Khalifah
Abu Bakar Ash-Shiddiq Merealisasikan Rencana Pengiriman Misi Militer yang
Dipimpin Oleh Usamah
Negara Romawi adalah salah satu dari dua Negara yang
bertetangga dengan semenanjung Arab pada masa Nabi Muhammad. Negara Romawi
menguasai wilayah-wilayah yang cukup luas di Utara jazirah Arab. Para amir atau
pemimpin wilayah-wilayah tersebut ditunjuk dan diangkat oleh otoritas Negara
Romawi dan mereka tunduk kepadanya.
Nabi Muhammad mengirimkan sejumlah juru dakwah dan delegasi
ke wilayah-wilayah tersebut. Nabi Muhammad mengutus Dihyah Al-Kalbi untuk
membawa surat kepada raja Romawi Hercules yang berisikan ajakan untuk masuk
Islam. Akan tetapi sang raja menolak mentah-mentah karena didorong oleh
keangkuhan dan merasa besar.
Langkah dan rencana yang digariskan Rasulullah untuk
menggoyahkan wibawa Romawi dalam diri bangsa Arab sangat jelas arahnya. Dari
itu, pasukan kaum muslimin pun memulai operasinya untuk menundukkan kawasan dan
wilayah-wilayah tersebut.
Pada tahun kedelapan hijriah, Nabi Muhammad mengirimkan misi
militer dan bertempur melawan kaum Nasrani Arab dan Romawi pada Perang Mu`tah.
Pada pertempuran tersebut para panglima pasukan Islam gugur sebagai syahid
secara berurutan, mulai dari Zaid bin Haritsah, kemudian Ja’far bin Abu Thalib,
kemudian Abdullah bin Rawahah. Setelah itu, kepemimpinan pasukan diambil alih
oleh Saifullah Khalid bin Al-Walid. Kemudian pasukan kembali ke Madinah.
Pada tahun kesembilan hijriah, Rasulullah menjalankan misi
militer dengan membawa pasukan yang cukup besar menuju ke Syam dan sampai ke
Tabuk. Waktu itu, pasukan Islam tidak sampai bertempur dengan pasukan Romawi
dan tidak pula dengan kabilah-kabilah Arab. Para pemimpin musuh waktu itu lebih
memilih untuk melakukan perjanjian damai dengan membayar jizyah. Akhirnya
pasukan Islam pun kembali pulang ke Madinah setelah dua puluh malam berada di
Tabuk.
Pada tahun kesebelas hijriah, Nabi Muhammad memobilisasi
kaum muslimin untuk berperang melawan pasukan Romawi di Balqa` dan Palestina.
Waktu itu, para pembesar dan pemuka sahabat ikut dalam misi militer tersebut.
Dalam misi tersebut, Nabi Muhammad menunjuk Usamah sebagai amir atau
panglimanya. Al-Hafizh Ibnu Hajar menuturkan, “Ada keterangan yang menyebutkan
bahwa penyiapan pasukan Usamah tersebut dilakukan pada hari Sabtu dua hari
sebelum meninggalnya Nabi Muhammad. Sebenarnya dalam misi tersebut sudah
direncanakan sebelum Nabi Muhammad jatuh sakit. Beliau mulai menyeru dan
memobilisasi kaum muslimin untuk ikut dalam misi militer melawan pasukan Romawi
pada akhir bulan Shafar. Beliau memanggil Usamah dan berkata kepadanya,
“Pergilah kamu ke tempat terbunuhnya ayahmu, lalu seranglah mereka, karena
sungguh aku mengangkatmu sebagai panglima atas pasukan ini.”
Lalu ada sebagian orang yang mengkritik dan mempertanyakan
pengangkatan Usamah tersebut. Lalu Rasulullah pun menanggapi kritikan mereka, “Jika
mereka mengkritik, mempertanyakan, dan mendiskreditkan kepemimpinan Usamah,
maka sungguh sebelumnya kalian juga mengkritik dan mendiskreditkan kepemimpinan
ayahnya. Sungguh demi Allah, ayahnya adalah orang yang layak dan kompeten untuk
memegang kepemimpinan tersebut dan sesungguhnya ia adalah termasuk orang yang
paling aku cintai, dan putranya ini adalah juga termasuk orang yang paling aku
cintai setelah ayahnya.”
Tidak lama setelah memulai penyiapan pasukan untuk misi
militer yang dipimpin oleh Usamah tersebut, yaitu dua hari setelah itu Nabi
Muhammad jatuh sakit dan semakin bertambah parah sakit beliau. Sementara itu,
pasukan yang telah disiapkan tersebut belum bergerak dan masih berada di
Al-Jurf (sebuah tempat yang terletak tiga mil dari Madinah di jalur menuju ke
Syam). Ketika Rasulullah meninggal dunia, pasukan tersebut akhirnya kembali
lagi ke Madinah.
Situasi dan kondisi waktu itu pun berubah bersamaan dengan
meninggalnya Nabi Muhammad. Aisyah menggambarkan situasi waktu itu seperti
berikut, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggal dunia, maka
orang-orang Arab murtad dan kemunafikan mulai muncul ke permukaan. Sungguh aku
telah tertimpa sesuatu yang seandainya itu menimpa gunung-gunung yang tinggi
besar dan kokoh, niscaya gunung itu hancur. Para sahabat Nabi Muhammad waktu
itu seolah-olah laksana seperti domba-domba di perkebunan pada malam yang hujan
di tanah yang penuh dengan binatang buas.”
Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq memegang tampuk kekhilafahan,
maka pada hari ketiga dari meninggalnya Rasulullah, ia memerintahkan seorang
laki-laki untuk menyampaikan pengumuman kepada masyarakat bahwa pengiriman misi
militer pasukan Usamah dilanjutkan dan tidak ada satu pun personel pasukan
Usamah yang tertinggal di Madinah melainkan ia harus segera berangkat menuju ke
kamp militer di Al-Jurf.”
Kemudian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri di hadapan
masyarakat Madinah, lalu memanjatkan puja-puji kepada Allah, lalu berkata,
“Wahai kalian semua, sesungguhnya aku tidak lain adalah sama seperti kalian,
dan aku tidak tahu barangkali kalian telah membebankan kepadaku apa yang
sebelumnya Rasulullah kuasa memikulnya. Sesungguhnya Allah telah memilih Nabi
Muhammad atas semua makhluk dan memelihara beliau dari berbagai bentuk
kejelekan. Adapun saya tidak lain hanya orang yang mengikuti dan saya bukanlah
orang yang membuat-buat dan mengada-adakan hal yang baru. Maka, jika aku lurus,
maka ikuti aku, namun jika aku melenceng, maka luruskanlah aku.
Sesungguhnya Rasulullah telah meninggal dunia dan tidak
mungkin akan ada satu orang pun dari umat ini yang menuntut beliau atas suatu
penganiayaan dan pelanggaran apa pun bentuknya. Sementara aku adalah orang yang
setan selalu mengelilingiku. Maka, ketika setan itu baru mendatangiku, maka
jauhilah aku. Kalian datang dan pergi dalam ajal (jangka waktu yang telah
ditetapkan) yang dirahasiakan dari kalian pengetahuannya, maka berupayalah
kalian agar ajal tersebut tidak berakhir melainkan ketika kalian sedang
mengerjakan amal shaleh, dan kalian tidak akan bisa melakukan hal itu melainkan
atas izin dan taufiq Allah. Maka, berlomba-lombalah kalian dalam memanfaatkan
jangka waktu kalian yang masih ada sebelum jangka waktu atau ajal kalian itu
berakhir dan membawa kalian kepada keterputusan amal dan tidak lagi bisa
beramal. Ada sejumlah kaum yang melupakan ajal mereka dan menjadikan amal-amal
mereka untuk orang lain, maka aku peringatkan dan mewanti-wanti janganlah
kalian sampai seperti mereka.
Bersungguh-sungguhlah kalian, bersungguh-sungguhlah kalian,
cepat, cepat, karena sesungguhnya di belakang kalian ada sesuatu yang mengejar
kalian dengan serius dan dengan langkah kaki yang cepat. Waspadalah kalian
terhadap kematian, ambillah iktibar dan pelajaran dari leluhur, anak cucu dan
saudara-saudara kalian, dan janganlah kalian merasa iri kepada orang-orang yang
masih hidup melainkan atas sesuatu yang kalian merasa iri kepada orang-orang
yang telah mati atas sesuatu tersebut.”
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berdiri menyampaikan
pidato. Pertama-tama, ia memanjatkan puja-puji kepada Allah, kemudian berkata,
“Sesungguhnya Allah tidak berkenan menerima suatu amal melainkan amal yang
dikerjakan dengan tulus ikhlas hanya karena-Nya, maka tujukan, murnikan, dan
peruntukkanlah amal-amal kalian hanya untuk Allah. Sesungguhnya amal-amal yang
kalian kerjakan dengan ikhlas dan murni hanya karena Allah tidak lain adalah
simpanan kalian untuk waktu di mana kalian membutuhkannya. Ambillah iktibar dan
pelajaran dari orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kalian.
Perhatikanlah orang-orang sebelum kalian, di mana mereka
kemarin dan di mana mereka hari ini. Di manakah orang-orang kuat yang dikenal
tangguh dan berjaya di medan-medan pertempuran? Masa telah meruntuhkan mereka
dan mereka pun telah menjadi tulang belulang yang lapuk dan hancur.
Perempuan-perempuan buruk adalah untuk laki-laki yang buruk,
dan laki-laki yang buruk adalah untuk perempuan yang buruk. Di manakah
raja-raja yang telah mengolah, membangun, dan memakmurkan bumi? Mereka telah
jauh sekali dan terlupakan dan menjadi seperti bukan apa-apa. Ketahuilah
sesungguhnya Allah telah menetapkan atas mereka tuntutan pertanggung jawaban
dan telah memutus dari mereka segala syahwat dan ambisi. Mereka telah berlalu,
sedang amal-amal yang pernah mereka kerjakan adalah amal-amal mereka sementara
dunia adalah dunia orang lain. Dan sesungguhnya Allah memperadakan kita sebagai
makhluk setelah mereka, maka kita selamat, namun jika kita merosot, maka kita
menjadi seperti mereka. Di manakah orang-orang yang elok dan berwajah menawan
yang bangga dengan kondisi muda mereka? Mereka telah menjadi tanah, dan
perbuatan-perbuatan teledor mereka menjadi sesalan atas mereka. Di manakah
orang-orang yang membangun kota-kota dan mengelilinginya dengan tembok-tembok
dan membuat berbagai hal yang menakjubkan di dalamnya? Mereka telah
meninggalkan semua itu untuk orang-orang yang datang setelah mereka. Maka, itu
lihatlah tempat-tempat tinggal mereka kosong dan tinggal puing-puing, sedang
mereka berada dalam kegelapan-kegelapan lubang kubur, “Adakah kamu melihat
seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?” Di
manakah orang-orang yang kalian kenal dari leluhur dan saudara-saudara kalian?
Ajal mereka telah berakhir dan habis, lalu mereka telah sampai kepada apa yang
sebelumnya mereka kerjakan, dan mereka menegakkan untuk kesengsaraan atau
kebahagiaan setelah kematian. Ketahuilah sesungguhnya tiada yang namanya
istilah “nepotisme” dan “kolusi” bagi Allah terhadap siapa pun dari makhluk
yang karenanya Dia memberinya kebaikan dan menjauhkannya dari kejelekan kecuali
dengan ketaatan kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya.
Ketahuilah sesungguhnya kalian adalah para hamba yang
terkuasai dan akan dibalasi, bahwa sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah
tiada dapat diraih melainkan dengan ketaatan kepada-Nya. Tiadakah sudah datang
bagi salah seorang dari kalian waktunya Neraka dihindarkan darinya Neraka dan
Surga tidak dijauhkan darinya.”
Dalam pidato ini terdapat sejumlah pelajaran dan ibrah, yang
di antara adalah:
- Penjelasan tentang karakteristik atau hakikat khalifah Rasulullah, bahwa ia bukanlah khalifah Allah tetapi khalifah Rasulullah., bahwa dirinya adalah manusia biasa yang tidak makshum yang tiada akan kuasa dan mampu memikul apa yang mampu dan kuasa dipikul oleh Rasulullah dengan kenabian dan kerasulan beliau.
Dari itu, dirinya dalam langkah politik dan
kebijakannya adalah hanya sekadar mengikuti jejak langkah Rasulullah, bukan
membuat-buat dan mengada-adakan hal yang baru. Yakni, bahwa ia mengikuti dan
meniti jejak langkah Rasulullah dalam menjalankan pemerintahan dan hukum dengan
adil dan baik.
- Penjelasan tentang tugas dan kewajiban umat dalam mengawasi, mengontrol dan mengawal pemimpin, untuk membantu dan mendukungnya ketika ia mengambil langkah yang baik, shaleh, dan lurus serta menasihatinya ketika melenceng dan menyimpang, supaya ia tetap berada di rel yang benar sebagai orang yang mengikuti tuntutan Rasulullah bukan orang yang membuat-buat hal yang baru.
- Penegasan bahwa Nabi Muhammad berlaku adil di antara umat tanpa pernah menzhalimi siapa pun. Dari itu, tiada akan mungkin ada satu orang pun yang pernah mendapatkan perlakuan zhalim dari Rasulullah, sehingga tidak ada nada satu orang pun yang menuntut beliau. Artinya adalah, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq akan mengikuti jalan yang sama seperti itu, menebarkan keadilan dan menjauhi kezhaliman.
Dari itu, umat harus membantu dan mendukung
dirinya dalam upaya melaksanakan hal itu.
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyatakan,
bahwa jika ada seseorang melihat dirinya sedang marah, maka orang tersebut
harus menjauhinya agar ia jangan sampai menyakiti seseorang, sehingga hal itu
membuat dirinya telah keluar dari garis kebijakan dan politik yang telah ia tetapkan,
yaitu mengikuti dan meniru Rasulullah.
Setan yang senantiasa berusaha mengelilingi
Abu Bakar Ash-Shiddiq juga melakukan hal yang sama kepada semua manusia. Karena
tiada satu orang pun melainkan Allah telah menetapkan untuknya seorang qarin
dari bangsa malaikat dan seorang qarin dari bangsa jin.
Posisi setan dari manusia adalah laksana
seperti posisi darah yang mengalir dalam tubuhnya. Rasulullah bersabda, “Tiada
satu orang pun dari kalian melainkan telah ditetapkan untuknya seorang qarin
dari bangsa jin dan seorang qarin dari bangsa malaikat.” Para sahabat berkata,
“Termasuk Anda juga wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ya, termasuk aku,
hanya saja Allah telah menolongku mengalahkan setan yang menjadi qarinku, lalu
ia masuk Islam, sehingga ia tidak menyuruhku melakukan sesuatu melainkan
kebaikan.”
Dalam sebuah hadits lain disebutkan,
“Bahwasanya ada dua orang Anshar berpapasan dengan beliau yang waktu itu sedang
berbincang-bincang dengan Shafiyyah pada waktu malam, lalu beliau berkata, “Tenanglah
kalian, tidak ada apa-apa, ini adalah Shafiyyah binti Huyai.” Lalu mereka
berdua berkata, “Subhanallah wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya
setan mengalir pada manusia laksana seperti mengalirnya darah dalam tubuhnya,
dan aku khawatir setan memunculkan suatu kejelekan dalam hati kamu berdua.”
Maksud Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
adalah, bahwasanya ia bukanlah makshum seperti Rasulullah, dan itu adalah
memang benar adanya.
- Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa konsisten untuk selalu menyampaikan nasihat kepada kaum muslimin, mengingatkan mereka kepada kematian dan keadaan para raja dan penguasa yang telah lalu, menyuruh mereka untuk beramal shaleh supaya mereka memiliki persiapan bertemu dengan Allah dan supaya mereka tetap istiqamah, lurus, dan persisten berada di jalan Allah dalam kehidupan mereka.
Di sini, kita bisa melihat bagaimana
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memanfaatkan dan memberdayakan kekuatan bahasa
yang fasih dalam pidato-pidatonya dan perkataan-perkataannya kepada umat. Khalifah
Abu Bakar Ash-Shiddiq memang termasuk salah satu orator Rasulullah yang paling
fasih.
Tentang hal ini, Al-’Aqqad menuturkan,
adapun bahasa dan perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka itu termasuk ucapan
yang paling kuat dan unggul dalam timbangan akhlak dan hikmah. Dalam berbagai
ucapannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyebutkan banyak contoh, perumpamaan,
tamsilan, dan ilustrasi-ilustrasi yang langka yang satu saja di antaranya sudah
menunjukkan bakat dan talentanya, maka sedikit dari perumpamaan dan tamsilan-tamsilan
itu sudah mencukupi dan bisa mewakili yang banyak, sebagaimana mencukupinya
sebuah bulir sehingga tidak membutuhkan lagi keranjang yang penuh.
Maka, cukuplah Anda mengetahui tambang yang
menjadi sumber perkataan dari jiwa dan pikirannya ketika Anda mendengar kalimat
seperti perkataannya, “Ingatlah selalu kematian, maka kehidupan diberikan
kepadamu.” atau, “Kejujuran yang paling jujur adalah amanat dan kebohongan yang
paling bohong adalah khianat, sabar adalah separuh iman dan yakin adalah iman utuh.”
Itu adalah kalimat-kalimat yang terlihat
jelas ketetapan dan keakuratannya, sebagaimana sangat terlihat jelas
kebalaghan, kefasihan, dan keindahan ungkapannya. Kalimat-kalimat tersebut juga
memberitahukan tentang sumber asal yang menghasilkan kalimat-kalimat tersebut,
sehingga tidak membutuhkan untuk menunjukkan tanda-tanda sebagai orang terdidik
sebagaimana yang banyak dilakukan oleh berbagai kalangan secara berlebihan.
Karena pemahaman yang mendalam, kuat,
orisinil, dan tepat itulah inti yang dimaksudkan dari keterdidikan. Rasulullah
memiliki kepiawaian dalam berorasi di samping kefasihan dalam berbicara.
Kejadian
yang Berlangsung Antara Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Para Sahabat
Menyangkut Perealisasian Pengiriman Misi Militer Pasukan Usamah
Ada sebagian sahabat yang memberikan masukan dan usulan
kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq supaya tidak memberangkatkan misi militer
pasukan tersebut. Mereka berkata, “Pasukan tersebut terdiri dari sebagian besar
kaum muslimin, sementara orang-orang Arab sebagaimana yang Anda lihat banyak
yang membelot. Maka dari itu, tidak seyogyanya Anda memecah-mecah jamaah kaum
muslimin yang ada. Karena jika Anda tetap mengirimkan pasukan tersebut, maka
kaum muslimin yang tersisa di Madinah tinggal sedikit.”
Dari kamp militer di Al-Jurf, Usamah pun mengirimkan Umar
bin Al-Khathab untuk menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan meminta izin
untuk membawa kembali pasukan. Ia berkata, “Pasukan ini terdiri dari sebagian
besar kaum muslimin yang ada termasuk di dalamnya tokoh-tokoh Islam terkemuka.
Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan khalifah, tanah haram, dan kehormatan
Rasulullah serta kaum muslimin yang lain dari serbuan orang-orang musyrik.”
Akan tetapi Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menyetujui
usulan tersebut dan tetap pada pendiriannya untuk tetap melanjutkan misi
militer yang ada menuju ke Syam walau bagaimana pun situasi dan kondisinya
serta apa pun akibatnya. Usamah dan para staf militernya merasa tidak setuju
dengan langkah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tetap bersikukuh pada
pendapatnya tersebut. Mereka pun melakukan segenap upaya untuk meyakinkan
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa usulan dan pemikiran mereka adalah benar
dan tepat.
Ketika semakin banyak desakan dari berbagai pihak terhadap
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka ia pun mengambil langkah mengadakan
pertemuan darurat dengan memanggil seluruh kaum Muhajirin dan Anshar guna
mendiskusikan persoalan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, terjadilah diskusi
dan perdebatan yang sangat lama dan cukup alot. Di antara sahabat yang paling
keras menentang kebijakan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ingin tetap
melanjutkan misi militer yang ada adalah Umar bin Al-Khathab. Dalam hal ini,
Umar bin Al-Khathab mengemukakan salah satu alasannya, yaitu kekhawatirannya
yang sangat besar atas keselamatan khalifah, tanah haram Rasulullah, dan
Madinah secara keseluruhan dari ancaman serbuan orang-orang Arab pedalaman yang
murtad dan musyrik.
Ketika banyak tokoh-tokoh sahabat yang menyatakan sikap
tidak setuju terhadap pendirian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan menyatakan
kepadanya tentang berbagai bahaya serius yang mengancam Madinah jika khalifah
tetap bersikukuh untuk memberangkatkan pasukan Usamah untuk menghadapi pasukan
Romawi, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menginstruksikan untuk menutup
dan mengakhiri pertemuan pertama tersebut.
Hal itu setelah ia mendengar pendapat, pandangan, dan
masukan semua pihak, memberikan kesempatan penuh kepada semua pihak dan
tokoh-tokoh terkemuka untuk mengutarakan pendapat dan pandangan masing-masing.
Kemudian setelah itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali
mengadakan pertemuan massal dan terbuka di masjid. Dalam pertemuan tersebut,
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta para sahabat untuk melupakan pemikiran
dan ide membatalkan rencana tersebut yang telah ditetapkan Rasulullah sendiri
sebelumnya. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan kepada mereka, bahwa ia
tetap akan merealisasikan rencana tersebut, walau seandainya pun hal itu akan
mengakibatkan Madinah diserbu oleh orang-orang Arab pedalaman yang murtad.
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri menyampaikan pidato kepada para sahabat
dan berkata, “Demi Dzat Yang jiwa Abu Bakar berada dalam genggaman-Nya,
seandainya pun aku mengetahui bahwa binatang buas akan menerkamku, maka aku
tetap akan meneruskan pemberangkatan misi militer pasukan Usamah sebagaimana
yang telah diperintahkan oleh Rasulullah, dan seandainya pun di tempat ini
hanya tinggal diriku saja yang ada, maka aku tetap akan meneruskan dan
merealisasikan misi militer tersebut.”
Benar, langkah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tidak
setuju dengan pendapat dan pandangan semua kaum muslimin waktu itu dan tetap
bersikukuh pada pendiriannya untuk memberangkatkan pasukan Usamah adalah
langkah yang betul dan tepat. Karena pemberangkatan misi militer pasukan Usamah
tersebut memuat perintah dari Rasulullah. Waktu dan kejadian-kejadian yang ada
akhirnya membuktikan ketepatan dan kebenaran keputusan dan pendirian Khalifah
Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ia bersikukuh untuk merealisasikannya tersebut.
Kaum Anshar pun meminta supaya pasukan tersebut dipimpin
oleh seseorang yang lebih tua dari Usamah. Mereka mengutus Umar bin Al-Khathab
untuk menyampaikan usulan mereka itu kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Lalu Umar bin Al-Khathab pun menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata
kepadanya, “Orang Anshar meminta supaya pasukan ini dipimpin oleh seseorang
yang lebih tua dari Usamah.”
Mendengar hal itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun
langsung terhenyak berdiri lalu memegang jenggot Umar bin Al-Khathab dan
berkata kepadanya, “Celaka kamu wahai Umar! Rasulullah telah menunjuk dan
mengangkat Usamah, dan Anda menyuruhku untuk mencopotnya?” Lalu Umar bin
Al-Khathab pun kembali. Lalu orang-orang bertanya kepadanya, “Bagaimana
hasilnya?” Lalu ia pun berkata, “Celaka kalian semua! Lihat apa yang aku
dapatkan dari khalifah Rasulullah gara-gara kalian!”
Kemudian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq keluar untuk menemui
mereka, lalu memberangkatkan dan mengantar mereka, sedang waktu itu ia berjalan
kaki sementara Usamah naik kendaraan. Waktu itu, Abdurrahman bin Auf menuntun
kendaraan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Usamah berkata, “Wahai Khalifah
Rasulullah, sungguh Anda harus naik kendaraan, atau saya akan turun.” Lalu
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sungguh, kamu jangan turun dan sungguh
aku tidak akan naik kendaraan, aku ingin sesaat mengotori kedua kakiku dengan
tanah dalam jihad di jalan Allah.”
Kemudian khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada
Usamah, “Aku ingin Umar tetap tinggal di Madinah bersamaku, apakah Anda
mengizinkan?” Lalu Usamah pun menyetujui permintaan Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq tersebut.
Kemudian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menghadap ke
pasukan, lalu berkata, “Wahai pasukan semuanya, dengarlah, aku akan
menyampaikan sepuluh pesan kepada kalian, dan ingatlah baik-baik pesanku ini.
Janganlah kalian berlaku khianat, jangan kalian mengambil harta rampasan perang
sebelum dibagi, jangan kalian melanggar perjanjian, jangan kalian melakukan
mutilasi terhadap musuh, jangan kalian membunuh anak kecil, orang-orang lanjut
usia dan kaum perempuan. Jangan kalian memotong pohon kurma, jangan kalian
membakarnya dan jangan pula kalian menebang pohon yang berbuah. Jangan kalian
memotong kambing, lembu, dan tidak pula unta kecuali untuk kebutuhan makan.
Kalian akan melewati sejumlah kaum yang beribadat di dalam biara-biara,
janganlah kalian ganggu mereka, biarkan mereka melakukan apa yang mereka
lakukan itu. Kalian nanti akan mendatangi kaum yang akan menyuguhkan kepada
kalian periuk dan nampan-nampan yang berisikan berbagai macam makanan, maka
jika kalian mau memakannya, jangan lupa untuk membaca basmalah. Nanti kalian
juga akan bertemu dengan sejumlah kaum yang memiliki potongan rambut yang unik,
yaitu mereka memotong bersih rambut kepala mereka bagian tengah dan membiarkan
rambut di sekitarnya, maka serbu dan tundukkanlah mereka. Sekian, berangkatlah
kalian semua dengan menyebut nama Allah.”
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berpesan kepada Usamah
untuk melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah, seraya berkata, “Lakukanlah
apa yang sebelumnya telah diperintahkan Rasulullah kepada dirimu. Mulailah
dengan negeri Qudha’ah, kemudian lanjutkan ke Abil (sebuah daerah yang terletak
di selatan Yordania sekarang). Jangan sekali-kali kamu teledor dalam
menjalankan perintah Rasulullah.”
Usamah pun berangkat membawa pasukannya dan melaksanakan apa
yang sebelumnya diperintahkan Rasulullah, yaitu menyerbu kabilah-kabilah
Qudha’ah dan negeri Abil, hingga ia pun selamat, berhasil, sukses dan menang.
Misi militer tersebut memakan waktu empat puluh hari mulai dari pemberangkatan
sampai kembali pulang.
Berita meninggalnya Rasulullah dan serbuan pasukan Usamah di
salah satu wilayah kekuasaan Romawi pun sampai kepada raja Romawi Hercules.
Orang Romawi pun berkata, “Apa maunya orang-orang itu, pemimpin mereka
meninggal dunia, namun kemudian mereka justru melakukan serbuan ke tanah kami.”
Orang-orang Arab berkata, “Seandainya mereka (kaum muslimin) tidak memiliki
kekuatan, tentu mereka tidak akan mengirimkan pasukan tersebut.” Akhirnya
orang-orang Arab itu pun membatalkan banyak hal yang sebelumnya ingin mereka
lancarkan.
Sejumlah
Pelajaran, Ibrah, dan Faidah Terpenting dari Langkah Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq Merealisasikan Pengiriman Pasukan Usamah
Keadaan
berubah dan berganti, berbagai kesulitan dan musibah tidak sampai memalingkan
orang-orang beriman dari urusan agama.
Betapa genting dan serius perubahan dan transisi yang ada!
Betapa cepat perubahan dan transisi itu terjadi! Subhanallah Maha Suci Allah
Yang membolak-balikkan keadaan sekehendak-Nya,
“Dia Maha Berbuat terhadap apa yang dikehendaki-Nya.”
(Al-Buruj: 16).
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedang
mereka lah yang akan ditanya.” (Al-Anbiya`: 23).
Sebelumnya, para delegasi dan utusan bangsa-bangsa Arab
berduyun-duyun datang dalam jumlah yang begitu banyak dengan penuh ketundukan
dan kepatuhan, sampai-sampai tahun kesembilan hijriah dikenal dengan sebutan
’Am al-Wufud (tahun delegasi). Kemudian keadaan dan situasi berubah begitu
cepatnya, di mana muncul kekhawatiran kabilah-kabilah Arab akan datang menyerbu
Madinah Munawwarah ibu kota Islam.
Bahkan kabilah-kabilah Arab itu memang benar-benar datang
melakukan serbuan untuk menghancurkan -menurut persangkaan batil mereka- Islam
dan kaum muslimin.
Semua kejadian dan perubahan itu bukanlah sesuatu yang aneh.
Karena di antara sunnatullah atau ketentuan baku Allah yang berlaku pada umat
dan bangsa-bangsa yang ada di dunia ini adalah bahwa roda perjalanan sejarah
mereka tidak statis, konstan, dan tetap pada satu keadaan saja, tetapi berputar
dan berjalan secara dinamis, fluktuatif, selalu berubah silih berganti,
berputar naik dan turun (sunnah at-Tadawul, perputaran roda zaman). Hal ini
telah diinformasikan oleh Dzat Yang membolak-balikkan dan memperputarkan
perjalanan masa dan roda waktu,
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di
antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran);” (Ali Imran: 140).
Ar-Razi dalam tafsirnya menuturkan, maknanya adalah, bahwa
masa-masa dunia adalah berputar silih berganti di antara manusia, kondisi
senang dan susah selalu berputar silih berganti, kejayaan, dan keterpurukan
berputar silih berganti di antara mereka. Hari ini, kebahagiaan dan kejayaan
berada di tangan sebagian orang, sementara kesedihan dan keterpurukan dialami
oleh musuhnya. Pada suatu hari nanti, keadaan tersebut berubah dan berganti
menjadi sebaliknya.
Tiada suatu apa pun dari keadaan dan hal ihwal dunia yang
konstan, statis, dan tetap, akan tetapi selalu bergerak dinamis, fluktuatif,
berputar silih berganti.
Penggunaan bentuk fi’il mudhari’ dalam ayat di atas,
“nudawiluha” adalah untuk memberikan pengertian at-Tajaddud dan al-Istimrar,
yakni bahwa sunnah at-Tadawul selalu berjalan terus. Dalam hal ini, Al-Qadhi
Abu As-Sa’ud menuturkan, bentuk fi’il mudhari’ yang mengandung pengertian
at-Tajaddud (senantiasa terjadi dari waktu ke waktu) dan al-Istimraar
(kontinuitas) tersebut untuk memberikan sebuah pengertian bahwa at-Tadawul
(silih bergantinya keadaan) tersebut adalah sebuah sunnah atau ketentuan baku
yang berlaku di antara umat dan bangsa-bangsa yang ada, baik yang lalu maupun
yang kemudian. Ada ungkapan yang cukup terkenal berbunyi, “Al-Ayyam duwalun wa
al-Harb sijalun” (masa kejayaan dan keterpurukan selalu berputar silih
berganti, dan peperangan adalah terkadang menang dan terkadang kalah).
Seorang penyair bersenandung,
Maka, suatu hari adalah kemalangan bagi kami dan suatu
hari yang lain adalah kemujuran dan keberuntungan bagi kami. Suatu hari kami
bersedih dan suatu hari yang lain kami bergembira.
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa mengajarkan kepada
umat untuk sabar dan tabah jika mereka sedang mengalami kesulitan dan tertimpa
musibah, karena kemenangan dan kesuksesan adalah beserta kesabaran dan
kegigihan. Juga, jangan sampai mereka merasa putus asa dari rahmat Allah,
“Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik.” (Al-A’raf: 56).
Hendaklah setiap Muslim selalu ingat dan sadar bahwa
kesulitan betapa pun besarnya dan bahwa musibah betapa pun kerasnya, maka
sesungguhnya di antara sunnatullah atau ketentuan baku Allah adalah,
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6).
Dan sesungguhnya perkara seorang Muslim adalah menakjubkan
di dunia ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits, “Sungguh
menakjubkan perkara seorang Mukmin, sesungguhnya perkaranya semuanya adalah
baik, dan itu tidak dimiliki melainkan oleh seorang Mukmin, yaitu jika ia
mendapatkan kesenangan dan kegembiraan, maka ia bersyukur, dan itu adalah baik
baginya, dan jika ia tertimpa kemadharatan dan kesusahan, maka ia bersabar, dan
itu adalah baik baginya.”
Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari pengiriman misi
militer pasukan Usamah adalah, bahwa berbagai kesulitan dan musibah sebesar apa
pun itu tidak akan bisa memalingkan orang-orang beriman dari urusan agama.
Meninggalnya Rasulullah tidak sampai menjadikannya lupa terhadap urusan agama.
Ia menginstruksikan untuk memberangkatkan pasukan Usamah dalam situasi dan
kondisi yang sangat berat dan tidak menentu, hari-hari yang gelap karena
tertutup mendung duka dan kesedihan yang mendalam bagi kaum muslimin. Akan
tetapi apa yang dipelajari oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dari Rasulullah yaitu
untuk senantiasa memperhatikan urusan agama, memenangkan dan memprioritaskannya
di atas segalanya.
Hal ini berjalan terus hingga Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
pergi meninggalkan dunia ini.
Perjalanan
dakwah tidak terikat dengan siapa pun dan kewajiban mengikuti perintah Nabi
Muhammad.
Dalam kisah pengiriman misi militer pasukan Usamah oleh
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kita bisa menemukan bahwa Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq menjelaskan dengan ucapan dan tindakan bahwa perjalanan dakwah
belum dan tidak akan terhenti meski dengan kematian pemimpin makhluk dan imam
para nabi dan rasul Muhammad Saw.
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq membuktikan keberlanjutan
perjalanan misi dakwah tersebut dengan segera merealisasikan pemberangkatan
misi militer pasukan Usamah.
Pada hari ketiga dari meninggalnya Rasulullah, juru
pengumuman menyampaikan pengumuman terbuka agar semua orang yang tergabung
dalam pasukan Usamah agar segera bergerak pergi menuju ke kamp militer di
Al-Jurf.
Sebelum itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pidato
kenegaraan pertamanya sesaat setelah pembaiatan dirinya sebagai khalifah telah
menegaskan tekadnya untuk terus mengerahkan segenap usaha, tenaga, kemampuan
dan potensi demi untuk mengabdi kepada agama ini.
Dalam sebuah riwayat disebutkan perkataan Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq, “Maka, bertakwalah kepada Allah wahai kamu semua! Berpegang
teguhlah kalian kepada agama kalian dan bertawakkalah kepada Tuhan kalian.
Karena sesungguhnya agama Allah tetap tegak, sesungguhnya kalimat-Nya pasti
sempurna dan berjaya, dan sesungguhnya Allah Penolong orang yang menolong
agama-Nya dan Dia pasti memuliakan agama-Nya dan menjadikannya berjaya. Sungguh
demi Allah, kami tidak peduli siapa pun dari makhluk-Nya yang memobilisasi
kekuatan dan memprovokasi untuk menyerang kami. Sesungguhnya pedang-pedang
Allah selalu terhunus dan kami belum lagi meletakkannya, dan sungguh kami akan
berjihad dan berjuang melawan siapa pun yang menentang dan melawan kami, sebagaimana
kami berjihad bersama-sama Rasulullah, maka siapa pun yang melakukan
kezhaliman, maka sejatinya ia melakukan kezhaliman atas dirinya sendiri.”
Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah kebijakan
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tetap merealisasikan rencana pengiriman
misi militer pasukan Usamah adalah, bahwa semua kaum muslimin berkeharusan
untuk mengikuti dan mematuhi perintah Nabi Muhammad baik di kala senang maupun
susah.
Dari tindakan yang dilakukannya, Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq ingin menjelaskan bahwa dirinya betul-betul memegang teguh dan
merealisasikan perintah-perintah Nabi Muhammad meski betapa pun banyak dan
seriusnya ancaman dan bahaya yang ada. Sikap Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ini
nampak jelas dalam kisah ini pada berbagai kesempatan, yang di antaranya
adalah:
- Ketika kaum muslimin meminta penghentian pengiriman misi militer pasukan Usamah, mengingat keadaan yang berubah serta situasi dan kondisi yang agak memburuk, tidak menentu, dan belum stabil, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memberikan jawaban dengan sebuah pernyataannya yang akan selalu dikenang, “Demi Dzat Yang jiwa Abu Bakar berada dalam genggaman-Nya, seandainya aku tahu bahwa binatang buas akan menerkamku, niscaya aku akan tetap merealisasikan pemberangkatan misi militer pasukan Usamah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Rasulullah, dan seandainya di negeri ini semuanya ikut pergi dan hanya tinggal diriku saja, niscaya aku akan tetap merealisasikan misi militer tersebut.”
- Ketika Usamah meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk membawa kembali pasukannya dari Al-Jurf ke Madinah karena alasan mengkhawatirkan keselamatan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para penduduk Madinah, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun tidak mengizinkannya. Bahkan ia menyatakan tekad dan kekukuhannya untuk merealisasikan rencana dan keputusan Rasulullah tersebut dengan mengatakan, “Seandainya anjing-anjing dan serigala-serigala menyerang dan menerkamku, niscaya aku tetap tidak akan membatalkan sebuah ketetapan yang telah diambil oleh Rasulullah.”
Dengan sikapnya itu, Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq ingin memberikan sebuah potret implementasi firman Allah,
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang
Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukminah, apabila Allah dan
Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang
lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36).
- Ketika ada permintaan kepadanya untuk mengangkat panglima lain yang lebih tua dari Usamah, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung memperlihatkan kemarahan yang besar kepada Umar bin Al-Khathab karena ia telah berani dan mau begitu saja disuruh orang-orang untuk menyampaikan usulan seperti itu kepadanya. Ia pun berkata kepada Umar bin Al-Khathab, “Celaka kamu wahai Umar! Rasulullah telah menunjuk dan mengangkat Usamah, dan Anda menyuruhku untuk mencopotnya?!”
- Komitmen Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang begitu tinggi untuk mengikuti dan meniti jejak langkah Nabi Muhammad juga terepresentasikan dengan jelas dalam sikapnya ketika ia pergi untuk mengantar dan memberangkatkan pasukan Usamah dengan cara ia berjalan kaki sementara Usamah naik kendaraan.
Dalam hal ini, Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq meniru dan meneladani apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan
Mu’adz bin Jabal ketika beliau mengirimnya dalam sebuah misi ke Yaman. Imam
Ahmad meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, ia menyatakan, “Ketika Rasulullah
mengutus dirinya dalam sebuah misi ke Yaman, beliau mengantar dirinya dan
memberikan pesan kepadanya, sedang waktu itu dirinya naik kendaraan sementara
Rasulullah berjalan kaki tepat di samping kendaraannya.”
Syaikh Ahmad Al-Banna memberikan komentar
tentang hadits ini dan mengatakan, “Hal yang sama juga dipraktikkan oleh
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Usamah bin Zaid, padahal waktu itu Usamah
masih muda. Sebelum meninggal dunia, Rasulullah telah menunjuk dan mengangkat
Usamah sebagai panglima pasukan yang akan dikirim untuk melakukan misi militer
yang waktu itu belum diberangkatkan kecuali setelah meninggalnya Rasulullah
ketika hendak diberangkatkan, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengantar panglima
Usamah dengan berjalan kaki sementara Usamah naik kendaraan. Hal itu ia lakukan
mengikuti dan meneladani apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah kepada
Mu’adz.”
- Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sangat konsisten dalam meniru dan mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad juga terepresentasikan dengan jelas ketika ia berdiri untuk berpidato yang berisikan sejumlah pesan kepada pasukan Usamah ketika ia hendak memberangkatkannya. Hal seperti ini juga dilakukan oleh Rasulullah ketika beliau mengantar dan hendak memberangkatkan pasukan. Tidak hanya itu saja, bahkan sebagian besar pesan yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada pasukan Usamah tersebut adalah diadopsi dan dikutip dari pesan-pesan Rasulullah kepada pasukan.
Dalam mengikuti, meniru, dan meneladani
Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak hanya berhenti sebatas pada aspek
perkataan dan ucapan saja, bahkan ia juga memerintahkan panglima pasukan Usamah
untuk merealisasikan semua perintah Rasulullah dan mewanti-wanti agar jangan
sampai bersikap teledor terhadap perintah beliau.
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata
kepada Usamah, “Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan dan diinstruksikan
Rasulullah kepadamu sebelumnya. Mulailah dari negeri Qudha’ah, kemudian setelah
itu lanjutkan ke negeri Abil, jangan sekali-kali kamu teledor terhadap perintah
Rasulullah.”
Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Abu
Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Usamah, “Berangkatlah wahai Usamah menuju ke
arah yang telah diperintahkan kepadamu, kemudian seranglah sesuai dengan
perintah dan instruksi Rasulullah kepadamu, yaitu dari arah Palestina dan
terhadap penduduk Mu`tah.”
Dalam sebuah riwayat milik bin Al-Atsir
disebutkan, “Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berpesan kepada Usamah agar
melaksanakan sesuai dengan perintah dan instruksi Rasulullah.
Para sahabat akhirnya pun tunduk kepada
pandangan Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut dan Allah melapangkan dada mereka
sehingga menerimanya dengan senang hati, memegang teguh perintah Rasulullah dan
mengerahkan segenap kemampuan dan potensi untuk mewujudkannya. Maka, Allah pun
akhirnya menolong mereka, memenangkan mereka, memberi mereka harta ghanimah,
memunculkan kewibawaan mereka dalam hati orang-orang sehingga membuat
orang-orang takut dan segan, serta menyelamatkan mereka dari keburukan, tipu
daya, dan konspirasi pihak-pihak musuh.
Thomas Arnold membicarakan tentang
pengiriman misi militer pasukan Usamah tersebut dan mengatakan, “Setelah
Rasulullah meninggal dunia, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirimkan pasukan
yang sebelumnya memang telah dibentuk dan hendak dikirimkan oleh Rasulullah ke kawasan
Masyarif Syam (wilayah-wilayah yang berada di sekitar Syam). Hal itu dilakukan
oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq meskipun banyak penolakan dan penentangan dari
sebagian kaum muslimin disebabkan oleh situasi yang masih kacau dan tidak
menentu di kawasan Arab ketika itu. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun membungkam
penolakan dan protes mereka dengan pernyataannya, “Itu adalah sebuah ketetapan
yang telah ditetapkan Rasulullah. Seandainya pun aku tahu banyak binatang buas
akan menyerang dan menerkamku, niscaya aku akan tetap merealisasikan pengiriman
misi militer pasukan Usamah sebagaimana perintah dan instruksi Rasulullah.”
Kemudian Thomas Arnold menuturkan, “Itu
adalah rangkaian atau episode pertama dari rangkaian episode aksi-aksi dan
misi-misi militer luar biasa menakjubkan yang dilakukan oleh bangsa Arab yang
di dalamnya mereka menaklukkan Suriah, Persia, dan Afrika Utara, lalu
menghancurkan negara Persia kuno dan melucuti imperial Romawi dari
wilayah-wilayah kekuasaan terbaiknya.”
Demikianlah, kita melihat bahwa Allah
mengaitkan kemenangan umat dan kejayaannya dengan prasyarat mengikuti Nabi
Muhammad.
Maka, barang siapa mematuhi Allah dan
Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kemenangan, kejayaan, dan dominasi.
Sebaliknya, barang siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan
memperoleh kehinaan dan keterpurukan. Rahasia kehidupan umat terletak pada
ketaatannya kepada Tuhannya dan mengikuti sunnah Nabinya.
Terjadinya
perbedaan pendapat di antara kaum Mukminin dan mengembalikannya kepada
Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Di antara hal yang bisa kita petik dari kisah ini adalah,
bahwa terkadang terjadi perselisihan dan perbedaan pandangan di antara kaum
Mukminin yang tulus dan sungguh-sungguh keimanannya seputar berbagai persoalan.
Dalam kisah ini misalnya, terjadi perbedaan pendapat dan
sudut pandang seputar perealisasian misi militer pasukan Usamah dalam situasi
dan kondisi yang sulit seperti itu. Begitu juga, muncul beragam komentar dan
penilaian seputar kepemimpinan Usamah tersebut. Namun perbedaan pendapat
tersebut tidak sampai mendorong mereka kepada sikap saling benci, pertengkaran,
saling tidak menyapa, saling menjauhi, saling memusuhi atau sampai
mengakibatkan terjadinya friksi dan konflik kekerasan di antara mereka. Tidak
ada satu orang pun yang tetap ngotot pada pendapatnya ketika pendapatnya itu
telah jelas terbukti keliru dan batil.
Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengembalikan
perselisihan dan perbedaan pendapat tersebut kepada apa yang telah pasti
kebenarannya yaitu perintah dan instruksi Rasulullah untuk mengirimkan misi
militer pasukan Usamah, serta menegaskan bahwa dirinya sekali-kali tidak akan
teledor terhadap apa yang diperintahkan Rasulullah meski bagaimana pun
perubahan keadaan, situasi, dan kondisi yang ada, maka ketika itu para sahabat
yang lain pun langsung mematuhi keputusan dan ketetapan Nabi Muhammad tersebut
setelah dijelaskan kepada mereka oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Sebagaimana pula, pendapat mayoritas tidak diperhitungkan
dan tidak ada artinya jika berseberangan dengan nash. Waktu itu, mayoritas
sahabat berpendapat untuk menahan dan menunda lebih dulu pasukan Usamah. Mereka
berkata kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Sesungguhnya orang-orang Arab
banyak yang membelot terhadap Anda, dan Anda tentu tidak akan memecah-mecah
jamaah kaum muslimin. Pasukan itu terdiri dari orang-orang yang bukan sembarang
orang, tetapi mereka itu adalah para sahabat yang merupakan sebaik-baik manusia
yang ada di muka bumi ini setelah para nabi dan rasul.” Akan tetapi, Khalifah
Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menerima alasan dan argumentasi mereka itu, serta
menegaskan kepada mereka bahwa perintah Rasulullah lebih agung, lebih mulia,
lebih wajib, dan lebih mengikat daripada pendapat mereka semua.”
Hakikat ini tergambar jelas pada kejadian meninggalnya
Rasulullah, di mana ketika itu banyak sahabat termasuk Umar bin Al-Khathab
sendiri yang berpandangan bahwa Rasulullah belum mati, sementara hanya sedikit
sahabat saja termasuk di antaranya yang utama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang
masih sadar dan mengatakan bahwa Rasulullah memang telah meninggal dunia. Kita
melihat bahwa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berpegangan kepada nash dan
menegaskan kekeliruan orang yang mengatakan bahwa Rasulullah belum mati.
Al-Hafizh bin Hajar, menyangkut pandangan kebanyakan sahabat
waktu itu bahwa Rasulullah belum mati, berkomentar seperti berikut, dari
kejadian tersebut bisa diambil sebuah kesimpulan, bahwa dalam ijtihad,
terkadang bisa saja terjadi bahwa pendapat yang didukung oleh kelompok yang
lebih sedikit adalah yang benar, sementara pendapat yang didukung oleh kelompok
mayoritas adalah keliru. Maka dari itu, pentarjihan tidak harus dengan
berdasarkan pada sisi kemayoritasan.
Kesimpulannya adalah, bahwa di antara hal yang bisa kita
petik dari kisah perealisasian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap misi
militer pasukan Usamah adalah, bahwa dukungan banyak pihak kepada suatu
pendapat tidak menjamin kalau itu menunjukkan bahwa pendapat tersebut benar dan
tepat.
Di antaranya lagi adalah, ketundukan dan kepatuhan kaum
Mukminin kepada kebenaran ketika kebenaran itu sudah terbuka jelas bagi mereka.
Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengingatkan mereka bahwa Nabi Muhammad
sebelumnya telah memerintahkan dan menginstruksikan untuk merealisasikan misi
militer pasukan Usamah dan beliau sendiri yang langsung menunjuk dan mengangkat
Usamah sebagai amir atau panglima pasukan tersebut, maka mereka semua pun
langsung tunduk patuh kepada perintah Nabi mereka, Muhammad Saw.
Menjadikan
dakwah dibarengi dengan amal dan posisi generasi muda dalam pengabdian kepada
Islam.
Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap bersikukuh untuk
mempertahankan Usamah sebagai amir atau panglima pasukan tersebut sebagai
bentuk komitmen dirinya dalam memegang teguh apa yang diputuskan oleh
Rasulullah, maka ia tidak hanya sebatas melakukan hal itu saja, tetapi ia juga
memberikan sebuah pengakuan dan legitimasi praktis secara langsung terhadap kepemimpinan
Usamah tersebut. Hal tersebut terlihat jelas pada dua hal seperti berikut:
- Langkah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memilih berjalan kaki mengiringi Usamah yang waktu itu naik kendaraan. Waktu itu, Usamah adalah pemuda yang baru berusia dua puluh atau delapan belas tahun, sementara Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq sudah berusia lebih dari enam puluh tahun.
Waktu itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
tetap bersikeras untuk tetap berjalan kaki dan memaksa Usamah untuk tetap naik
kendaraan ketika Usamah menyatakan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq antara
khalifah naik kendaraan atau dirinya yang turun dari kendaraan. Namun Khalifah
Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap berjalan kaki di bawah sementara Usamah tetap naik
kendaraan.
Dengan langkah dan sikapnya itu yang tetap
memilih untuk berjalan kaki, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin memberikan
sebuah ajakan secara tidak langsung kepada semua pasukan yang ada untuk
mengakui dan menerima kepemimpinan Usamah tersebut dengan penuh lapang dada
tanpa ada sedikit perasaan kecewa dan tidak senang. Dalam sikapnya tersebut,
seakan-akan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada para pasukan, “Lihat
dan perhatikanlah wahai kaum muslimin, aku Abu Bakar Ash-Shiddiq sekalipun aku
adalah khalifah Rasulullah, namun aku tidak sungkan untuk berjalan kaki di
samping Usamah yang naik kendaraan, sebagai bentuk pengakuan, legitimasi, dan
penghargaan kepada kepemimpinannya yang ditunjuk dan diangkat langsung oleh
Rasul kita yang mulia, imam kita yang teragung dan pemimpin kita yang luhur,
Muhammad Saw., maka bagaimana kalian masih berani dan lancang mengkritik
kepemimpinan Usamah?”
- Waktu itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkeinginan agar Umar bin Al-Khathab tidak ikut dalam pasukan tersebut dan tetap tinggal di Madinah bersamanya mengingat ia sangat membutuhkan Umar bin Al-Khathab. Akan tetapi, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq waktu itu tidak lantas ingin mewujudkan keinginannya itu dengan menggunakan perintah, tetapi tetap ia lakukan dengan meminta izin kepada Usamah agar Umar bin Al-Khathab diizinkan tetap tinggal di Madinah bersama dirinya, jika memang Usamah melihat hal itu tepat.
Dengan sikapnya ini, Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq telah memberikan sebuah potret atau gambaran implementatif dan
praktis yang lain terhadap pengakuan, penghormatan, dan penghargaannya kepada
kepemimpinan Usamah. Hal ini tidak diragukan lagi tentu memiliki efek yang
sangat kuat dalam mengajak para pasukan untuk mengakui, menerima, dan tunduk
kepada kepemimpinan Usamah.
Apa yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq dengan sangat serius tersebut, yaitu menjadikan dakwahnya dibarengi
dengan praktik nyata, adalah memang yang diperintahkan oleh Islam. Allah
mengecam keras orang-orang yang memerintahkan orang lain berbuat kebajikan,
namun mereka sendiri justru melupakan diri mereka sendiri. Allah berfirman,
“Mengapa kamu suruh orang lain
(mengerjakan) kebaktian, sedang kamu sendiri melupakan diri (kewajiban)mu
sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”
(Al-Baqarah: 44).
Di antara hal yang nampak sangat jelas
dalam kisah ini adalah kedudukan pemuda yang cukup besar dalam pengabdian
kepada Islam. Rasulullah mengangkat dan menunjuk seorang pemuda bernama Usamah
bin Zaid sebagai seorang amir atau panglima pasukan yang disiapkan untuk
melawan sebuah kekuatan terbesar pada waktu itu, yaitu Romawi. Saat itu, usia
Usamah baru dua puluh tahun atau delapan belas tahun. Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq pun tetap mengukuhkan Usamah pada posisinya tersebut meskipun
banyak pihak yang mengkritik hal tersebut.
Berkat karunia Allah, sang panglima muda itu
pun kembali dari misi yang dimandatkan kepadanya itu dengan kemenangan yang
gemilang.
Hal ini memberikan sebuah arahan dan
bimbingan kepada para pemuda dalam memahami dan menyadari posisi dan kedudukan
mereka dalam pengabdian kepada Islam. Seandainya kita melihat kembali sejarah
perjalanan dakwah Islam pada periode Makkah dan Madinah, kita pasti akan bisa
menemukan dengan mudah banyak contoh dan bukti yang menunjukkan peranan dan
kontribusi kaum muda Islam dalam pengabdian kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah,
pengelolaan urusan-urusan negara, berkontribusi dan terlibat aktif dalam jihad
di jalan Allah dan dakwah.
Potret
gemilang etika jihad dalam Islam.
Di antara faedah yang terkandung dalam kisah pengiriman misi
militer pasukan Usamah oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah bahwa kisah
tersebut mempersembahkan kepada kita sebuah potret gemilang jihad Islam. Potret
tersebut terepresentasikan pada wasiat atau pesan dan arahan Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq kepada pasukan Usamah yang ia sampaikan ketika hendak melepas dan
memberangkatkan mereka.
Dalam wasiat, pesan, dan arahan tersebut, Khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq tidak lain mengikuti dan meniru Sunnah Nabi Muhammad. Ketika
melepas dan memberangkatkan pasukan, Rasulullah biasa memberikan sejumlah pesan
dan arahan kepada mereka.
Dari paragraf-paragraf pesan dan wasiat yang telah
disebutkan di atas, bisa diketahui dengan jelas tujuan dari perang-perang yang
dilakukan oleh kaum muslimin, yaitu dakwah kepada Islam. Maka, jika suatu
masyarakat atau bangsa melihat pasukan yang memiliki komitmen terhadap wasiat
dan pesan-pesan seperti itu, maka mereka pasti akan tertarik untuk masuk ke
dalam agama Allah secara suka rela dan atas inisiatif sendiri. Karena mereka
melihat dan menyaksikan,
- Sebuah pasukan yang tidak akan berkhianat dan curang, tetapi menjaga penuh amanat, menepati janji, tidak mencuri hak milik orang lain atau menguasainya tanpa hak dan dengan cara-cara yang tidak benar.
- Sebuah pasukan yang tidak akan melakukan tindakan-tindakan kejam dan biadab semisal mutilasi, tetapi jika membunuh, maka ia (pasukan itu) membunuh dengan cara yang baik, sebagaimana ia juga pandai untuk memaafkan. Ia sangat menghormati dan menyayangi anak-anak kecil, menghormati dan memuliakan orang-orang lanjut usia, menjaga, melindungi, dan memuliakan kaum perempuan.
- Sebuah pasukan yang tidak akan merusak dan menghancurkan kekayaan dan sumber daya alam negeri-negeri yang ditaklukkan, tetapi sebaliknya, menjaga dan melindungi pohon-pohon kurma, tidak membakarnya, tidak menebang pepohonan yang berbuah, tidak menghancurkan tanaman-tanaman, ladang, dan kebun-kebun.
- Jika pasukan itu adalah pasukan yang menjaga dan memelihara sumber daya manusia, tidak menipu, tidak curang, tidak khianat, tidak mencuri dan merampas hak orang lain, tidak akan memutilasi korban terbunuh, tidak akan membunuh anak-anak, orang-orang lanjut usia dan kaum perempuan, menjaga dan memelihara sumber daya alam dan kekayaan pertanian, tidak memotong pohon-pohon kurma atau menebang pohon-pohon berbuah, maka pada waktu yang sama ia adalah pasukan yang menjaga, melindungi, dan memelihara kekayaan ternak, tidak memotong kambing, domba, lembu, atau unta kecuali untuk tujuan dikonsumsi saja.
Apakah ada pasukan-pasukan seperti itu?
Atau bahkan apakah ada sebuah pasukan yang melaksanakan satu saja dari hal-hal
tersebut atau menjaga dan memelihara satu saja dari hal-hal tersebut? Ataukah
justru sebaliknya, membuat negeri-negeri yang mereka perangi berubah menjadi
negeri yang hancur dan luluh lantak? Fakta dan bukti nyata telah menunjukkan
apa yang dilakukan oleh agresi komunis atheis terhadap negeri Afghanistan, apa
yang dilakukan oleh Serbia di negeri Bosnia dan juga di Kosovo, apa yang
dilakukan oleh India di Kashmir terhadap kaum muslimin, begitu juga yang
terjadi di Chechnya, dan juga di Palestina oleh Zionis Israel. Betapa besar
perbedaan antara hidayah dan tuntunan Allah dengan kesesatan orang-orang
Atheis.
- Sebuah pasukan yang sangat menghormati akidah, keyakinan dan agama-agama terdahulu, menjaga dan melindungi orang-orang yang beribadat dalam biara-biara mereka tanpa sedikit pun mengganggu mereka.
Semua itu adalah dakwah praktis yang
membuktikan toleransi dan keadilan Islam. Adapun orang-orang yang menebarkan
kerusakan di muka bumi, menentang dan memerangi kebenaran, maka balasan mereka
adalah diperangi supaya bisa menjadi pelajaran bagi yang lainnya.
Apa yang termuat dalam wasiat dan pesan
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut bukan hanya kata-kata yang diucapkan
belaka, tetapi dipraktikkan dan diimplementasikan oleh kaum muslimin pada
periode kekhilafahannya dan pada masa-masa setelahnya. Hal itu akan kita lihat
dalam gerakan futuhat (ekspansi) pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq insya
Allah.
Dampak
pasukan Usamah bagi martabat dan kewibawaan Daulah Islamiyah.
Pasukan Usamah pun kembali dengan membawa kemenangan dan
kesuksesan setelah berhasil menyiutkan nyali orang Romawi, hingga raja Hercules
ketika di Himsh (Homs) setelah mengumpulkan para jenderalnya, berkata kepada
mereka, “Sebelumnya aku telah memperingatkan kalian akan hal ini, akan tetapi
kalian tidak mau mempedulikannya!! Lihatlah, bagaimana bangsa Arab datang
dengan menempuh perjalanan sebulan, lalu langsung menyerbu kalian, kemudian
langsung keluar lagi saat itu juga tanpa terluka.”
Saudaranya pun mengusulkan kepadanya untuk mengirim pasukan
garnisun atau pasukan penjaga perbatasan di Al-Balqa`. Lalu ia pun melakukannya dan menunjuk salah
satu sahabatnya untuk memimpinnya. Ia pun tetap tinggal di sana hingga para
pasukan Islam datang ke Syam pada masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan
Umar bin Al-Khathab.
Kemudian semua orang Romawi pun merasa terheran-heran dan
berkata, “Apa maunya orang-orang itu (kaum muslimin), pemimpin mereka mati,
kemudian mereka melakukan penyerbuan ke tanah kami?!”
Kabilah-kabilah Arab di Utara pun merasakan ketakutan,
ketercekaman, dan kecemasan terhadap kekuasaan, kebesaran, dominasi, dan
hegemoni Daulah Islamiyah.
Ketika pasukan Usamah yang sukses meraih kemenangan gemilang
itu sampai di Madinah, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun langsung keluar
menyambut kedatangan mereka bersama sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar. Mereka
semua keluar dengan penuh riang gembira menyambut pasukan Usamah tersebut.
Penduduk Madinah pun menyambut kedatangan mereka dengan penuh kekaguman,
kebahagiaan, salut, penghormatan, dan penghargaan.
Usamah pun masuk Madinah dan langsung menuju ke masjid
Rasulullah dan melaksanakan shalat sebagai bentuk ungkapan syukur atas apa yang
telah dianugerahkan Allah kepada dirinya dan kaum muslimin. Misi militer yang
dipimpin Usamah tersebut memiliki kesan dan pengaruh yang besar bagi kehidupan
kaum muslimin, juga terhadap kehidupan orang-orang Arab musyrik yang sebelumnya
mereka berpikir untuk melakukan penyerbuan kepada kaum muslimin. Juga, terhadap
kehidupan bangsa Romawi yang negeri kaum muslimin membentang hingga berbatasan
dengan wilayah mereka.
Dengan reputasi dan popularitasnya, pasukan Usamah melakukan
apa yang tidak mereka lakukan dengan kekuatan dan jumlahnya. Dengan reputasinya
itu, pasukan Usamah berhasil membuat orang yang sebelumnya ingin maju menjadi
mundur teratur dan mengurungkan niatnya,
orang-orang yang sebelumnya bersatu dan berkumpul menjadi bubar,
orang-orang yang hampir ingin melakukan penyerbuan kepada kaum muslimin menjadi
berubah pikirannya dan beralih untuk membuat perjanjian gencatan senjata dengan
kaum muslimin. Kewibawaan telah melakukan aksinya sebelum manusia melakukan dan
sebelum senjata bergerak.
Sungguh, pengiriman pasukan Usamah tersebut merupakan sebuah
nikmat bagi kaum muslimin, karena front gerakan kemurtadan di Utara berubah
menjadi front gerakan yang paling lemah. Barangkali di antara dampak hal ini
adalah, bahwa front tersebut pada masa futuhat, untuk mengalahkannya adalah
lebih ringan dan mudah bagi kaum muslimin daripada mengalahkan front musuh yang
ada di Irak. Semua itu semakin memperkuat dan mempertegas bahwa dalam
situasi-situasi krisis, di antara pihak-pihak yang berupaya mencari solusi, Abu
Bakar Ash-Shiddiq-lah yang paling tajam pandangannya dan paling dalam
pemahamannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar