Kaum kafir Quraisy begitu keras dalam melancarkan teror,
intimidasi, dan penindasan terhadap kaum muslimin. Maka, di antara mereka ada
yang hijrah ke tanah Habasyah sekali atau dua kali untuk menyelamatkan agama
dan keimanannya. Kemudian pada akhirnya, tibalah momentum hijrah ke Madinah.
Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, Abu Bakar
Ash-Shiddiq pernah meminta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah. Lalu
Rasulullah berkata kepadanya, “Sabar sebentar, jangan terburu-buru, barangkali
Allah menjadikan untukmu seorang teman.”
Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, Abu Bakar
Ash-Shiddiq pernah meminta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah. Lalu
Rasulullah berkata kepadanya, “Sabar sebentar, jangan terburu-buru, barangkali
Allah menjadikan untukmu seorang teman.”
Maka, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun sangat berharap bisa
menemani Rasulullah. Aisyah menceritakan kepada kita tentang hijrah Rasulullah
dan ayahnya. Ia berkata, “Rasulullah tidak pernah lupa untuk mengunjungi rumah
Abu Bakar Ash-Shiddiq setiap hari pada salah satu ujung siang, entah itu pada
pagi hari atau sore hari. Hingga ketika tiba hari di mana Rasulullah diizinkan
untuk berhijrah meninggalkan Makkah, maka beliau datang menemui kami pada waktu
yang tidak seperti biasanya, yaitu pada tengah hari.”
Aisyah kembali melanjutkan ceritanya, “Ketika Abu Bakar
Ash-Shiddiq melihat Rasulullah datang, ia berkata, “Rasulullah tidak datang
pada waktu seperti ini melainkan karena ada suatu hal penting yang terjadi.”
Ketika Rasulullah masuk, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq beranjak dari tempat
duduknya untuk memberikan tempat duduk kepada Rasulullah. Waktu itu, yang ada
di rumah selain Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah hanya aku dan saudara perempuanku
Asma` binti Abu Bakar. Lalu Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, tolong minta
semua orang yang ada bersamamu agar keluar.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq
berkata, “Ya Rasulullah, mereka berdua itu tidak lain adalah putriku sendiri.
Sungguh, ada apa sebenarnya wahai Rasulullah?” Lalu beliau berkata,
“Sesungguhnya telah diizinkan kepadaku untuk pergi dan berhijrah.”
Aisyah melanjutkan ceritanya, “Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq
berkata, “Aku yang menemani Anda wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya.”
Sungguh demi Allah, aku belum pernah melihat seseorang menangis karena luapan
kebahagiaan, hingga aku melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis pada waktu itu.
Kemudian ia berkata, “Ya Rasulullah, ini adalah dua ekor unta yang memang telah
aku persiapkan untuk momen ini.” Lalu mereka berdua menyewa Abdullah bin
Uraiqith sebagai guide atau penunjuk jalan. Ia adalah seorang laki-laki musyrik
dari Bani ad-Dil bin Bakr dan ibunya berasal dari Bani Sahm bin Amr. Lalu
mereka berdua menyerahkan kedua unta tersebut kepadanya untuk ia rawat sampai
waktu keberangkatan tiba.
Dalam riwayat Al-Bukhari dari Aisyah dalam sebuah hadist
panjang disebutkan uraian panjang dan detail yang cukup penting. Di antara
isinya adalah, Aisyah berkata, “Syahdan, pada suatu hari ketika kami sedang
duduk-duduk di rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq di siang hari, tiba-tiba ada seseorang
berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Ini Rasulullah datang dengan menutup
kepala, dan beliau tidak biasanya datang kepada kami pada siang hari seperti
ini.” Lalu Rasulullah berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Wahai Abu Bakar,
tolong orang-orang yang ada bersama kamu minta untuk keluar.” Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq berkata, “Mereka ini adalah keluarga Anda sendiri.” Lalu Rasulullah
berkata, “Sesungguhnya telah diizinkan kepadaku untuk pergi berhijrah
meninggalkan Makkah.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Bolehkah saya
menemani Anda wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Ya.” Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, ambillah salah satu dari dua ekor untaku
ini.” Rasulullah berkata, “Dengan harga” (maksudnya Rasulullah tidak mau kalau
cuma-cuma, sehingga beliau pun membelinya).
Aisyah melanjutkan ceritanya, “Lalu kami pun menyiapkan
kedua unta itu dengan sebaik-baiknya dan kami meletakkan perbekalan di dalam
sebuah jirab (wadah dari kulit untuk tempat perbekalan). Lalu Asma` merobek
kain ikat pinggangnya menjadi dua, lalu salah satunya ia gunakan untuk mengikat
mulut jirab tersebut. Dari itu, Asma` dijuluki, “Dzat An-Nithaqain.” Kemudian
Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pergi menuju ke sebuah gua di bukit Tsur
dan bersembunyi di dalamnya selama tiga malam.
Pada tiap malam, Abdullah bin Abu Bakar bermalam bersama
mereka berdua. Ia adalah seorang pemuda yang cerdas, responsif, dan tahu apa
yang dibutuhkan, sangat peka dalam menangkap dan memahami apa yang ia dengar.
Ketika waktu sahur datang, maka ia kembali lagi ke Makkah, sehingga pada pagi
harinya ia sudah berada di tengah-tengah kaum Quraisy seakan-akan ia semalam
tidur di rumah dan tidak pergi ke mana-mana. Ia tidak mendengar suatu hal yang
tidak baik yang mengancam keselamatan Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq
melainkan ia tangkap, lalu ia sampaikan kepada beliau berdua ketika hari sudah
gelap.
Waktu itu, Amir bin Fuhairah bertugas menggembalakan kambing
minhah (kambing betina yang memiliki air susu yang dipinjamkan pemiliknya
kepada seseorang untuk dimanfaatkan air susunya). Pada malam hari, ia membawa
kambing-kambing itu kepada mereka berdua, sehingga mereka berdua semalaman
memiliki bekal air susu segar. Kemudian pada akhir malam menjelang Fajar, Amir
bin Fuhairah datang mengambil kambing-kambing itu. Ia melakukan hal itu setiap
malam dari ketiga malam tersebut.
Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menyewa seorang
laki-laki penunjuk jalan yang mahir dari Bani ad-Dil dari Bani Abd bin Adi. Ia
ikut mengadakan perjanjian persekutuan dengan keluarga Al-Ash bin Wa`il
As-Sahmi. Ia adalah orang musyrik. Lalu Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq
mempercayainya, menyerahkan kedua unta tersebut kepadanya dan menyuruhnya untuk
membawa kedua unta itu setelah tiga hari pada subuh hari ketiga.
Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berangkat ditemani
dengan Amir bin Fuhairah dan si penunjuk jalan tersebut. Si penunjuk jalan
mengambil jalur pesisir.
Ketika Rasulullah pergi, tidak ada satu orang pun yang
mengetahuinya kecuali Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan keluarga
Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tibalah waktu pertemuan yang telah ditentukan antara
Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu mereka berdua pun pergi secara
diam-diam dan sembunyi-sembunyi melalui jendela loteng rumah Abu Bakar
Ash-Shiddiq, supaya tidak diendus oleh kaum kafir Quraisy. Karena jika mereka
sampai mengendus kepergian beliau dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka gagallah
rencana mereka berdua untuk melakukan perjalanan yang diberkahi itu.
Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq telah membuat
kesepakatan dengan Abdullah bin Uraiqith agar ia menemui beliau berdua di gua
Tsur setelah tiga malam. Ketika keluar dari Makkah menuju Madinah, Rasulullah
berdoa dan berhenti sejenak di Al-Hazurah di pasar Makkah, lalu berkata, “Demi Allah,
sungguh kamu wahai Makkah adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi-Nya yang
paling Dia cintai. Seandainya bukan karena aku diusir darimu, niscaya aku tidak
akan keluar meninggalkanmu.”
Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mulai
bergerak pergi, sedang orang-orang musyrik berusaha mengikuti jejak beliau
berdua hingga ketika mereka sampai di bukit Tsur, maka mereka mulai kebingungan
dan kehilangan jejak. Lalu mereka naik ke atas bukit melewati sebuah gua. Di
pintu gua tersebut, mereka melihat rajutan sarang laba-laba, lalu mereka
berkata, “Seandainya ada seseorang masuk ke dalam gua ini, tentu tidak ada lagi
sarang laba-laba di pintunya.” Dan itu adalah salah satu pasukan Allah,
“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu
melainkan Dia sendiri.” (Al-Muddatstsir:
31).
Meskipun dengan segenap usaha dan cara yang ditempuh oleh
Rasulullah, namun beliau sama sekali tidak lantas percaya dan bergantung kepada
usaha dan cara yang ditempuh itu. Tetapi, beliau tetap percaya dan bersandar
sepenuhnya kepada Allah, sangat besar pengharapan beliau kepada pertolongan dan
dukungan-Nya serta senantiasa memanjatkan doa yang diajarkan oleh Allah kepada
beliau,
“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk
yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah
kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Israa`: 80).
Dalam ayat ini terkandung bacaan doa yang diajarkan Allah
kepada Nabi-Nya supaya beliau memanjatkan doa kepada-Nya dengan bacaan doa
tersebut. Juga, supaya umat beliau belajar bagaimana berdoa kepada Allah dan
bagaimana bermunajat kepada-Nya. Sebuah doa memohon supaya dimasukkan secara
benar dan dikeluarkan secara benar.
Ini adalah kinayah tentang kebenaran perjalanan semuanya,
mulai dari permulaan sampai penutupnya, mulai dari awal sampai akhirnya.
Kebenaran di sini memiliki nilai tersendiri dalam konteks apa yang berupaya
dilakukan oleh orang-orang musyrik berupa memalingkan beliau dari apa yang
diturunkan Allah kepada beliau supaya beliau membuat-buat kebohongan atas nama
Allah dengan mengada-adakan sesuatu selain apa yang diturunkan kepada beliau.
Kebenaran juga memiliki refleksi, yaitu keteguhan,
ketenangan, keyakinan, kebersihan, kemurnian, keikhlasan, dan ketulusan. Ayat,
“Dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” maksudnya
adalah, kekuatan dan kewibawaan untuk menaklukkan kekuasaan bumi dan kekuatan
orang-orang musyrik. Kalimat, “Dari sisi Engkau” menggambarkan kedekatan kepada
Allah, senantiasa “terkoneksi” dengan-Nya, mengharap pertolongan secara
langsung dari-Nya dan memohon perlindungan-Nya.
Seorang pemilik dakwah tidak mungkin mencari kekuasaan
kecuali dari Allah, tidak mungkin disegani kecuali dengan kekuasaan-Nya, dan
tidak mungkin mengharapkan naungan kepada seorang penguasa atau pemilik
kedudukan selama orientasinya sebelum itu tidak tertuju kepada Allah.
Dakwah terkadang menguasai hati para pemilik kekuasaan,
sehingga mereka menjadi pasukan dan pelayan dakwah, maka mereka pun beruntung.
Akan tetapi, dakwah tidak akan berhasil jika yang terjadi justru sebaliknya,
yaitu dakwah justru menjadi bagian dari pasukan, alat, dan pelayan kekuasaan.
Karena dakwah adalah perintah Allah, dan dakwah lebih tinggi dan luhur dari
para pemilik kekuasaan dan kedudukan.
Ketika orang-orang musyrik berada di sekeliling gua dan gua
itu berada tepat di hadapan mata mereka, maka Rasulullah pun menenangkan hati
Abu Bakar Ash-Shiddiq dan meyakinkan bahwa Allah beserta mereka berdua.
Diriwayatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata, “Aku berkata
kepada Rasulullah ketika berada dalam gua, “Seandainya salah seorang dari
mereka melihat ke bawah kedua kakinya, niscaya ia akan melihat kami.” Lalu
Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu pikir tentang dua orang
yang Allah adalah ketiganya?”
Hal itu direkam oleh Allah dalam ayat,
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya
Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah)
mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika
keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah
kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan
ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak
melihatnya, dan Dia menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan
kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(at-Taubah: 40).
Setelah tiga malam dari masuknya Rasulullah ke dalam gua,
maka beliau dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pun keluar dari gua, sementara intensitas
usaha pencarian dan pengejaran oleh orang-orang musyrik sudah mereda dan mereka
sudah putus asa untuk menemukan Rasulullah.
Sebelumnya telah kami katakan, bahwa Rasulullah dan Abu
Bakar Ash-Shiddiq menyewa seorang laki-laki penunjuk jalan berasal dari Bani
Ad-Dil bernama Abdullah bin Uraiqith. Beliau berdua mempercayainya dan
menyerahkan kepadanya dua ekor unta beliau berdua serta menyuruhnya membawa
kedua unta itu. Abdullah bin Uraiqith pun benar-benar datang menemui beliau
berdua pergi melalu jalur yang tidak biasanya supaya jejaknya tidak diendus
oleh orang-orang kafir Quraisy yang ingin mengejar beliau berdua.
Di tengah jalan menuju Madinah, Rasulullah berpapasan dengan
Ummu Ma’bad di daerah Qadid yang menjadi tempat pemukiman Khuza’ah. Ia adalah
saudara perempuan Hubaisy bin Khalid Al-Khuza’i yang menceritakan tentang kisah
saudara perempuannya itu. Kisah tersebut diriwayatkan oleh para perawi dan
ulama sirah. Tentang kisah tersebut, Ibnu Katsir berkata, “Kisahnya adalah
kisah yang masyhur dan diriwayatkan melalui sejumlah jalur yang saling
menguatkan antara satu dengan yang lainnya.
Orang-orang Quraisy mengumumkan sayembara di tempat-tempat
perkumpulan di Makkah, bahwa barang siapa yang bisa menangkap Nabi Muhammad
hidup atau mati, maka baginya ada hadiah seratus ekor unta. Sayembara ini pun
menyebar di tengah-tengah kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah pinggiran
Makkah. Ada seorang laki-laki bernama Suraqah bin Malik bin Ju’syum yang
berambisi mendapatkan hadiah yang disediakan oleh orang Quraisy tersebut bagi
siapa saja yang berhasil menangkap Nabi Muhammad. Lalu ia pun berusaha keras
untuk bisa meraih hadiah tersebut. Akan tetapi Allah dengan kuasa-Nya yang
tiada terkalahkan menjadikannya berbalik menjadi pembela Rasulullah setelah
sebelumnya ia adalah orang yang berusaha keras untuk menangkap beliau.
Ketika kaum muslimin di Madinah mendengar kalau Rasulullah
telah pergi meninggalkan Makkah, maka setiap pagi buta, mereka datang ke
Al-Harrah menunggu-tunggu kedatangan Rasulullah hingga siang hari.
Pada suatu hari, setelah lama menunggu, mereka kembali
pulang. Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Yahudi naik ke atas sebuah
bangunan tinggi milik mereka, karena ia melihat sesuatu. Lalu di kejauhan ia
melihat Rasulullah dan orang-orang yang menemani perjalanan beliau dengan
mengenakan baju putih yang keberadaan mereka menjadikan bayangan fatamorgana
hilang. Ketika itu, si Yahudi itu langsung berteriak sekeras-kerasnya, “Wahai
orang Arab, itu orang yang menjadi keberuntungan dan sesepuh kalian yang kalian
tunggu-tunggu.” Lalu kaum muslimin pun langsung berlarian menyambut kedatangan
Rasulullah di Al-Harrah. Lalu beliau pun berjalan bersama mereka ke arah kanan
hingga beliau berhenti di Bani Auf. Hari itu bertepatan dengan hari senin bulan
Rabi’ul Awal. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri dan menaungi Rasulullah dengan
rida` nya, maka ketika itu, orang-orang pun mengetahui sosok Rasulullah yang
sesungguhnya.
Hari kedatangan Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq di
Madinah menjadi hari bahagia dan suka cita yang Madinah tidak pernah
menyaksikan hari yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang pun mengenakan baju
mereka yang terbaik seakan-akan mereka berada di hari raya. Namun, sungguh hari
itu memang hari raya, karena hari itu adalah hari di mana Islam memasuki babak
baru perpindahan dari lingkup yang sempit dan terisolasi menuju ke lingkup yang
terbuka luas dan bebas menyebar tanpa batas di tanah yang diberkahi, yaitu
Madinah dan selanjutnya ke segenap penjuru bumi.
Penduduk Madinah merasakan dan menyadari karunia, anugerah
dan kehormatan istimewa yang diberikan secara spesial oleh Allah kepada mereka.
Karena negeri mereka menjadi tempat untuk bernaung bagi Rasulullah dan para
sahabat Muhajirin, kemudian menjadi tempat untuk menolong dan membela Islam. Di
samping itu, negeri mereka juga menjadi tempat yang bisa dikatakan sebagai
pusat pemerintahan Islam dalam arti yang sesungguhnya dengan segenap elemen dan
komponen-komponennya.
Dari itu, penduduk Madinah berbondong-bondong keluar
bersorak-sorak dengan penuh luapan kegembiraan dan suka cita seraya mengucapkan
yel-yel, “Ya Rasulullah, ya Muhammad Rasulullah.”
Setelah sambutan massal yang luar biasa besar tersebut yang
belum pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan, maka Rasulullah pun berjalan
hingga beliau berhenti di rumah Abu Ayyub Al-Anshari, sementara Abu Bakar
Ash-Shiddiq turun di rumah Kharijah bin Zaid Al-Khazraji Al-Anshari.
Perjalanan berat penuh kesulitan, tantangan, dan rintangan
telah dimulai dan Rasulullah berhasil mengatasi semua itu untuk menuju kepada
masa depan yang gemilang bagi umat Islam dan negara Islam yang berhasil
menciptakan sebuah peradaban kemanusiaan yang luar biasa dengan berlandaskan
pada fondasi keimanan, ketakwaan, ihsan, dan keadilan, setelah sebelumnya
berhasil mengalahkan dua negara terkuat yang sebelumnya menguasai dunia, yaitu
Persia dan Romawi.
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah tangan kanan Rasulullah sejak
terbitnya fajar dakwah hingga meninggalnya. Abu Bakar Ash-Shiddiq secara
mendalam menimba hikmah dan keimanan, keyakinan dan keteguhan, ketakwaan dan
keikhlasan dari sumber-sumber mata air kenabian. Kehidupan Abu Bakar
Ash-Shiddiq yang ia habiskan bersama-sama dengan Rasulullah akhirnya membuahkan
keshalehan dan keshiddiqiyyah-an, sensitifitas dan ketajaman, cinta dan
ketulusan, keteguhan dan kesungguhan, keikhlasan dan pemahaman. Maka, Abu Bakar
Ash-Shiddiq pun memiliki berbagai sikap, rekam jejak, langkah dan sepak terjang
yang sangat mengesankan pasca meninggalnya Rasulullah seperti di Saqifah bani
Sa’idah dan yang lainnya, pengiriman pasukan Usamah dan perang melawan gerakan
kemurtadan. Maka, ia pun memperbaiki kembali apa yang rusak, membangun kembali
apa yang dihancurkan, menyatukan kembali apa yang tercerai berai dan meluruskan
apa yang menyimpang.
Sesungguhnya momentum kehijrahan Abu Bakar Ash-Shiddiq
bersama Rasulullah memuat banyak pelajaran, ibrah, keteladanan dan faedah, yang
di antaranya adalah:
Pertama:
Allah berfirman,
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya
Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah)
mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya
berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka
cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya
kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya,
dan Dia menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat
Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah:
40).
Dalam ayat ini terdapat pengertian yang menunjukkan
keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq dari tujuh aspek:
- Bahwa orang-orang kafir mengusirnya,
Orang-orang kafir mengeluarkan dan mengusir
Rasulullah (salah seorang dari dua orang), maka itu berarti mereka mengeluarkan
beliau berdua, dan ini adalah memang fakta yang terjadi.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah satu-satunya teman Rasulullah yang bersama beliau ketika Allah menolong beliau tatkala orang-orang kafir mengeluarkan beliau berdua, dan beliau adalah salah seorang dari dua orang dan Allah adalah ketiganya.
Kalimat, “tsaniya itsnaini” (salah
seorang dari dua orang), maka di berbagai tempat, kejadian dan momentum di mana
tidak ada dari para pembesar sahabat yang bersama Rasulullah kecuali hanya satu
orang, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq lah orang tersebut. Seperti dalam perjalanan
hijrah ke Madinah, keberadaan beliau dalam ’arisy (semacam tempat tinggi yang
menjadi tempat panglima pasukan memantau dan memberi komando) pada kejadian
Perang Badar yang hanya Abu Bakar Ash-Shiddiq lah orang yang berada bersama
beliau di dalamnya. Juga seperti ketika Rasulullah pergi menemui kabilah-kabilah
Arab untuk menyeru kepada mereka kepada Islam, di dalamnya Abu Bakar
Ash-Shiddiq juga tidak ketinggalan ikut bersama beliau.
Semua ini adalah sebuah kebersamaan yang
spesial dan istimewa yang tidak dimiliki oleh selain Abu Bakar Ash-Shiddiq
berdasarkan kesepakatan para ulama yang mendalami sirah dan hal ihwal
Rasulullah.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang menemani Rasulullah dalam gua.
Keutamaan ini sangat jelas dan gamblang
berdasarkan nash Al-Qur’an. Al-Bukhari dalam Shahihnya dan Muslim dalam
Shahihnya meriwayatkan dari hadist Anas dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata,
“Aku melihat kaki-kaki kaum musyrikin berada tepat di atas kepala kami sedang
kami berada dalam gua. Lalu aku berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah,
seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kedua kakinya, pastilah ia
akan bisa melihat kami.” Lalu Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, apa yang
kamu pikir tentang dua orang, Allah adalah ketiganya.”
Hadist ini, di samping statusnya yang
shahih berdasarkan kesepakatan ulama tanpa ada perselisihan lagi, juga maknanya
dikuatkan oleh Al-Qur’an.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat dan rekan Rasulullah yang senantiasa bersama beliau secara mutlak.
Kalimat, “idz yaqulu li shahibihi” (ketika
ia berkata kepada sahabatnya), tidak hanya terbatas pada posisi Abu Bakar
Ash-Shiddiq ketika menemani Rasulullah dalam gua saja, tetapi ia adalah
sahabat, rekan dan kawan Rasulullah yang senantiasa bersama dan menyertai beliau
secara total, sebagaimana kelebihan ini tidak dimiliki oleh selain dirinya.
Maka dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah satu-satunya sahabat yang paling
sempurna persahabatan dan kebersamaannya dengan Rasulullah.
Hal ini sudah tidak diperselisihkan lagi
oleh para ulama yang mendalami sirah dan hal ihwal Rasulullah. Karena itu, ada
sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya keutamaan-keutamaan Abu Bakar
Ash-Shiddiq adalah keistimewaan-keistimewaan spesial yang tidak dimiliki oleh
orang lain.”
- Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang sangat sayang kepada Rasulullah.
Kalimat, “la tahzan” (janganlah kamu
bersedih hati), menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat sayang dan cinta
kepada Rasulullah, makanya ia bersedih hati. Karena seseorang tidak bersedih
hati dan berduka cita melainkan ketika mengkhawatirkan keselamatan orang yang
dicintainya. Kesedihan Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap Rasulullah adalah karena
ia sangat mengkhawatirkan beliau, jangan sampai beliau terbunuh dan Islam pun
lenyap.
Karena itu, selama dalam perjalanan hijrah,
sesekali Abu Bakar Ash-Shiddiq berjalan di depan Rasulullah dan sesekali di
belakang beliau. Melihat hal itu, Rasulullah bertanya tentang hal itu, lalu Abu
Bakar Ash-Shiddiq pun menjawab, “Saya teringat orang yang menyergap, maka saya
pun berjalan di depan Anda, dan saya teringat orang yang mengejar, maka saya
pun berjalan di belakang Anda.”
Dalam riwayat Imam Ahmad dalam kitab “Fadha
`il Ash-Shahabah” disebutkan, “Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berjalan di belakang
beliau dan di depan beliau secara bergantian. Melihat hal itu, Rasulullah
bertanya, “Ada apa dengan kamu?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah,
ketika saya berjalan di depan Anda, maka saya khawatir ada orang yang menyerang
Anda dari belakang, dan ketika saya berjalan di belakang Anda, maka saya
khawatir ada orang yang menyerang Anda dari belakang, dan ketika saya berjalan
di belakang Anda, maka saya khawatir ada orang yang menyerang Anda dari depan.”
Ketika sampai di gua, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, Anda
jangan masuk dulu, hingga saya periksa dan bersihkan dulu.” Lalu ketika Abu
Bakar Ash-Shiddiq melihat ada lubang di dalam gua, maka ia pun menutupnya
dengan kakinya dan berkata, “Ya Rasulullah, jika ada sengatan atau gigitan
hewan berbisa, maka biarlah saya yang terkena sengatan ini.”
Demikianlah, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak
rela jika ia berjalan berdampingan dengan Rasulullah, tetapi ia haruslah yang
berada di depan atau di belakang, agar keselamatan beliau terjamin, dan jika
ada hal-hal yang tidak diinginkan, maka biarlah dirinya yang terkena. Bahkan ia
tidak rela jika Rasulullah terbunuh sementara dirinya hidup, bahkan ia lebih
memilih untuk mengorbankan jiwa, keluarga, dan hartanya demi menyelamatkan
Rasulullah. Ini sebenarnya menjadi sebuah kewajiban bagi setiap Mukmin, dan Abu
Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang paling terdepan dalam melaksanakan dan
mengimplementasikan kewajiban tersebut.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang ikut meraih keutamaan ma’iyyah (disertai Allah) yang khusus dan spesial bersama Rasulullah.
Kalimat, “innallaha ma’ana” (sesungguhnya
Allah beserta kita) secara tegas dan eksplisit menyatakan bahwa Abu Bakar
Ash-Shiddiq adalah satu-satunya orang yang ikut bersama Rasulullah meraih
ma’iyyah tersebut.
Kalimat ini menunjukkan bahwa Allah
menyertai mereka berdua dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan melawan musuh
beliau berdua. Rasulullah telah menginformasikan, “Bahwa Allah menolongku dan
menolong kamu wahai Abu Bakar, menolong kita menghadapi mereka sebagai bentuk
penghormatan dan mahabbah.” Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat,
“Sesungguhnya Kami benar-benar menolong
rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada
hari berdirinya saksi-saksi (Hari Kiamat). (Ghafir: 51).
Ini merupakan sebuah puncak pujian bagi Abu
Bakar Ash-Shiddiq, karena kalimat tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar
Ash-Shiddiq adalah salah satu orang yang Rasulullah memberikan testimoni
tentang keimanannya yang menjadi sebab pertolongan Allah kepada dirinya beserta
Rasul-Nya pada situasi yang sangat kritis seperti itu di mana tidak ada satu
orang pun yang bisa selamat ketika dalam situasi seperti itu kecuali orang yang
diberi pertolongan oleh Allah.
Dr. Abdul Karim Zaidan mengatakan tentang
ma’iyyah dalam ayat di atas seperti berikut, “Ma’iyyah Rabbaniyyah ini yang
ditunjukkan oleh kalimat, “innallaha ma’ana (sesungguhnya Allah beserta kita)
adalah lebih tinggi dari ma’iyyah Allah untuk orang-orang muttaqin dan muhsinin
yang disebutkan dalam ayat 128 surat An-Nahl, “Sesungguhnya beserta orang-orang
yang bertakwa dan orang-orang muhsinin.” Karena ma’iyyah yang disebutkan dalam
surat At-Taubah ayat 40 tersebut adalah untuk diri Rasulullah dan sahabat beliau,
yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq secara pribadi dan personal serta mutlak tanpa
tergantung pada adanya syarat suatu kriteria amal tertentu seperti kriteria
takwa dan ihsan misalnya. Tetapi ma’iyyah tersebut dijamin dengan dukungan
dengan sejumlah ayat dan hal-hal supranatural.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat Rasulullah yang menyertai beliau ketika diturunkannya ketenangan dan pertolongan.
Ayat, “maka Allah pun menurunkan
ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad) dan menguatkannya dengan pasukan yang tidak
kalian lihat,” maka orang yang menyertai Rasulullah ketika dalam situasi yang
mencekam dan kritis, maka dirinya pula lah yang memang sudah semestinya lebih
utama dan lebih layak untuk menyertai beliau ketika hadirnya pertolongan dan
dukungan. Maka dari itu, dalam kondisi ini, tidak perlu untuk menyebutkan
posisi Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menyertai Rasulullah, karena sudah
ditunjukkan oleh konteks yang ada. Dan jika telah diketahui bahwa Abu Bakar
Ash-Shiddiq adalah yang menemani Rasulullah dalam keadaan tersebut, maka bisa
diketahui pula bahwa apa yang didapatkan oleh Rasulullah berupa penurunan
ketenangan dan dukungan dengan pasukan yang tidak terlihat oleh manusia juga
didapatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan kuantitas dan kualitas yang lebih
besar dari apa yang diperoleh oleh orang lain. Ini adalah salah satu bentuk
kebalaghahan dan kefasihan Al-Qur’an.
Pemahaman Mendalam Nabi Muhammad dan Abu Bakar
Ash-Shiddiq dalam Membuat Rencana, Strategi, dan Langkah-langkah yang Mesti
Ditempuh
Orang yang mencermati peristiwa hijrah, maka
di dalamnya ia akan melihat sebuah rencana, strategi, dan langkah-langkah yang
cermat dan akurat mulai dari awal permulaan, persiapan-persiapan pendahuluan
sampai babak-babak berikutnya. Ia juga akan mengetahui bahwa rencana dan strategi
yang tepat dengan berdasarkan petunjuk wahyu pada masa kehidupan Rasulullah
adalah benar-benar nyata dan bahwa perencanaan adalah bagian dari Sunnah
Nabawiyyah.
Perencanaan adalah bagian dari taklif Ilahi
pada setiap hal yang diperintahkan kepada seorang Muslim, bahwa orang yang
lebih cenderung paham spontanitas tanpa perencanaan lebih dahulu dengan dalih
bahwa perencanaan dan persiapan yang matang bukanlah bagian dari As-Sunnah,
maka orang-orang seperti itu telah keliru dan melakukan kejahatan terhadap diri
sendiri dan kaum muslimin.
Maka, ketika hijrah Rasulullah telah tiba
saat realisasinya, maka kita melihat hal-hal seperti berikut:
Sebuah perencanaan dan persiapan hijrah
yang matang, cermat, dan akurat sehingga hijrah yang dilakukan bisa berhasil
dan sukses meskipun banyak kesulitan dan rintangan yang melingkupinya. Itu
karena setiap hal yang berkaitan dengan rencana hijrah benar-benar dipelajari
secara mendalam dan komprehensif. Misalnya:
- Rasulullah datang ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq di tengah siang bolong di mana udara sedang panas-panasnya. Ini adalah waktu di mana tidak ada orang yang keluar rumah. Bahkan, tidak biasanya Rasulullah datang ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq pada waktu tersebut, kenapa, supaya tidak ada seorang pun yang melihat beliau.
- Ketika datang ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Rasulullah datang dengan penutup kepala untuk menyamarkan identitas beliau. Karena dengan menggunakan tutup kepala seperti itu, bisa meminimalisir kemungkinan ciri-ciri muka orang yang bersangkutan dapat dikenali.
- Rasulullah memerintahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq agar meminta semua orang yang ada dalam rumah untuk keluar. Dan ketika beliau menyampaikan pembicaraan, maka beliau tidak menjelaskan kecuali hanya perintah untuk berhijrah tanpa menyebutkan tempat tujuannya secara spesifik.
- Pada saat keluar, maka itu dilakukan pada malam hari dan melalui pintu belakang rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
- Langkah kehati-hatian dan antisipasi benar-benar dilakukan secara optimal. Hal ini salah satunya terefleksikan pada pemilihan “jalur tikus” yang tidak dikenal oleh orang-orang dengan bantuan seorang penunjuk jalan yang benar-benar ahli tentang jalur-jalur pedalaman dan jalur-jalur gurun sahara. Si penunjuk jalan tersebut adalah seorang musyrik, namun ia memiliki integritas dan reliabilitas. Di sini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah tidak segan untuk memanfaatkan dan menggunakan keahlian-keahlian dari mana pun sumbernya.
Syaikh Abdul Karim Zaidan menerangkan bahwa secara prinsip
dan hukum asal adalah tidak boleh meminta bantuan dengan selain Muslim dalam
urusan-urusan umum. Namun kaidah ini memiliki pengecualian yaitu boleh meminta
bantuan kepada selain Muslim dengan syarat-syarat tertentu,
Pertama, kemashlahatan yang diinginkan benar-benar memang
dijamin bisa terwujud atau paling tidak potensial untuk terwujud.
Kedua, tidak merugikan dakwah dan makna-maknanya.
Ketiga, orang yang bersangkutan harus benar-benar dipastikan
bisa dipercaya, memiliki integritas dan reliabilitas.
Keempat, tidak memicu munculnya kesyubhatan dan salah paham
bagi orang-orang Islam.
Kelima, benar-benar ada kebutuhan yang hakiki dan nyata
untuk meminta bantuan dengan non Muslim tersebut sebagai bentuk kondisi
pengecualian, jika tidak, maka tidak boleh.
Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajak anak-anaknya kepada Islam dan
berkat karunia Allah ia sukses dalam menjalankan peran yang besar dan krusial
ini. Tidak hanya itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga mengerahkan dan memberdayakan
keluarganya untuk mengabdi kepada Islam dan menyukseskan hijrah Rasulullah.
Maka ia pun membagikan tugas-tugas penting kepada mereka dalam mengeksekusi dan
merealisasikan rencana hijrah yang diberkahi:
- Peran Abdullah bin Abu Bakar.
Abdullah bin Abu Bakar memainkan peran
sebagai intelijen yang jujur dan mengungkap pergerakan-pergerakan musuh.
Abdullah bin Abu Bakar tumbuh dalam lingkungan yang membentuk kepribadiannya
menjadi pribadi yang mencintai agamanya dan memiliki sense of responsibility
untuk membela agamanya dengan pandangan, visi dan wawasan yang tajam,
inteligensi yang sempurna dan kecerdasan yang cemerlang. Semua itu menunjukkan
perhatian intensif yang dijalankan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam mendidik
dan mengasuh Abdullah bin Abu Bakar.
Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan gambaran
kepada Abdullah bin Abu Bakar tentang peran yang harus ia laksanakan dalam
membantu kesuksesan hijrah, maka ia pun melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Ia terus bergerak di antara majelis-majelis penduduk Makkah mendengarkan berita
dan informasi-informasi mereka dan apa yang mereka bicarakan pada siang hari.
Kemudian pada malam harinya, ia pergi ke gua dan menyampaikan kepada Rasulullah
dan Abu Bakar Ash-Shiddiq tentang apa saja yang ada dalam pikiran penduduk
Makkah dan apa yang mereka rencanakan.
Abdullah bin Abu Bakar benar-benar
melaksanakan tugas tersebut secara optimal dengan cara yang brilian, sehingga
tidak ada satu orang pun dari penduduk Makkah yang menaruh curiga kepadanya.
Semalaman ia tinggal di gua sebagai penjaga, hingga ketika menjelang pagi, maka
ia kembali ke Makkah, tanpa ada satu orang pun yang menyadari hal itu.
- Peran Aisyah dan Asma`.
Asma` dan Aisyah memiliki peran cukup besar
yang itu merefleksikan faedah-faedah tarbiyah yang benar. Ketiak Rasulullah
sampai di rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq pada malam hijrah, mereka berdua bertugas
menyiapkan perbekalan untuk beliau berdua. Ummu Al-Mukminin Aisyah berkata,
“Lalu kami pun mempersiapkan keberangkatan Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq
dan mempersiapkan perbekalan untuk beliau berdua yang kami letakkan dalam jirab
(wadah dari kulit untuk tempat perbekalan perjalanan). Lalu Asma` menyobek kain
ikat pinggangnya menjadi dua bagian dan salah satunya ia pergunakan untuk
mengikat mulut jirab tersebut. Dari itu, Asma` dikenal dengan julukan Dzat An-Nithaqain.
- Peran Asma` dalam menanggung penderitaan dan merahasiakan rahasia-rahasia kaum muslimin.
Asma` memperlihatkan peran seorang Muslimah
yang memahami dan menghayati agamanya, menjaga rahasia-rahasia dakwah dan rela
menanggung akibat-akibatnya berupa penderitaan, gangguan dan sikap-sikap tidak
simpatik. Dalam hal ini, Asma` menceritakan sendiri kepada kita, ia berkata,
“Ketika Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq telah pergi, maka ada sejumlah
orang Quraisy mendatangi kami, termasuk di antaranya adalah Abu Jahal bin
Hisyam. Mereka berdiri di pintu rumah, lalu aku pun keluar menemui mereka, lalu
mereka bertanya, “Di mana ayahmu wahai puteri Abu Bakar?” Aku jawab, “Sungguh
aku tidak tahu di mana ayahku.” Lalu Abu Jahal mengangkat tangannya ia adalah sosok
yang buruk, kasar, dan bengis lalu menampar pipiku hingga anting-antingku
jatuh. Kemudian mereka pun pergi.
Itu adalah sebuah pelajaran dari Asma` yang
ia ajarkan kepada kaum perempuan Islam dari generasi ke generasi, bagaimana ia
merahasiakan rahasia-rahasia kaum muslimin dari para musuh, dan bagaimana ia
tetap berdiri dengan tegar tanpa sedikit pun gentar di hadapan
kekuatan-kekuatan jahat dan zhalim.
- Peran Asma` dalam menjaga situasi rumah agar tetap tenang dan tenteram.
Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berangkat pergi
bersama Rasulullah dengan membawa semua harta bendanya, yaitu apa yang tersisa
dari modal yang dimilikinya yang berjumlah lima ribu atau enam ribu dirham. Abu
Quhafah yang waktu itu telah buta datang untuk memeriksa rumah putranya
sekaligus untuk memastikan keadaan dan keselamatan cucu-cucunya. Ia berkata,
“Sungguh, aku melihat Abu Bakar telah membuat kalian susah dengan membawa
hartanya bersamanya.” Asma` berkata, “Tidak wahai kakek, coba letakkan tangan
kakek di sini.” Lalu ia pun meletakkan tangannya seperti yang aku minta, lalu
ia pun berkata, “Kalau begitu tidak apa-apa, jika memang Abu Bakar meninggalkan
untuk kalian bekal ini, berarti ia telah berbuat baik. Bekal ini cukup untuk
kalian.” Asma` kembali berkata, “Sungguh demi Allah, Abu Bakar Ash-Shiddiq
tidak meninggalkan apa pun untuk kami. Aku melakukan hal itu hanya untuk
menenangkan hati kakek.”
Dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sepeti
itu, Asma` menjaga nama ayahnya dan sekaligus menenangkan hati kakeknya tanpa
berbohong. Karena memang ayahnya meninggalkan bebatuan tersebut yang ia
tumpuk-tumpuk supaya jiwa sang kakek tenang. Namun, sebenarnya Abu Bakar
Ash-Shiddiq telah meninggalkan untuk mereka bekal berupa keimanan kepada Allah
yang tiada akan bisa digoncangkan oleh gunung, tidak akan bisa digoyangkan oleh
terpaan angin kencang dan tidak akan terpengaruh dengan sedikit atau banyaknya
harta. Abu Bakar Ash-Shiddiq telah mewariskan kepada mereka keyakinan dan
kepercayaan tanpa batas kepada Allah serta menanamkan pada jiwa mereka himmah
yang hanya berorientasi pada hal-hal yang luhur tanpa sedikit pun menoleh
kepada hal-hal yang remeh dan rendah. Maka, dengan mereka, Abu Bakar
Ash-Shiddiq pun telah memberikan contoh dan keteladanan bagi keluarga Muslim
yang sangat langka bisa terulang dan sangat sedikit untuk bisa menemukan
padanannya.
Dengan berbagai sikap, langkah, dan sepak
terjang tersebut, Asma` benar-benar telah memberikan sebuah contoh keteladanan
bagi kaum perempuan dan putri-putri Islam yang mereka sangat perlu untuk meniru
dan meneladaninya. Untuk beberapa waktu, Asma` dan saudara-saudara perempuannya
yang lain tetap berada di Makkah tanpa sedikit pun mengeluhkan kondisi ekonomi
yang sempit dan tanpa sedikit pun memperlihatkan kondisi butuh. Hal itu
berlangsung hingga akhirnya Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’
untuk pergi ke Makkah dan membekali mereka berdua dengan dua ekor unta dan uang
sebanyak lima ratus dirham untuk menjemput beberapa orang dan membawa mereka ke
Madinah. Mereka itu adalah, kedua putri beliau yaitu Fathimah dan Ummu Kultsum,
Saudah binti Zam’ah, Usamah bin Zaid, Barakah yang dikenal dengan nama Ummu
Aiman. Waktu itu, Abdullah bin Abu Bakar juga ikut bersama mereka pergi ke
Madinah sambil membawa keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq, hingga mereka semua pun
akhirnya tiba di Madinah bersama-sama.
- Peran Amir bin Fuhairah, maula Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Biasanya, banyak orang yang mengabaikan
pembantunya dan tidak begitu mempedulikan urusannya. Akan tetapi, tidak
demikian halnya dengan juru dakwah Rabbani, mereka tidak akan melakukan sikap
seperti itu, akan tetapi mereka berusaha keras untuk menunjuki dan membimbing
orang-orang yang mereka temui. Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq mendidik dan
mengasuh maula-nya yang bernama Amir bin Fuhairah, sehingga ia pun terbentuk
menjadi sosok pribadi yang siap berkorban untuk Islam dan mengabdi kepada
agamanya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq juga memberikan
gambaran kepada Amir bin Fuhairah tentang tugas dan perannya yang cukup penting
dalam hijrah. Seperti biasanya, ia menggembalakan kambing bersama-sama dengan
para penggembala lainnya di Makkah dengan sikap biasa tanpa melakukan
tindakan-tindakan yang bisa menarik perhatian. Kemudian ketika malam tiba, maka
ia menggiring kambing-kambingnya menuju ke gua di mana Rasulullah dan Abu Bakar
Ash-Shiddiq bersembunyi, sehingga beliau berdua bisa memerah susu
kambing-kambing tersebut dan memotong sebagiannya untuk dikonsumsi dagingnya.
Pada pagi harinya, ia kembali ke Makkah, dan dalam perjalanan kembali ke Makkah
tersebut, ia juga melaksanakan sebuah peran yang sangat penting lainnya yang
melengkapi peran Abdullah bin Abu Bakar.
Peran dan tugas itu adalah, ia berjalan
menggiring kambing-kambingnya mengikuti jejak-jejak kaki Abdullah bin Abu
Bakar, dengan tujuan supaya jejak-jejak tersebut terhapus. Itu adalah sebuah
langkah pintar dan cerdas dalam upaya menyiapkan kesuksesan hijrah.
Sebuah pelajaran yang besar yang bisa
dipetik dari sikap dan langkah Abu Bakar Ash-Shiddiq, supaya kaum muslimin juga
memperhatikan para pembantu dan pelayan mereka yang datang dari berbagai
belahan bumi, yaitu memperlakukan mereka sebagai manusia, kemudian mengajarkan
Islam kepada mereka.
Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Abu
Bakar Ash-Shiddiq berupaya memberdayakan, merekrut, mengerahkan, mempersiapkan,
dan memobilisasi keluarganya untuk mengabdi kepada sang pemilik dakwah;
Muhammad SAW demi kelancaran dan kesuksesan hijrah beliau, menunjukkan sebuah
perencanaan dan persiapan yang begitu cemerlang, langkah-langkah antisipasi dan
mempertimbangkan situasi dan kondisi secara bijaksana, cermat dan akurat,
meletakkan masing-masing orang yang terlibat pada posisinya yang sesuai,
menutup semua celah-celah yang ada, dukungan yang cermat terhadap semua
keperluan perjalanan, merekrut orang-orang yang terlibat dalam jumlah yang
tepat dan sesuai dengan yang diperlukan saja tanpa berlebihan. Rasulullah
benar-benar telah mengambil segenap langkah dan upaya ikhtiar yang logis dan
rasional serta melaksanakannya secara sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan
dan potensi yang dimiliki. Dari itu, inayah dan pertolongan Allah pun sudah
bisa diekspektasikan.
Melakukan usaha dan langkah-langkah ikhtiar merupakan hal yang niscaya dan sebuah keharusan. Akan tetapi itu tidak lantas berarti selalu akan mendatangkan hasil, karena ini adalah sesuatu yang tergantung kepada titah dan kehendak Allah. Dari sini, sikap tawakkal adalah menjadi hal yang sangat penting dan menjadi sebuah keharusan, dan tawakkal adalah masuk kategori usaha menyempurnakan langkah-langkah ikhtiar.
Rasulullah melakukan semua langkah dan
usaha, mempersiapkan segenap media dan menempuh segenap cara dan jalan yang
harus ditempuh. Akan tetapi, pada waktu yang sama, beliau senantiasa beserta
Allah, berdoa kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya supaya usaha dan
langkah yang beliau jalankan membuahkan keberhasilan. Doa beliau pun
diperkenankan dan usaha yang beliau lakukan pun akhirnya berbuah keberhasilan.
Keperwiraan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Tangisan
Kebahagiannya
Buah hasil tarbiyah nabawiyyah termanifestasikan secara
jelas pada keperwiraan dan heroisme Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika hendak
berhijrah ke Madinah dan Rasulullah berkata kepadanya, “Sabar sebentar, jangan
terburu-buru, barangkali Allah menjadikan untukmu seorang teman perjalanan,”
maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mulai mengambil langkah-langkah persiapan dan
perencanaan, seperti dengan membeli dua ekor unta dan merawatnya dengan baik,
sebagai persiapan untuk itu.
Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq
merawat dan memberi makan dua ekor unta yang ada padanya dengan daun pohon
samur selama empat bulan. Dengan ketajaman pandangannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq
yang tumbuh dan dididik untuk menjadi seorang pemimpin, mampu menangkap dan
memahami bahwa momen hijrah adalah momen yang sulit dan kemungkinan datang
secara tiba-tiba dan mendadak. Dari itu, ia pun sejak awal telah menyiapkan
sarana dan prasarana hijrah, mengatur rangsum perbekalannya dan memberdayakan
keluarganya untuk membantu Rasulullah.
Ketika Rasulullah datang dan mengabarkan kepadanya bahwa
Allah telah mengizinkan beliau untuk pergi berhijrah, maka Abu Bakar
Ash-Shiddiq pun menangis karena luapan kebahagiaan dan suka cita yang
dirasakannya. Dalam hal ini, Aisyah berkata, “Maka sungguh demi Allah, sebelum
hari itu, aku tidak pernah mengetahui seseorang menangis karena bahagia, hingga
aku melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis ketika itu.”
Itu adalah puncak kebahagiaan manusia, kebahagiaan yang
beralih kepada tangisan. Di antara yang dikatakan oleh penyair tentang hal ini
adalah,
Telah datang surah dari sang kekasih, bahwa ia akan datang
mengunjungiku, maka pelupuk mataku pun berlinang air mata.
Kebahagiaan dan suka cita menguasai diriku, hingga oleh
karena kebahagiaan dan suka cita yang begitu besar, maka itu pun membuatku
menangis.
Wahai mata, air mata bagimu sudah menjadi kebiasaan, kamu
menangis karena bahagia dan karena kesedihan.
Abu Bakar Ash-Shiddiq menyadari bahwa perjalanan menyertai
Rasulullah berhijrah berarti bahwa dirinya akan menjadi satu-satunya orang yang
sendirian menemani Rasulullah paling tidak minimal selama belasan hari dan ia
adalah orang yang akan mempersembahkan hidupnya untuk pemimpin dan kekasih
hatinya, yaitu Muhammad Rasulullah. Apakah ada di dunia ini keberuntungan
melebihi keberuntungan yang diperoleh Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut, yaitu
bahwa di antara semua penduduk bumi dan di antara semua sahabat lainnya, hanya
dirinyalah satu-satunya orang yang menyertai dan menemani Rasulullah selama
itu.
Esensi dan substansi cinta karena Allah terefeksikan pada
kekhawatiran Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika ia berada di dalam gua bagaimana jika
seandainya orang-orang musyrik tersebut melihat beliau berdua. Hal itu supaya
Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi contoh keteladanan tentang sikap yang semestinya
dimiliki oleh seorang personil dakwah yang tulus terhadap sang pemimpinnya yang
terpercaya ketika ancaman marabahaya mengancam diri beliau, yaitu sikap takut
dan khawatir terhadap keselamatan beliau.
Abu Bakar Ash-Shiddiq bukanlah orang yang takut mati.
Seandainya waktu itu ia memang takut mati, tentu ia tidak akan bersedia
menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah yang krusial dan gawat tersebut,
sedang ia sadar betul bahwa harga yang harus dibayar paling tidak adalah
nyawanya jika orang-orang musyrik berhasil menangkap dirinya bersama
Rasulullah. Akan tetapi Abu Bakar Ash-Shiddiq hanya mengkhawatirkan keselamatan
hidup Rasulullah dan masa depan Islam jika Rasulullah jatuh ke genggaman
orang-orang musyrik.
Sense of security yang dimiliki oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq
ketika berhijrah bersama Rasulullah terefleksikan pada banyak kasus dan
kejadian. Di antaranya adalah, ketika ada seseorang bertanya kepada Abu Bakar
Ash-Shiddiq, “Siapakah laki-laki yang bersama Anda itu?” Maka, Abu Bakar
Ash-Shiddiq menjawab, “Orang ini adalah penunjuk jalan yang membimbing dan
menunjukkan jalan kepadaku.” Si penanya pun mengira bahwa yang dimaksudkan
adalah jalan yang menjadi jalur transportasi, padahal sebenarnya yang
dimaksudkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah jalan kebaikan. Ini menunjukkan
kemampuan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang cukup baik dalam mempergunakan kata-kata
al-Ma’aridh (kiasan, kinayah, tauriyah, metonimi) demi menghindari dosa atau
bohong.
Jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut memuat tauriyah
sekaligus bentuk implementasi pendidikan sense of reliability yang ia dapatkan
dari Rasulullah, karena hijrah yang dilakukan adalah rahasia, sehingga harus
tetap dijaga kerahasiaannya, dan Rasulullah pun melegitimasi langkah Abu Bakar
Ash-Shiddiq tersebut.
Seni Memimpin dan Berinteraksi dengan Jiwa
Kecintaan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mendalam kepada
Rasulullah terlihat jelas dalam hijrah, sebagaimana kecintaan segenap para
sahabat lainnya terlihat jelas dalam sirah Nabi Muhammad. Cinta Rabbani ini
benar-benar muncul dari hati dengan penuh ketulusan dan kemurnian, bukan cinta
munafik, hipokrit atau muncul karena motif kepentingan duniawi, ambisi terhadap
suatu keuntungan atau takut kepada suatu hal yang tidak diinginkan.
Di antara faktor-faktor kecintaan kepada Rasulullah tersebut
adalah sifat-sifat kepemimpinan beliau yang bijaksana dan matang. Beliau
terjaga supaya mereka bisa tidur, beliau bekerja keras supaya mereka bisa
nyaman, beliau lapar supaya mereka kenyang. Beliau senang jika mereka senang,
beliau lapar supaya mereka kenyang. Beliau senang jika mereka senang, dan
beliau bersedih jika mereka sedih. Barang siapa yang meniti jejak dan
sunnah-sunnah Rasulullah dan para sahabat, baik dalam kehidupan privat maupun
kehidupan sosialnya, ikut bersama-sama dengan masyarakat merasakan kebahagiaan
dan kesedihan mereka, kesenangan dan kesengsaraan mereka, dan ia bekerja hanya
karena Allah, maka ia akan mendapatkan cinta seperti itu jika ia adalah seorang
tokoh, pemimpin, atau seorang pemangku jabatan dalam umat Islam.
Benarlah adanya apa yang diutarakan oleh seorang penyair
Libya bernama Ahmad Rafiq Al-Mahdawi,
Maka, jika batin seorang hamba mencintai Allah, maka
nampak pada dirinya anugerah-anugerah Al-Fattah.
Dan jika niat seorang reformis tulus murni hanya karena
Allah, maka ruh para hamba akan condong dan tertarik kepadanya.
Sesungguhnya kepemimpinan yang benar adalah kepemimpinan
yang mampu memimpin ruh utamanya dan mampu berinteraksi dan berkomunikasi
dengan jiwa sebelum yang lainnya. Kualitas pasukan sangat tergantung kepada
kualitas kepemimpinannya, semakin baik kualitas kepemimpinan, maka semakin baik
pula kualitas pasukan yang dipimpin. Kualitas dan kuantitas perasaan cinta para
pasukan sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas kepemimpinan.
Rasulullah adalah sosok yang sangat penyayang dan lembut kepada para pasukan
dan pengikut beliau. Maka, beliau tidak berhijrah kecuali setelah mayoritas
para sahabat sudah berhijrah terlebih dahulu, dan yang tersisa hanyalah
orang-orang yang lemah serta beberapa orang yang memiliki misi dan peran khusus
yang berkaitan dengan kehijrahan Rasulullah.
Hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah, bahwa
kecintaan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Rasulullah adalah karena Allah. Di
antara hal yang bisa mengidentifikasikan mana cinta yang karena Allah dan mana
cinta yang karena selain Allah adalah, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq mencintai
Rasulullah murni dan tulus hanya karena Allah, sementara paman beliau yaitu Abu
Thalib mencintai, menolong, dan membela beliau karena hawa nafsunya bukan
karena Allah. Allah pun menerima amal Abu Bakar Ash-Shiddiq dan menurunkan
sejumlah ayat menyangkut dirinya,
“Dan kelak akan dijauhkan dari neraka itu orang yang paling
takwa, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus
dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan
Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.”
(Al-Lail: 17-21).
Adapun Abu Thalib, maka Allah tidak berkenan menerima
amalnya itu, bahkan Dia memasukkannya ke neraka, karena ia adalah orang musyrik
yang beramal karena selain Allah. Sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak meminta
ganjarannya dari makhluk, tidak dari Nabi Muhammad dan tidak pula dari yang
lain. Tetapi, ia beriman kepada Nabi Muhammad, mencintai beliau, menjaga dan
merawat beliau serta menolong dan membantu beliau untuk mendekatkan diri kepada
Allah dan meminta ganjaran dari-Nya, dan ia menyampaikan perintah, larangan,
janji, dan ancaman Allah.
Abu Bakar Ash-Shiddiq Jatuh Sakit di Madinah Beberapa
Saat Setelah Hijrah
Hijrah Nabi Muhammad dan para sahabat dari negeri yang aman
Makkah, adalah sebuah pengorbanan yang besar yang diungkapkan oleh Rasulullah
dengan sabda beliau, “Sungguh kamu wahai Makkah adalah sebaik-baik bumi
Allah dan bumi-Nya yang paling Dia cintai. Seandainya bukan karena aku diusir
darimu, niscaya aku tidak akan pergi meninggalkanmu.”
Diriwayatkan oleh Aisyah, ia berkata, “Ketika Rasulullah
telah sampai di Madinah, beliau sampai ke sana sementara Madinah adalah bumi
Allah yang waktu itu sedang mengalami kasus luar biasa wabah demam dan
lembahnya mengalirkan air ajin (payau, berubah warna, bau, dan rasanya), maka
para sahabat pun jatuh sakit, sementara Allah menyelamatkan Rasul-Nya dari
wabah tersebut.”
Aisyah kembali bercerita, “Abu Bakar Ash-Shiddiq, Amir bin
Fuhairah dan Bilal tinggal dalam satu rumah, sehingga mereka bertiga sama-sama
mengalami sakit demam. Lalu aku minta izin kepada Rasulullah untuk menjenguk
mereka bertiga dan beliau pun mengizinkan. Lalu aku pun pergi menjenguk mereka.
Hal itu berlangsung sebelum turunnya perintah hijab kepada kami. Waktu itu,
mereka bertiga mengalami demam yang sangat parah dan hanya Allah Yang
mengetahui seberapa parahnya. Lalu aku mendekati Abu Bakar Ash-Shiddiq dan
berkata, “Ayah, bagaimana Anda mendapati keadaan diri Anda?” Lalu ia menjawab,
setiap orang berada di tengah-tengah keluarganya, sedang kematian lebih dekat
dari tali sendalnya.
Aisyah kembali bercerita, “Aku berkata, “Sungguh ayahku
tidak tahu apa yang diucapkannya. Kemudian aku mendekati Amir bin Fuhairah dan
berkata kepadanya, “Bagaimana Anda mendapati keadaan Anda wahai Amir?” Lalu ia
berkata,
Sungguh aku telah mendapati kematian sebelum
merasakannya. Sesungguhnya orang penakut, kebinasaan, dan kematiannya adalah
dari atasnya.
Setiap orang berjuang dengan segenap potensi dan
kemampuannya, seperti banteng melindungi kulitnya dengan tanduknya.
Aisyah kembali bercerita, “Aku berkata, “Sungguh Amir bin
Fuhairah tidak sadar apa yang diucapkannya.” Aisyah kembali melanjutkan
ceritanya, “Bilal, jika demamnya sudah sembuh, maka ia berbaring di teras
rumah, kemudian berkata dengan suara keras,
Duhai seandainya aku tahu, apakah suatu malam aku berada
di sebuah lembah, sedang di sekelilingku terdapat tumbuhan idzkhir dan jalil
(tumbuhan yang memiliki aroma yang harum).
Dan apakah aku suatu hari mendatangi perairan Majannah
(nama tempat berjarak beberapa mil dari Makkah), dan apakah Syamah dan Thafil
(dua bukit di Majannah) nampak kepadaku.
Aisyah kembali bercerita, “Lalu aku mengabarkan kepada
Rasulullah tentang apa yang terjadi. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah
Madinah tempat yang kami cintai sebagaimana kecintaan kami kepada Makkah atau
lebih besar lagi. Ya Allah, jadikanlah Madinah tempat yang sehat, berkahilah
untuk kami mudd dan sha’nya, dan pindahkanlah wabah demamnya dan jadikanlah
wabah demamnya itu berpindah ke Juhfah.”
Allah pun memperkenankan doa Rasulullah tersebut, kaum
muslimin di Madinah setelah itu sembuh dari wabah demam tersebut dan Madinah
pun berubah menjadi tempat yang istimewa bagi setiap orang Islam yang
berkunjung dan berhijrah ke sana dengan keragaman lingkungan dan negeri asal
mereka.
Setelah menetap di Madinah, maka Rasulullah pun memulai langkah untuk
mengokohkan pilar-pilar Daulah Islamiyyah. Maka, beliau pun
mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, kemudian mendirikan
masjid, mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi, dan gerakan
pembentukan detasemen-detasemen militer pun dimulai. Rasulullah juga
fokus membangun dunia ekonomi dan pendidikan dalam masyarakat baru
Madinah tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah wazir atau pembantu yang
berdedikasi bagi Rasulullah, senantiasa mendampingi beliau dalam semua
kondisi, tidak pernah absen dalam satu momen pun, tidak pernah ragu
untuk memberikan masukan, pandangan dan pendapat, dan tidak pernah ragu
untuk memberikan dukungan finansial.
Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar