Para sejarahwan dan ilmuan sirah menuturkan bahwa Abu Bakar
Ash-Shiddiq ikut bersama-sama Rasulullah dalam Perang Badar dan dalam berbagai
pertempuran semuanya, tanpa pernah absen sekalipun. Pada Perang Uhud, ketika
para pasukan yang lain berlarian, namun tidak demikian halnya dengan Abu Bakar
Ash-Shiddiq, ia tetap tegar bertahan bersama Rasulullah pada perang Tabuk,
Rasulullah menyerahkan panji beliau yang paling besar dan berwarna hitam
kepadanya.
Ibnu Katsir menuturkan, para ulama sirah tidak lagi
berselisih bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah sekali pun absen pada semua
peperangan.
Az-Zamakhsyari mengatakan, “Sesungguhnya Abu Bakar
Ash-Shiddiq selalu disertakan dengan Rasulullah selamanya. Ia berteman dengan
beliau sejak kecil, menginfakkan hartanya ketika sudah besar, menyertai beliau
ke Madinah dengan unta dan perbekalannya, senantiasa menginfakkan hartanya
kepada beliau selama kehidupan beliau, istri beliau ada putrinya, senantiasa
menyertai beliau baik di saat menetap maupun di saat bepergian, lalu ketika
beliau meninggal, maka beliau dimakamkan di bilik Aisyah yang merupakan
perempuan yang paling beliau cintai.”
Diriwayatkan oleh Salamah bin Al-Akwa’, “Saya berperang
bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali peperangan. Saya menjadi bagian dari
pasukan yang dikirim dalam sembilan kali peperangan, sedangkan panglimanya
bergantian, sesekali Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sesekali Usamah.”
Dalam kajian ini, kami akan berusaha untuk melacak kehidupan jihad
Abu Bakar Ash-Shiddiq bersama Rasulullah, supaya kita bisa melihat
bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq berjihad dengan jiwa, harta, dan
pikirannya dalam membela agama Allah.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Perang Badar Al-Kubra
Abu Bakar Ash-Shiddiq ikut terjun langsung
dalam Perang Badar yang terjadi pada tahun kedua hijriyah. Dalam perang Badar
ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki sejumlah sepak terjang yang populer, yang
di antaranya yang terpenting adalah:
- Memberikan pandangan dan pertimbangan menyangkut perang.
Ketika Rasulullah menerima berita kalau karavan ternyata selamat dan
sikap para tokoh dan pemuka Makkah yang bersikeras untuk melancarkan perang
terhadap beliau, maka beliau pun bermusyawarah dengan para sahabat. Lalu Abu
Bakar Ash-Shiddiq pun berdiri dan menyampaikan pandangan dan pertimbangannya
dengan baik. Kemudian Umar bin Al-Khathab pun berdiri dan mengutarakan
pandangan dan pertimbangannya dengan baik pula.
- Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam misi investigasi bersama Rasulullah untuk mengetahui hal ihwal pasukan musyrikin.
Rasulullah ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq melakukan penyelidikan dan
investigasi untuk mengetahui hal ihwal pasukan musyrikin. Ketika sedang
berkeliling di daerah tersebut, beliau berdua bertemu dengan seorang laki-laki
tua dari Arab. Lalu Rasulullah mencoba menggali informasi dari laki-laki itu
tentang pasukan Quraisy, serta bertanya kepadanya apakah dirinya mengetahui
tentang Muhammad dan para sahabatnya berikut informasi-informasi yang ia miliki
tentang mereka. Lalu laki-laki itu berkata, “Aku tidak akan memberikan informasi
apa pun kepada kalian berdua hingga kalian memberitahukan kepadaku dari mana
kalian berasal.” Rasulullah pun berkata kepadanya, “Jika kamu mau memberi tahu
kami, maka kami akan memberi tahu kamu.” Laki-laki itu berkata, “Benarkah
demikian?” Beliau menjawab, “Ya.”
Lalu laki-laki itu berkata, “Telah sampai kepadaku informasi bahwa
Muhammad dan para sahabatnya berangkat pada hari demikian dan demikian. Jika
orang yang memberiku informasi tersebut benar, maka berarti Muhammad dan para
sahabatnya pada hari ini sudah berada di tempat demikian dan demikian. Aku juga
mendapatkan informasi bahwa Quraisy berangkat pada hari demikian dan demikian.
Jika orang yang memberiku informasi memang benar, maka berarti mereka hari ini
telah berada di tempat demikian dan demikian (ternyata prediksinya memang
benar).” Kemudian ia kembali berkata, “Aku telah memberi kalian informasi yang
kalian inginkan, maka sekarang beritahu aku dari manakah kalian berdua?” Lalu
Rasulullah berkata, “Kami dari air.” Lalu Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq
pun pergi, sedang laki-laki itu berkata, “Apa maksudnya dari air? Apakah dari
air Irak?”
Dalam kejadian di atas, terlihat jelas kedekatan Abu Bakar Ash-Shiddiq
dengan Rasulullah. Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapatkan banyak pelajaran dari Rasulullah.
- Menjaga Rasulullah dalam ’arisy beliau.
Ketika mengatur barisan pasukan, Rasulullah kembali ke tempat di mana
beliau menjalankan komando, yaitu ’arisy, semacam tenda yang terletak di atas
gundukan tanah yang agak tinggi di pinggir lokasi pertempuran. Di dalamnya,
Rasulullah ditemani oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sementara di bagian luar,
dijaga oleh beberapa pemuda Anshar di bawah kepemimpinan Sa’ad bin Mu’adz.
Ali bin Abu Thalib menceritakan tentang hal ini, ia berkata, “Wahai
orang-orang, siapakah orang yang paling berani?” Mereka berkata, “Anda wahai
Amirul Mukminin.” Lalu Ali bin Abu Thalib berkata, “Adapun saya, maka tidak ada
seorang pun yang menantangku, melainkan aku membalasnya. Akan tetapi, orang
yang paling berani adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kami membuat ’arisy untuk
Rasulullah, lalu kami berkata, “Siapakah yang menemani Rasulullah di dalam
’arisy supaya tidak ada seorang pun dari orang-orang musyrik yang menyerang
beliau? Maka sungguh demi Allah, tiada seorang pun yang mencoba mendekati
beliau melainkan Abu Bakar Ash-Shiddiq menghunuskan pedangnya di atas kepala
Rasulullah, tiada seorang pun dari kaum musyrikin yang mencoba menyerang beliau
melainkan ia langsung menyerang orang tersebut. Maka, ini adalah orang yang
paling berani.”
- Abu Bakar Ash-Shiddiq menerima berita gembira tentang kemenangan dan berperang di samping Rasulullah.
Setelah mengambil langkah-langkah ikhtiar dan usaha optimal sebagaimana
mestinya, maka Rasulullah pun berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan dan kemenangan
yang Dia janjikan. Dalam doa tersebut, beliau berkata, “Ya Allah,
realisasikanlah untuk hamba apa yang telah Engkau janjikan kepada hamba. Ya
Allah, jika segolongan orang Islam ini binasa, maka Engkau tidak akan lagi
disembah di bumi ini.”
Rasulullah terus berdoa dengan berapi-api hingga rida` beliau terjatuh.
Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq mengambilnya dan mengembalikannya ke pundak beliau
seraya berkata, “Ya Rasulullah, sudah cukup doa Anda kepada Allah, sesungguhnya
Dia pasti akan merealisasikan apa yang Dia janjikan kepada Anda.” Dan Allah
menurunkan ayat,
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu
diperkenankan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan
kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Al-Anfal: 9).
Dalam riwayat Abdullah bin Abbas disebutkan, ia berkata, “Pada Perang
Badar, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, hamba memohon dengan sungguh-sungguh janji
Engkau. Ya Allah, jika Engkau berkehendak, maka Engkau tidak disembah.” Lalu Abu
Bakar Ash-Shiddiq memegang tangan beliau dan berkata, “Cukup wahai Rasulullah,
cukuplah Allah bagi Anda.” Lalu Rasulullah keluar dan berkata, “Musuh itu akan
kalah dan lari.” Di dalam ’arisy, Rasulullah tertidur, kemudian tersadar lalu
berkata, “Bergembiralah wahai Abu Bakar, telah datang kepadamu pertolongan
Allah. Itu malaikat Jibril datang sambil mengendalikan kudanya di gigi-gigi
bagian depannya terdapat debu.” Kemudian Rasulullah keluar menemui orang-orang
lalu menyemangati mereka.”
Dari kejadian ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapatkan sebuah pelajaran
Rabbani yang sangat penting tentang totalitas dalam bermunajat kepada Allah
semata dan bersimpuh di haribaan-Nya supaya turun pertolongan-Nya. Pemandangan
dan peristiwa tersebut begitu membekas dalam memori Abu Bakar Ash-Shiddiq, hati
dan pikirannya, meniru dan meneladani Rasulullah dalam mempraktikkan apa yang
ia lihat tersebut pada kondisi dan situasi-situasi seperti itu. Pemandangan dan
peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi setiap panglima, komandan, pemimpin
atau individu yang ingin meneladani Rasulullah dan para sahabat beliau yang
mulia.
Ketika api pertempuran sudah mulai bergelora, maka Rasulullah turun dan
membakar semangat dan gelora untuk berperang, sedang para pasukan berada dalam
barisan mereka sambil berdzikir dan berteriak menyebut Nama Allah.
Rasulullah ikut terjun langsung ke medan pertempuran dan berperang dengan
sengit, sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq di samping beliau. Pada pertempuran
tersebut terlihat jelas keberanian Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tiada
bandingannya. Ia dalam posisi siap untuk memerangi setiap orang kafir yang
angkuh, sekalipun itu adalah putranya sendiri.
Pada pertempuran tersebut, putra Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bernama
Abdurrahman ikut dalam pertempuran di pihak pasukan musyrikin. Abdurrahman
termasuk orang yang paling berani dan salah satu pemanah handal. Ketika masuk
Islam, ia berkata kepada ayahnya, “Pada Perang Badar, ayahanda sebenarnya
berada di depanku pada posisi sebagai sasaran empuk bagiku. Namun ananda
berpaling dari ayahanda dan tidak ingin membunuh ayahanda.” Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq berkata, “Akan tetapi, seandainya kamu pada posisi sebagai sasaran
empuk bagiku, maka aku tidak akan menghindar dan berpaling darimu.”
- Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para tawanan perang.
Abdullah bin Abbas berkata, “Lalu ketika mereka berhasil menawan para
tawanan perang, maka Rasulullah berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar
bin Al-Khathab, “Apa pendapat dan usulan kamu berdua menyangkut para tawanan
tersebut?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, mereka adalah masih
kerabat persepupuan dan masih termasuk keluarga besar. Saya berpendapat,
sebaiknya Anda menerima tebusan dari mereka, sehingga kita memiliki power atas
orang-orang kafir, siapa tahu semoga Allah menunjuki mereka kepada Islam.” Lalu
Rasulullah bertanya kepada Umar bin Al-Khathab, “Bagaimana pendapat Anda wahai
Ibnu Al-Khathab?” Umar bin Al-Khathab berkata, “Tidak wahai Rasulullah, saya
tidak sependapat dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Akan tetapi, saya berpendapat
sebaiknya Anda menyerahkan mereka kepada kami untuk kami bunuh. Anda tugaskan
kepada Ali bin Abu Thalib untuk membunuh Uqail, dan Anda tugaskan kepada saya
untuk membunuh si fulan (seseorang yang masih kerabatnya). Karena mereka itu
adalah para tokoh dan pembesar kekafiran.”
Umar bin Al-Khathab berkata, “Namun, Rasulullah waktu itu lebih cenderung
kepada pendapat Abu Bakar Ash-Shiddiq, bukan kepada pendapatku. Keesokan
harinya, aku datang dan mendapati Rasulullah beserta Abu Bakar Ash-Shiddiq
sedang duduk menangis. Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, tolong beritahukan
kepada saya apa yang telah membuat Anda dan sahabat Anda menangis. Jika memang
saya terharu, maka saya akan menangis, namun jika tidak, maka saya akan
berusaha untuk menangis karena tangisan Anda berdua.” Lalu Rasulullah berkata,
“Aku menangis karena apa yang diusulkan kepadaku oleh kawan-kawanmu untuk
menerima tebusan, sementara diperlihatkan kepadaku hukuman yang akan menimpa
kawan-kawanmu itu yang hukuman itu lebih dekat dari pohon ini.” Dan Allah pun
menurunkan ayat,
“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat
melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan
yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena
tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah
kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Anfal: 67-69).
Maka, Allah pun menghalalkan ghanimah untuk mereka.
Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud disebutkan, ia berkata,
“Pada Perang Badar, Rasulullah berkata, “Apa pendapat dan usulan kalian
menyangkut para tawanan itu?” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya
Rasulullah, mereka itu adalah kaum dan kerabat Anda. Biarkanlah mereka tetap
hidup dan berilah mereka kesempatan, semoga Allah menerima taubat mereka.” Umar
bin Al-Khathab berkata, “Ya Rasulullah, mereka telah mengusir Anda dan
mendustakan Anda. Bawalah mereka ke sini dan bunuhlah mereka.” Lalu Abdullah
bin Rawahah berkata, “Ya Rasulullah, carilah sebuah lembah yang banyak kayu
bakarnya. Lalu masukkan mereka ke lembah itu dan bakarlah mereka.” Lalu
Al-Abbas berkata, “Kamu berarti memutus ikatan kekerabatan.” Lalu Rasulullah
pun masuk tanpa memberikan tanggapan apa pun kepada mereka. Lalu ada beberapa
orang berkata, “Rasulullah akan mengambil pendapat Abu Bakar Ash-Shiddiq.” Ada
beberapa orang lainnya berkata, “Beliau akan memilih pendapat Umar bin
Al-Khathab.” Dan ada sebagian lagi yang berkata, “Beliau akan mengambil
pendapat Abdullah bin Rawahah.”
Kemudian Rasulullah kembali keluar menemui mereka dan berkata, “Sesungguhnya
Allah benar-benar melembutkan hati sebagian orang hingga lebih lembut dari air
susu. Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengeraskan hati sebagian orang hingga
lebih keras dari batu. Sesungguhnya kamu wahai Abu Bakar adalah seperti nabi
Isa ketika ia berkata seperti yang direkam dalam ayat,
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Ma`idah: 118).
Dan kamu wahai Umar adalah seperti nabi Nuh ketika ia berkata seperti
yang direkam dalam ayat,
“Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara
orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Nuh: 26).
Dan juga sepeti Nabi Musa ketika ia berkata seperti yang direkam dalam
ayat,
“Musa berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada
Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan
dunia, Ya Tuhan Kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.
Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka,
maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus:
88).
Dulu, jika Rasulullah mengajak bermusyawarah para sahabat dan meminta
pandangan mereka, maka yang pertama kali berbicara adalah Abu Bakar
Ash-Shiddiq. Terkadang ada sahabat lain yang juga ikut berbicara
memberikan pandangannya, dan terkadang tidak ada yang berbicara selain
Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka Rasulullah pun hanya menerima pendapat dan
pandangan Abu Bakar Ash-Shiddiq saja. Jika ada sahabat lain yang
memiliki pandangan dan pendapat berbeda dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq,
maka pendapat yang diambil oleh Rasulullah adalah pendapat Abu Bakar
Ash-Shiddiq, bukan pendapat sahabat lain yang berbeda tersebut.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Perang Uhud dan Hamra` Al-Asad
Pada kejadian Perang Uhud, kaum muslimin
mendapatkan sebuah pelajaran sulit dan pahit. Mereka tercerai-berai dari
sekitar Rasulullah dan para sahabat terpencar-pencar di segenap penjuru medan
pertempuran. Tersiar rumor bahwa Rasulullah terbunuh dan reaksi yang muncul pun
berbeda-beda. Medan pertempuran waktu itu sangat luas dan masing-masing orang
sibuk dengan dirinya sendiri. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menerjang membelah
barisan dan ia adalah orang pertama yang sampai di samping Rasulullah.
Waktu itu, sahabat yang berkumpul di
sekeliling Rasulullah adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah,
Ali bin Abu Thalib, Thalhah, Az-Zubair, Umar bin Khathab, Al-Harits bin
Ash-Shammah, Abu Dujanah, Sa’ad bin Abu Waqqash dan yang lainnya. Mereka
bersama-sama Rasulullah bergerak menuju ke sebuah celah di gunung Uhud dalam
upaya mengembalikan kekuatan materil, moril, dan spirit mereka.
Abu Bakar Ash-Shiddiq jika mengingat
kejadian Perang Uhud, maka ia berkata, “Itu adalah hari yang semuanya adalah
milik Thalhah.” Kemudian ia mulai bercerita, “Pada perang Uhud, aku adalah
orang yang pertama kali menerjang lari menuju ke posisi di mana Rasulullah
berada. Lalu aku melihat seorang laki-laki berperang di sekitar Rasulullah
untuk melindungi beliau. Lalu aku berkata, “Orang itu pasti Thalhah.” Waktu
itu, antara aku dan pasukan musyrikin ada seorang laki-laki yang tidak bisa
dikenal dengan jelas, dan posisiku sudah lebih dekat kepada Rasulullah dari
orang itu yang waktu itu berlari dengan cepat. Ternyata orang itu adalah Abu
Ubaidah. Lalu kami pun sampai kepada Rasulullah yang waktu itu gigi raba’iyyah
(gigi yang terdapat antara gigi depan dan gigi taring) beliau pecah dan wajah beliau
terluka. Waktu itu, ada dua cincin dari rajutan topi baja penutup kepala yang
menusuk dua pipi Rasulullah. Ketika itu, Rasulullah berkata, “Cepat tolong
saudaramu itu, karena ia terluka parah.” Yang beliau maksudkan adalah Thalhah.
Namun, kami tidak mempedulikan perkataan beliau tersebut, karena kami ingin
secepatnya menolong dan merawat beliau. Lalu aku pun ingin melepaskan dua
cincin tersebut dari pipi beliau. Lalu Abu Ubaidah berkata kepadaku, “Wahai Abu
Bakar, sungguh tolong biarkan saya yang melakukannya.” Lalu aku pun
mempersilahkannya. Ia tidak ingin mencabutnya dengan tangan, karena bisa
membuat Rasulullah kesakitan, hingga akhirnya ia pun mencabutnya dengan
menggunakan mulutnya dengan cara digigit.
Abu Ubaidah adalah termasuk orang yang
paling mahir mencabut gigi. Lalu kami pun selesai merawat Rasulullah. Kemudian
kami mendatangi Thalhah yang waktu itu berada di sebuah cekungan. Kami
mendapati pada tubuhnya terdapat tujuh puluh sekian luka, antara luka tikaman,
luka tembakan panah, dan luka hantaman senjata, bahkan ada jarinya yang putus.
Lalu kami pun menolong dan merawatnya.”
Kedudukan Abu Bakar Ash-Shiddiq bisa
terlihat jelas pada kejadian perang tersebut dari sikap Abu Sufyan ketika ia
bertanya dan berkata sebanyak tiga kali, “Apakah di antara kaum itu ada
Muhammad?” Lalu Rasulullah melarang mereka menanggapi dan menjawab perkataannya
tersebut. Kemudian ia kembali berkata sebanyak tiga kali, “Apakah di antara
kaum itu ada putera Abu Quhafah (maksudnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq)?” Lalu
Rasulullah melarang mereka menanggapi dan menjawab perkataan itu. Kemudian ia
kembali berkata sebanyak tiga kali, “Apakah di antara kaum itu ada putra
Al-Khathab (maksudnya adalah Umar bin Al-Khathab)? Kemudian ia kembali bergabung
ke teman-temannya, lalu berkata, “Orang-orang itu (maksudnya adalah Rasulullah,
Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Al-Khathab) telah terbunuh.” Ini
menunjukkan pandangan Abu Sufyan yang merupakan pentolan kaum musyrikin waktu
itu bahwa tokoh-tokoh sentral Islam yang menjadi pilar dan fondasi Islam adalah
Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Al-Khathab.
Ketika orang-orang musyrik berupaya
menangkap kaum muslimin dan memberangus mereka, maka rencana Nabi Muhammad
mendahului mereka dan menggagalkan konspirasi jahat mereka. Rasulullah
memberikan komando kepada kaum muslimin yang waktu itu banyak yang terluka
untuk bergerak mengejar kaum musyrikin. Maka mereka pun mematuhi perintah Allah
dan komando Rasulullah meskipun mereka dalam keadaan seperti itu.
Diriwayatkan oleh Aisyah, ia berkata kepada Urwah bin Az-Zubair
menyangkut ayat 172 surah Ali Imran, “(Yaitu) orang-orang yang mentaati
perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapati luka (dalam perang
Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang
bertakwa ada pahala yang besar,” “Wahai putra saudara perempuanku,
ayahmu Az-Zubair dan kakekmu Abu Bakar Ash-Shiddiq termasuk di antara
mereka, ketika Rasulullah tertimpa apa yang menimpa beliau pada Perang
Uhud dan orang-orang musyrik pun pergi, maka beliau mengkhawatirkan
jangan-jangan kaum musyrikin itu akan kembali lagi, lalu beliau pun
berkata, “Siapakah yang bersedia ikut mengejar mereka?” Rasulullah pun
menunjuk tujuh puluh orang termasuk di antaranya adalah Abu Bakar
Ash-Shiddiq dan Az-Zubair.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Perang Bani An-Nadhir, Perang Bani Al-Mushthaliq, Perang Khandaq dan Perang Bani Quraizhah
- Perang Bani An-Nadhir.
Rasulullah pergi menemui Bani An-Nadhir guna meminta bantuan mereka untuk
membayar diyat dua orang dari Bani Amir yang dibunuh secara tersalah dan tidak
sengaja oleh Amr bin Umayyah. Karena Amr tidak mengetahui perjanjian yang ada
antara Bani Amir dan Rasulullah. Sementara Bani An-Nadhir memiliki ikatan
perjanjian dan persekutuan atau aliansi dengan Bani Amir.
Ketika Rasulullah menemui mereka untuk keperluan tersebut, maka mereka
pun berkata, “Baiklah wahai Abu Al-Qasim, kami akan membantu Anda.” Kemudian
mereka melakukan pertemuan rahasia dan berkata kepada sesama mereka, “Kalian
tidak akan mendapati laki-laki ini (maksudnya Rasulullah) dalam posisi seperti
itu. Ini adalah kesempatan yang paling baik untuk membunuhnya dan kalian tidak
akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.”
Waktu itu, Rasulullah duduk di samping tembok rumah mereka. Lalu mereka
berkata, “Jika begitu, siapakah yang bersedia naik ke atas rumah, lalu
melemparkan batu besar ke atas Muhammad untuk menghabisinya.” Lalu ada
laki-laki dari mereka bernama Amr bin Jahasy bin Ka’ab menyanggupi tugas itu
dan berkata, “Aku siap melakukan tugas tersebut.” Lalu ia pun naik ke atas
rumah untuk menjatuhi Rasulullah dengan batu besar. Waktu itu, Rasulullah
bersama beberapa sahabat termasuk di antaranya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq,
Umar bin Al-Khathab dan Ali bin Abu Thalib. Lalu datanglah kepada Rasulullah
berita dari langit tentang konspirasi yang ingin diperbuat oleh mereka. Lalu
beliau pun berdiri dan pulang ke Madinah dan menyuruh para sahabat yang bersama
beliau waktu itu untuk tetap di sana, namun beliau tidak memberi tahukan kepada
mereka ke mana beliau akan pergi, tetapi hanya meminta mereka untuk tetap di
sana.
Kemudian ketika Rasulullah tidak kunjung kembali juga, maka mereka pun
mulai mencari beliau. Lalu mereka melihat seseorang datang dari Madinah, lalu
mereka pun bertanya kepadanya apakah ia melihat Rasulullah. Lalu orang itu
berkata, “Aku melihatnya masuk Madinah.” Lalu mereka pun akhirnya juga kembali
ke Madinah dan menemui Rasulullah. Lalu beliau pun memberitahukan kepada mereka
tentang pengkhianatan dan konspirasi jahat yang ingin dilakukan oleh Bani
An-Nadhir.
Lalu Rasulullah mengutus Muhammad bin Maslamah untuk memerintahkan Bani
An-Nadhir agar keluar dan pergi meninggalkan Madinah. Pada waktu yang sama,
orang-orang munafik memprovokasi Bani An-Nadhir agar tetap tinggal dan berjanji
untuk membantu dan menolong mereka. Akhirnya mereka pun mengirimkan utusan
kepada Rasulullah untuk menyampaikan bahwa mereka tidak akan pergi, dan mereka
pun merusak perjanjian yang ada.
Ketika itu, Rasulullah pun menginstruksikan untuk bergerak menuju ke
lokasi Bani An-Nadhir dan memblokade mereka selama lima belas malam. Bani
An-Nadhir waktu itu bertahan di kastil dan benteng-benteng mereka. Lalu
Rasulullah menginstruksikan untuk menebang pohon kurma mereka dan membakarnya.
Kemudian Rasulullah mengusir mereka dengan memperbolehkan mereka membawa harta
benda mereka sebanyak yang mampu diangkut oleh unta kecuali senjata. Lalu
turunlah surah Al-Hasyr.
- Perang Bani Al-Mushthaliq.
Bani Al-Mushthaliq ingin menyerang Madinah, lalu Rasulullah pun bergerak
bersama para sahabat menuju ke lokasi Bani Al-Mushthaliq. Sesampainya di sana,
Rasulullah menyerahkan panji Muhajirin kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ada yang
mengatakan, diserahkan kepada Ammar bin Yasir. Sementara panji Anshar
diserahkan kepada Sa’ad bin Ubadah. Kemudian Rasulullah memerintahkan kepada
Umar bin Al-Khathab agar berseru kepada Bani Al-Mushthaliq, “Wahai kalian,
ucapkanlah laa ilaha illallah, maka jiwa dan harta benda kalian selamat.” Namun
mereka menolak, lalu terjadilah perang panah, kemudian Rasulullah
menginstruksikan kepada kaum muslimin agar menyerang mereka, sehingga tidak ada
satu orang pun dari mereka yang bisa melarikan diri. Sepuluh orang dari mereka
terbunuh sedangkan sisanya menjadi tawanan perang. Sementara dari pihak kaum
muslimin, hanya ada satu korban terbunuh.
- Perang Khandaq dan perang Bani Quraizhah.
Abu Bakar Ash-Shiddiq pada kedua perang tersebut selalu menyertai
Rasulullah. Pada kejadian Perang Khandaq, Abu Bakar Ash-Shiddiq
mengangkut tanah galian parit dengan bajunya. Abu Bakar Ash-Shiddiq juga
ikut terjun langsung bersama para sahabat yang lain menggali parit
supaya bisa cepat selesai pada waktu normal yang telah ditargetkan. Hal
itu pada gilirannya menjadikan ide parit sebagai sebuah strategi
akhirnya berhasil seperti yang diharapkan dalam menghadapi gempuran
orang-orang musyrik.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam kejadian Hudaibiyah
Pada bulan Dzul Qa’dah tahun keenam
hijriyah, Rasulullah melakukan perjalanan untuk mengunjungi Al-Baitul Haram
bersama dengan seribu empat ratus sahabat. Waktu itu, beliau juga membawa hewan
al-Hadyu dan berihram umrah supaya orang-orang tahu bahwa beliau tidak datang
untuk berperang, juga supaya orang-orang tahu bahwa beliau datang tidak lain
hanya untuk berkunjung dan mengagungkan Baitullah Al-Haram.
Lalu Rasulullah mengirimkan seorang
mata-mata atau informan beliau yang berasal dari Khuza’ah. Kemudian mata-mata
itu kembali dengan membawa informasi bahwa penduduk Makkah melakukan mobilisasi
untuk menghalau dan menghalang-halangi beliau dari memasuki Makkah dan
mengunjungi Ka’bah. Mendengar informasi itu, lantas Rasulullah pun berkata
kepada para sahabat, “Aku minta pendapat dan pandangan kalian.” Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, Anda pergi dengan maksud untuk mengunjungi
Al-Baitul Haram, bukan untuk berperang atau membunuh seseorang. Maka dari itu,
maju terus pantang mundur. Jika ada orang yang menghalang-halangi kita, maka
kita lawan.” Lalu Rasulullah pun berkata, “Baiklah, mari kita lanjutkan
perjalanan ini atas nama Allah.”
Kaum kafir Quraisy waktu itu begitu
berapi-api dan bersumpah menghalangi Rasulullah untuk masuk ke Makkah secara
paksa. Kemudian terjadilah negosiasi antara penduduk Makkah dan Rasulullah.
Waktu itu, Rasulullah berketetapan untuk memenuhi keinginan dan permintaan
penduduk Makkah jika memang mereka menginginkan sesuatu yang mengandung
semangat menyambung kekerabatan.
- Negosiasi.
Delegasi Quraisy datang untuk melakukan negosiasi dengan Rasulullah. Orang
yang pertama kali datang adalah Badil bin Warqa` dari Khuza’ah. Lalu ketika ia
mengetahui maksud dan tujuan Rasulullah dan kaum muslimin, maka ia pun kembali
ke Makkah. Kemudian datanglah Mukriz bin Hafsh, kemudian Al-Halis bin Alqamah,
kemudian Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Lalu terjadilah perbincangan berikut ini
antara Rasulullah dengan Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi, juga diikuti oleh Abu
Bakar Ash-Shiddiq dan beberapa sahabat yang lain.
Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata, “Ya Muhammad, kamu mengumpulkan
orang-orang dari berbagai kabilah, kemudian kamu membawa mereka ke negerimu
untuk merusak dan mencerai beraikannya? Ketahuilah, kaum Quraisy semuanya, baik
laki-laki maupun perempuan, besar dan kecil, semuanya telah keluar mengenakan
pakaian dari kulit macan dan berjanji untuk menahan kamu masuk ke Makkah secara
paksa. Sungguh aku melihat mereka –maksudnya adalah para sahabat- sepertinya
pergi meninggalkanmu!”
Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Hisaplah bizhr Al-Lata (berhala
Tsaqif), apa kamu bilang?! Kami lari meninggalkan beliau?!”
Urwah berkata, “Siapa itu?” Mereka menjawab, “Abu Bakar Ash-Shiddiq.”
Urwah berkata, “Seandainya bukan karena suatu jasa yang pernah kamu berikan
kepadaku yang belum sempat aku balas, niscaya aku akan meladeni kamu!”
Sebelum itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq memang pernah berbuat baik kepada
Urwah. Maka dari itu, Urwah berusaha untuk menghormatinya dan tidak meladeni
dan menjawab perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut. Dari sini, ada di antara
ulama yang mengatakan, bahwa ini menunjukkan boleh menyebut aurat secara
eksplisit karena adanya suatu hajat dan mashlahat, dan bukan bagian dari
kata-kata kotor dan keji yang dilarang.
Di sini, Urwah bin Mas’ud berusaha melancarkan perang psikologis terhadap
kaum muslimin untuk mengalahkan mereka secara spirit dan mental. Dari itu, ia
mendeskripsikan kekuatan militer kaum Musyrikin dengan menggunakan bahasa
hiperbola dalam menggambarkan bahwa situasi dan kondisi yang ada pasti akan
berpihak kepada kaum Quraisy.
Ia juga berusaha menciptakan kegaduhan dan kekacauan dalam barisan kaum
muslimin, yaitu ketika ia berusaha melemahkan kepercayaan antara panglima dan
para pasukannya ketika ia berusaha melemahkan kepercayaan antara panglima dan
para pasukannya ketika ia berkata kepada Rasulullah, “Anda memobilisasi
orang-orang dari berbagai kabilah yang mereka itu pantas untuk lari
meninggalkan Anda.” Ketika itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memberikan tanggapan
yang tegas dan mampu menggentarkan spirit, mental dan psikologis Urwah. Sikap
Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut merupakan refleksi puncak keluhuran dan kekuatan
keimanan yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat,
“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,
padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu
orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139).
- Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap perjanjian damai Hudaibiyah.
Ketika orang-orang musyrik yang diwakili oleh Suhail bin Amr mencapai
sebuah kesepakatan dengan Rasulullah, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menerima
dan mematuhi apa yang disetujui oleh Rasulullah dari permintaan orang-orang
musyrik dalam perjanjian dan kesepakatan tersebut. Meskipun isi perjanjian
tersebut secara sekilas nampak timpang, tidak seimbang, dan lebih merugikan
pihak kaum muslimin. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun melangkah berdasarkan petunjuk
Rasulullah karena keyakinannya bahwa beliau tidak mungkin mengucapkan menurut
kemauan hawa nafsu beliau, bahwa beliau melakukan hal itu pasti karena suatu
hal, alasan, dan pertimbangan yang diperlihatkan Allah kepada beliau.
Para sejarahwan menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khathab menemui Rasulullah
untuk menyatakan sikap tidak setuju dengan kesepakatan tersebut. Ia berkata
kepada Rasulullah, “Bukankah Anda adalah Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya,
benar.” Umar bin Al-Khathab berkata, “Dan bukankah kami ini adalah orang-orang
Islam?” Beliau menjawab, “Ya, benar.” Umar bin Al-Khathab berkata, “Dan
bukankah mereka itu adalah orang-orang musyrik?” Beliau menjawab, “Ya, benar.”
Umar bin Al-Khathab berkata, “Maka, atas dasar alasan apa kita memberi posisi
sebagai pihak yang lemah dalam agama kita?” Beliau berkata, “Sesungguhnya aku
adalah Rasulullah dan aku tidak akan durhaka dan membangkang kepada-Nya.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya,
aku tidak akan melanggar perintah-Nya dan Dia tidak akan mengabaikan dan
menyia-nyiakan aku.”
Umar bin Al-Khathab berkata, “Bukankah Anda sebelumnya telah mengatakan
kepada kami bahwa kita akan datang ke Al-Baitul Haram dan thawaf di sana?”
Rasulullah berkata, “Ya benar, namun apakah aku mengatakan kepada kamu bahwa
kita akan datang ke Al-Baitul Haram tahun ini?” Umar bin Al-Khathab menjawab,
“Tidak.” Rasulullah berkata, “Maka, kamu pasti akan datang ke Al-Baitul Haram
dan thawaf di sana.”
Umar bin Al-Khathab berkata, “Lalu aku pun menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq
dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Bakar, bukankah beliau adalah Rasulullah? Abu
Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Ya, benar.” Aku berkata, “Bukankah kita ini adalah
kaum muslimin?” Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Ya, benar.” Aku berkata, “Dan
bukankah mereka itu adalah orang-orang musyrik?” Abu Bakar Ash-Shiddiq
menjawab, “Ya, benar.” Aku kembali berkata, “Lalu atas dasar alasan apa kita
memberi posisi sebagai pihak yang lemah dalam agama kita?” Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq pun menasihati Umar bin Al-Khathab untuk meninggalkan sikap
menentang dan tidak setuju tersebut seraya berkata, “Wahai Umar, berpegang
teguhlah, karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau adalah Rasulullah,
bahwa yang benar pasti adalah apa yang diperintahkan kepada beliau, dan beliau
tidak akan melanggar perintah Allah dan Dia tidak akan menyia-nyiakan dan
mengabaikan beliau.”
Ternyata, jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Umar bin Al-Khathab sama
dengan jawaban Rasulullah, padahal Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak mendengar
jawaban beliau. Maka, Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih sempurna persesuaiannya
dengan Allah dan Rasul-Nya daripada Umar bin Al-Khathab, padahal Umar bin Al-Khathab
adalah pihak yang menceritakan hadits, akan tetapi kedudukan Abu Bakar
Ash-Shiddiq di atas kedudukan orang yang menceritakan hadits, karena Abu Bakar
Ash-Shiddiq menerima dari Rasulullah yang makshum setiap apa yang beliau
ucapkan dan lakukan.
Abu Bakar Ash-Shiddiq setelah itu menceritakan tentang kemenangan besar
tersebut yang sejatinya berlangsung pada kejadian Hudaibiyah, ia berkata,
“Tidak ada sebuah kemenangan yang lebih besar dalam Islam dari kemenangan
Hudaibiyah (karena perjanjian Hudaibiyah menjadi titik tolak dan titik awal
kemenangan terbesar, yaitu Fathu Makkah). Akan tetapi orang-orang ketika itu,
tidak bisa menangkap dan memahami apa yang terjadi antara Rasulullah dan Tuhan
beliau. Para hamba bersikap tergesa-gesa, sedang Allah tidak tergesa-gesa
seperti ketergesa-gesaan para hambaNya.
Sungguh aku melihat Suhail bin Amr pada haji wada’ berdiri di tempat
pemotongan hewan dan mendekatkan hewan badanah kepada Rasulullah, dan beliau
langsung memotongnya sendiri, dan beliau juga memanggil seorang tukang cukur,
lalu ia pun mencukur rambut beliau. Aku memperhatikan Suhail bin Amr memunguti
rambut Rasulullah dan aku melihat meletakkannya di matanya. Aku teringat sikap
Suhail bin Amr pada kejadian Hudaibiyah bagaimana ia menolak untuk menuliskan
kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” dan menolak menuliskan kalimat, “Muhammad
Rasulullah.” Maka, aku pun memanjatkan puji syukur kepada Allah yang telah
menunjuki Suhail bin Amr kepada Islam.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling tepat pandangannya dan paling sempurna akalnya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Perang Khaibar, Sariyah atau Detasemen Najd dan Bani Fazarah
- Perang Khaibar.
Rasulullah memblokade Khaibar dan siap untuk menggempur mereka. Panglima
perang pertama yang diutus oleh Rasulullah ke sebagian benteng Khaibar adalah
Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu ia pun melakukan pertempuran di sana, kemudian
kembali dan belum berhasil melakukan penaklukan dan infiltrasi, sedang ia sudah
terkuras tenaganya.
Kemudian Rasulullah mengirimkan Umar bin Al-Khathab, lalu ia pun
melancarkan peperangan, namun kemudian ia kembali dan belum juga berhasil.
Kemudian Rasulullah berkata, “Sungguh esok aku akan memberikan panji perang
kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Orang tersebut
ternyata adalah Ali bin Abu Thalib.
Ada sebagian sahabat yang memberikan usulan strategi kepada Rasulullah,
yaitu menebangi pohon kurma Khaibar, sehingga bisa melumpuhkan kaum Yahudi
Khaibar. Rasulullah pun menyetujui usulan tersebut, sehingga kaum muslimin pun bergegas
dan bersiap-siap melakukan penebangan pohon-pohon kurma. Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq menemui Rasulullah dan memberikan masukan sebaliknya, yaitu tidak
melakukan penebangan pohon-pohon kurma tersebut, karena itu justru akan
merugikan pihak kaum muslimin, baik apakah Khaibar nantinya berhasil
ditaklukkan secara paksa maupun secara damai. Lalu Rasulullah pun menerima
usulan dan masukan Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut dan menginstruksikan kepada
kaum muslimin agar membatalkan penebangan pohon kurma, lalu mereka pun
membatalkannya.
- Perang Najd.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Iyas bin Salamah dari ayahnya, ia berkata,
“Rasulullah mengirim Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam misi militer ke Najd dan
menunjuknya sebagai panglima dalam misi tersebut. Lalu pada malam hari, kami
menyerang sejumlah orang dari Hawazin, dan aku pada malam itu memerangi tujuh
klan. Sandi kami pada waktu itu adalah, “amit amit” (matikan, matikan).”
- Perang Bani Fazarah.
Imam Ahmad meriwayatkan melalui jalur Iyas bin Salamah dari ayahnya, ia
berkata, “Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata, “Kami pergi dalam sebuah
misi militer yang dikirim oleh Rasulullah dan beliau menunjuk Abu Bakar
Ash-Shiddiq sebagai panglima kami. Lalu kami pun menyerang Bani Fazarah. Ketika
kami sudah mendekati lokasi air, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq menginstruksikan
kami untuk beristirahat malam. Setelah shalat shubuh, Abu Bakar Ash-Shiddiq
menginstruksikan kami untuk melakukan penyerangan, lalu kami pun menyerang
orang-orang yang ada di daerah air tersebut dan berhasil membunuh sejumlah
orang di antaranya.”
Salamah kembali bercerita, “Kemudian aku melihat ada sejumlah orang yang
berlari menuju ke perbukitan. Di antara mereka terdapat anak-anak dan kaum
perempuan. Lalu aku pun menembakkan panah dan jatuh di antara mereka dan bukit,
hingga menyebabkan mereka berhenti. Lalu aku pun membawa dan menggiring mereka
kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di antara mereka terdapat seorang perempuan yang
membawa alas yang terbuat dari kulit beserta seorang anak perempuannya yang
bisa dibilang termasuk perempuan Arab yang paling cantik.”
Salam kembali bercerita, “Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan anak
perempuan itu kepadaku sebagai tambahan di luar ghanimah. Aku belum pernah
sedikit pun menggaulinya hingga aku sampai ke Madinah, kemudian aku pun
melewati malam tanpa sedikit pun menyentuhnya. Kemudian Rasulullah bertemu
denganku di pasar dan berkata kepadaku, “Ya Salamah, berikanlah perempuan itu
kepadaku.” Lalu aku berkata, “Sungguh wahai Rasulullah, aku sangat tertarik
kepadanya dan aku belum pernah menyetubuhinya sekali pun.”
Salamah kembali bercerita, “Lalu Rasulullah pun diam dan pergi
meninggalkanku. Kemudian keesokan harinya, Rasulullah kembali menemuiku di
pasar dan berkata, “Ya Salamah, berikanlah perempuan itu kepadaku.” Lalu aku
berkata, “Sungguh wahai Rasulullah, aku belum pernah menyetubuhinya. Ia untuk
Anda wahai Rasulullah.”
Salamah kembali bercerita, “Lalu Rasulullah pun mengirimkan perempuan
itu ke penduduk Makkah yang waktu itu mereka menawan sejumlah orang
Islam. Lalu Rasulullah pun menebus mereka dengan perempuan tersebut.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Umrah Qadha` dan Dzat As-Salasil
- Dalam umrah qadha`.
Abu Bakar Ash-Shiddiq termasuk salah satu dari kaum muslimin yang ikut
pergi bersama Rasulullah untuk melaksanakan umrah qadha` yang sebelumnya batal
mereka kerjakan karena dihalang-halangi oleh kaum musyrikin.
- Dalam misi militer Dzat As-Salasil.
Rafi’ bin Amr Ath-Tha`i berkata, “Rasulullah mengutus Amr bin Al-’Ash
sebagai panglima dalam sebuah misi militer Dzat As-Salasil. Ikut dalam misi
militer tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khathab, dan sejumlah
sahabat terkemuka. Lalu mereka pun berangkat, hingga ketika sampai di bukit
Thay, mereka pun turun dan berhenti. Lalu Amr bin Al-’Ash berkata, “Carilah
orang yang mengetahui jalan.” Lalu mereka berkata, “Kami tidak mengetahui
seorang penunjuk jalan yang berpengalaman kecuali Rafi’ bin Amr. Karena pada
masa Jahiliyah, ia adalah seorang rabil (seorang pencuri yang melakukan aksinya
seorang diri).”
Rafi’ bin Amr berkata, “Ketika kami telah selesai dari pertempuran dan
aku pun sampai ke tempat di mana sebelumnya kami berangkat dari tempat
tersebut, maka aku pun memperhatikan dan mencermati Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia
mengenakan jubah Fadkiyyah. Jika ia naik hewan kendaraan, maka ia mengancingkan
di antara dua belahannya dengan khilal (semacam kancing dari kayu atau besi),
dan ketika ia turun, maka ia membukanya. Lalu aku pun mendatanginya dan
berkata, “Wahai pemilik khilal, saya memperhatikan dan mencermati Anda di
antara teman-teman Anda, maka sudilah kiranya Anda memberiku sesuatu yang jika
aku menghafal dan melaksanakannya, maka saya bisa menjadi seperti kalian.
Namun, jangan terlalu panjang, hingga sulit aku hafal dan menyebabkan aku
lupa.” Lalu ia berkata, “Jika aku beri lima hal yang bisa Anda hafal dengan
lima jari tangan Anda, maka apakah kamu bisa mengingatnya?” Aku menjawab, “Ya.”
Lalu ia berkata, “Pertama, kamu bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah
dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Kedua, kamu menegakkan
shalat. Ketiga, kamu tunaikan zakat harta Anda jika Anda berharta. Keempat,
Anda menunaikan haji ke Al-Baitul Haram. Kelima, Anda menunaikan puasa
Ramadhan. Apakah Anda bisa menghafal dan mengingatnya?” Aku menjawab, “Ya.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali berkata, “Yang lain lagi adalah, hindarilah
menjadi amir atau pemimpin atas dua orang.” Aku berkata, “Bukankah kepemimpinan
tidak lain adalah di tangan kalian ahl Al-Wabar yang artinya adalah penduduk
pedalaman yang hidup nomaden?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Imarah atau
kepemimpinan sudah hampir menyebar hingga sampai kepada Anda dan orang yang
berada di bawah Anda kapabilitasnya. Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad, maka
orang-orang pun masuk Islam. Maka, di antara mereka ada yang masuk Islam karena
Allah, maka Allah pun menunjukinya, dan ada pula di antara mereka yang dipaksa
oleh pedang. Mereka semua adalah orang-orang yang dilindungi, dijaga, dan
dijamin keamanannya oleh Allah. Sesungguhnya seseorang ketika ia menjadi amir,
lalu terjadi perbuatan-perbuatan zhalim di antara orang-orang, namun ia tidak
menjalankan peradilan secara adil dan benar dan memberikan hak kepada
pemiliknya yang sah, maka Allah akan membalas dan menghukumnya. Sesungguhnya
seseorang dari kalian, ketika ada seekor kambing milik tetangganya (orang yang
ia beri jaminan keamanan) diambil, maka ia marah besar karenanya, dan Allah
senantiasa berada di belakang tetangga-Nya (hamba yang Dia beri jaminan
keamanan).”
Dalam nasihat ini, terdapat banyak pelajaran dan ibrah bagi putra-putra
kaum muslimin yang dikemukakan oleh seorang sahabat yang mulia Abu Bakar
Ash-Shiddiq, sosok pribadi yang tumbuh dan terdidik dalam pengasuhan Islam dan
Rasulullah. Di antara pelajaran dan ibrah tersebut yang terpenting adalah:
- Signifikansi ibadah, seperti shalat yang merupakan tiang agama, zakat, puasa, dan haji.
- Tidak berambisi sama sekali kepada jabatan dan kepemimpinan, persis seperti yang diwasiatkan oleh Rasulullah kepada Abu Dzarr Al-Ghifari,
“Sesungguhnya jabatan dan kepemimpinan adalah amanat, jabatan, dan
kepemimpinan akan menjadi kehinaan dan sesalan pada Hari Kiamat, kecuali orang
yang menjalankannya dengan benar.”
Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memahami dan menghayati betul sabda
kekasihnya, Nabi Muhammad, menuturkan dalam sebuah riwayat, “Dan bahwa barang
siapa yang menjadi amir, maka ia adalah termasuk orang yang paling lama,
panjang, dan berat hisabnya serta paling keras adzabnya. Dan barang siapa yang
tidak menjadi amir, maka ia termasuk orang yang paling simpel hisabnya dan
paling ringan adzabnya.”
Ini adalah pemahaman dan pandangan Abu Bakar Ash-Shiddiq tentang jabatan imarah (kekuasaan, kepemimpinan).
- Sesungguhnya Allah mengharamkan kezhaliman atas Diri-Nya, melarang para hamba-Nya saling berbuat zhalim, sebagian menzhalimi sebagian yang lain. Karena kezhaliman akan menjadi kegelapan-kegelapan yang gelap gulita kelak pada Hari Kiamat. Sebagaimana Allah melarang perbuatan menzhalimi orang-orang Mukmin, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits qudsi, “Barang siapa menyakiti seorang kekasih-Ku, maka sungguh Aku umumkan perang terhadapnya.”
Orang-orang Mukmin adalah para hamba yang diberi suaka dan jaminan
keamanan oleh Allah, dan Allah lebih berhak untuk murka ketika mereka disakiti.
- Pada periode awal, para pemimpin umat adalah orang-orang pilihan dan orang-orang terbaik. Kemudian datanglah masa di mana jabatan kepemimpinan dan kekuasaan begitu mudah didapatkan, bahkan oleh orang yang tidak memiliki kapabilitas dan kompetensi sekalipun.
- Pada kejadian perang Dzat As-Salasil, terlihat sikap spesial Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam menghormati para pemimpin. Hal ini pada gilirannya membuktikan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sosok yang berjiwa sangat kuat dan memiliki kemampuan luar biasa dalam melahirkan dan membentuk para tokoh, menghargai dan menghormati mereka.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Buraidah, ia berkata, “Rasulullah
mengutus dan menunjuk Amr bin Al-’Ash sebagai panglima dalam misi perang
Dzat As-Salasil. Di antara para sahabat yang ikut dalam misi tersebut
adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab. Sesampainya di
lokasi pertempuran, Amr bin Al-’Ash melarang pasukan menyalakan api.
Mendengar hal itu, Umar bin Al-Khathab pun marah dan ingin menemuinya.
Namun kemudian ia dicegah oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mengatakan
kepadanya bahwa Rasulullah tidak menunjuk Amr bin Al-’Ash sebagai
panglima yang membawahi kamu pada misi tersebut melainkan karena
pengetahuan dan pengalaman Amr bin Al-’Ash tentang peperangan. Lalu
emosi Umar bin Al-Khathab pun akhirnya mereda.
Abu Bakar Ash-Shiddiq pada Fathu Makkah, Perang Hunain dan Tha`if.
- Fathu Makkah (8 H).
Sebab yang melatar belakangi terjadinya Fathu Makkah (penaklukan kota
Makkah oleh kaum muslimin) pasca genjatan senjata atau perjanjian damai
Hudaibiyah adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq, ia berkata,
“Az-Zuhri menceritakan kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dari Al-Miswar bin
Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam, bahwasanya mereka berdua bercerita kepadanya
menyangkut perjanjian damai Hudaibiyah, bahwa orang yang ingin masuk ke dalam
pihak Muhammad maka silahkan, dan barang siapa yang ingin masuk ke dalam pihak
Quraisy maka silahkan.” Lalu Khuza’ah pun segera menentukan sikap dan berkata,
“Kami masuk ke dalam pihak Muhammad.” Sementara Bani Bakr juga segera
menentukan sikap dan berkata, “Kami masuk ke dalam pihak Quraisy.”
Kedua belah pihak pun menjalankan perjanjian damai tersebut, hingga
ketika sudah berjalan sekitar tujuh belas atau delapan belas bulan, tiba-tiba
Bani Bakr melakukan penyerangan pada malam hari terhadap Khuza’ah di lokasi air
yang dikenal dengan nama Al-Watir (sebuah lokasi dekat kota Makkah). Waktu itu,
orang-orang Quraisy berkata, “Muhammad tidak mengetahui dan ini adalah malam hari
tidak ada seorang pun yang melihat kita.” Lalu orang-orang Quraisy itu pun
memberikan dukungan berupa kuda dan senjata kepada Bani Bakar dalam aksi
penyerangan terhadap Khuza’ah serta ikut terjun langsung dalam aksi penyerangan
tersebut karena didorong oleh perasaan benci dan dengki terhadap Nabi Muhammad.
Lalu Amr bin Salim pun datang ke Madinah menemui Rasulullah untuk meminta
pertolongan seraya berkata,
Ya Allah, hamba memanggil Muhammad, sekutu bapak kami dan bapak kamu
yang terdahulu.
Tolonglah kami –semoga Allah menunjuki kami- dengan pertolongan yang
siap dan lengkap, dan serulah para hamba Allah, maka mereka akan berdatangan
sebagai pasukan bantuan.
Lalu Rasulullah bersabda, “Anda ditolong wahai Amr bin Salim.”
Rasulullah dan para sahabat pun mempersiapkan diri untuk rencana
berangkat ke Makkah, merahasiakan rencana tersebut dan berdoa kepada Allah
memohon agar Dia membuat kaum kafir Quraisy lengah hingga mereka dikagetkan
dengan pasukan Islam yang datang untuk menaklukkan Makkah.
Waktu itu, kaum kafir Quraisy pun merasa gusar dan khawatir jika
Rasulullah mengetahui apa yang telah terjadi. Lalu Abu Sufyan pun berangkat
pergi untuk menemui Rasulullah. Ketika bertemu, ia pun berkata, “Wahai
Muhammad, tolong tetap pertahankan perjanjian damai yang ada dan beri kami
tambahan waktu.” Lalu Rasulullah berkata, “Untuk itukah Anda datang? Apakah
telah ada suatu kejadian?” Lalu ia berkata, “Ma’adzallah, kami tetap
berkomitmen pada perjanjian kami dan kesepakatan damai kami pada kejadian Hudaibiyah,
kami tidak mengubah dan mengganti.” Lalu ia pergi dari hadapan Rasulullah
dengan tujuan untuk menemui para sahabat.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Abu Sufyan.
Abu Sufyan meminta kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq agar mau memperbarui
perjanjian damai dan memperpanjang masanya. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata,
“Jiwar-ku (pemberian jaminan keamanan atau suaka) adalah mengikuti jiwar
Rasulullah. Sungguh demi Allah, seandainya aku mendapati ada semut memerangi
kalian, tentu aku akan membantunya memerangi kalian.”
Di sini, terlihat kecerdasan dan kepiawaian politik Abu Bakar
Ash-Shiddiq, kemudian keimanan yang kuat kepada kebenaran yang ia teguhi. Di
hadapan Abu Sufyan, ia menyatakan secara lantang tanpa sedikit pun takut bahwa
dirinya siap untuk bertempur melawan Quraisy dengan segenap kemampuan dan
potensi, bahwa seandainya mendapati ada semut memerangi Quraisy, pasti ia akan
membantu semut tersebut dalam memerangi mereka.
- Antara Aisyah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk menemui Aisyah yang waktu itu sedang
menggiling biji gandum. Sebelumnya Rasulullah telah berpesan kepada Aisyah agar
merahasiakan rencana beliau. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya kepadanya,
“Wahai putriku, untuk keperluan apa kamu membuat makanan ini?” Aisyah pun hanya
diam dan tidak menjawab. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali bertanya, “Apakah
Rasulullah ingin melakukan perjalanan untuk misi militer?” Aisyah tetap diam
dan tidak menjawab. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya, “Barangkali mungkin
Rasulullah ingin melaksanakan misi militer menghadapi Bani Al-Ashfar (bangsa
Romawi)?” Aisyah tetap diam dan tidak menjawab. Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali
bertanya, “Barangkali mungkin Rasulullah ingin melakukan misi militer terhadap
penduduk Najd?” Aisyah tetap diam dan tidak menjawab. Abu Bakar Ash-Shiddiq
kembali bertanya, “Barangkali mungkin Rasulullah ingin melaksanakan misi
militer terhadap kaum Quraisy?” Aisyah tetap saja diam dan tidak menjawab.
Lalu Rasulullah pun datang dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata kepada
beliau, “Ya Rasulullah, apakah Anda ingin melakukan suatu perjalanan?” Beliau
menjawab, “Ya.” Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali bertanya, “Apakah Anda ingin
melancarkan aksi militer terhadap Bani Al-Ashfar?” Beliau menjawab, “Tidak.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali bertanya, “Terhadap Quraisy?” Beliau menjawab
“Ya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, bukankah antara Anda
dan mereka masih berlangsung masa genjatan senjata?” Beliau berkata, “Tidakkah
kamu mendengar tentang apa yang telah mereka perbuat terhadap Bani Ka’b?”
Di sini, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun langsung bersikap proaktif, responsif,
dan langsung mempersiapkan diri untuk menyertai sang panglima agung Muhammad
SAW dalam misi besar tersebut. Para sahabat Muhajirin dan Anshar pun ikut
berangkat bersama-sama Rasulullah tanpa ada satu orang pun yang absen.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika memasuki Makkah.
Ketika Rasulullah mulai memasuki Makkah pada kejadian fathu Makkah dan di
samping beliau ada Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka beliau melihat kaum perempuan menampari
pipi kuda. Lalu beliau tersenyum kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata,
“Wahai Abu Bakar, apa yang dikatakan oleh Hassan bin Tsabit?” Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq pun menyenandungkan bait-bait syair berikut,
Kami kehilangan kuda kami jika kalian tidak melihatnya menerbangkan debu,
dan tempat yang ditentukan adalah Kada`.
Kuda-kuda itu bertanding menghadapi mata tombak, di atas pundaknya
terdapat besi-besi runcing berwarna hitam.
Kuda-kuda terbaik kami terus berlarian, dipukuli dengan kerudung oleh
perempuan-perempuan.
Lalu Rasulullah berkata, “Masuklah Makkah dan lokasi yang dikatakan oleh
Hassan.”
Dalam suasana dan momentum yang agung tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun
mendapatkan nikmat dan kebahagiaan dengan keislaman ayahnya, yaitu Abu Quhafah.
- Perang Hunain.
Pada perang Hunain, kaum muslimin memperoleh sebuah pelajaran keras,
ketika mereka mengalami kekalahan pada awal pertempuran yang membuat mereka
berlarian karena begitu dahsyatnya serangan yang datang. Mereka ketika itu
sebagaimana yang digambarkan oleh imam Ath-Thabari, tergulung kocar kacir,
tidak ada seseorang yang menoleh kepada yang lain. Lalu Rasulullah mulai
berteriak, “Kemana wahai kalian? Kemari, aku adalah Rasulullah, aku adalah
Rasulullah, aku adalah Muhammad bin Abdullah, wahai kaum Anshar aku adalah
hamba Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah memanggil paman beliau
Al-Abbas, ia adalah orang yang memiliki suara lantang dan keras, “Wahai Abbas,
serulah, “Wahai kaum Anshar, wahai orang-orang yang ikut dalam baiat Ar-Ridhwan.”
Itu adalah gambaran kondisi kaum muslimin pada awal pertempuran.
Rasulullah bertahan sendiri, tidak ada yang tetap bertahan bersama beliau
kecuali hanya sedikit, dan di antara sahabat yang tetap bertahan bersama beliau
waktu itu adalah tentunya Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kemudian setelah itu, akhirnya
Allah menolong mereka dengan pertolongan yang kuat.
Di sana ada beberapa kejadian yang melibatkan Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang
di antaranya adalah:
- Fatwa Abu Bakar Ash-Shiddiq di hadapan Rasulullah.
Abu Qatadah berkata, “Pada kejadian perang Hunain, aku melihat ada
seorang Muslim sedang bertempur melawan seorang musyrik, sementara ada orang
musyrik lain yang hendak menyergapnya dari belakang untuk membunuhnya. Lalu aku
pun bergegas menuju kepada orang musyrik yang ingin menyergap tersebut, lalu ia
mengayunkan tangannya untuk menyerangku, namun aku berhasil menghantam
tangannya hingga putus. Kemudian ia mencoba mendekapku dengan sekuat-kuatnya
hingga membuat diriku seperti hampir mati. Namun kemudian tiba-tiba dekapannya
mulai melemah dan terlepas, lalu aku pun mendorongnya kemudian membunuhnya.
Kaum muslimin pun terpukul mundur dan aku pun ikut mundur bersama mereka. Lalu
aku melihat Umar bin Al-Khathab di antara orang-orang. Lalu aku berkata
kepadanya, “Apa yang terjadi pada orang-orang?” Umar bin Al-Khathab pun
menjawab, “Ketetapan dan qadha` Allah.”
Abu Qatadah kembali melanjutkan ceritanya, “Kemudian orang-orang pun
mulai kembali lagi kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa yang
bisa mendatangkan bayyinah (saksi) atas musuh yang berhasil ia bunuh, maka salb
(barang-barang yang ada pada) musuh yang berhasil ia bunuh itu untuknya.” Lalu
aku pun mulai mencari-cari saksi atas musuh yang berhasil aku bunuh. Namun aku
tidak mendapati satu orang pun yang bisa bersaksi untukku. Lalu aku pun duduk,
kemudian muncul suatu pemikiran pada diriku, lalu aku pun mengutarakannya
kepada Rasulullah. Lalu ada salah seorang yang duduk bersama beliau berkata,
“Senjata musuh yang terbunuh yang ia sebutkan itu ada padaku, maka tolong
mintalah dirinya untuk merelakannya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata,
“Jangan, Rasulullah jangan memberikannya kepada seorang yang lemah dari Quraisy
dan meninggalkan salah seorang singa Allah yang berperang membela agama dan
Rasul-Nya.” Lalu Rasulullah berdiri, lalu memberikan salb berupa senjata
tersebut kepadaku. Lalu aku pergunakan salb itu untuk membeli sebidang kebun,
dan itu adalah harta pertama yang aku peroleh dan miliki dalam Islam.”
Sesungguhnya langkah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung proaktif menolak
dan menegur keinginan orang tersebut di hadapan Rasulullah, kemudian beliau
mengkonfirmasi dan membenarkan apa yang ia katakan serta memutuskan berdasarkan
perkataannya itu, merupakan sebuah kemuliaan istimewa yang tidak dimiliki oleh
orang lain.
Dalam kisah di atas, kita juga melihat bahwa Abu Qatadah Al-Anshari
sangat perhatian terhadap keselamatan sesama saudara Muslim. Hal itu ia
aktualisasikan dalam langkah yang ia ambil, yaitu membunuh si kafir tersebut
dengan penuh susah payah.
Begitu juga, sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut membuktikan komitmennya
dalam menegakkan kebenaran dan membela hak. Juga menunjukkan kokohnya keimanan,
dalamnya keyakinan, sikap menghargai ikatan ukhuwwah Islamiyyah dan bahwa bagi
dirinya ikatan ukhuwwah Islamiyyah adalah memiliki kedudukan yang luhur.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq dan syair Abbas bin Mirdas.
Ketika Abbas bin Mirdas menilai porsi bagian yang ia dapatkan dari
ghanimah perang Hunain adalah sedikit, maka ia mensenandungkan sebuah syair
yang berisikan komplain terhadap Rasulullah,
Itu adalah hasil rampasan yang aku peroleh dengan serbuanku kepada
Al-Muhr (anak-anak kuda) di Al-Ajra’ (daerah yang memiliki karakteristik tanah
kasar dan tandus menyerupai pasir).
Dan usahaku membangunkan kaum dari tidur mereka. Ketika orang-orang
tidur malam hari, aku tidak tidur.
Lalu hasil rampasan yang aku dapatkan dengan kudaku justru dibagi
antara Uyainah dan Al-Aqra’.
Padahal, dalam pertempuran, aku adalah orang yang memiliki kekuatan,
kemampuan bertempur dan kemampuan bela diri, lalu aku seakan-akan tidak diberi
apa-apa, karena aku diberi dalam jumlah yang itu sama seperti seakan-akan aku
tidak diberi apa-apa.
Aku hanya diberi beberapa ekor unta kecil yang jumlah kakinya empat.
Hishn dan Habis, keduanya tidak bisa mengungguli Mirdas di
perkumpulan.
Dan aku tidaklah lebih rendah dari mereka berdua. Barangsiapa yang
kamu rendahkan hari ini, maka ia tidak lagi diangkat.
Lalu Rasulullah berkata, “Temui dirinya dan buat mulutnya diam.” Lalu
mereka pun memberikan tambahan kepada Abbas bin Mirdas hingga dirinya puas dan
tidak lagi menggerutu dan komplain.
Abbas bin Mirdas pun pergi menemui Rasulullah, lalu beliau berkata
kepadanya, “Kamu yang mengatakan, “Maka, hasil rampasanku dan rampasan kudaku
dibagi antara Al-Aqra’ dan Uyainah?” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata,
“Kebalik, yang benar adalah antara Uyainah dan Al-Aqra.”’ Lalu Rasulullah
berkata, “Maksudnya sama.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Aku bersaksi
bahwa Anda wahai Rasulullah memang seperti yang difirmankan Allah dalam ayat,
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu
tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab
yang memberi peringatan.” (Yasin: 69).
- Di Tha`if
Ketika melakukan blokade terhadap Tha`if, jatuh korban luka dan korban
mati di pihak pasukan Islam. Rasulullah pun mengakhiri blokade tersebut dan
kembali ke Madinah. Di antara pasukan yang gugur sebagai syahid pada waktu itu
adalah Abdullah bin Abu Bakar. Ia terkena tembakan panah yang membuatnya sakit,
kemudian akhirnya meninggal dunia di Madinah setelah meninggalnya Rasulullah.
Ketika delegasi Tsaqif datang ke Madinah untuk memproklamirkan keislaman
mereka, maka pada saat delegasi itu sudah terlihat hampir sampai di Madinah,
Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Al-Mughirah bin Syu’bah pun saling berlomba untuk
menjadi orang yang menyampaikan berita gembira tersebut kepada Rasulullah, dan
akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah yang menang.
Setelah delegasi itu memproklamirkan keislaman mereka, maka Rasulullah
pun menuliskan sebuah surat untuk mereka dan ingin menunjuk salah seorang dari
mereka sebagai pemimpin delegasi tersebut. Ketika itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq
mengusulkan nama Utsman bin Abu Al-Ash, dan ia adalah orang yang paling muda di
antara mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, saya lihat dan
perhatikan, di antara mereka semua, anak muda ini adalah yang termasuk memiliki
semangat tinggi untuk mendalami Islam dan belajar Al-Qur’an.”
Utsman bin Abu Al-Ash, setiap kali kaumnya tidur siang, maka ia lebih
memilih untuk menemui Rasulullah untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama
dan Al-Qur`an, hingga ia pun banyak mendapatkan pendalaman tentang agama Islam.
Jika ia mendapati Rasulullah sedang tidur, maka ia ganti menemui Abu Bakar
Ash-Shiddiq. Ia melakukan semua itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan
kawan-kawannya. Maka, hal itu pun membuat Rasulullah kagum kepadanya dan
mencintainya.
Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mengetahui siapa yang memanah putranya,
maka ia mengeluarkan statemen yang merefleksikan kebesaran imannya.
Diriwayatkan oleh Al-Qasim bin Muhammad, ia berkata, “Abdullah bin Abu
Bakar terkena tembakan panah pada perang Tha`if. Empat puluh hari
setelah meninggalnya Rasulullah, luka bekas tembakan panah tersebut
kembali kambuh, lalu akhirnya ia pun meninggal dunia. Lalu datanglah
delegasi Tsaqif, sementara panah yang mengenai Abdullah bin Abu Bakar
masih disimpan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu ia pun memperlihatkannya
kepada delegasi Tsaqif tersebut dan berkata, “Apakah di antara kalian
yang mengetahui anak panah ini?” Lalu Sa’id bin Ubaid, saudara Bani
’Ajlan berkata, “Anak panah ini, saya lah yang membuatnya, memberinya
bulu, dan menembakkannya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Anak
panah inilah yang membunuh Abdullah bin Abu Bakar. Al-Hamdulillah,
segala puji bagi Allah yang telah memuliakan Abdullah bin Abu Bakar
dengan tangan Anda dan tidak menghinakan Anda dengan tangannya.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Perang Tabuk, Sebagai Amir Haji dan dalam Haji Wada’.
- Perang Tabuk.
Pada perang Tabuk, Rasulullah mengerahkan pasukan dalam jumlah yang cukup
besar, yaitu mencapai angka tiga puluh ribu personil. Dalam perang ini,
Rasulullah ingin melawan Romawi di Syam. Ketika pasukan kaum muslimin sudah
berkumpul di Tsaniyyah Al-Wada’, maka selanjutnya Rasulullah ingin mengangkat
para amir, para panglima, para komandan, dan para pembawa panji perang. Lalu
Rasulullah menyerahkan panji yang paling besar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Dalam peperangan kali ini, terlihat sejumlah sikap dan sepak terjang Abu
Bakar Ash-Shiddiq, yang di antaranya adalah:
- Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap kematian sahabat bernama Abdullah Dzu Al-Bijadain.
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku bangun di tengah malam, sedang aku
bersama Rasulullah dalam perang Tabuk. Lalu aku melihat nyala api dari pojok
tenda. Lalu aku pun melangkah menuju ke arah nyala api tersebut untuk
melihatnya. Di sana, aku mendapati Rasulullah ditemani oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq
dan Umar bin Al-Khathab, dan ternyata Abdullah Dzu Al-Bijadain Al-Muzani
meninggal dunia, sementara orang-orang telah menyiapkan liang kuburnya. Waktu
itu, Rasulullah bertugas di dalam liang kubur untuk menangkap jasad dan
meletakkannya, sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab bertugas
menurunkan jasadnya. Waktu itu, Rasulullah berkata, “Tolong, turunkan kepadaku
jasad saudaramu itu.” Lalu beliau berdua pun menurunkan dan menyerahkan
jasadnya kepada Rasulullah.
Ketika meletakkan jasadnya dalam liang kubur, Rasulullah berkata, “Ya
Allah, sesungguhnya hamba ridha kepadanya, maka ridhailah dia.” Abdullah bin
Mas’ud kembali berkata, “Ketika itu, aku berharap dan berkata, “Seandainya aku
lah orang yang dikuburkan itu.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika memasukkan jasad mayat ke dalam liang lahat,
maka ia berkata, “Dengan menyebut nama Allah, dan berdasarkan millah Rasulillah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan dengan keyakinan dan ba’ts
setelah mati.”
- Abu Bakar Ash-Shiddiq memohon kepada Rasulullah agar mendoakan kaum muslimin.
Umar bin Al-Khathab berkata, “Kami berangkat menuju ke Tabuk di tengah
cuaca yang sangat panas. Lalu kami pun beristirahat di suatu tempat dan kami
diserang dahaga yang luar biasa sampai-sampai kami mengira leher kami akan
putus. Bahkan sampai ada seseorang yang memotong untanya, lalu ia memeras
kotorannya lalu meminumnya, sedangkan sisanya ia letakkan di dadanya. Lalu Abu
Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah senantiasa
memberikan kebaikan kepada Anda dalam doa. Maka dari itu, berdoalah kepada
Allah.” Lalu Rasulullah berkata, “Apakah kamu menginginkannya?” Abu Bakar
Ash-Shiddiq berkata, “Ya.” Lalu Rasulullah pun mengangkat kedua tangan untuk
berdoa. Belum sampai Rasulullah menurunkan kedua tangan beliau, hingga langit
pun terlihat akan menurunkan hujan, lalu gerimis pun mulai turun kemudian
semakin deras. Lalu orang-orang pun memenuhi apa yang mereka bawa dengan air.
Kemudian kami berjalan untuk melihat-lihat, dan ternyata hujan hanya turun di
tempat di mana kami beristirahat saja.”
- Shadaqah Abu Bakar Ash-Shiddiq pada perang Tabuk.
Pada perang Tabuk, Rasulullah mendorong para sahabat untuk berinfak,
karena jarak perjalanan yang harus ditempuh sangat jauh dan banyaknya jumlah
kaum musyrikin. Rasulullah menjanjikan pahala yang besar dari Allah bagi
orang-orang yang bersedia untuk berinfak. Maka, para sahabat pun berinfak
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Utsman bin Affan adalah peraih piala
tertinggi dalam hal besaran infak yang dikeluarkan.
Sementara itu, Umar bin Al-Khathab menshadaqahkan separuh hartanya dan
mengira bahwa ia akan mengungguli Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam hal ini. Mari
kita persilahkan Umar bin Al-Khathab menceritakan sendiri kepada kita tentang
hal itu. Ia berkata, “Pada suatu hari, Rasulullah memerintahkan kepada kita
untuk bershadaqah, dan kebetulan waktu itu aku punya harta. Lalu aku berkata
dalam hati, “Jika suatu hari aku berhasil mengalahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq,
maka inilah saatnya.” Lalu aku pun datang dengan separuh hartaku. Lalu
Rasulullah berkata, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” Aku menjawab,
“Sama seperti yang saya shadaqahkan ini.” Sementara itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq
ternyata datang dengan membawa seluruh harta yang dimilikinya. Lalu Rasulullah
berkata kepadanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar
Ash-Shiddiq pun menjawab, “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Aku
pun berkata, “Saya tidak akan bisa mengalahkan Anda selamanya.”
Persaingan dan keinginan untuk bisa seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq
sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khathab tersebut adalah boleh. Akan
tetapi keadaan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah lebih utama darinya, karena bersih
dari motif persaingan secara mutlak dan tidak memandang kepada orang lain.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai amir haji tahun 9 H.
Pendidikan masyarakat dan pembangunan negara pada masa Rasulullah terus
berlangsung secara terus menerus pada semua level dan bidang akidah, ekonomi,
sosial, politik, militer, dan ibadah. Kewajiban ibadah haji belum lah
digalakkan pada tahun-tahun yang lalu. Haji tahun delapan hijriyah paska fathu
Makkah, orang yang ditugaskan untuk melaksanakannya adalah Attab bin Asid,
dan waktu itu ibadah haji kaum muslimin masih bercampur dengan hajinya
orang-orang musyrik. Lalu ketika musim haji pun tiba, maka Rasulullah ingin
berhaji, akan tetapi beliau berkata, “Saat ini, Al-Baitul Haram masih didatangi
oleh orang-orang musyrik yang berthawaf di sana dalam keadaan telanjang. Maka,
aku tidak ingin berhaji, hingga semua itu tidak ada lagi.” Lalu Rasulullah pun
mengutus Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai amir haji pada tahun sembilan hijriyah.
Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berangkat bersama dengan rombongan jamaah haji.
Lalu turunlah surah bara`ah. Ketika itu, maka Rasulullah pun memanggil Ali bin
Abu Thalib dan memerintahkannya agar segera menyusul Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Singkat cerita, Ali bin Abu Thalib pun segera berangkat dengan menggunakan unta
Al-’Adhba` milik Rasulullah, hingga ia pun berhasil menyusul Abu Bakar
Ash-Shiddiq di Dzu Hulaifah. Ketika melihat kedatangan Ali bin Abu Thalib, maka
ia berkata kepadanya, “Apakah Anda datang sebagai amir ataukah sebagai orang
yang diperintah?” Ali bin Abu Thalib pun menjawab, “Sebagai orang yang
diperintah.” Kemudian ia pun berjalan, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun
melaksanakan haji bersama orang-orang di lokasi-lokasi yang sebelumnya menjadi
lokasi-lokasi haji mereka pada masa Jahiliyah.
Haji pada tahun itu adalah pada bulan Dzul Hijjah sebagaimana yang
ditunjukkan oleh riwayat-riwayat shahih, bukan pada bulan Dzul Qa’sudah
sebagaimana yang dikatakan.
Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menyampaikan khutbah sebelum Tarwiyah, pada
hari Arafah, pada hari raya idhul adha dan pada hari nafar awal. Abu Bakar
Ash-Shiddiq memperkenalkan kepada orang-orang tentang manasik mereka, yaitu
wuquf, ifadhah, nahr, nafar, dan melempar jamarat dan seterusnya, sementara Ali
bin Abu Thalib berada di belakangnya di setiap lokasi dari lokasi-lokasi haji
tersebut, lalu membacakan kepada mereka bagian awal surah Bara`ah. Kemudian ia
berseru kepada orang-orang dengan empat hal. Pertama, tidak akan masuk surga
kecuali orang Mukmin. Kedua, tidak boleh ada lagi orang yang thawaf telanjang.
Ketiga, barangsiapa yang ada perjanjian antara dirinya dengan Rasulullah, maka
perjanjian itu berlaku sampai batas waktunya. Keempat, setelah tahun ini, orang
musyrik tidak boleh lagi berhaji.
Waktu itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan kepada Abu Hurairah dan
beberapa orang yang lain untuk membantu Ali bin Abu Thalib dalam merealisasikan
misi dan tugasnya.
Rasulullah memerintahkan kepada Ali bin Abu Thalib untuk mempublikasikan
penghentian perjanjian pada musim haji hingga terdengar oleh orang-orang
musyrik. Hal itu untuk menyesuaikan dengan kebiasaan yang sudah lazim berjalan
di antara masyarakat Arab bahwa melakukan suatu perjanjian atau mengakhirinya
tidak dilakukan kecuali oleh seorang tokoh terkemuka kabilah atau salah seorang
kerabat terdekatnya. Tradisi atau hukum kebiasaan ini tidak bertentangan dengan
Islam. Dari itu, Rasulullah menunjuk Ali bin Abu Thalib dan menugaskannya untuk
melakukan hal tersebut. Inilah sebab yang melatar belakangi penugasan Ali bin
Abu Thalib untuk menyampaikan bagian depan surat Bara`ah, bukan seperti asumsi
golongan Rafidhah bahwa hal itu mengisyaratkan bahwa Ali bin Abu Thalib adalah
yang lebih berhak memegang jabatan khilafah daripada Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Asumsi ini dikomentari oleh Dr. Muhammad Abu Syuhbah, ia berkata, “Aku
tidak tahu, bagaimana bisa bisa mereka sampai lupa dengan perkataan Abu Bakar
Ash-Shiddiq kepada Ali bin Abu Thalib di atas, “Apakah kamu amir ataukah ma`mur
(orang yang diperintah)? Bagaimana bisa ma`mur lebih berhak terhadap
kekhilafahan daripada amir?”
Haji tersebut bisa dikatakan sebagai jalan pembuka untuk haji akbar,
yaitu haji wada’. Pada haji yang Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi amirnya
tersebut, dipublikasikan dan diproklamirkan bahwa era paganism telah berakhir,
bahwa era atau fase baru telah dimulai, dan kewajiban manusia tidak lain adalah
merespon dan mematuhi syariat Allah. Maka, setelah publikasi tersebut yang
tersebar di antara kabilah-kabilah Arab, mereka pun yakin bahwa urusan tersebut
betul-betul serius dan tidak main-main, bahwa era paganism benar-benar telah
berakhir. Maka, kabilah-kabilah Arab pun mulai mengutus delegasi-delegasi
mereka untuk memproklamirkan keislaman mereka dan masuknya mereka ke dalam
tauhid.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam haji wada’.
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abdullah
bin Az-Zubair dari ayahnya, bahwasanya Asma` binti Abu Bakar berkata,
“Kami berangkat untuk menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah. Ketika
kami sampai di daerah Al-’Arj, Rasulullah berhenti istirahat. Lalu
Aisyah duduk di samping Rasulullah. Waktu itu, unta dan perbekalan
Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah jadi satu dibawa oleh
seorang pembantu milik Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq
pun duduk menunggu kedatangan pembantunya itu. Lalu si pembantu pun
datang, namun tanpa membawa unta yang diurusnya. Lalu Abu Bakar
Ash-Shiddiq bertanya kepadanya, “Di mana untamu?” Ia pun berkata,
“Hilang kemarin malam.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Hilang
kemarin malam.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Seekor unta
saja kamu hilangkan!!” Lalu ia pun memukulnya, sedang Rasulullah
tersenyum melihat hal itu dan berkata, “Lihatlah orang yang berihram itu
dan apa yang ia perbuat.”
Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar