Ini adalah sebuah kisah
tentang seorang budak yang shaleh dan Abdullah bin Mubarak ketika beliau
berada di Mekkah. Abdullah bin Mubarak menceritakan, “Suatu ketika aku
berada di Mekkah, dan saat itu kami dilanda kemarau yang panjang. Hujan
tidak turun selama berminggu-minggu dan semua orang berkumpul di
Masjidil Haram untuk shalat istisqa (shalat meminta hujan). Aku salah
satu di antara mereka dan aku duduk di samping gerbang Banu Saiba.
Seorang budak Ethiopia yang mengenakan pakaian lusuh datang dan duduk di
depanku. Aku bisa mendengarnya berdo’a, “Ya Allah, amal buruk dan
dosa-dosa telah menodai wajah-wajah dan Engkau telah berhenti menghujani
kami dengan rahmat-Mu untuk memberi pelajaran kepada umat manusia. Aku
memohon kepadamu ya Halim, ya Rahim, wahai Engkau yang diketahui manusia
sebagai Maha Penyayang. Kirimkanlah hujan kepada kami saat ini juga.”
Dia berdo’a sampai awan muncul dan hujan turun.
Ketika dia pergi, aku mengikutinya untuk mencari tahu keberadaannya.
Karena tidak menemukannya, aku pun pulang ke rumah. Sebelum pulang ke
rumah aku pergi untuk mengunjungi Fudail bin Ayaz. Aku menceritakan
kejadian ini padanya, kemudian dia memaksaku untuk membawanya menemui
pemuda Ethiopia itu. “Sekarang sudah terlambat, biarkan aku mencarinya
dahulu”, kataku padanya.
Setelah Subuh, aku pergi ke tempat para budak itu dan melihat seorang
kakek sedang duduk-duduk di depan pintu rumahnya. Dia ternyata
mengenaliku. Dia menyambutku dan menanyai tentang keperluanku. “Aku
butuh seorang budak hitam”, kataku. Dia menjawab, “Aku punya banyak,
ambillah siapa saja yang kau mau.” Dia terus memanggil budak-budaknya
satu demi satu dan aku terus menolak sampai akhirnya dia memanggil
seseorang yang aku cari. Dia kemudian menolak untuk menjual budak ini
karena keberadaan budak ini membawa banyak berkah. Kemudian aku berkata,
“Haruskah aku kembali kepada Sufyan At-Tsauri dan Fudail bin Ayaz
dengan tangan hampa?” Dia akhirnya setuju dan berkata, “Kedatanganmu
adalah suatu hal yang besar. Bayarlah sesuai harga yang kau sukai dan
bawalah dia.” Aku membeli budak itu, dan membawanya menuju rumah Fudail.
Ketika dalam perjalanan dia bertanya, “Kenapa kau tidak membeli
seorang budak yang lebih kuat dariku? Aku lemah dan tidak bisa
melayanimu. Tuanku telah menunjukkanmu banyak budak yang lebih kuat.”
Aku berkata, “Demi Allah, aku akan melayanimu, membelikanmu sebuah
rumah, dan mencarikanmu pasangan untuk dinikahi.” Dia mulai menangis.
Aku bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia berkata, “Satu-satunya
alasan kau memperlakukanku seperti ini adalah karena kau telah melihat
hubunganku dengan Tuhanku.”
Dia kemudian bertanya apakah aku bisa menunggunya karena dia ingin
shalat beberapa raka’at yang masih harus diselesaikannya sejak semalam.
Aku memberitahunya bahwa rumah Fudail dekat dari sini, tapi dia
bersikeras, “Tidak baik untuk menunda ibadah kepada Allah.” Lalu dia pun
memasuki masjid dan mulai shalat. Ketika selesai dia bertanya padaku,
“Wahai Abu Abdur Rahman, apakah kau punya suatu keperluan?” Aku berkata,
“Kenapa kau bertanya?” Dia menjawab, “Untuk akhirat.” Dia kemudian
berkata, kehidupan terlihat baik ketika ini menjadi rahasia antara
Tuhanku dan aku. Sekarang kau telah mengetahui lalu orang lain akan
tahu. Sekarang aku tidak lagi memerlukan kehidupan ini.” Dia pun
terjatuh dan berkata, “Ya Allah bawa aku sekarang.” Aku mendekatinya dan
kutemukan tubuhnya tak lagi bergerak. Ternyata dia telah meninggal
dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar