● Pesan yang Pertama
Ketika Nabi Khidir hendak berpisah dengan Nabi Musa, dia (Musa) berkata, “Berilah aku wasiat”.
Jawab Nabi Khidir :
1. Wahai Musa, jadilah kamu orang yang berguna bagi orang lain
2. Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan kecemasan diantara mereka sehingga kamu dibenci mereka.
3. Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah sampai mengerutkan dahimu kepada mereka.
4. Janganlah kamu keras kepala atau bekerja tanpa tujuan.
5. Apabila kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruannya saja, kemudian tangisi dosa-dosamu, wahai Ibnu Imron!
(Al Bidayah Wan Nihayah juz I hal. 329 dan Ihya’ Ulumuddin juz IV hal. 56).
● Pesan ke Dua .
Diriwayatkan bahwa setelah Khidir mau meninggalkan Nabi Musa, dia (Khidir) berpesan kepadanya :
1. Wahai Musa, pelajarilah ilmu-ilmu kebenaran agar kamu dapat
mengerti apa yang belum kamu fahami, tetapi janganlah sampai kamu
jadikan ilmu-ilmu hanya sebagai bahan omongan. (Riwayat Ibnu Abi Hatim
dan Ibnu Asakir).
2. Berseberangan faham yang sudah diyakini tidaklah perlu diusik satu
sama lain karena masing-masing sudah kokoh dalam keyakinannya hanya
saja ajakan orang-orang yang masih ngambang atau yang belum iman.
● Pesan ke tiga.
1. Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasehat itu
tidak pernah merasa jemu seperti kejemuan orang-orang yang mendengarkan.
2. Maka janganlah kamu berlama-lama dalam menasehati kaummu. Berilah
nasehat singkat, padat, berisi dan yang penting tidak membosankan.
3. Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang harus kamu rawat dan pelihara dari hal-hal yang bisa memecahkannya.
4. Kurangilah usaha-usaha duniawimu dan buanglah jauh-jauh
dibelakangmu, karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati
selamanya.
5. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat nanti.
6. Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang dilakukan kaummu.
7. Hai Musa, tumpahkanlah seluruh pengetahuan (ilmu) mu, karena tempat yang kosong akan terisi oleh ilmu yang lain
8. Janganlah kamu banyak mengomongkan ilmumu itu, karena akan dipisahkan oleh kaum ulama’.
9. Maka bersikaplah sederhana saja, sebab sederhana itu akan menghalangi aibmu dan akan membukakan taufiq hidayah Allah untukmu.
10. Berantaslah kejahilanmu dengan cara membuang sikap masa bodohmu (ketidak pedulian) yang selama ini menyelimutimu.
11. Menahan dan menyingkirkan sifat-sifat yang kurang baik bukan main
susahnya kalau tidak dilandasi dengan dzikir kalbu, sebab dzikir kalbu
dapat mengikis sifat-sifat yang kurang baik yang sekian lama membelenggu
diri. Dengan dzikrullah yang dikerjakan di kalbu, disamping
menghilangkan sifat-sifat yang kurang baik, sifat-sifat yang baik pun
menguasai diri dan menambah ketenangan dan ketentraman hati.. Itulah
sifat orang-orang arif dan bijaksana, menjadi rahmat bagi semua.
Orang-orang arif identik dengan orang-orang Sufi, orang-orang Sufi
kebanyakan adalah para wali Allah yang menjadi rahmat bagi semua orang.
12. Apabila orang bodoh datang kepadamu dan mencacimu, redamlah ia
dengan penuh kedewasaan serta keteguhan hatimu. Meredam kemarahan orang
yang memarahi di awali melatih penahanan hawa nafsu dan meredam
keinginan hawa nafsu yang ingin bergolak. Setelah mampu meredam hawa
nafsu, meredam amarah orang lain dengan kelembutan sifat dan keteguhan
hati.
13. Hai putra Imron, kamu sadari bahwa ilmu Allah yang kamu miliki
hanya sedikit. Ilmu yang dipunyai manusia itu hanya sedikit, itupun
Allah lah yang memberinya sedangkan ilmu yang Allah miliki tak
terhingga.
14. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan yang ada pada dirimu atau
bersikap sewenang-wenang adalah menyiksa diri sendiri. Menutupi
kekurangan diri sendiri juga sama dengan menutup diri yang tidak mau
menerima dari luar diri. Akhirnya kebodohan yang didapatkan sebaiknya
sifat terbuka atau keterbukaan dari segala hal akan terbukalah hal-hal
yang tersembunyi. Termasuk dapat terbukanya ilmu Allah maka jangan
tutupi dirimu, terbukalah.
15. Janganlah kamu buka ilmu ini jika kamu tidak bisa menguncinya.
Jangan pula kamu kunci pintu ilmu ini jika tidak tahu bagaimana
membukanya, hai putra Imron. Membuka ilmu adalah tugas seorang guru,
mursyid, atau pembimbing. Jadi beliau sudah mampu membuka dan menutup
ilmu. Kenapa ilmu yang sudah dijalani oleh seorang murid ditutup?,
disebabkan si murid ada kesalahan besar yang sudah tidak dapat diajak
memperbaiki untuk meluruskan pelajaran ilmunya. Makanya harus ditutup,
supaya dibelakang hari tidak ada permasalahan yang lebih besar lagi.
Kalau tidak tahu cara menutup ilmu, jangan sekali-kali membukanya walau
tahu cara membuka ilmu tersebut, sebab kalau nanti ada konflik
dikemudian hari tidak akan merepotkan. Bisa saja ilmu yang baik ini
diselewengkan.
16. Barang siapa yang menumpuk-numpuk harta benda, dia sendiri bakal
mati tertimbun dengannya hingga dia merasakan akibat dari kerakusannya
itu. Sebagaimana kisah kerakusannya si Korun, dia seorang yang tamak
terhadap harta tidak dipergunakan untuk perjuangan agama Allah, sehingga
dia tertimbun hartanya.
17. Namun, semua hamba yang selalu mensyukuri karunia Allah serta
memohon kesabaran atas ketentuan-ketentuan Nya, dialah hamba yang zuhud
dan patut diteladani. Dengan meninggikan sifat sabar serta mau menerima
ketentuan-ketentuan yang baik bersyukur atas nikmat dari Nya, dan
menerima ketentuan yang jelek diterimanya dengan ikhlas yang didasari
dengan kesabaran, dan mohon pertolongan Nya.
18. Bukankah orang yang seperti itu mampu mengalahkan nafsu
syahwatnya dan dapat memerangi bujuk rayu syaitan? Syaitan membujuk
manusia sejak Nabi Adam as. diciptakan di surge.
19. Dan Dia pula orang yang mengetam buah dari ilmu yang selama ini
dicarinya. Sabda Rasulullah saw. dari Abu Darda ra. mengatakan : Barang
siapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu Allah akan memudahkan
baginya jalan ke surga. Dan para malaikat selalu meletakkan sayapnya
untuk menaungi orang-orang yang menuntut ilmu, karena senang dengan apa
yang mereka lakukan. Dan bagi orang-orang yang alim, dimintakan ampun
untuknya oleh penduduk langit dan bumi serta oleh ikan-ikan yang ada di
air. Dan keutamaan orang alim terhadap ahli ibadah (yang tidak memiliki
ilmu) adalah bagaikan kelebihan sinar bulan atas bintang-bintang
lainnya. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi, dan
sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (kekayaan
dunia), akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang
mengambil ilmu itu, berarti ia telah mengambil bagian yang sempurna.
(HR. Dawud Tirmidzi). (Pesan-Pesan Rasulullah hal. 167- 168
20. Segala amal kebajikannya akan dibalas dengan pahala di akhirat.
Sekecil apapun amal kebajikan yang kita kerjakan di dunia, Allah akan
membalasnya karena di dunia ini kita diwajibkan menanam amal
sebanyak-banyaknya, surat Az Zalzalah ayat 7 menerangkan : “Barang siapa
yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya”.
21.Sedangkan kehidupan dunianya akan tentram ditengah-tengah
masyarakar yang merasakan jasanya. Jasa seorang pahlawan dikenang
sepanjang masa oleh takyat. Sekarang apa yang kita berikan kepada
masyarakat dalam masa kita hidup ini supaya berguna, walau hanya secoret
kalimat untuk merubah kalbu agar berdzikir kepada Allah
22. Hai Musa, pelajarilah olehmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu
dapat mengetahui segala yang belum kamu ketahui, misalnya
masalah-masalah yang tidak bisa diomongkan atau dijadikan bahan
pembicaraan saja. Ilmu yang tidak bisa diomongkan itu ada beberapa macam
antara lain penyampaiannya memakai bahasa isyarat, bahasa gerak, bahasa
perlambang, bahasa kias, dan bahasa simbolis. Ada juga yang memakai
bahasa kalbu, ada lagi cara penyampaiannya lewat mimpi dan yang setengah
sadar. Menerima pelajaran seperti itu semua memang tidak bisa
diomongkan kepada orang yang belum bisa memahaminya.
23. Mempelajari ilmu yang seperti itu dimulai dengan dzikir kalbu dan
menghidupkan perasaan antara lain, perasaan lahiriyah / fisik, perasaan
akal / otak, perasaan kalbu / hati, serta menghidupkan perasaan
indra-indra dhohiriyah maupun indra-indra batiniyah. Itulah penuntun
jalanmu dan orang-orang akan disejukkan oleh hatimu.
24. Menjadi seorang penuntun yang diawali dari dituntun oleh seorang
yang sudah ahlinya. Karena kita ini ditunggu oleh mereka maka persiapkan
dirimu untuk mereka. Sebab keberadaan sang penuntun ditengah-tengah
mereka hatinya merasa tentram.
25. Hai Musa putra Imron, jadikanlah pakaianmu bersumber dari dzikir dan fakir serta perbanyaklah amal kebajikan.
26. Pakaian taqwa adalah yang paling baik untuk dipakai, dzikir
adalah sarana pokok dalam kekokohan taqwa, buahnya dzikir itu
bertafakkur. Ketafakkuran menghasilkan perenungan yang di amalkan dalam
keseharian berbakti kepada Allah swt.
27. Suatu hari kamu tidak dapat mengelak dari kesalahan, maka
pintalah ridha Allah dengan berbuat kebajikan, karena pada saat-saat
tertentu akalmu pasti melanggar larangan Nya.
28. Sekarang telah kupenuhi kehendakmu untuk memberi pesan-pesan kepadamu.
29.Omonganku ini tidak akan sia-sia apabila kamu mau menurutinya.
Setelah itu Khidir meninggalkan Nabi Musa yang duduk termenung dalam tangis kesedihan. (Dikutib dari buku Kisah Khidir dan 9 Tokoh Sufi oleh ABU KHALID MA. Pustaka Agung Surabaya).
Setelah itu Khidir meninggalkan Nabi Musa yang duduk termenung dalam tangis kesedihan. (Dikutib dari buku Kisah Khidir dan 9 Tokoh Sufi oleh ABU KHALID MA. Pustaka Agung Surabaya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar