أبا ذر أعيرته بأمه إنك امرؤ فيك جاهلية إخوانكم خولكم جعلهم الله تحت أيديكم فمن كان أخوه تحت يده فليطعمه مما يأكل وليلبسه مما يلبس ولا تكلفوهم ما يغلبهم فإن كلفتموهم فأعينوهم" رواه مسلم.
وعن الأحنف بن قيس قال كنت بالمدينة فإذا أنا برجل يفر الناس منه حين يرونه قال قلت من أنت قال أنا أبو ذر صاحب رسول الله قال قلت ما يفر الناس قال إني أنهاهم عن الكنوز بالذي كان ينهاهم عنه رسول الله.
وروي أن النبي قال: "أبو ذر يمشي على الأرض في زهد عيسى ابن مريم".
وروى عنه عمر بن الخطاب، وابنه عبد الله بن عمر، وابن عباس، وغيرهم من الصحابة، ثم هاجر إلى الشام بعد وفاة أبي بكر، فلم يزل بها حتى ولي عثمان، فاستقدمه لشكوى معاوية منه، فأسكنه الربذة حتى مات بها‏.
وقد كان مما حصل بينه وبين عثمان بن عفان خلافا استغله زعماء الفتنة المسلحة وشكلوا منه تهمة برروا بها مع غيرها انتهاكهم حرمة الخلافة وحياة الخليفة –ابن عفان- وصل عثمان بن عفان أخبارا من معاوية أن أبا ذر يفسد الناس بالشام وقد كان ابن عفان قد ولاه على أهل الشام فأرسل إليه الخليفة أن ائتني إلى المدينة، فأتاه أبو ذر وجرى بينهما نقاشا لم يقتنع كل منهم برأي الآخر. فصار هنا روايتين عن التاريخ أحداهما أن الخليفة قرر إبعاده إلى الربذة بعيدا عن المدينة.. والثانية أن أبا ذر هو الذي طلب من الخليفة أن يأذن له أن يخرج إلى الربذة حيث يقضي بقية أيامه هناك وأيا كان الصواب فلقد أحب الخليفة أن يظل عنده في المدينة قائلاً له "ابق معنا تغدو عليك اللقاح وتروح" لكن أبا ذر عرف أن البعد له أفضل وهكذا خرج الغفاري إلى الربذة راضياً وبهدوء حتى نودي لساعة الرحيل. وهناك أيضاً قصة أن بعدما رحل الغفاري إلى الربذة جائه بعض متآمري الكوفة وعرضوا عليه أن يتزعم ثورة مسلحة ضد الخليفة فإذا هو يجيبهم بلفظ زاجر: "والله لو أن عثمان صلبني على أطول خشبة أو أطول جبل لسمعت وأطعت وصبرت واحتسبت ورأيت ذلك خيراً لي" "ولو سيرني ما بين الأفق إلى الأفق، لسمعت وأطعت وصبرت وحتسبت ورأيت ذلك خيراً لي" "ولو ردني إلى منزلي لسمعت وأطعت وصبرت واحتسبت ورأيت ذلك خيراً لي"
اقتداؤه بالرسول
عاش 3، ص ،513، ح رقم 1079|متن = حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْبَزَّارِ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ مُهَاجِرٍ عَنِ ابْنِ حَلْبَسٍ عَنْ مُعَأوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ: لَمَّا خَرَجَ أَبُو ذَرٍّ إِلَى الرَّبَذَةِ لَقِيَهُ رَكْبٌ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَقَالُوا: يَا أَبَا ذَرٍّ قَدْ بَلَغَنَا الَّذِي صُنِعَ بِكَ فاعقد لواء يأتيك رِجَالٌ مَا شِئْتَ قَالَ: مَهْلا يَا أَهْلَ الإِسْلامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "سَيَكُونُ بَعْدِي سُلْطَانٌ فأعزوه مَنِ الْتَمَسَ ذُلَّهُ ثَغَرَ ثُغْرَةً فِي الإِسْلامِ وَلَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ تَوْبَةٌ حَتَّى يُعِيدَهَا كَمَا كَانَتْ") إسناده صحيح ورجاله رجال الصحيح غير ابن حلبس وهو يونس بن ميسرة وهو ثقة. وللحديث طريق أخرى يرويها الْقَاسِمُ بْنُ عَوْفٍ الشَّيْبَانِيُّ عَنْ رجل عن أبي ذر نحوه أتم منه. أخرجه أحمد 5/165.}}
أهم ملامح شخصيته
الزهد الشديد والتواضع
كان من أوعية العلم المبرزين في الزهد والورع والقول الحق سئل علي عن أبي ذَرّ فقال ذلك رجل وعى علما عجز عنه الناس ثم أوكأ عليه فلم يخرج شيئا منه... وروى عن النبي أنه قال: " أبو ذَرّ في أمتي شبيه عيسى بن مريم في زهده ". وبعضهم يرويه: "من سره أن ينظر إلى تواضع عيسى بن مريم فلينظر إلى أبي ذَرّ"
ومرّ فتى على عمر بن الخطاب ، فقال عمر: نعم الفتى، فتبعه أبو ذَرّ فقال: يا فتى استغفر لي، فقال: يا أبا ذَرّ أستغفر لك وأنت صاحب رسول الله ، قال: استغفر لي، قال: لا أو تخبرني، فقال: إنك مررت على عمر فقال: نعم الفتى، وإني سمعت رسول الله يقول: "إن الله جعل الحق على لسان عمر وقلبه"
وقيل لأبي ذرٍّ ألا تتخذ أرضا كما اتخذ طلحة والزبير؟ فقال: وما أصنع بأن أكون أميرا وإنما يكفيني كل يوم شربة من ماء أو نبيذ أو لبن وفي الجمعة قفيز من قمح.
وعن أبي ذَرّ قال: "كان قوتي على عهد رسول الله صاعا من التمر فلست بزائد عليه حتى ألقى الله".
صدق اللهجة
قال أبو ذَرّ: قال لي رسول الله : "ما تقلّ الغبراء ولا تظل الخضراء على ذي لهجة أصدق وأوفي من أبي ذَرّ، شبيه عيسى بن مريم" قال: فقام عمر بن الخطاب فقال: يا نبي الله أفنعرف ذلك له قال: "نعم فاعرفوا له".
الحرص على الجهاد رغم الصعوبات
عن عبد الله بن مسعود قال: لما سار رسول الله إلى تبوك جعل لا يزال يتخلف الرجل فيقولون يا رسول الله تخلف فلان فيقول دعوه إن يك فيه خير فسيلحقه الله بكم وإن يك غير ذلك فقد أراحكم الله منه حتى قيل يا رسول الله تخلف أبو ذَرّ وأبطأ به بعيره فقال رسول الله دعوه إن يك فيه خير فسيلحقه الله بكم وإن يك غير ذلك فقد أراحكم الله منه فتلوم أبو ذَرّ على بعيره فأبطأ عليه فلما أبطأ عليه أخذ متاعه فجعله على ظهره فخرج يتبع رسول الله ماشيا ونزل رسول الله في بعض منازله ونظر ناظر من المسلمين فقال يا رسول الله هذا رجل يمشي على الطريق فقال رسول الله كن أبا ذَرّ فلما تأمله القوم قالوا يا رسول الله هو والله أبو ذَرّ فقال رسول الله رحم الله أبا ذَرّ يمشي وحده ويموت وحده ويبعث وحده...
وفاته
وقد ورد أنه خرج مع رسول الله في غزوة تبوك وكانت راحلته كبيرة فتأخرت في السير فتركها وحمل متاعه وسار خلف الركب فلما أبصره رسول الله قال : رحم الله أبا ذر يمشي وحده ويموت وحده ويدفن وحده ويبعث وحده.
فبقي في (الربذة) حتى جاءت سكرات الموت لأبي ذر الغفاري، وبجواره زوجته تبكي، فيسألها: (فيم البكاء والموت حق؟)... فتجيبه بأنها تبكي: (لأنك تموت، وليس عندي ثوب يسعك كفنا !)... فيبتسم ويطمئنها ويقول لها: لا تبكي، فاني سمعت رسول الله ذات يوم وأنا عنده في نفر من أصحابه يقول: (ليموتن رجل منكم بفلاة من الأرض، تشهده عصابة من المؤمنين). وكل من كان معي في ذلك المجلس مات في جماعة وقرية، ولم يبق منهم غيري، وهأنذا بالفلاة أموت، فراقبي الطريق فستطلع علينا عصابة من المؤمنين، فاني والله ما كذبت ولا كذبت) وروي أنه قال لزوجته وغلامه: ((اغسلاني وكفناني وضعاني على قارعة الطريق ، فأول ركب يمر بكم قولوا : هذا أبو ذر ، فأعينونا عليه)). وبعد أن فاضت روحه إلى الله، فعلوا ما أمرهم به ولم ينتبهوا إلا وصاحب رسول الله عبد الله بن مسعود الهذلي يمر عليهم في نفر معه فلما رآه عبد الله بكى واسترجع وقال : صدق رسول الله: تمشي وحدك ، وتموت وحدك ، وتبعث وحدك ومن ثم صلوا عليه وواروه الثرى‎.
توفي أبو ذر سنة اثنتين وثلاثين 32 هـ بالربذة وقيل بشهر ذي الحجة وقيل سنة 31 هـ ، وصلى عليه عبد الله بن مسعود؛ ثم حمل عياله إلى عثمان بن عفان بالمدينة، فضم ابنته إلى عياله، وقال: يرحم الله أبا ذر.

Dzuriyah Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib


Pernah kami tulis tentang Hadhromaut dan keturunan Sayidina Husain dan ingin alfaqir tuliskan sejarah Sayidina Hasan dan sebagian keturunan Beliau. Bukan untuk kesombongan... akan tetapi untuk pengetahuan bahwa tidak hanya Dzuriyah Sayidina Husain yg masih keturunan Baginda Nabi yang menyebar.
Imam Hasan adalah putra pertama pasangan Imam Ali Kw. dan Fathimah Az-Zahra. Beliau dilahirkan di Madinah pada tanggal 15 Ramadhan 2 atau 3 H. Setelah sang ayah syahid, beliau memegang tampuk pemerintahan Islam selama enam bulan. Beliau syahid pada tahun 50 H setelah meminum racun yang disuguhkan oleh istrinya sendiri, Ja’dah di usianya yang ke-48 tahun. Beliau dikuburkan di Perkuburan Baqi’
Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tarikhul Khulafa` bercerita: “Imam Hasan a.s. dilahirkan pada tahun 3 H. Beliau adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW. Pada hari ketujuh dari kelahirannya, Rasulullah SAWW menyembelih kambing untuk akikahnya dan ia mencukur rambutnya. Rambut itu kemudian ditimbang dan sesuai dengan kadar timbangannya Rasulullah SAW bersedekah perak. Beliau adalah salah satu ahli kisa`. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, aku sangat mencintainya, oleh karena itu, cintailah dia”. Pada kesempatan yang lain Rasulullah SAW bersabda: “Hasan dan Husein adalah dua penghulu penghuni surga”.
Ibnu Abbas berkata: “Suatu hari Hasan naik di atas pundak Rasulullah SAW. Salah seorang sahabat berkata: “Wahai anak muda, engkau memiliki tunggangan yang sangat bagus!”. “Tidak begitu, ia adalah penunggang yang terbaik”, jawab Rasulullah SAW menimpali. Beliau memiliki jiwa yang tenang, berwibawa, tegar, pemaaf dan sangat disukai masyarakat. Beliau sangat peduli terhadap orang-orang miskin. Beliau sering membantu mereka melebihi kebutuhan mereka sehingga kehidupan mereka sedikit lebih makmur. Hal ini karena beliau tidak ingin seorang peminta datang beberapa kali kepadanya untuk meminta sesuatu yang akhirnya beliau merasa malu.
Sayidina Hasan Ra menikahi sembilan orang wanita
Ummu Farwa (ibu dari Qasim bin Hasan)
Khaulah binti Mansur al Fazariyah (ibu dari Hasan al Mutsanna)
Ummu Bashir
Saqfia
Ramlah (ibu dari Abu Bakar bin Hasan)
Ummul Hassan
Binti Umrul qais
Ju'dah binti Asy'ath bin Qays
UmmuIshaq binti Talhah (ibu dari Talhah bin Hasan)
Imam Hasan Assibt memiliki 3 putri dan 13 putra yaitu:
1.       Fatimah (  Ibunda dari Al Imam Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin)
2.       Soleha
3.       Rogayyah
4.       Hasan Al Mutsanna
5.     Hamzah
6.       Aqiel
7.       Umar
8.       Qasim
9.       Abdullah
10.   Abdurrahman
11.   Zaid  bergelar al-Ablaj yang menurunkan para Syarif Makkah dan Dinasti Hasyimiyah Yordania sampai sekarang 
12.   Ahmad
13.   Ismail
14.   Abdullah Asghor
15.   Hasan
16.   Husin
 Imam Hasan Al Mutsanna ini mempunyai putra :
1.       Hasan Al Mutsalist
2.       Abdullah Al Mahdi Al Kamil
3.       Muhammad ( datuk dari Al Imam Abu Hasan As Syadzili Al Hasani) dalam satu riwayat dari garis Ibu.
4.       Ibrahim Al Qhomri (datuk dari keluarga Taba'-taba'i/sebagian keluarga ini memakai Al Hasani termasuk yang ada di Indonesia.
Al Imam Abdullah Al Mahdi Al Kamil ini mempunyai putra :
1.       Sulaiman
2.       Muhammad
3.       Yahya
4.       Ibrahim
5.       Musa   bergelar Al Juni (datuk dari Al Anggawie. Serta keluarga Somalangu Kebumen dari As Syech Al Imam Al Qutb Abdul Kadir Jailani)
6.       Idris al Akbar yang menurunkan Ulama Maghrib (Maroko) diantaranya Asyaikh Abu Abdillah Abdussalam Bin Misyisy Al Maghrib Al Idrisy Alhasany Asyaikh Abil Hasan Asyadzili Alhasany. Dan al faqir silsilah Nasab sampai sini.
serta datuk dari As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid yang akan al faqir ulas dibawah
KABILAH DARI KETURUNAN IMAM AL HASAN
Yusuf bin Abid
As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid ini adalah murid langsung dan utama dari As Syech Al Imam Al Qutb Fakhr Wujud Syech Abubakar bin Salim sehingga didalam tawassul, kita menjumpai nama Beliau selalu disebut setelah nama As Syech Abubakar bin Salim.
Susun galur nama beliau adalah sbb : As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid bin Muhammad bin Umar bin Ibrahim bin Umar bin Isa bin Abi Wakil Maimun bin Isa bin Musa bin Azuz bin Abdul Aziz bin 'Allal bin Jabir bin 'Iyad bin Gasim bin Ahmad bin Muhammad bin Idris As tsani bin Idris bin Abdullah bin Al Imam Hasan Al Mutsana bin Sayyidina Hasan r.a.
As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid mempunyai 4 orang putra yaitu :
1.       Abi Wakil
2.       Muhammad
3.       Abdullah
4.     Umar
Umar, mempunyai seorang putra yaitu Abdullah. Dari keturunan As Syech As Syarief Abdullah bin Umar inilah keturunan As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid berpangkal/bermula. Jadi semua keturunan dari As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid yang ada saat ini melewati jalur As Syech As Syarief Abdullah bin Umar ini.
As Syech Abdullah bin Umar ini mempunyai 2 putra yaitu:
1.    Syech
Syech berputra Ibrahim, Ibrahim berputra Syech, Syech berputra Abdullah. 
Abdullah mempunyai  2 putra yaitu :
a.         Masyhur, mempunyai 2 putra yaitu :
1.       Muhammad
2.       Abdullah, keturunan dari As Syech As Syarief Abdullah ini ada di Manado.
b.         Muhammad, berputra Husin. As Syech As Syarief Husin ini berputra 24 orang yaitu :
1.       Ibrahim (Surabaya) keturunannya di India&Surabaya.
2.       Alwi, (Gorontalo).
3.       Muchsin, keturunannya ada di Sewon dan Maryamah.
4.       Muhammad, (Gresik) keturunannya ada di Gresik.
5.       Ubaidillah, (Gorontalo).
6.       Abdurrahman, (Bangil) keturunannya ada di Surabaya,Gorontalo.
7.       Muhdhor, keturunannya di Manado.
8.       Alwi.
9.       Abubakar, (Maryamah).
10.   Umar, (Gorontalo).
11.   Ali, (Gorontalo).
12.   Sagaf, (Gorontalo).
13.   Zain, (Gorontalo).
14.   Hamid, (Gorontalo).
15.   Ahmad, (Gorontalo) keturunannya ada di Gorontalo, Gresik.
16.   Idrus, (Gorontalo).
17.   Ja'far, (Gorontalo).
18.   Abdullah, keturunannya di Gresik.
19.   Hasan, (Gorontalo).
20.   Syech, keturunannya ada di Gorontalo, Surabaya, dan Menado.
21.   Yusuf, (Sidoarjo) keturunannya ada di Sewon dan Gorontalo.
22.   Salim, keturunannya ada di Gorontalo.
23.   Hud, keturunannya ada di Gorontalo.
24.   Abdul Kadir, keturunannya ada di Gorontalo.
2.    Yusuf berputra Ibrahim
As Syech As Syarief Ibrahim ini mempunyai 3 putra yaitu :
a.         Masyhur, mempunyai 2 orang anak yaitu :
1.       Alwi, keturunannya ada di Sewon, Manado, Pasuruan dan Gorontalo.
2.       Muhammad, keturunannya ada di Pekalongan, Gorontalo, Labuhan Haji (Sumbawa), Taliwang (Sumbawa).
Kelompok ini dikeluarga Al Hasani memakai gelar Al Masyhur Al Hasani.
b.         Syech, (wafat di Pekalongan) mempunyai 2 putra yaitu :
1.       Thoha, keturunannya ada di Sumenep,Telangu, Kalianget (Madura).
2.       Abdul Qadir, keturunannya ada di Lumajang, Bangil, Surabaya dan Pasuruan.
c.          Hasan, mempunyai 2 putra yaitu :
1.       Ali, keturunannya ada di Pekalongan dan Kali wungu.
2.       Muhammad, keturunannya ada di Kendal dan Pekalongan.
Keturunan Yusuf bin Abid ini, satu-satunya family al-Hasani yang tercatat di Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah, hal itu disebabkan kakek mereka Yusuf bin Abid yang berasal dari kota Fez-Maghrib mengembara untuk menuntut ilmu ke berbagai kota di antaranya Tilmisan, Miknas hingga Hadramaut. Karena beliau datang ke Hadramaut, maka keturunan al-Hasani dari Yusuf bin Abid ini tercatat dalam kitab-kitab nasab Alawiyin yang berasal dari Hadramaut.
 Abu Numai
Keluarga Abu Numai dinisbahkan kepada Syarif Abu Numai al-Awal, yaitu : Muhammad bin Abi Saad al-Hasan bin Ali bin Qatadah bin Idris al-Hasani. Selain sebutan Abu Numai mereka juga diberi gelar al-Namawi. Di antara keturunan mereka adalah famili al-Anggawi, al-Anani, al-Nu’ari, dan lainnya.
Sedangkan dari keturunan Abu Numai al-Tsani, yaitu : Muhammad bin Barakat bin Muhammad bin Barakat bin al-Hasan bin Ajlan bin Rumaitsah bin Abi Numai al-Awal Muhammad bin Abi Saad al-Hasan bin Ali bin Qatadah bin Idris al-Hasani, menurunkan family al-Jawadi, al-Barakati, al-Sanbari, al-Mun’ami, dan lainnya.
Di antara qabilah Abu Numai al-Hasani yaitu leluhur almarhum Raja Husein (Yordania) dan sepupunya almarhum raja Faisal (raja Iraq), serta qabilah al-Idrissi, yaitu leluhur mantan raja-raja di Tunisia dan Libya.
Al-Anggawi
Gelar al-Anggawi diberikan kepada keturunan Angga al-Namwi al-Hasani bin Wabir bin Athif bin Abi Daij bin Amir Makkah Muhammad Abu Numai bin Abi Saadbin Ali bin Qatadah al-Hasani. Beliau lahir tahun 852 hijriyah di Makkah, seorang yang hafal al-qur’an dan ahli ibadah. Beliau juga sering mengadakan perjalanan ke beberapa negeri di antaranya ke Mesir. Family al-Anggawi hidup tersebar diberbagai penjuru, antara lain di Mekkah, Madinah dan Mesir.
Di Mekkah terdapat keturunan dari :
1.       Keluarga Al-Anggawi Mekkah Mukaromah yang disebut dengan Saadah al-Anggawi,  mereka adalah keturunan syarif Muhammad bin Usman bin Husin bin Mansur bin Husin bin Mansur bin Jarullah bin Muhammad bin Angga.
2.       Keluarga al-Manashir (tinggal di desa Abi Urwah di Wadi Fathimah), mereka adalah keturunan dari syarif Idris bin Jarullah bin Hasan bin Jarullah bin Hasan bin Mansur bin Husin bin Mansur bin Jarullah bin Muhammad bin Angga.
3.       Keluarga Ali al-Anggawi (tinggal di desa Abi Urwah di Wadi Fathimah), mereka adalah keturunan dari syarif Ali bin Bahit bin Abi Da’ij bin Ahmad bin Muhammad bin Angga.
Di Madinah terdapat keturunan dari :
1.       Keluarga Basri al-Anggawi, dimana pertama kali yang datang dari kota Qana ke Madinah ini adalah empat orang, yaitu :
a.       Syarif Ahmad bin Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Basri.
b.      Syarif Muhammad bin Baz bin Mahmud (dikenal dengan keluarga bin Baz).
c.       Syarif Ahmad bin Husin bin Usman bin Hasan bin Muhammad bin Ali bin Basri.
d.      syarif Muhammad Dimroni bin Hamdan bin Muhammad al-Zayyad bin Ali bin Abdurrahim bin Muhammad bin Ali bin Basri (keturunannya terputus).
2.       Keluarga Murod al-Anggawi, mereka adalah syarif  Murod bin Abdul Muhsin bin Zhofir bin Mahdi bin Muhammad bin Angga (keturunanya juga disebut al-Muhsin al-Anggawi).
3.       Keluarga al-Madini al-Anggawi, mereka adalah Husin al-Madini bin Muhammad bin Husin bin Hasan Unaibah bin Hasan bin Musa bin Jadullah bin Barakat bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga.
Di Mesir terdapat keturunan dari :
1.       Keluarga Hasan bin Basat bin Angga :
a.       Syarif Mubarak bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (keluarga Mubarak & keluarga Syarifah)
b.      Syarif Basat bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga terdiri dari dua keluarga yaitu : pertama : keluarga Muhammad bin Basat (Keluarga Musaat, keluarga Mu’ajab dan keluarga) al-Jadawi) dan kedua : keluarga Ahmad bin Basat (keluarga al-Walid dan keluarga al-Dali).
c.       Syarif Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga, terdiri dari :
1)      keluarga Ismail sayidi bin Hamad bin Umar bin Muhammad bin Mubarak (al-mustofa sayidi, al-Ahmad sayidi, al-Abu Asba’ dan al-Katkat)
2)      keluarga Siraj bin Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (al-Sarkawi, al-Hifni, al-Dandarirawi dan al-Basat albaih).
3)      keluarga Barakat bin Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (keluarga Dakhilullah, al-Unaibah, al-Ghosimah)
4)      keluarga Ahmad bin Abibakar bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (al-Hasanain, al-Afandi, al-balbash, alu Syaikh)
5)      keluarga Basri bin Abubakar bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga, terdiri dari tiga keluarga : 
(1) Ahmad bin Umar bin Basri (al-Kholawi, aal Mahmud basri, aal Ahmad Basri, aal Umar bin Ahmad Basri), 
(2) Hamad bi Umar bin Basri (al-Ahmad, aal Abdul Kadir, aal Ahmad Umar Basri, al-La’abah, al-Aruj, al-Fawal, al-Abyadh), 
(3) Ali bin Basri (al-Zayat, al-Angga, aal Abu Zaid, aal Mahmud Hasan Basri, aal Usman Hasan Basri, aal Umar Hasan Basri).
2.       keluarga Abdullah bin Hissan bin Muhammad bin Hissan bin Khonfar bin Wabir bin Muhammad bin Angga (al Kolali, al Abdullah, al balasy).
3.       keluarga Murod bin Abdul Muhsin bin Zhofir binMahdi bin Muhammad bin Angga aal Murod dan al Muhsin).
Ø Al-Qadiri
Keluarga al-Qadiri banyak tersebar di sebagian negeri-negeri Islam seperti Irak dan Syria. Begitu juga, mereka banyak terdapat di negeri-negeri Maghrib.
Penamaan al-Qadiri, dikarenakan mereka adalah keturunan dari al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin  Abdul Qadir Jailani bin Abi Soleh Musa bin Abdullah bi Yahya az-Zahid bin Muhammad bin daud bin Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan sibt Rasulillah saw.
Gelar al-Qadiri di ambil dari kata ‘Qadir’ yang merupakan salah satu asmaul husna yang mempunya arti “Yang Maha Kuat”.
 Al-Jailani
Penamaan al-Jailani, dikarenakan mereka adalah keturunan dari al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin  Abdul Qadir Jailani bin Abi Soleh Musa bin Abdullah bi Yahya az-Zahid bin Muhammad bin daud bin Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan sibt Rasulillah saw.
Gelar al-Jailani di ambil dari kata ‘Jailani’ yang merupakan tempat kelahiran Syekh Abdul Qadir jailani. Beliau lahir pada tahun 490/471 H dan wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.
 Al-Qudsi
Al-Qudsi adalah suatu keluarga yang berasal dari Hallab (Aleppo) Syria. Silsilah keturunan al-Qudsi menyambung kepada al-Quthub al-Jalil al- Syaikh Abi Abdillah al-Husein yang dikenal dengan al-Qudhoib alban al-Maushuli, di mana nasabnya bersambung kepada al-Ridha bin Musa al-Juun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsannan bin Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Di samping itu, keluarga al-Qudsi ada juga yang bersambung silsilahnya kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Salah satu keluarga al-Qudsi ini adalah Sayid Abdurrazak al-Qudsi, di mana silsilahnya bersambung kepada Musa al-Kadzim bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husein ra.
 Al-Maghribi
Keluarga al-Maghribi banyak ditemukan di kota Tarables. Silsilah keluarga al-Magribi menyambung kepada sayid Muhammad Darghust al-Hasani al-Idrisi yang tinggal di kota Darghust Tunis. Kakek mereka yang pertama syekh Ahmad al-Maghribi al-Hasani bin Muhammad (mufti Tunis) bin Umar bin Muhammad, di mana keturunannya banyak tinggal di Tarables Syria.
Di kota Beirut dapat ditemukan pula keluarga al-Maghribi yang silsilahya bersambung kepada Idris al-Tsani bin Idris al-Akbar bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
 Az-Zawawi
Az-Zawawi adalah keluarga asyraaf al-Idrisiyah, nasabnya bersambung kepada Maula Idris bin Idris bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Keluarga ini berasal dari negeri Maghrib yang kemudian hijrah ke Makkah al-Mukarromah dan beberapa wilayah teluk Arab. Dalam catatan kecil yang kami miliki yang pertama kali disebut Az-Zawawi adalah Abdullah bin Hasan bin Sulaiman Az-Zawawi.
Di antara ulama mereka yang terenal adalah Abdullah bin Muhammad Soleh Az-Zawawi seorang mufti Syafiiyah di Mekkah. Guru-guru beliau adalah Syekh Muhammad Yusuf al-Khayyat. Adapun murid-murid beliau adalah sayid hasan Kutbi dan anaknya Abdurrahman Az-Zawawi, syekh Muhammad Turki seorang guru di Masjidil Haram. Aayid Abdullah bin Muhammad soleh Az-Zawwi banyak melakukan perjalanan ke India, Indonesia, Cina dan Jepang.
Ulama dari keluarga Az-zawawi yang lain adalah Soleh bin Abdurrahman bin Abubakar bin Abdurrahman bin Ahmad Az-Zawawi al-Hasani. Guru-guru beliau di antaranya sayid Muhammad Sanusi al-Maki, syekh Ahmad Dalhan al-Hanafi, syekh Muhammad bin Khidir al-Basri, syekh Muhammad bin Nasir al-Husaini al-Yamani al-Syafii, syekh Abdul Kadir bn Mustafa al-Asyraqi. Beliau juga banyak melakukan perjalanan ke Yaman. Di Makkah, beliau menjadi mufti Syafiiyah..
Demikian lah sedikit marga dari keturunan Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib. Walaupun begitu kebanyakan para Dzuriyah Sayidina Hasan menyembunyikan diri (mastur) dan tidak mengutamakan gelar serta Nasab. Kebanyakan hanya pakai satu gelar yaitu Alhasany dan ada yang dgn gelar lain di tambah Alhasany dibelakang nya.