Senin, 09 Maret 2020

Kitab Keutamaan Sahabat Nabi


BAB 1: KEUTAMAAN ABU BAKR

1520[Bukhari 3659] Diriwayatkan dari Jabir bin Muth'im ra dia berkata: Seorag perempuan menemui Nabi Saw, kemudian beliau menyuruhnya kembali lagi di lain waktu. Perempuan itu bertanya, "Bagaimana jika saya nanti tidak bertemu Anda?" (sepertinya perempuan itu bermaksud: "Bagaimana jika Anda sudah wafat?") Nabi Saw bersabda, "Jika kamu tidak bertemu denganku, temuilah Abu Bakr ra".

1521[Bukhari 3660] Diriwayatkan dari Ammar ra, dia berkata: Saya hanya ditemani oleh 5 orang budak, dua orang perempuan, dan Abu Bakr (mungkin ini ketika pengikut beliau sangat sedikit pada masa awal Islam).

1522[Bukhari 3661] Diriwayatkan dari Abu Darda ra dia berkata: Suatu ketika saya duduk bersama Nabi Saw, tiba-tiba Abu Bakr datang sambil menyingsingkan pakaiannya hingga kedua lututnya terlihat. Nabi Saw bersabda, "Temanmu itu pasti habis bertengkar". Abu Bakr mengucapkan salam kemudian berkata, "Ya Rasulullah, saya baru saja bertengkar dengan Umar bin Khattab. Saya berkata kasar kepadanya, lalu saya menyesal. Saya sudah meminta maaf kepadanya, namun dia menolak, sehingga saya sekarang menemui Anda". Rasulullah Saw bersabda, "Semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakr". Beliau mengulangi ucapan itu tiga kali. Umar juga menyesal kemudian datang ke rumah Abu Bakr. Umar bertanya, "Apakah Abu Bakr di rumah?" Keluarganya menjawab, "Tidak". Umar segera menemui Nabi Saw dengan mengucapkan salam. Wajah Nabi Saw tampak tidak berseri-seri, sehingga Abu Bakr merasa iba. Abu Bakr segera berlutut dan berkata, "Ya Rasulullah, demi Allah, kezaliman saya kepada Umar melebihi kezaliman Umar kepada saya". Abu Bakr mengulangi kata-kata itu dua kali, kemudian Nabi Saw bersabda, "Ketika Allah mula-mula mengutusku sebagai Rasul, kalian mengatakan, "Muhammad berdusta, sedangkan Abu Bakr ketika itu langsung berkata, "Muhammad benar", Abu Bakr telah membelaku dengan dirinya dan hartanya. Mengapa kalian menyakiti sahabatku ini (Abu Bakr)?" Beliau mengulangi kata-kata itu dua kali. Semenjak itu Abu Bakr tidak pernah disakiti hatinya.

1523[Bukhari 3662] Diriwayatkan dari Amr bin Al-Ash ra bahwa Nabi Saw menugasinya memimpin pasukan pada perang Dzat As-Salasil. Kata Amr bin Al-Ash: Saya menemui Nabi Saw lalu saya bertanya, "Siapa orang yang paling Anda cintai?" Beliau menjawab, "Aisyah". Saya bertanya lagi, "Dari kalangan laki-laki?" Beliau menjawab, "Ayahnya". Saya bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Umar bin Al-Khattab". Lalu beliau menyebut beberapa nama laki-laki.

1524[Bukhari 3665] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: Rasulllah Saw pernah bersabda, "Siapa yang berjalan dengan menyeret pakaiannya yang menyentuh tanah dengan sombong/bangga, kelak pada hari kiamat Allah tidak mau melihatnya". Abu Bakr berkata, "Salah satu bagian ujung pakaian saya ini menyentuh tanah jika saya tidak berhati-hati ketika berjalan?" Rasulullah Saw bersabda, "Tetapi engkau tidak melakukan hal itu dengan bangga/sombong".

1525[Bukhari 3674] Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari ra bahwa dia berwudu di rumahnya kemudian keluar. Kata Abu Musa: Saya akan selalu bersama Rasulullah Saw pada hari ini. Abu Musa datang ke masjid, lalu bertanya tentang Nabi Saw. Orang-orang menjawab, "Nabi Saw keluar menuju arah sana". Abu Musa pergi mengikuti jejak Rasulullah Saw dan terus bertanya tentang Rasulullah Saw sehingga dia tiba di sumur Aris. Dia duduk di dekat pintu yang terbuat dari pelepah pohon kurma sampai Rasulullah Saw menyelesaikan hajatnya. Setelah Rasulullah Saw berwudu, Abu Musa menghampiri beliau yang sedang duduk di atas bibir sumur Aris dengan menyingsingkan pakaian di betisnya dan menjulurkan kakinya ke dalam sumur. Abu Musa mengucakan salam kepada Rasulullah Saw lalu kembali lagi ke dekat pintu. Kata Abu Musa: Hari ini saya akan menjadi penjaga pintu Rasulullah Saw. Maka datanglah Abu Bakr dan mengetuk pintu. Saya bertanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Abu Bakr". Saya katakan, "Tunggu". Saya mendekati Rasulullah Saw dan berkata, "Ya Rasulullah, ada Abu Bakr, dia minta izin masuk?" Rasulullah Saw bersabda, "Izinkan dia masuk dan sampaikan berita gembira kepadanya bahwa dia akan masuk surga". Saya kembali menemui Abu Bakr, lalu saya katakan kepadanya, "Silahkan masuk, dan Rasulullah Saw memberitahukan kabar gembira bahwa kamu akan masuk surga". Abu Bakr masuk, kemudian duduk di sebelah kanan Rasulullah Saw di bibir sumur tersebut sambil menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dengan menyingsingkan pakaian di betisnya. Saya kembali ke pintu dan duduk. Saya meninggalkan saudara saya yang masih berwudu yang akan menyusul saya. Saya berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk saudara saya tentu Allah akan mendatangkannya kemari". Kemudian ada seseorang mendorong pintu, lalu saya bertanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Umar bin Khattab". Saya katakan, "Tunggu". Saya segera mendekati Rasulullah Saw dengan mengucapkan salam lalu saya beritahukan, "Ada Umar bin Khattab yang mohon izin masuk?" Rasulullah Saw bersabda, "Izinkan dia masuk dan beritahukan kabar gembira kepadanya bahwa dia akan masuk surga". Saya kembali menemui Umar dan saya katakan kepadanya, "Silahkan masuk, dan Rasulullah Saw menyampaikan kabar gembira kepadamu bahwa kamu akan masuk surga". Umar pun masuk, lalu duduk bersama Rasulullah Saw di bibir sumur di sebelah kiri beliau dengan menjulurkan kakinya ke dalam sumur. Saya kembali ke pintu dan duduk. Saya katakan, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk saudara saya yang akan menyusul saya tentu Allah akan mendatangkannya kemari". Kemudian ada seseorang mendorong pintu, lalu saya bertanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Utsman bin Affan". Saya katakan, "Tunggu". Saya segera mendekati Rasulullah Saw untuk memberitahukan kehadiran Utsman bin Affan. Rasulullah Saw bersabda, "Izinkan dia masuk dan beritahukan kabar gembira kepadanya bahwa dia akan masuk surga atas bencana yang akan menimpanya". Saya kembali ke pintu menemui Utsman bin Affan dan saya katakan kepadanya, "Silahkan masuk, dan Rasulullah Saw memberitahukan kabar gembira kepadamu bahwa kamu akan masuk surga atas bencana yang akan menimpamu". Maka Utsman pun masuk dan mendapati bibir sumur sudah penuh (karena sudah diduduki oleh Rasulullah Saw, Abu Bakr, dan Umar), maka Utsman duduk di hadapan Rasulullah Saw pada bagian lain.

1526[Bukhari 3673] Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri ra, dia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda, "Janganlah mencaci para sahabatku, karena seandainya kalian menginfakkan harta kalian di jalan Allah berupa emas sebesar gunung Uhud, pahalanya tidak akan bisa menyamai satu atau setengah mudd makanan yang diinfakkan oleh para sahabatku".

1527[Bukhari 3675] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa suatu ketika Nabi Saw beserta Abu Bakr, Umar dan Utsman mendaki gunung Uhud, kemudian gunung itu berguncang, maka Nabi Saw bersabda: "Wahai Uhud, tenanglah, karena diatasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakr), dan dua orang Syahid (Umar dan Utsman)".

1528[Bukhari 3677] Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra, dia berkata: Suatu ketika saya berdiri di tengah orang banyak yang ketika itu kami berdoa kepada Allah untuk Umar bin Khattab ra yang dibaringkan di atas tempat tidurnya (wafat), tiba-tiba dari belakang saya ada seorang laki-laki yang meletakkan sikunya di atas pundak saya sambil berkata, "Semoga Allah memberimu rahmat dan saya berharap semoga Allah memberimu derajat yang sama dengan dua orang temanmu, karena saya sering mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Saya selalu bersama Abu Bakr dan Umar, saya melakukan sesuatu selalu bersama Abu Bakr dan Umar, dan saya selalu pergi bersama Abu Bakr dan Umar"". Kata laki-laki tersebut, "Saya berharap semoga Allah menjadikanmu sederajat dengan Abu Bakr dan Umar". Kata Abdullah bin Abbas: Lalu saya menoleh, ternyata laki-laki tersebut adalah Ali bin Abu Thalib ra.


BAB 2: KEUTAMAAN UMAR BIN KHATTAB

1529[Bukhari 3679] Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra dia berkata: Nabi Saw pernah bersabda, "Aku bermimpi memasuki surga, maka di sana aku melihat Rumaisha, istri Abu Thalhah. Aku mendengar derap langkah kaki, kemudian aku bertanya, "Siapa itu?" Para penghuni surga menjawab, "Dia Bilal". Aku juga melihat suatu istana dengan seorang perempuan berada di halamannya, lalu aku bertanya, "Milik siapa ini?" Para penghuni surga menjawab, "Milik Umar". Aku ingin memasuki istana itu untuk melihat-lihat di dalamnya, tetapi kemudian aku teringat bahwa Umar suka cemburu". Mendengar sabda Rasulullah Saw tersebut Umar berkata, "Biar ayah dan ibuku berkurban untuk anda (ungkapan untuk sumpah atau untuk mohon izin bicara), ya Rasulullah, apakah aku akan cemburu kepada Anda?"

1530[Bukhari 3688] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Saw mengenai hari kiamat, kemudian beliau balik bertanya: "Apa yang telah kau persiapkan untuk menghadapinya?" Orang itu menjawab: "Tidak ada, kecuali cinta kepada Allah dan Rasul-Nya". Rasulullah Saw bersabda: "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai". Kata Anas: Kami tidak pernah merasa gembira seperti ketika mendengar sabda Rasulullah Saw tersebut, yaitu, "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai". Kata Anas selanjutnya: Maka aku sangat mencintai Rasulullah Saw, Abu Bakr, dan Umar, dan aku berharap aku bisa bersama mereka kelak di akhirat karena cintaku kepada mereka, meskipun amal baikku tidak sebanyak amal baik mereka.

1531[Bukhari 3689] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Nabi Saw pernah bersabda, "Di kalangan Bani Israil dulu terdapat beberapa orang yang diberi ilham/petunjuk tentang agama dan mereka itu bukan Nabi. Jika umatku ada yang seperti itu, maka salah satunya adalah Umar".


BAB 3: KEUTAMAAN UTSMAN BIN AFFAN

1532[Bukhari 3698] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa pada suatu saat dia ditemui oleh seorang laki-laki dari Mesir untuk bertanya: "Tahukah kamu bahwa Utsman melarikan diri pada saat perang Uhud?" Abdullah bin Umar menjawab: "Ya". Orang itu bertanya lagi: "Tahukah kamu bahwa Utsman tidak turut dalam perang Badr?" Abdullah bin Umar menjawab: "Ya". Orang itu bertanya lagi: "Tahukah kamu bahw Utsman tidak hadir dalam Baiat Ridhwan (peristiwa Hudaibiyah)?" Abdullah bin Umar menjawab, "Ya". Orang itu mengucapkan: "Allahu Akbar". Abdullah bin Umar berkata: "Mendekatlah kemari, akan aku jelaskan kepadamu mengenai larinya Utsman dalam perang Uhud, aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkan dan mengampuninya. Mengenai tidak ikutnya dalam perang Badr adalah karena dia harus merawat putri Rasulullah Saw (istri Utsman) yang sakit, kemudian Rasulullah Saw bersabda kepadanya, "Kamu mendapat pahala dan jatah rampasan perang sama dengan orang yang turut dalam perang Badr". Mengenai tidak hadirnya Utsman dalam Baiat Ridhwan adalah karena Rasulullah Saw tidak mendapatkan orang yang lebih dihormati oleh orang-orang kafir Mekkah daripada Utsman, sehingga beliau mengutusnya sebagai delegasi kaum muslimin untuk bertemu dengan orang-orang kafir Mekkah, dan berlangsungnya Baiat Ridhwn adalah ketika Utsman sudah berangkat ke Mekkah, maka Rasulullah Saw mengangkat tangan kanan beliau sendiri sambil bersabda, "Ini adalah tangan Utsman". Beliau menepukkan tangan kanannya pada tangan kirinya sambil bersabda, "Ini adalah Baiat Utsman"". Abdullah bin Umar berkata kepada laki-laki dari Mesir tersebut: "Camkan penjelasanku ini".


BAB 4: KEUTAMAAN ALI BIN ABU THALIB RA

1533[Bukhari 3705] Diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib ra bahwa suatu ketika tangan Fathimah sakit karena banyak bekerja, kemudian ada seorang tawanan perang dibawa Nabi Saw. Mendengar itu Fathimah datang ke tempat Nabi Saw (meminta tawanan tersebut sebagai pembantunya), tetapi dia tidak berjumpa dengan Nabi Saw dan hanya berjumpa dengan Aisyah ra. Fathimah memberitahukan maksud kedatangannya kepada Aisyah. Ketika Nabi Saw datang, Aisyah memberitahukan kepada beliau tentang kedatangan Fathimah dengan maksud tersebut. Kata Ali: Maka Nabi Saw mendatangi kami ketika kami sedang berbaring. Saya ingin bangun, tetapi Nabi Saw bersabda, "Tidak usah bangun (hai Ali dan Fathimah)". Nabi Saw duduk di antara kami berdua, sehingga saya merasakan dinginnya dua telapak kaki beliau yang menyentuh dada saya. Beliau bersabda, "Maukah kalian aku ajari sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta dari aku? Apabila kalian akan pergi tidur, bacalah Allaahu Akbar 34 kali, Subhanallaah 33 kali, dan Alhamdulillaah 33 kali. Demikian itu lebih baik bagi kamu daripada memperoleh seorang pembantu".


BAB 5: KEUTAMAAN KERABAT RASULULLAH SAW

1534[Bukhari 3720] Diriwayatkan dari Abdullah bin Zubair ra, dia berkata: Pada saat perang Ahzab, aku dan Umar bin Abu Salamah ditempatkan di dekat orang-orang perempuan, kemudian aku melihat ayahku, Zubair meninggalkan pasukan dengan naik kuda menuju Bani Quraizhah dua atau tiga kali. Ketika aku pulang dari peperangan, aku bertanya kepada ayah, "Mengapa aku melihat Anda meninggalkan pasukan?" Zubair balik bertanya, "Kau melihatku, anakku?" Aku menjawab, "Ya". Ayahku berkata, "Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang sudi memata-matai Bani Quraizhah kemudian memberiku informasi tentang mereka?" Maka aku berangkat menuju Bani Quraizhah, dan ketika aku kembali, Rasulullah Saw bersabda kepadaku dengan ungkapan sumpah/pujian kepadaku yang mana beliau menyebutkan kedua orang tua beliau, "Ayah dan ibuku aku korbankan untukmu".


BAB 6: TENTANG THALHAH BIN UBAIDILLAH RA

1535[Bukhari 3722,3723] Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah ra, dia berkata: Pada suatu pertempuran yang diikuti oleh Rasulullah Saw, tidak ada orang yang tetap setia melindungi beliau kecuali saya (Thalhah bin Ubaidillah ra) dan Sa'd.

1536[Bukhari 3724] Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah ra bahwa dia melindungi Nabi Saw dengan tangannya pada suatu pertempuran, kemudian tangannya terkena senjata musuh sehingga lumpuh.


BAB 7: KEUTAMAAN SA'D BIN ABU WAQQASH AZ-ZUHRI RA

1537[Bukhari 3725] Diriwayatkan dari Sa'd bin Abu Waqqash Az-Zuhri ra, dia berkata: Pada saat perang Uhud, saya mendengar Rasulullah Saw menyebut kedua orang tuanya dalam sumpah/pujian terhadap saya dengan ungkapan, "Ayah dan ibuku aku kubankan untukmu".


BAB 8: TENTANG BESAN DAN MENANTU NABI SAW

1538[Bukhari 3729] Diriwayatkan dari Al-Miswar bin Makhramah ra, dia berkata: Ali ra (suami Fathimah) pernah meminang putri Abu Jahl, kemudian Fahimah mendengar hal itu, lalu dia menemui Rasulullah Saw dan berkata, "Umat Anda mengatakan bahwa Anda tidak akan memarahi putri Anda, dan sekarang ini Ali akan menikahi putri Abu Jahl". Kata Al-Miswar: Kemudian Rasulullah Saw beranjak dari tempatnya, lalu aku mendengar beliau membaca tasyahud di dalam khotbahnya lalu bersabda, "Amma ba'du. Aku memang telah menikahkan Abul Ash bin Rabi (dengan salah seorang putriku sebelum dia masuk Islam), kemudian dia membenarkanku (dengan masuk Islam). Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari diriku dan aku tidak suka Ali menyakiti hatinya. Demi Allah, putri Rasulullah Saw tidak boleh berkumpul dengan putri musuh Allah (dimadu) pada seorang suami". Mendengar itu Ali membatalkan pinangannya.

1539[Bukhari 3729] Diriwayatkan dari Al-Miswar bin Makhramah ra, dia berkata: Saya mendengar Nabi Saw menyebutkan seorang menantu laki-lakinya dari Bani Abdi Syams. Beliau memujinya dalam hal perbesanannya. Beliau bersabda, "Dia berkata kepadaku lalu membenarkanku dan dia berjanji kepadaku kemudian memenuhi janjinya (dengan masuk Islam)".


BAB 9: KEUTAMAAN ZAID BIN HARITSAH, BUDAK NABI SAW YANG TELAH DIMERDEKAKAN

1540[Bukhari 3730] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: Nabi Saw pernah memberangkatkan pasukan dengan menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglimanya, kemudian ada sejumlah orang mengkritik penunjukan Usamah sebagai panglima itu, lalu Nabi Saw bersabda, "Jika kalian mengkritik penunjukan Usamah sebagai panglima berarti kalian juga mengkritik penunjukan ayahnya sebagai panglima pada masa sebelumnya. Demi Allah, Zaid memang layak memimpin pasukan, dan dia tergolong orang yang paling aku cintai, sedangkan anaknya ini (Usamah) juga termasuk orang yang paling aku cintai setelah dia (Zaid)".

1541[Bukhari 3731] Diriwayatkan dari Aisyah ra dia berkata: Seorang Qa'if (ahli dalam garis keturunan) masuk ke rumahku ketika Nabi Saw berada di rumahku pula. Saat itu pula Usamah bin Zaid dan Zaid bin Haritsah sedang berbaring, kemudian Qa'if tersebut, "Telapak kaki dua orang ini menunjukkan kesamaan garis keturunan". Nabi Saw merasa senang sekaligus kagum dengan ucapan itu, kemudian beliau memberitahukannya kepada Aisyah.


BAB 10: TENTANG USAMAH BIN ZAID RA

1542[Bukhari 3733] Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa seorang perempuan dari suku Makhzum mencuri, kemudian orang-orang berkata: "Siapa yang bersedia melaporkan hal ini kepada Nabi Saw?" Tidak seorangpun bersedia melaporkannya kepada Nabi Saw. Akhirnya Usamah bin Zaid lah yang melaporkan hal itu kepada Nabi Saw, lalu beliau bersabda: "Dulu apabila di kalangan Bani Israil terdapat orang yang terhormat mencuri, mereka membiarkannya (tanpa hukuman), tetapi jika ada orang kelas bawah di antara mereka mencuri, mereka mengeksekusinya dengan potong tangan. Seandainya Fathimah mencuri pasti akan aku potong tangannya".

1543[Bukhari 3735] Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ra bahwa Nabi Saw pernah menggendongnya bersama Al-Hasan, kemudian beliau berdoa: "Ya Allah, cintailah dua anak ini, karena aku juga mencintai keduanya".


BAB 11: KEUTAMAAN ABDULLAH BIN UMAR RA

1544[Bukhari 3740,3741] Diriwayatkan dari Hafshah ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda kepadanya: "Abdullah bin Umar adalah orang yang saleh".


BAB 12: KEUTAMAAN AMMAR DAN HUDZAIFAH RA

1545[Bukhari 3743] Diriwayatkan dari Abu Darda ra bahwa seorang anak muda duduk di sampingnya di suatu masjid di Syam, kemudian anak itu berkata: "Ya Allah, berilah aku seorang teman karib yang saleh". Abu Darda ra bertanya: "Dari mana asalmu?" Dia menjawab: "Dari Kufah". Anak laki-laki itu bertanya: "Bukankah di tengah kalian ada orang yang mengetahui rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain yang diterimanya dari Nabi Saw, yaitu Hudzaifah?" Abu Darda menjawab: "Ya, benar". Anak laki-laki itu bertanya lagi: "Bukankah di tengah kalian ada orang yang diselamatkan oleh Allah dari setan berkat doa Nabi Saw, yaitu Ammar?" Abu Darda menjawab: "Ya benar". Anak laki-laki itu bertanya lagi: "Bukankah di tengah kalian ada orang yang setia dalam menyiapkan siwak dan bantal Nabi Saw, yaitu Abdullah bin Mas'ud?" Abu Darda menjawab: "Ya, benar". Anak laki-laki itu bertanya lagi: "Bagaimana Abdullah bin Mas'ud membaca surah: Wallaili idzaa yaghsyaa, wannahaari idzaa tajallaa (Demi malam apabila menutupi cahaya siang. Demi siang ketika terang benderang. QS Al-Lail:1-2)?" Kata Abu Darda: "Orang ini selalu mendekatiku untuk meminta agar aku menjelaskan apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah Saw".


BAB 13: KEUTAMAAN ABU UBAIDAH BIN AL-JARRAH RA

1546[Bukhari 3744] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra dia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda, "Setiap umat memiliki seorang yang dipercaya, dan orang yang dipercaya di kalangan kita, wahai umatku, adalah Abu Ubaidah dan Al-Jarrah".


BAB 14: KEUTAMAAN AL-HASAN DAN AL-HUSAIN RA

1547[Bukhari 3749] Diriwayatkan dari Al-Barra ra, dia berkata: Saya melihat Nabi Saw sedang menggendong Al-Hasan bin Ali di atas pundak beliau sambil berdoa, "Ya Allah, aku mencintai Al-Hasan, maka cintailah dia".

1548[Bukhari 3752] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, dia berkata: Tidak ada orang yang paling mirip dengan Nabi Saw kecuali Al-Hasan bin Ali ra.

1549[Bukhari 3753] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa ketika dia ditanya mengenai orang yang sedang berihram membunuh lalat, dia menjawab: "Mengapa orang-orang Irak bertanya tentang pembunuhan lalat, padahal mereka telah membunuh Al-Hasan, cucu Rasulullah Saw (putra Fathimah binti Rasulullah Saw), sedangkan Rasulullah Saw sendiri juga pernah bersabda, "Al-Hasan dan Al-Husain adalah buah hatiku di dunia ini".


BAB 15: TENTANG ABDULLAH BIN ABBAS

1550[Bukhari 3756] Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra dia berkata: Nabi Saw pernah meemluk saya dalam dekapan dada beliau sambil berdoa, "Ya Allah, ajarkan al-hikmah kepadanya".

1551[Bukhari 3756] Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra, melalui jalur lain dengan bunyi seperti itu (nomor hadis 1550), dengan perbedaan pada doa Nabi Saw sebagai berikut: "Ya Allah, ajarkan Al-Quran kepadanya".


BAB 16: KEUTAMAAN KHALID BIN WALID

1552[Bukhari 3757] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa Nabi Saw menyampaikan berita duka atas kematian Zaid, Ja'far dan Abdullah bin Rawahah (yang gugur sebagai syuhada secara berurutan dalam memimpin suatu peperangan) sebagaimana hadis terdahulu (nomor:639), kemudian Rasulullah Saw bersabda: "Akhirnya bendera pasukan muslimin diambil alih oleh pedang Allah (yakni Khalid bin Walid) sehingga Allah memberi mereka kemenangan".


BAB 17: KEUTAMAAN SALIM, BUDAK ABU HUDZAIFAH RA YANG TELAH DIMERDEKAKAN

1553[Bukhari 3758] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Pelajarilah pembacaan Al-Quran dari empat orang: 1) Abdullah bin Mas'ud --- maka Abdullah bin Amr segera belajar membaca Al-Quran kepada Abdullah bin Mas''d ---. 2) Salim, budak Abu Hudzaifah yang telah dimerdekakan. 3) Ubay bin Ka'b. 4) Mu'adz bin Jabal".


BAB 18: KEUTAMAAN AISYAH RA

1554[Bukhari 3773] Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa dia pernah meminjam kalung Asma' binti Abu Bakr ra, kemudian hilang, lalu Rasulullah Saw meminta tolong beberapa orang sahabatnya untuk mencari kalung tersebut. Ketika waktu solat tiba, mereka mengerjakan solat tanpa berwudu (karena tidak ada air). Setelah mereka bertemu Nabi Saw mereka mengadukan hal tersebut kepada beliau, maka turunlah ayat tayammum. Hadis lain yang berkaitan dengan ini sudah disebutkan di muka pada kitab tayammum, nomor hadis: 223.


BAB 19: KEUTAMAAN ORANG-ORANG ANSHAR

1555[Bukhari 3777] Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Perang Bu'ats (antara dua suku besar di Madinah --- suku Aus dan suku Khazraj ---) adalah keuntungan yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya, sehingga ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, suku-suku di sana terpecah belah dan banyak pemimpin mereka sudah terbunuh atau terluka. Itulah keuntungan yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya, sehingga orang-orang Madinah mudah masuk Islam.


BAB 20: SABDA NABI SAW: "KALAU TAK ADA HIJRAH TENTU AKU MENJADI SEORANG ANSHAR

1556[Bukhari 3779] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda: "Seandainya tidak ada hijrah tentu aku menjadi seorang Anshar".


BAB 21: MENCINTAI ORANG-ORANG ANSHAR TERMASUK BAGIAN DARI IMAN

1557[Bukhari -] Diriwayatkan dari Al-Barra ra, dia berkata: Nabi Saw pernah bersabda, "Tidak ada yang mencintai orang-orang Anshar kecuali seorang mukmin, dan tidak ada yang membenci orang-orang Anshar kecuali seorang munafik. Siapa yang mencintai orang-orang Anshar akan dicintai oleh Allah, dan siapa yang membenci orang-orang Anshar akan dibenci oleh Allah".


BAB 22: SABDA NABI SAW KEPADA ORANG-ORANG ANSHAR: "KALIAN ADALAH ORANG-ORANG YANG PALING AKU CINTAI"

1558[Bukhari 3785] Diriwayatkan dari Anas ra, dia berkata: Nabi Saw melihat para wanita dan anak-anak dari kaum Anshar yang berhadapan dengan beliau ketika mereka datang dari walimah pernikahan, kemudian Nabi Saw berdiri tegak sambil bersabda, "Sungguh kalian adalah orang-orang yang paling aku cintai". Beliau mengulangi sabda itu tiga kali.

1559[Bukhari 3786] Diriwayatkan dari Anas ra, melalui jalur lain, dia berkata: Seorang perempuan dari kaum Anshar bersama anak laki-lakinya yang masih kecil mendatangi Rasulullah Saw, kemudian Rasulullah Saw bersabda dua kali kepadanya, "Demi Allah yang menggenggam jiwaku, kalian adalah orang-orang yang paling aku cintai".

1560[Bukhari 3787] Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam ra, dia berkata: Orang-orang Anshar mengatakan, "Ya Rasulullah, setiap Nabi memiliki pengikut, dan kami adalah pengikut Anda, maka berdoalah kepada Allah agar Allah menjadikan para pengikut kami sebagai bagian dari kami". Maka Nabi Saw berdoa sesuai permintaan mereka.


BAB 23: KEUTAMAAN SUKU-SUKU ANSHAR

1561[Bukhari 3791] Diriwayatkan dari Humaid ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda: "Suku Anshar yang terbaik adalah Bani An-Najjar, Bani Abdul Asyhal, Bani Al-Harits, dan Bani Sa'idah, serta kebaikan itu meliputi seluruh suku Anshar". Sa'd bin Ubadah berkata kepada Nabi Saw: "Ya Rasulullah, suku-suku Anshar diberi urutan kebaikan dan kami diletakkan pada urutan terakhir?" Rasulullah Saw bersabda: "Apakah belum cukup jika kalian tergolong dalam kelompok terbaik?"


BAB 24: SABDA NABI SAW KEPADA ORANG-ORANG ANSHAR: "BERSABARLAH HINGGA KALIAN BERTEMU DENGANKU DI AL-HAUDH"

1562[Bukhari 3792] Diriwayatkan dari Usaid bin Hudhair ra bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata: "Ya Rasulullah, mengapa Anda tidak menunjuk saya sebagai pejabat/petugas seperti Anda telah menunjuk si Fulan itu?" Rasulullah Saw bersabda: "Sepeninggalku nanti kalian akan menghadapi suatu pilihan, maka bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di Al-Haudh (pada hari kiamat)".

1563[Bukhari 3793] Diriwayatkan dari Anas ra, melalui jalur lain seperti hadis tersebut (nomor:1562) dengan bunyi akhirnya sebagai berikut: ".... Dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah Al-Haudh".


BAB 25: FIRMAN ALLAH AZZA WA JALLA: "DAN MEREKA (ORANG-ORANG ANSHAR) MENGUTAMAKAN (ORANG-ORANG MUHAJIRIN) DI ATAS DIRI MEREKA SENDIRI, MESKIPUN MEREKA DALAM KEKURANGAN". (AL-QURAN, SURAH AL-HASYR:9)

1564[Bukhari 3798] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa seorang laki-laki menemui Nabi Saw, kemudian beliau mengutus seseorang untuk menanyakan makanan kepada istri-istri beliau untuk menjamu tamu tersebut. Mereka mengatakan: "Kami hanya memiliki air". Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabat: "Siapa yang sudi menjamu tamu ini?" Seorang laki-laki dari kaum Anshar menjawab: "Saya". Dia kemudian berangkat bersama tamu itu untuk menemui istrinya dan berkata: "Hormatilah tamu Rasulullah Saw ini". Istrinya menjawab: "Kita tidak memiliki apa-apa kecuali makanan untuk anak-anak kita". Si suami itu berkata kepada istrinya: "Siapkan makanan itu untuk tamu Rasulullah Saw dan nyalakan lampu, lalu tidurkan anak-anak apabila mereka minta makan malam". Si istri kemudian menyiapkan makanan tersebut dan menyalakan lampu serta menidurkan anak-anaknya. Berikutnya dia mendekati lampu seolah hendak memperbaikinya, tetapi lalu memadamkannya. Ketika lampu padam suami dan istri tersebut menunjukkan kepada tamu mereka bahwa mereka berdua sedang makan, padahal sebenarnya mereka semalaman sangat merasa lapar dan tidak makan apa-apa (karena makanan mereka diberikan kepada tamu tersebut). Ketika pagi tiba si suami tersebut menemui Rasulullah Saw, kemudian beliau bersabda: "Tadi malam Allah tertawa dan kagum terhadap amal baik kalian berdua. Maka Allah menurunkan ayat (yang artinya): Dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin) di atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kekurangan. Dan siapa yang dihindarkan dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Quran, surah Al-Hasyr:9)".


BAB 26: SABDA NABI SAW: "TERIMALAH ORANG-ORANG ANSHAR YANG BERBUAT BAIK DAN AMPUNILAH MEREKA YANG BERBUAT SALAH"

1565[Bukhari 3799] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, dia berkata: Suatu ketika Abu Bakr dan Al-Abbas ra melewati orang-orang Anshar yang sedang duduk bersama sambil menangis, lalu Abu Bakr atau Al-Abbas bertanya, "Mengapa kalian menangis?" Mereka menjawab, "kami teringat ketika Nabi Saw duduk bersama kami". Maka Abu Bakr atau Al-Abbas ra menemui Nabi Saw untuk memberitahukan hal itu, kemudian Nabi Saw keluar dengan mengikatkan kain burd di kepalanya, lalu Nabi Saw naik mimbar yang sesudah itu beliau tidak menaikinya lagi. Setelah memuji dan mengagungkan Allah, Nabi Saw bersabda, "Aku berpesan kepada kalian, hormatilah orang-orang Anshar, karena mereka itu sahabat dekatku dan mencela mereka sama dengan mencelaku. Mereka telah melaksanakan kewajiban mereka, sehingga mereka tetap memperoleh hak mereka. Terimalah mereka yang berbuat baik dan ampunilah mereka yang berbuat salah".

1566[Bukhari 3800] Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra, dia berkata: Suatu ketika Rasulullah Saw keluar dengan menyelimutkan kain di atas pundaknya dan kepalanya diikat dengan kain yang diminyaki, kemudian beliau duduk di atas mimbar. sEtelah memuji dan mengagungkan Allah, beliau bersabda: "Amma ba'du, saudara-saudara, umat manusia akan bertambah banyak, dan orang-orang Anshar semakin sedikit, sehingga orang-orang Anshar akan seperti garam di dalam makanan. Siapa di antara kalian nanti menjadi penguasa yang bisa saja berbuat untuk menyengsarakan atau memberikan manfaat kepada orang lain, maka terimalah orang-orang Anshar yang berbuat baik, dan maafkan mereka yang berbuat salah".


BAB 27: KEUTAMAAN SA'D BIN MU'ADZ RA

1567[Bukhari 3803] Diriwayatkan dari Jabir ra: Saya pernah mendengar Nabi Saw bersabda, "Arasy bergoncang karena kematian Sa'd bin Mu'adz"


BAB 28: KEUTAMAAN UBAY BIN KA'B RA

1568[Bukhari 3809] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra dia berkata: Nabi Saw pernah bersabda kepada Ubay, "Sesungguhnya Allah menyuruhku membacakan kepadamu ayat: Lam yakunilladziina kafaruu min ahlil kitaabi.... (orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidaklah.... QS. Al-Bayyinah:1)". Ubay bertanya, "Allah menyebut nama saya?" Rasulullah Saw menjawab, "Ya". Mendengar itu Ubay menangis.


BAB 29: KEUTAMAAN ZAID BIN TSABIT RA

1569[Bukhari 3810] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, dia berkata: Pada masa Nabi Saw ada empat orang yang menghimpun Al-Quran (sebelum dibukukan dalam satu mushhaf). Mereka semuanya dari orang-orang Anshar, yaitu: Ubaiy, Mu'adz bin Jabal, Abu Zaid, dan Zaid bin Tsabit . Anas ditanya: "Siapa Abu Zaid?" Anas menjawab: "Salah seorang saudara ayah saya".


BAB 30: KEUTAMAAN ABU THALHAH RA

1570[Bukhari 3811] Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, dia berkata: Pada saat perang Uhud, pasukan muslimin melarikan diri dan membiarkan Nabi Saw sendirian kecuali Abu Thalhah yang tetap melindungi Nabi Saw dengan perisai dari kulit yang ia miliki. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang amat tangguh dan ketika itu ia mematahkan dua atau tiga busur karena kerasnya anak panah. Rasulullah Saw bersbda: "Serahkan anak panah yang kau bawa itu kepada Abu Thalhah". Nabi Saw berdiri untuk mengamati pasukan musuh kemudian Abu Thalhah berkata: "Wahai Nabi, biarlah ayah ibuku berkurban untuk anda, janganlah Anda berdiri agar tidak terkena sasaran anak panah musuh. Biarlah leherku saja yang aku kurbankan untuk menyelamatkan Anda". Kata Anas ra: Ketika itu aku melihat Aisyah binti Abu Bakr dan Ummu Sulaim mondar mandir mengangkut air minum di dalam kantong kulit untuk pasukan muslimin. Keduanya menyingsingkan pakaian pada kaki mereka sehingga aku melihat perhiasan pada bagian kaki mereka. Pada saat itu pedang Abu Thalhah terjatuh dari tangannya dua atau tiga kali karena sangat lelah.


BAB 31: KEUTAMAAN ABDULLAH BIN SALAM RA

1571[Bukhari 3812] Diriwayatkan dari Sa'd bin Abi Waqqash ra, dia berkata: Saya tidak pernah mendengar Nabi Saw bersabda kepada seseorang yang berjalan di muka bumi bahwa dia termasuk penghuni surga, kecuali kepada Abdullah bin Salam. Ayat berikut turun berkaitan dengan Abdullah bin Salam, "Dan seorang dari Bani Israil (Abdullah bin Salam) bersaksi atas kebenaran Al-Quran sebagai kitab yang diturunkan oleh Allah". (Al-Quran, surah Al-Ahqaaf:10).

1572[Bukhari 3813] Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam ra, dia berkata: Pada masa Nabi Saw saya pernah bermimpi, kemudian saya memberitahukannya kepada Nabi Saw. Saya bermimpi berada di dalam suatu taman --- Abdullah bin Salam menggambarkan betapa luas dan hijau taman tersebut ---, di tengah taman terdapat pilar besi, bagian bawahnya berada di bumi dan bagian atasnya berada di langit. Di puncaknya terdapat pegangan. Dikatakan kepada saya, "Panjatlah". Saya menjawab, "Saya tidak bisa". Kemudian saya didatangi oleh seorang penolong yang mengangkat pakaian saya dari arah belakang, sehingga saya berhasil memanjat hingga tiba di puncak taman dan berpegang pada pegangan di puncak tersebut. Dikatakan kepada saya, "Pegang erat-erat". Ketika tangan saya menggenggam pegangan tersebut, tiba-tiba saya terjaga. Berikutnya saya menuturkan mimpi itu kepada Nabi Saw, kemudian beliau bersabda, "Taman tersebut adalah taman Islam, tiang tersebut adalah tiang Islam, dan pegangan tersebut adalah pegangan yang kukuh dan kuat, maka kamu akan tetap berpegang pada Islam hingga kamu mati".


BAB 32: PERNIKAHAN NABI SAW DENGAN KHADIJAH RA DAN KEUTAMAAN KHADIJAH

1573[Bukhari 3818] Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Kecemburuanku terhadap istri-istri Nabi Saw tidaklah sebesar kecemburuanku terhadap Khadijah, meskipun aku tidak pernah melihatnya, karena Nabi Saw seringkali menyebut-nyebut namanya. Setiap kali Nabi Saw menyembelih kambing dan menyayat-nyayatnya, beliau selalu menyisihkannya untuk diberikan kepada teman-teman Khadijah. Aku seringkali berkata kepada Nabi Saw, "Seolah-olah di dunia ini tidak ada perempuan lain kecuali Khadijah". Beliau bersabda, "Kebaikan Khadijah sungguh amat banyak dan darinya aku memperoleh anak".

1574[Bukhari 3820] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Jibril mendatangi Nabi Saw dan berkata, "Ya Rasulullah, inilah Khadijah, dia telah datang dengan membawa masakan atau makanan atau minuman. Jika dia menemui Anda, ucapkan salam kepadanya dari Tuhannya dan dari aku, serta sampaikan kepadanya kabar gembira bahwa dia memperoleh rumah di surga yang terbuat dari qashab (ruas-ruas seperti pipa dari emas, mutiara, dan sebagainya), tanpa ada kebisingan maupun kepenatan".

1575[Bukhari 3821] Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Suatu ketika Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, meminta izin masuk ke rumah Rasulullah Saw. Suara Halah yang mirip dengan suara Khadijah membuat Rasulullah Saw teringat bagaimana Khadijah meminta izin memasuki rumah ketika dia masih hidup, sehingga hal itu membuat Rasulullah Saw terkesima, lalu beliau bersabda, "Ya Allah, ternyata kamu Halah". Kata Aisyah: Saya merasa cemburu, kemudian saya berkata kasar kepada Nabi Saw, "Mengapa Anda selalu menyebut-nyebut seorang perempuan Quraisy yang sudah tua (Khadijah) yang bagian dalam pipinya memerah dan telah lama meninggal? Bukankah Allah telah memberi Anda pengganti yang lebih baik daripada Khadijah?"


BAB 33: TENTANG HIND BIN UTBAH

1576[Bukhari 3825] Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Hind bin Utbah menemui Rasulullah Saw dan berkata, "Ya Rasulullah, dulu sebelum saya masuk Islam, tidak ada keluarga di muka bumi yang paling saya inginkan menjadi hina selain keluarga Anda, tetapi sekarang setelah saya masuk Islam tidak ada keluarga di muka bumi yang paling saya inginkan tetap menjadi terhormat selain keluarga Anda". Rasulullah Saw bersabda, "Begitu pula aku kepadamu. Demi Allah yang menggenggam jiwaku, ...". (lanjutannya seperti hadis terdahulu).


BAB 34: PERISTIWA YANG BERKAITAN DENGAN ZAID BIN AMR BIN NUFAIL RA.

1577[Bukhari 3826] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Nabi Saw bertemu dengan Zaid bin Amr bin Nufail di dasar lembah Baldah sebelum wahyu (mengenai sembelihan) turun kepada Nabi Saw. Beliau diberi hidangan makanan, namun beliau enggan memakannya. Kata Zaid bin Amr: "Saya tidak mau memakan daging hewan yang kalian sembelih dengan menyebut nama-nama berhala kalian, karena saya hanya memakan daging hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah". Zaid bin Amr mencela cara orang-orang kafir Quraisy dalam menyembelih hewan dan berkata: "Allah-lah yang telah menciptakan kambing dan menurunkan hujan dari langit serta menumbuhkan rerumputan di bumi untuk minuman dan makanan kambing, tetapi mengapa kalian menyembelih kambing dengan menyebut nama selain Allah?" Zaid menolak penyembelihan seperti itu dan mengagungkan nama Allah.


BAB 35: MASA-MASA JAHILIYAH

1578[Bukhari 3836] Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda: "Perhatikanlah, siapa yang hendak bersumpah, janganlah bersumpah kecuali dengan nama Allah". Biasanya orang-orang Quraisy bersumpah dengan nama ayah dan nenek moyang mereka, lalu Nabi Saw bersabda: "Janganlah bersumpah dengan nama ayah dan moyang kalian".

1579[Bukhari 3841] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Nabi Saw pernah bersabda, "Bait puisi yang paling benar yang pernah dilantunkan oleh seorang penyair adalah puisi Labid (yang artinya): Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil". Dengan bait puisi ini hampir saja Umayyah bin Abi Ash-Shalt masuk Islam


BAB 36: TERUTUSNYA NABI MUHAMMAD SAW BIN ABDULLAH BIN ABDUL MUTTHALIB, BIN HASYIM, BIN ABDI MANAF BIN QUSHAIY, BIN KILAB, BIN MURRAH, BIN KA'B, BIN LU'AIY, BIN GHALIB, BIN FIHR, BIN MALIK, BIN AN-NADHR, BIN KINANAH, BIN KHUZAIMAH, BIN MUDRIKAH, BIN ILYAS, BIN MUDHAR, BIN NIZAR, BIN MA'D BIN ADNAN

1580[Bukhari 3851] Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra, dia berkata: Wahyu pertama kali diturunkan kepada Rasulullah Saw ketika beliau berusia 40 tahun. Beliau menetap di Mekkah (setelah menerima wahyu pertama) selama 13 tahun, kemudian beliau diperintah berhijrah, maka berhijrahlah beliau ke Madinah, lalu beliau menetap di Madinah selama 10 tahun sampai wafat.


BAB 37: PENYIKSAAN YANG DIDERITA NABI SAW DAN PARA SAHABATNYA OLEH ORANG-ORANG MUSYRIK DI MEKKAH

1581[Bukhari 3856] Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra bahwa ketika dia ditanya mengenai penyiksaan yang paling berat oleh orang-orang musyrik terhadap Nabi Saw, dia berkata: Suatu ketika Nabi Saw melaksanakan solat di Hijr Ka'bah, tiba-tiba Uqbah bin Abu Mu'aith datang, kemudian dia menjeratkan pakaiannya keras-keras pada leher Nabi Saw, maka datanglah Abu Bakr menerkam pundak Uqbah dan menyingkirkannya dari Nabi Saw. Abu Bakr berkata, "Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengucapkan, "Tuhanku adalah Allah?""[footnote 1]

[footnote 1]: Keterangan: Lihat kembali hadis di muka, nomor 178


BAB 38: TENTANG JIN

1582[Bukhari 3859] Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra bahwa dia ditanya: "Siapa yang meberitahu Nabi Saw mengenai sekelompok jin yang mendengarkan bacaan Al-Quran pada suatu malam?" Dia menjawab: "Sebatang pohon memberitahu Nabi Saw mengenai sekelompok jin tersebut".

1583[Bukhari 3860] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa dia biasanya membawakan Nabi Saw satu belanga air untuk keperluan wudu dan istinja (sebagaimana hadis terdahulu yang lengkapnya sebagai berikut: Suatu ketika Abu Hurairah mengikuti Nabi Saw kemudian beliau bertanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Aku Abu Hurairah". Kata Nabi Saw, "Ambilkan aku batu (untuk bersuci setelah buang hajat karena tidak ada air), jangan tulang atau kotoran hewan". Kata Abu Hurairah, "Maka aku membawa sejumlah batu untuk Nabi Saw dengan aku himpun pada ujung pakaianku, kemudian aku menjauh. Setelah Nabi Saw bersuci, aku berjalan bersama beliau dan bertanya, "Ada apa dengan tulang dan tahi binatang?" Nabi Saw menjawab, "Tulang dan kotoran itu mengandung makanan untuk jin")

1584[Bukhari 3860] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, seperti hadis di muka dengan tambahan sabda Nabi Saw sebagai berikut: "Aku didatangi oleh delegasi jin dari Nashibin yang berparas sangat tampan. Mereka meminta perbekalan makanan kepadaku, kemudian aku berdoa kepada Allah agar tidak ada tulang atau kotoran hewan yang mereka temui melainkan mereka dapatkan makanan di dalamnya".


BAB 39: HIJRAH KE HABASYAH/ETHIOPIA

1585[Bukhari 3874] Diriwayatkan dari Ummu Khalid binti Khalid ra, dia berkata: Saya datang (ke Madinah) dari Habasyah ketika saya masih gadis kecil, kemudian Rasulullah Saw memakaikan kepada saya sehelai kain bergambar, lalu beliau menghapus gambar tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil mengatakan, "Bagus, Bagus!"


BAB 40: KISAH ABU THALIB

1586[Bukhari 3885] Diriwayatkan dari Al-Abbas bin Abdul Mutthalib ra (paman Nabi Saw) bahwa dia bertanya kepada Nabi Saw: "Mengapa kamu tidak menolong pamanmu (Abu Thalib), padahal dia telah membentengimu da memarahi (orang-orang kafir Quraisy) untuk membelamu?" Nabi Saw menjawab: "Dia berada di bagian neraka yang dangkal. Seandainya tanpa pertolonganku, dia akan berada di bagian neraka yang paling dasar".

1587[Bukhari 3885] Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri ra bahwa dia mendengar Nabi Saw bersabda ketika paman beliau (Abu Thalib) disebut-sebut di dekat beliau oleh seseorang: "Mudah-mudahan syafaatku kelak pada hari kiamat akan berguna baginya, sehingga dia akan ditepatkan di bagian neraka yang dangkal yang apinya hanya sebatas mata kakinya yang membuat otaknya mendidih".


BAB 41: PERISTIWA ISRA

1588[Bukhari 3886] Diriwayatkan dari Jbir bin Abdullah ra bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Ketika orang-orang Quraisy mendustakanku perihal peristiwa Isra' yang aku jalani, aku berdiri di Hijr, lalu Allah menampakkan Baitul Maqdis kepadaku, sehingga sambil melihatnya aku bisa menjelaskan ciri-cirinya kepada mereka".


BAB 42: MI'RAJ

1589[Bukhari 3887] Diriwayatkan dari Malik bin Sha'sha'ah ra bahwa Nabi Saw mengisahkan kepada mereka perihal malam Isra Mi'raj yang beliau jalani: "Ketika aku berbaring di Al-Hathim atau di Al-Hijr, tiba-tiba aku didatangi oleh seseorang kemudian dia membelah tubuhku pada bagian antara ini dan ini --- kata Perawi: Antara kerongkongan hingga perut sebatas pinggang, lalu dia mengeluarkan hatiku, kemudian sebuah nampan emas penuh dengan iman dibawa kehadapanku, lalu hatiku dicuci, kemudian diisi penuh dengan iman, kemudian dikembalikan lagi. Berikutnya seekor hewan yang lebih kecil dari Bighal dan lebih besar dari keledai dibawa kehadapanku --- Kata perawi: Hewan tersebut adalah Buraq, yang jangkauan langkahnya amat jauh sekali. Aku dinaikkan di atas hewan itu, kemudian Jibril membawaku pergi hingga tiba di langit yang paling rendah. Jibril minta dibukakan pintu, kemudian dia ditanya, "Siapa itu?" Dia menjawab "Jibril". Dia ditanya lagi, "Siapa yang bersamamu?" Dia menjawab, "Muhammad". Dia ditanya lagi, "Muhammad dipanggil (untuk Mi'raj)?" Dia menjawab, "Ya". Dikatakan, "Selamat datang, Muhammad! Sekarang telah tiba kunjungan yang terbaik". Maka pintu langit yang pertama dibuka. Ketika aku memasuki langit pertama, di situ ada Adam. Kata Jibril kepadaku, "Ini ayahmu, Adam, ucapkan salam kepadanya". Akupun mengucapkan salam kepada Adam, kemudian dia menjawab salamku. Kata Adam kepadaku, "Selamat datang, putra yang saleh dan Nabi yang saleh". Berikutnya Jibril mengajakku naik ke langit kedua. Jibril minta dibukakan pintu, lalu dia ditanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Jibril". Dia ditanya lagi, "Siapa yang bersamamu?" Dia menjawab, "Muhammad". Dia ditanya lagi, "Muhammad dipanggil (untuk Mi'raj)?" Dia menjawab, "Ya". Dikatakan, "Selamat datang, Muhammad! Kini kunjungan yang terbaik telah tiba". Maka pintu langit kedua dibuka. Ketika aku memasuki langit kedua, di situ ada Yahya dan Isa. Keduanya adalah saudara sepupu dari jalur ibu. Kata Jibril kepadaku, "Ini Yahya dan Isa, ucapkan aslam kepada mereka!" Maka akupun mengucapkan salam kepada mereka, lalu mereka menjawab salamku. Mereka mengatakan, "Selamat datang, saudara yang saleh dan Nabi yang saleh". Berikutnya Jibril mengajakku naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan pintu, dia ditanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Jibril". Dia ditanya lagi, "Siapa yagn bersamamu?" Dia menjawab, "Muhammad". Dia ditanya lagi, "Muhammad dipanggil (untuk Mi'raj)?" Dia menjawab, "Ya". Dikatakan, "Selamat datang, Muhammad! Kini kunjungan yang terbaik telah tiba". Maka pintu langit yang ketiga dibuka. Ketika aku memasukinya, di situ aku bertemu Yusuf. Kata Jibril kepadaku, "Ini Yusuf, ucapkan salam kepadanya". Akupun mengucapkan salam kepadanya, lalu dia menjawab salamku. Kata Yusuf kepadaku, "Selamat datang, saudara yang saleh dan Nabi yang saleh". Berikutnya Jibril mengajakku naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan pintu, lalu ia ditanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Jibril". Dia ditanya lagi, "Siapa yang bersamamu?" Dia menjawab, "Muhammad". Dia ditanya lagi, "Muhammad dipanggil (untuk Mi'raj)?" Dia menjawab, "Ya". Dikatakan, "Selamat datang, Muhammad! Kini kunjungan yang terbaik telah tiba". Maka pintu langit yang keempat dibuka. Ketika aku memasukinya, di situ aku bertemu dengan Idris. Kata Jibril kepadaku, "Ini Idris, ucapkan salam kepadanya". Akupun mengucapkan salam kepadanya, lalu dia menjawab salamku. Kata Idris kepadaku, "Selamat datang, saudara yang saleh dan Nabi yang saleh". Berikutnya Jibril mengajakku naik ke langit ke lima. Jibril minta dibukakan pintu, kemudian dia ditanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Jibril". Dia ditanya lagi, "Siapa yang bersamamu?" Dia menjawab, "Muhammad". Dia ditanya lagi, "Muhammad dipanggil (untuk Mi'raj)?" Dia menjawab, "Ya". Lalu dikatakan, "Selamat datang, Muhammad! Kini kunjungan yang terbaik telah tiba". Ketika aku memasuki langit kelima, di situ aku bertemu dengan Harun. Kata Jibril kepadaku, "Ini Harun, ucapkan salam kepadanya". Akupun mengucapkan salam kepadanya, lalu dia menjawab slaamku". Kata Harun, "Selamat datang, saudara yang saleh dan Nabi yang saleh". Berikutnya Jibril mengajakku naik ke langit keenam. Jibril minta dibukakan pintu, lalu dia ditanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Jibril". Dia ditanya lagi, "Siapa yang bersamamu?" Dia menjawab, "Muhammad". Dia ditanya lagi, "Muhammad dipanggil (untuk Mi'raj)?" Dia menjawab, "Ya". Penjaga langit keenam berkata, "Selamat datang, Muhammad! Sekarang kunjungan yang terbaik telah tiba". Ketika aku memasuki langit keenam, disitu aku bertemu dengan Musa. Kata Jibril kepadaku, "Ini Musa, ucapkan salam kepadanya". Akupun mengucapkan salam kepadanya, kemudian dia menjawab salamku. Kata Musa, "Selamat datang, saudara yang saleh dan Nabi yan saleh". Ketika aku meninggalkan Musa, dia menangis, kemudian dia ditanya, "Mengapa kamu menangis?" Musa menjawab, "Karena ada seorang Rasul yang diutus sesudah aku dengan pengikutnya yang masuk surga jauh lebih banyak daripada pengikutku yang masuk surga". Berikutnya Jibril mengajakku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan pintu, lalu dia ditanya, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Jibril". Dia ditanya lagi, "Siapa yang bersamamu?" Dia menjawab, "Muhammad". Dia ditanya lagi, "Muhammad dipanggil (untuk Mi'raj)?" Dia menjawab, "Ya". Penjaga langit ketujuh berkata, "Selamat datang, Muhammad! Kini kunjungan yang terbaik telah tiba". Ketika aku memasuki langit ketujuh, di situ ada Ibrahim. Kata Jibril kepadaku, "Ini ayahmu, Ibrahim, ucapkan salam kepadanya". Akupun mengucapkan salam kepadanya, kemudian dia menjawab salamku. Kata Ibrahim kepadaku, "Selamat datang, putra yang saleh dan Nabi yang saleh". Setelah itu Sidratul Muntaha diperlihatkan kepadaku. Aku melihat pepohonan di Sidratul Muntaha rindang dan asri bagai pilar-pilar berjajar di Taman Hajar (dekat Madinah) dan dedaunannya selebar telinga gajarh. Kata Jibril kepadaku, "Ini sidratul Muntaha". Di situ terdapat empat sungai, masing-masing adalah dua sungai yang tersembunyi dan dua sungai yang tampak jelas. Aku bertanya kepada Jibril, "Apa dua sungai itu, masing-masing?" Jibril menjawab, "Dua sungai yang tersembunyi itu adalah dua sungai surga, sedangkan dua sungai yang tampak jelas itu adalah sungai Nil dan Furat/Eufrat". Setelah itu Al-Baitul Makmur diperlihatkan kepadaku yang setiap hari dikunjungi oleh 70.000 malaikat. Kemudian segelas khamer, segelas susu, dan segelas madu, dibawa ke hadapanku, lalu aku memilih susu. Kata Jibril kepadaku, "Susu itu maksudnya adalah kesucian diri (agama Islam) yang kamu ikuti beserta umatmu". Kemudian aku menerima kewajiban solat sebanyak 50 kali dalam setiap sehari semalam. Ketika aku kembali, aku bertemu Musa, kemudian dia bertanya kepadaku, "Engkau mendapat perintah apa?" Aku menjawab, "Aku mendapat perintah solat 50 kali dalam setiap sehari semalam". Kata Musa, "Sungguh umatmu tidak akan mampu melaksanakan solat 50 kali dalam setiap sehari semalam. Demi Allah, aku sudah mencobakannya kepada orang-orang sebelum kamu, juga sudah aku cobakan kepada orang-orang pilihan dari Bani Israil (ternyata banyak yang tidak mampu melaksanakannya). Kembalilah kepada Tuhanmu untuk meminta keringanan demi umatmu". Kata Nabi Muhammad Saw: "Maka aku menghadap lagi kepada Allah untuk meminta pengurangan, kemudian Allah memberiku pengurangan 10 waktu dalam sehari semalam (sehingga tinggal 40). Ketika aku kembali, aku bertemu Musa lagi, kemudian dia mengatakan seperti apa yang telah dikatakan sebelumnya. Akupun menghadap lagi kepada Allah untuk meminta pengurangan, lalu Allah memberiku pengurangan 10 waktu (sehingga tinggal 30). Ketika aku kembali, aku bertemu Musa lagi, kemudian dia mengatakan seperti apa yang telah ia katakan sebelumnya, lalu aku menghadap lagi kepada Allah untuk meminta pengurangan, maka Allah memberiku pengurangan 10 lagi (sehingga tinggal 20). Ketika aku kembali, aku bertemu Musa lagi, lalu dia mengatakan seperti apa yang telah dia katakan sebelumnya. Akupun menghadap lagi kepada Allah untuk meminta pengurangan, lalu Allah memberiku pengurangan 10 lagi sehingga perintah yang aku terima tinggal 10 kali solat dalam setiap sehari semalam. Ketika aku kembali, aku bertemu lagi dengan Musa, lalu dia mengatakan seperti apa yang telah ia katakan sebelumnya. Akupun menghadap lagi kepada Allah untuk meminta pengurangan, lalu Allah memberiku pengurangan 5 lagi, sehingga perintah solat yang aku terima tinggal 5 kali dalam setiap sehari semalam. Ketika aku kembali, aku bertemu lagi dengan Musa, kemudian dia bertanya kepadaku, "Tinggal lima kali solat dalam setiap sehari semalam". Kata Musa, "Sungguh umatmu tidak mampu melaksanakan solat lima kali dalam setiap sehari semalam, karena aku sudah mencobakannya kepada orang-orang sebelum kamu, juga kepada orang-orang pilihan dari Bani Israil (ternyata banyak yang tidak mampu melaksanakannya). Kembalilah kepada Tuhanmu untuk meminta keringanan demi umatmu". Nabi Muhammad Saw menjawab, "Aku sudah minta pengurangan berkali-kali kepada Tuhanku, sehingga aku meraa malu. Dengan perintah lima kali solat dalam setiap sehari semalam ini aku merasa lega dan aku berserah diri kepada Allah". Ketika aku meninggalkan Musa, aku mendengar suara, "Aku sudah memberikan perintah-Ku, dan Aku sudah mengurangi beban hamba-hamba-Ku"".
Hadis mengenai Isra yang diriwayatkan Anas juga terdapat pada kita solat (nomor hadis 228) yang berbeda dengan hadis ini, tetapi saling melengkapi.

1590[Bukhari 3888] Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra, mengenai firman Allah Swt: "Dan Kami tidaklah menjadikan ru'ya yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia". (Al-Quran, surah Al-Israa:60). Menurut Abdullah bin Abbas: Kata ru'ya pada ayat tersebut maksudnya adalah "penglihatan nyata" (bukan mimpi) yang dialami Rasulullah Saw pada saat beliau di isra' kan ke Baitul Maqdis. (Menurut mufassir lain: Kata ru'ya tersebut maknanya adalah mimpi yang diperlihatkan kepada Rasulullah Saw mengenai perang Badr sebelum perang ini terjadi). Mengenai firman Allah Azza wa Jalla sebagai lanjutan ayat tersebut: ".... Dan pohon terkutuk yang disebutkan di dalam Al-Quran". (Al-Quran, surah Al-Israa:60). Abdullah bin Abbas berpendapat bahwa pohon itu adalah pohon Zaqqum di neraka.


BAB 43: PERNIKAHAN NABI SAW DENGAN AISYAH, KEDATANGAN AISYAH DI MADINAH DAN PELAKSANAAN PERNIKAHAN DENGAN AISYAH

1591[Bukhari 3894] Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Perjanjian pernikahan Nabi Saw dengan aku ketika aku berumur 6 tahun. Kami tiba di Madinah, dan kami singgah di tempat Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Aku jatuh sakit sehingga rambutku rontok. Setelah aku sembuh, rambutku tumbuh kembali. Ketika aku sedang bermain ayunan (bandulan) bersama teman-temanku, aku didatangi oleh ibuku, Ummu Ruman. Dia memanggilku, kemudian aku mendekatinya. Aku tidak tahu apa maksud ibuku memanggilku. Dia menuntunku dengan memegang tanganku, hingga dia menghentikanku di depan pintu suatu rumah. Ketika itu napasku terasa sesak. Ketika napasku lancar kembali, ibuku mengambil sedikit air untuk diusapkannya pada wajahku dan kepalaku. Ibuku membawaku masuk ke suatu rumah yang di situ sejumlah perempuan dari kaum Anshar sudah berkumpul. Mereka mengatakan, "Semoga Allah melimpahkan kebaikan, keberkahan, dan kemujuran". Ibuku menyerahkanku kepada mereka, kemudian mereka meriasku. Pada pagi setengah siang itu tidak ada yang mengejutkanku kecuali munculnya Rasulullah Saw (sebagai pengantin laki-laki), kemudian aku diserahkan kepada beliau, dan ketika itu aku berumur sembilan tahun.

1592[Bukhari 3895] Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Nabi Saw bersabda kepadanya: "Kamu diperlihatkan kepadaku dua kali dalam mimpiku. Aku melihatmu di atas sehelai sutera, kemudian dikatakan kepadaku, "Ini istrimu, bukalah cadarnya". Ternyata perempuan tersebut adalah kamu, lalu aku berkata, "Jika mimpi ini dari Allah niscaya Allah akan melaksanakannya"".


BAB 44: HIJRAH NABI SAW DAN PARA SAHABATNYA KE MADINAH

1593[Bukhari 3905,3906] Diriwayatkan dari Aisyah ra, istri Nabi Saw, dia berkata: Aku tidak meikirkan kedua orangtuaku sama sekali kecuali mereka memeluk agama Islam. Tidak ada hari yang kami lalui kecuali kami di datangi oleh Rasulullah Saw setiap pagi dan sore. Ketika kaum muslimin diuji (dengan adanya kekerasan oleh orang-orang kafir Quraisy), Abu Bakr pergi berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Sesampainya di Bark Al-Ghimad, dia ditemui oleh Ibnu Daghinah, pemimpin suku Qarah. Ibnu Dhaghinah bertanya, "Mau pergi ke mana, hai Abu Bakr?" Abu Bakr menjawab, "Aku diusir oleh masyarakatku, maka aku ingin mengembara ke Habasyah dan menyembah Tuhanku". Ibnu Daghinah berkata, "Hai Abu Bakr, orang seperti kamu tidak patut meninggalkan negeri asalnya dan tidak patut diusir, karena kamu gemar menyantuni orang-orang miskin, menyambung tali kekerabatan, menanggung beban orang yang menderita, menjamu tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa musibah, karena itu aku akan melindungimu. Kembalilah dan sembahlah Tuhanmu di negerimu sendiri". Abu Bakr kembali dengan disertai oleh Ibnu Daghinah. Pada petang harinya, Ibnu Daghinah menemui para tokoh Quraisy dan berkata kepada mereka, "Orang seperti Abu Bakr tidak patut meninggalkan negerinya, juga tidak pantas diusir. Apakah kalian akan mengusir orang yang gemar menyantuni orang miskin, menyambung hubungan kerabat, menanggung beban orang yang menderita, menjamu tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa musibah?" Para tokoh Quraisy tidak menyangkal pembelaan Ibnu Daghinah terhadap Abu Bakr. Mereka berkata kepada Ibnu Daghinah, "Biarlah Abu Bakr menyembah Tuhannya di rumahnya sendiri dengan membaca apa saja yang dia sukai, tetapi dia tidak boleh mengganggu kami dengan ibadahnya dan dia tidak boleh mempertontonkan ibadahnya kepada orang lain, karena kami khawatir dia akan mempengaruhi istri-istri dan anak-anak kami". Ibnu Daghinah memberitahukan hal itu kepada Abu Bakr, lalu Abu Bakr menyembah Tuhannya di rumahnya sendiri, tidak memperlihatkan solatnya kepada orang lain, dan tidak membaca Al-Quran kecuali di rumahnya. Berikutnya Abu Bakr berkeinginan untuk membangun Masjid, maka masjid pun dibangun di halaman rumahnya dan di situlah dia melaksanakan solat dan membaca Al-Quran. Para wanita musyrik dan anak-anak mereka mulai mendekat kepada Abu Bakr dengan mengagumi dan memperhatikannya. Abu Bakr adalah orang yang berhati lembut dan tidak mampu menahan air matanya ketika membaca Al-Quran. Demikian itu membuat para tokoh kafir Quraisy terkejut, lalu mereka mengirim utusan kepada Ibnu Daghinah, kemudian dia mendatangi mereka. Kata mereka kepada Ibnu Daghinah, "Kami membiarkan Abu Bakr menyembah Tuhannya di rumahnya sendiri adalah atas perlindunganmu, tetapi sekarang Abu Bakr telah melanggar syarat yang telah kami tentukan dengan membangun masjid di halaman rumahnya dan memperlihatkan solat serta memperdengarkan bacaan Al-Quran kepada orang lain. Kami khawatir Abu Bakr akan mempengaruhi para wanita dan anak-anak kami, karena itu hentikanlah dia. Jika dia mau menyembah Tuhannya di rumahnya sendiri, silahkan! Tetapi jika dia tidak mau begitu dan hanya memilih terang-terangan dalam menyembah Tuhannya, maka mintalah dia untuk lepas dari perlindunganmu. Kami tidak ingin mengingkari perjanjian denganmu dan kami tidak mengakui hak Abu Bakr untuk beribadah dengan terang-terangan". Kata Aisyah: Kemudian Ibnu Daghinah menemui Abu Bakr dan berkata, "Kau sudah tahu perjanjian yang aku buat dengan orang-orang kafir Quraisy untuk melindungimu. Sekarang kau boleh beribadah di rumahmu sendiri, jika tidak maka kau akan lepas dari perlindunganku, karena aku tidak ingin orang-orang Arab mendengar bahwa aku mengingkari perjanjian yang aku buat dengan seseorang". Abu Bakr mengatakan, "Aku serahkan kembali kepadamu perlindungan yang kau berikan kepadaku dan sekarang aku berserah diri kepada perlindungan Allah Azza wa Jalla". Ketika itu Nabi Saw berada di Mekkah. Beliau bersabda kepada kaum muslimin, "Negeri tujuan hijrah kalian sudah diperlihatkan kepadaku, yaitu negeri yang banyak pohon kurma antara dua gunung berbatu". Kemudian sejumlah orang berhijrah ke Madinah, dan orang-orang yang telah berhijrah ke Habasyah juga berhijrah semuanya ke Madinah. Abu Bakr bersiap-siap untuk berhijrah ke Madinah tetapi Rasulullah Saw bersabda kepadanya, "Tunggulah untuk sementara waktu, karena aku juga berharap diizinkan berhijrah". Abu Bakr bertanya kepada Rasulullah Saw, "Biarlah ayahku aku kurbankan untuk Anda, apakah Anda juga berharap diizinkan berhijrah?" Rasulullah Saw menjawab, "Ya". Maka Abu Bakr menangguhkan keberangkatan hijrahnya agar nantinya ia bisa menemani Rasulullah Saw dalam berhijrah. Selama empat bulan Abu Bakr memberi makan dua ekor onta miliknya dengan daun pohon Samur yang sengaja ditebang untuk itu. Aisyah ra berkata: Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk di rumah Abu Bakr ra pada tengah hari yang amat terik, seseorang berkata, "Itu dia Rasulullah Saw mendatangi kita dengan menyelubungkan kain pada kepalanya pada saat yang tidak seperti biasanya (tumben)". Mendengar itu, Abu Bakr ra berkata, "Biarlah aku kurbankan ayahku dan ibuku untuk Rasulullah Saw, Demi Allah, Rasulullah Saw tidaklah datang pada saat seperti ini kecuali ada sesuatu yang penting". Rasulullah Saw minta izin masuk, kemudian beliau dipersilahkan. Ketika Rasululah Saw berada di dalam rumah Abu Bakr ra, beliau bersabda kepadanya, "Suruh keluar orang-orang yang berada di rumah ini". Abu Bakr ra berkata, "Di sini tidak ada siapapun kecuali keluarga Anda sendiri, ya Rasulullah. Biarlah ayahku aku kurbankan untuk Anda". Rasulullah Saw bersabda "aku sudah diizinkan oleh Allah untuk berhijrah". Abu Bakr ra bertanya, "Biarlah ayahku aku kurbankan untuk Anda, apakah aku akan menemani Anda, ya Rasulullah?" Rasulullah Saw menjawab, "Ya". Abu Bakr ra berkata, "Biarlah aku kurbankan ayahku dan ibuku untuk Anda, silahkan ambil salah satu dari dua ekor ontaku ini". Rasulullah Saw menjawab, "Aku mau, tetapi harus aku bayar harganya". Aisyah ra berkata: Secepat mungkin kami mempersiapkan perbekalan untuk Rasulullah Saw dan Abu Bakr. Kami membuatkan mereka makanan yang diletakkan di dalam kantong kulit. Asma membelah ikat pinggangnya menjadi dua, kemudian dia mengikatkannya pada ujung atas kantong kulit tersebut, sehingga dia dijuluki Dzatun nithaqain (perempuan yang memiliki ikat pinggang yang dibelah dua). Kata Aisyah ra: Kemudian Rasulullah Saw dan Abu Bakr sampai di duatu gua di gunung Tsur. Keduanya tinggal di gua itu selama tiga malam. Abdullah bin Abu Bakr tinggal bersama Rasulullah Saw dan Abu Bakr pada malam hari di gua itu. Ketika itu Abdullah bin Abu Bakr masih remaja, cerdas dan cerdik. Sebelum fajar, Abdullah bin Abu Bakr sudah meninggalkan Rasulullah Saw dan Abu Bakr, sehingga ketika pagi dia sudah berada di Mekkah di tengah orang-orang kafir Quraisy seolah-olah dia semalaman berada di Mekkah. Abdullah bin Abu Bakr selalu mengingat apa yang ia dengar dari orang-orang kafir Quraisy mengenai rencana mereka untuk membunuh Rasulullah Saw dan Abu Bakr, lalu ia memberitahukannya kepada Rasulullah Saw dan Abu Bakr pada malam hari. Ketika hari mulai gelap, Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakr yang telah dimerdekakan, membawa biri-biri ke gunung Tsur agar air susunya yang masih segar bisa diminum oleh Rasulullah Saw dan Abu Bakr, yaitu air susu biri-biri mereka dihangatkan dengan batu panas, sehingga mereka berdua selalu merasa segar semalaman. Sebelum fajar, Amir bin Fuhairah sudah membawa pulang biri-biri tersebut. Dia melakukan demikian itu setiap malam selama tiga malam. Rasulullah Saw dan Abu Bakr menyewa seorang laki-laki dari Bani Adiy, bagian dari Bani Abdullah bin Adiy, sebagai penunjuk jalan yang mahir. Laki-laki tersebut memiliki persekutuan dengan keluarga Al-Ash bin Wa'il As-Sahmi dan beragama/berkeyakinan seperti orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah Saw dan Abu Bakr mempercayai laki-laki tersebut dan menyerahkan dua ekor onta mereka kepadanya dengan janji bahwa ia akan membawa onta tersebut ke gua Tsur setelah lewat tiga malam. Akhirnya laki-laki tersebut benar-benar membawa dua ekor onta itu kepada Rasulullah Saw dan Abu Bakr pada pagi hari setelah menyertai Rasulullah Saw dan Abu Bakr, begitu pula laki-laki sebagai penunjuk jalan tadi. Penunjuk jalan itu mengajak mereka menyusuri jalan pantai. Suraqah bin Malik bin Ju'syum Al-Mudliji berkata, "Beberapa orang utusan dari orang-orang kafir Quraisy menemui kami dengan menjanjikan upah bagi siapa saja yang berhasil membunuh atau menangkap Muhammad dan Abu Bakr, masing-masing sebesar uang darah (100 ekor onta)". Kata Suraqah selanjutnya, "Ketika aku sedang duduk bersama orang-orang Bani Mudlij, sukuku, tiba-tiba ada seorang dari mereka datang menemui kami dan berdiri di hadapan kami, sementara kami tetap duduk, kemudian dia berkata, "Wahai Suraqah, baru saja aku melihat beberapa orang menyusuri pantai yang aku kira Muhammad dan para sahabatnya". Kata Suraqah, "Meskipun aku yakin bahwa mereka adalah Muhammad dan para sahabatnya, tetapi aku katakan kepada orang yang menemuiku, "Mereka yang kau lihat itu bukan Muhammad dan para sahabatnya, melainkan si fulan dan si fulan, yang tadi kami melihat mereka berangkat". Kata Suraqah, "Aku tetap berada di kelompok itu beberapa saat, kemudian aku beranjak pulang. Aku diperintahkan budak perempuanku untuk mengambil kudaku yang berada di balik bukit agar ia persiapkan untukku. Aku mengambil tombakku di atas rumah, lalu aku membawanya dengan aku rendahkan ujungnya yang tajam ke dekat tanah. Aku dekati kudaku dan aku menaikinya, lalu aku memacunya, sehingga aku menyusul Rasulullah Saw dan orang-orang yang menyertainya. Ketika aku mendekati Rasulullah Saw dan para sahabatnya, kudaku tergelincir dan akupun jatuh tersungkur. Aku bangun dan tanganku meraih kantong anak panah, lalu aku menentukan pilihan dengan mempergunakan anak panah sebagai alat untuk mengundi "Apakah aku harus mencelakai mereka ataukah tidak?" Ternyata hasil undian yang muncul adalah pilihan yang tidak aku sukai, yaitu tidak mencelakai mereka. Aku menaiki kudaku lagi dan aku tinggalkan pengundian. Ketika aku mendekati Rasulullah Saw lagi, aku mendengarnya membaca Al-Quran tanpa menoleh, sementara Abu Bakr sering-sering menoleh ke belakang, tiba-tiba dua kaki depan kudaku terpuruk ke dalam tanah hingga batas lututnya sehingga akupun tersungkur. Aku berupaya membangkitkan kudaku dengan susah payah dan hampir saja tidak bisa bangkit, namun akhirnya kudaku bisa berdiri, tiba-tiba tanah bekas terperosoknya kudaku mengepulkan debu bagai asap ke angkasa, lalu akupun menentukan pilihan dengan undian anak panah ternyata hasil undian yang muncul adalah apa yang tidak aku sukai, yaitu aku tidak boleh mencelakai mereka. Kemudian aku berteriak memanggil mereka bahwa mereka dalam keadaan aman, lalu mereka berhenti. Aku menaiki kudaku lagi sehingga aku menghampiri mereka --- ketika aku mendapatkan halangan untuk menghampiri mereka, aku berkata dalam hati bahwa Rasulullah Saw akan memperoleh kemenangan---, kemudian aku katakan kepada Rasulullah Saw, "Orang-orang kafir Quraisy telah menentukan upah sebanyak 100 ekor onta bagi orang yang berhasil membunuh atau menangkapmu"". Kata Suraqah, "Aku juga memberitahukan kepada Rasulullah dan sahabatnya mengenai rencana orang-orang kafir Quraisy. Aku menawarkan perbekalan dan sejumlah harta kepada Rasulullah Saw dan sahabatnya tetapi mereka menolak. Permintaan Rasulullah Saw dan Abu Bakr kepadaku tiada lain hanyalah, "Rahasiakan kami". Aku meminta Rasulullah Saw menuliskan pernyataan pemberian keamanan untukku, kemudian beliau menyuruh Amir bin Fuhair menuliskannya di lembaran kulit. Setelah itu Rasulullah Saw melanjutkan perjalanan". Rasulullah Saw bertemu dengan Az-Zubair di tengah kafilah para pedagang muslimin yang kembali dari Syam. Az-Zubair memberikan pakaian putih kepada Rasulullah Saw dan Abu Bakr, sementara itu orang-orang muslim di Madinah telah mendengar keberangkatan Rasulullah Saw dari Mekkah, sehingga mereka setiap pagi menunggu di Al-Harrah. Mereka menunggu-nunggu kehadiran Rasulullah Saw sehingga terik matahari membuat mereka pulang. Pada suatu hari mereka terpaksa pulang setelah mereka menunggu kehadiran Rasulullah Saw dalam waktu yang lama. Ketika mereka sampai di rumah masing-masing, seorang Yahudi naik ke atap rumahnya untuk melihat sesuatu, maka dia melihat Rasulullah Saw beserta para sahabatnya dengan pakaian putih-putih bagai fatamorgana, sehingg aorang Yahudi tersebut tidak dapat menahan teriakannya sekeras mungkin, "Hai orang-orang Arab, inilah orang besar yang kalian tunggu-tunggu". Mendengar itu kaum muslimin segera mengambil senjata kemudian mereka menemui Rasulullah saw di tengah Al-Harrah. Rasulullah saw berjalan bersama mereka ke arah kanan sehingga beliau singgah di Bani Amr bin Auf. Peristiwa tersebut adalah pada hari Senin, bulan Rabi'ul Awwal. Abu Bakr berdiri di hadapan orang banyak, sementara Rasulullah saw duduk dengan diam. Orang-orang Anshar yang belum mengenal Rasulullah saw datang, kemudian mereka menyalami Abu Bakr (yang mereka kira Rasulullah saw). Ketika terik matahari menyengat Rasulullah saw, Abu Bakr menaungi beliau dengan kain, maka semenjak itu orang-orang mulai mengenal Rasulullah saw. Rasulullah saw tinggal di keluarga Bani Amr bin Auf selama 10 hari dan mendirikan masjid Quba yang didirikan atas dasar takwa, kemudian Rasulullah saw melaksanakan solat di masjid tersebut. Berikutnya Rasulullah saw menaiki ontanya dengan diiringi para sahabatnya, sehingga onta tersebut berlutut di suatu tempat yang disitu nantinya didirikan masjid Rasulullah saw (masjid Nabawi) di Madinah. Ketika itu Rasulullah saw melaksanakan solat di situ bersama kaum muslimin. Tempat tersebut adalah tempat untuk pengeringan kurma milik Suhail dan Sahl, dua anak yatim yang diasuh oleh As'ad bin Zurarah. Ketika onta Rasulullah saw berlutut di tempat itu, beliau bersabda, "Insya Allah, inilah tempat yang dikehendaki Allah". Rasulullah saw memanggil Suhail dan Sahl untuk menanyakan harga tanah tempat pengeringan kurma tersebut untuk beliau pergunakan mendirikan masjid. Suhail dan Sahl berkata, "Ya Rasulullah, kami menghibahkan tanah ini kepada Anda". Rasulullah saw tidak mau menerimanya sebagai hibah, sehingga beliau membelinya dari dua anak tersebut, kemudian beliau mendirikan masjid di situ. Dalam mendirikan masjid tersebut, Rasulullah Saw bersama kaum muslimin mengangkut batu. Sambil mengangkut batu, Rasulullah Saw melantunkan bait-bait puisi (yang artinya), "Beban ini lebih baik daripada beban Khaibar, karena beban ini bagi Tuhan kami lebih baik dan lebih suci. Ya Allah, balasan baik yang sejati adalah kelak di akhirat, maka berikan kasih sayang-Mu kepada orang-orang Ansyar dan Muhajirin"".

1594[Bukhari 3909] Diriwayatkan dari Asma ra bahwa ia mengandung Abdullah bin Zubair ra. Kata Asma: Ketika aku hamil tua, aku pergi berhijrah ke Madinah. Ketika aku sampai di Quba, aku melahirkan Abdullah bin Zubair, lalu aku membawanya kepada Rasulullah Saw dan aku meletakkannya di atas pangkuan beliau. Rasulullah Saw meminta sebuah kurma, kemudian beliau mengunyahnya, lalu beliau suapkan sebagiannya ke dalam mulut Abdullah bin Zubair, sehingga yang pertama kali masuk ke dalam mulut Abdullah bin Zubair adalah air liur Rasulullah Saw. Beliau mengoleskan kunyahan kurma ke langit-langit mulut Abdullah bin Zubair dan memohon agar Allah memberkahinya. Abdullah bin Zubair adalah bayi pertama yang lahir di tanah Islam (Madinah).

1595[Bukhari 3922] Diriwayatkan dari Abu Bakr ra, di berkata: Ketika saya bersama Rasulullah Saw di gua Tsur, saya mendongak ke atas, tiba-tiba saya melihat telapak kaki orang-orang yang mengejar kami. Saya berkata, "Ya Rasulullah, kalau salah seorang dari mereka melihat ke bawah, tentu dia melihat kita". Rasulullah Saw bersabda, "Diamlah, hai Abu Bakr, kita berdua dan Allah yang ketiga".


BAB 45: KEDATANGAN NABI SAW DAN PARA SAHABATNYA DI MADINAH

1596[Bukhari 3925] Diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib ra, dia berkata: Orang yang pertama kali tiba di Madinah (dalam berhijrah) adalah Mush'ab bin Umair dn Abdullah bin Ummi Maktum. Keduanya mengajarkan Al-Quran kepada orang-orang Madinah. Orang yang tiba di Madinah berikutnya adalah Bilal, Sa'd, dan Ammar bin Yasir. Berikutnya adalah Umar bin Al-Khattab dalam rombongan yang berjumlah 20 orang dari para sahabat Nabi Saw, baru kemudian Nabi Saw tiba di Madinah. Saya tidak pernah melihat kegembiraan penduduk Madinah seperti kegembiraan mereka ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, sehingga budak-budak perempuanpun turut berkata, "Rasulullah Saw telah tiba". Ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, saya sudah membaca dan menghafal surah Al-A'laa sekaligus surah-surah Al-Mufashshal yang lain.


BAB 46: TINGGALNYA ORANG-ORANG MUHAJIRIN DI MEKKAH SEUSAI MELAKSANAKAN IBADAH HAJI

1597[Bukhari 3933] Diriwayatkan dari Al-Ala' bin Al-Hadhrami ra, dia berkata: Rsulullah Saw pernah bersabda, "Orang-orang Muhajirin diizinkan tinggal di Mekkah selama tiga hari setelah keluar dari Mina (seusai menunaikan ibadah haji)".


BAB 47: KUNJUNGAN ORANG-ORANG YAHUDI KEPADA NABI SAW KETIKA BELIAU TIBA DI MADINAH

1598[Bukhari 3941] Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda: "Jika ada 10 pemimpin orang-orang Yahudi beriman kepadaku, niscaya semua orang Yahudi akan beriman kepadaku".

Jumat, 06 Maret 2020

KATA – KATA BIJAK SYEH ABDUL QADIR AL JAILANI


1. “Makhluk dan Khaliq tidak berkumpul. Dunia dan akhirat juga tidaklah berkumpul dalam satu hati. Ada kalanya makhluk dan ada kalanya Khaliq di hatimu. Ada kalanya dunia dan ada kalanya akhirat. Ada kalanya terbayang bahawa makhluk ada di lahirmu sedang Khaliq di hatimu. Dunia di tanganmu sedang akhirat di hatimu. Adapun di dalam hati, kedua-duanya tidak berkumpul. Lihatlah kepada jiwamu dan pilihkan untuknya, jika ia menghendaki dunia maka keluarlah akhirat dari hatimu. Jika ia menghendaki akhirat maka keluarkanlah dunia dari hatimu. Jika ia menghendaki Tuhan maka keluarkanlah dunia, akhirat dan apa yg selainNya dari hati.
Selagi di dalam hatimu masih ada sebesar semut yang selain Allah, maka kamu tidak melihat dekatnya Allah di sisimu, dan tidak bangkit kejinakan dan ketenangan kepada-Nya.
Selagi di dalam hatimu masih ada dunia sebesar semut kecil, maka kamu tidak melihat akhirat di hadapanmu. Dan selagi di dalam hatimu terdapat akhirat sebesar semut kecil, maka kamu tidak melihat dekat kepada Allah.”
2. “Orang yang zuhud itu berpuasa dari makan dan minum, sedangkan orang yang arif itu berpuasa tanpa diketahui.
Puasa orang zuhud itu siang hari, sedangkan puasa orang arif itu siang dan malam. Ia tidak berbuka dari puasanya sehingga ia bertemu Tuhannya.
Orang yang arif itu puasa tahunan, selalu demam. Puasa tahunan dengan hatinya, demam dengan rahsianya, dan ia tahu bahawa sembuhnya itu adalah dengan bertemu Tuhannya dan dekat kepada-Nya.”
3. Lelah itu selama kamu berkemahuan untuk menuju dan berjalan kepada-Nya. Apabila kamu telah sampai dan habis jarak perjalananmu dan kamu berada di dalam rumah dekat dengan Tuhanmu maka hilanglah beban itu.
Maka tetaplah terhibur dengan-Nya yg berada di dalam hatimu, dan kamu akan bertambah sehingga kamu mengambil sesuatu di samping-Nya. Mulanya kamu kecil kemudian menjadi besar. Apabila kamu sudah besar maka hati penuh dengan Allah, maka tidak ada jalan dan tidak ada sudut bagi hati untuk selain-Nya.
Jika kamu ingin sampai kepada ini, maka jadilah kamu mengikut perintah-Nya, mencegah segala larangan-Nya, berserah diri kepada-Nya dalam kebaikan dan keburukan, kaya dan fakir, mulia dan hina.”
4. ”Wahai anak! Apabila kamu tidak memiliki Islam maka kamu tidak memiliki iman. Dan bila kamu tidak memiliki iman maka kamu tidak memiliki keyakinan. Apabila kamu tidak memiliki keyakinan maka kamu tidak mempunyai makrifat dan pengetahuan-Nya. Ini adalah bertingkat-tingkat. Apabila Islam telah benar bagimu, maka penyerahan itu telah benar bagimu. Jadilah kamu orang yang berserah diri kepada Allah dalam seluruh keadaanmu disertai dengan memelihara batas-batas syarak dan menepati syarak itu.
Serahkan kepada-Nya akan hak jiwamu dan selainmu. Perbaikilah kesopanan terhadap-Nya dan makhluk-Nya. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap dirimu dan orang lain kerana perbuatan aniaya itu kegelapan di dunia dan di akhirat.”
5. “Janganlah kamu melihat amalmu, walaupun anggota-anggota badanmu bergerak untuk amal dan hatimu beserta Zat yang mana amal itu ditujukan kepada Allah. Apabila hal ini sempurna bagimu maka hatimu menjumpai mata yang dapat melihat. Makna menjadi bentuk, yang ghaib menjadi hadir, berita menjadi terang. Hamba apabila baik kerana Allah maka Dia bersamanya dalam semua keadaan. Dia mengubahnya, menggantikannya dan memindahkannya dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.
Seluruhnya menjadi bererti, seluruhnya menjadi keimanan, keyakinan, pengetahuan, pendekatan dan kesaksian. Seluruhnya menjadi siang tanpa malam, sinar tanpa gelap, jernih tanpa keruh, hati tanpa nafas, rahsia tanpa kasar, fana tanpa wujud, ghaib tanpa hadir.
Seluruhnya menjadi kitab ghaib dari mereka dan dirinya. Seluruh ini pangkalnya adalah jinak kepada Allah sehingga kejinakan ini sempurna antara kamu dan Allah.”
6. “Ubahlah kerana-Nya sesuatu yang Dia benci dari nafsumu sehingga Dia memberimu apa yang kamu sukai. Jalan itu luas. Berdirilah dan teguhlah. Beramallah dan jangan lalai selama tali dengan dua hujungnya di tanganmu. Mohonlah pertolongan kepada-Nya atas sesuatu yang menjadikan kebaikanmu. Kenderailah nafsumu, jika tidak, ia akan mengenderai kamu. Nafsu itu tukang memerintahkan keburukan di dunia dan tukang mencela di akhirat.”
7. “Bersopanlah yang baik terhadap-Nya dan terhadap makhluk-Nya. Sedikitlah berbicara yang tidak berguna bagimu.”
8. ”Orang-orang yang meninggalkan amal dalam keadaan berilmu, ilmu itu akan melupakanmu dan berkahnya hilang dari hatimu. Wahai orang-orang yang bodoh! seandainya kamu mengetahui-Nya nescaya kamu mengetahui siksaan-siksaan-Nya.”
9. “Syirik itu ada pada lahir dan batin. Syirik lahir ialah menyembah berhala sedangkan syirik batin ialah berpegang kepada makhluk dan memandang mereka dapat memberi kemudaratan dan manfaat.”
10. “Wahai anak! Janganlah kamu menuntut sesuatu kepada seseorang. Dan jika kamu mampu untuk memberi dan tidak mengambil maka lakukanlah. Kamu melayani dan kamu tidak minta dilayani oleh orang lain maka lakukanlah.”
11. Suatu kaum itu disibukkan untuk memberi kepada makhluk. Mereka mengambil dan memberi. Mengambil dari kurnia dan rahmat Allah dan memberikan kepada fakir dan miskin yang ditimpa kesempitan.
Mereka tunaikan hutang orang yang berhutang yang tiada kuasa untuk melunaskannya.
Mereka adalah raja-raja, bukan raja-raja dunia kerana raja-raja dunia itu mengambil dan tidak memberi, sedangkan kaum itu mengutamakan orang lain dan menunggu-nunggu orang yang tidak hadir.
Mereka mengambil dari tangan Allah bukan tangan makhluk. Usaha anggota badan mereka untuk makhluk, sedangkan usaha hati mereka untuk mereka sendiri. Mereka berinfak (memberikan harta) itu kerana Allah bukan kerana hawa nafsu, bukan kerana pujian dan sanjungan.
Tinggalkan kaum yang sombong terhadap Allah dan terhadap makhluk, kerana sombong itu termasuk sifat orang-orang pemaksa yang mana mereka dibenamkan ke dalam neraka jahanam. Apabila kamu marah kepada Allah maka kamu sombong kepada-Nya.
12. “Jadikanlah akhiratmu itu sebagai modalmu, dan jadikan dunia itu sebagai keuntunganmu. Gunakanlah seluruh waktumu untuk menghasilkan akhiratmu. Lalu apabila dari waktumu itu ada sedikit yang tersisa, maka gunakanlah untuk berusaha dalam urusan duniamu dan mencari penghidupanmu.
13. “Nasihatilah dirimu terlebih dahulu barulah kemudian menasihati orang lain. Kamu harus lebih memperhatikan nasib dirimu. Janganlah kamu menoleh pada orang lain sedangkan dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki.”
14. “ Janganlah kamu takut kepada makhluk dan janganlah kamu berharap kepada mereka, kerana hal itu menunjukkan betapa lemahnya imanmu. Hendaklah engkau istiqamah dalam cita-citamu, sehingga engkau memperolehi ketinggian, kerana Allah SWT akan memberimu sesuatu yang layak dengan cita-citamu, dengan kebenaran dan keikhlasanmu. Bersungguh-sungguhlah engkau, songsong dan kejarlah, kerana sesuatu itu tidak akan datang kepadamu begitu sahaja, tanpa berusaha memperolehinya, sedangkan engkau mempunyai kewajiban untuk melakukan amal kebaikan sebagaimana engkau diwajibkan untuk mencari rezeki.”
15. “Selama hidup di dunia ini, yang terbaik adalah menyelamatkan hati dari buruk sangka. ”
16. “Orang itu dikatakan dekat dengan Allah selama dia meluangkan waktunya untuk berdzikir setiap hari.”
17. “Bantulah orang fakir dengan sebahagian harta kalian. Jangan pernah menolak pengemis, padahal kalian mampu memberikan sesuatu untuknya baik sedikit mahupun banyak. Raihlah kasih sayang Allah dengan pemberian kalian. Bersyukurlah kepada Allah yang telah membuat kalian mampu memberi. Jika pengemis adalah hadiah dari Allah, sementara kalian mampu memberinya, mengapa kalian menolak hadiah itu?! Bohong kalau kalian mendengar nasihat dan menangis di hadapanku, tapi saat orang datang meminta uluran tangan, kalian malah membiarkannya. Itu menunjukkan bahawa tangisan kalian belum kerana Allah.”
18. “Apabila kebenaran keimananmu telah terbukti dan kamu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak dan perbuatan Allah, dan dengan idzin Allah juga, maka hendaklah kamu tetap bersabar dan redha serta patuh kepadaNya. Janganlah kamu melakukan apa saja yang dilarang oleh Allah. Apabila perintah-Nya telah datang, maka dengarkanlah, perhatikanlah, bersegeralah melakukannya, senantiasalah kamu bergerak dan jangan bersikap pasif terhadap takdir dan perbuatan-Nya, tetapi pergunakanlah seluruh daya dan upayamu untuk melaksanakan perintah-Nya itu.
19. “Hendaklah kamu berserah diri dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah di dalam segala hal, agar Dia memanifestasikan kerja-Nya melaluimu. Jika kebaikan yang didapati, maka bersyukurlah. Dan jika bencana yang menimpamu, bersabarlah dan kembalilah kepada Dia. Kemudian rasakan keuntungan yang didapati dari apa yang kamu anggap sebagai bencana itu, lalu tenggelamlah di dalam Dia melalui perkara itu sejauh kemampuan yang kamu miliki dengan cara keadaan rohani yang telah diberikan kepadamu. Dengan cara inilah kamu dinaikan dari satu peringkat ke peringkat lainnya yang lebih tinggi dalam perjalan menuju Allah, supaya kamu dapat mencapai Dia.
Kemudian kamu akan disampaikan kepada satu kedudukan yang telah dicapai oleh orang-orang shiddiq, para syuhada dan orang-orang saleh sebelummu. Dengan demikian kamu akan dekat dengan Allah, agar kamu dapat melihat kedudukan orang-orang sebelummu dalam menuju Raja Yang Maha Agung itu. Di sisi Tuhan Allah-lah kamu mendapatkan kesentosaan, keselamatan dan keuntungan.
Biarlah bencana itu menimpamu dan jangan sekali-kali kamu mencoba menhindarkannya dengan doa dan shalatmu, dan jangan pula kamu merasa tidak senang dengan kedatangan bencana itu, karena panas api bencana itu tidak sehebat dan sepanas api neraka.
Sebenarnya, bencana yang datang kepadamu itu bukannya akan menghancurkanmu, melainkan sebenarnya adalah akan mengujimu, mengesahkan kesempurnaan imanmu, menguatkan dasar kepercayaanmu dan memberikan kabar baik ke dalam batinmu. Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS 47:31).”
20. “Janganlah bersusah payah untuk mendapatkan keuntungan dan jangan pula mencuba menghindarkan diri dari malapetaka. Keuntungan itu akan datang kepadamu jika memang sudah ditentukan oleh Allah untukmu, baik sengaja mencarinya maupun tidak. Malapetaka itu pun akan datang menimpamu, jika memang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, baik kamu membencinya, maupun mencuba menghindarkannya dengan doa dan solat atau menghadapinya dengan penuh kesabaran, kerana hendak mencari keredhaan Allah.”
21. “Taubatlah engkau dari riak dan nifaq. Janganlah malu mengakui hal itu atas dirimu. Yang kuat di antara manusia mulia adalah mereka yang semula munafik. Oleh yang demikian, berkatalah sebahagian ulama, “Tidak ada yang mengetahui hakikat ikhlas kecuali murai (orang riak)”. Yang paling beruntung ialah mereka yang ikhlas mulai dari awal hingga akhirnya.”
22. “Fikirlah bahawa di dunia ini, suatu yang kamu cintai tidak akan kekal selamanya. Tidak abadi, pasti fana. Jika hal ini telah benar-benar kamu sedari, tentu kamu tidak akan melupakanNya walau sekejap pun. Namun, kebanyakan tidak ada manusia yang mengingatkan hal itu. Barang siapa telah merasakan, bererti telah mengetahuinya. Manusia yang demikian adalah termasuk salah satu dari mereka yang tidak tahan tinggal bersama makhluk..”
23. “Malulah kamu kepada Allah s.w.t. Lihatlah dengan mata hatimu. Rendahkan dirimu dihadapanNya. Letakkan dirimu di bawah lintasan kekuasaanNya. Bimbinglah jiwamu untuk sentiasa mensyukuri nikmat-nikmatNya. Raihlah sinar keterangan dengan mengharungi segala cubaan dan rintangan. Jika semuanya telah benar-benar ada pada dirimu, maka karamah, keluhuran dan syurga Allah akan kamu dapati, baik di dunia maupun di akhirat..”
24. “Ketahuilah, ‘naqal’ tidak dapat dihasilkan oleh ‘akal’. ‘Nash’ tidak dapat meninggalkan ‘qias’. Sesuatu yang sudah jelas, tidak perlu penjelasan lagi. Apalagi halnya berdasarkan prasangka atau pengakuan. Harta benda orang lain tidak boleh diambil hanya dengan pengakuan, tanpa dikuatkan oleh saksi.
Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud,
“Seandainya manusia itu diterima dakwaannya, nescaya satu kaum mengaku memiliki hubungan darah dengan kaum lainnya, dan juga mengakui harta bendanya. Namun, kesaksian itu diwajibkan atas mudd’i dan sumpah atas orang yang engkar”. Mulut yang terampil tidak ada gunanya jika hatinya bodoh. dan sabdanya lagi,
“Yang paling aku khuatirkan atas umatku ialah manusia hipokrit (munafik) yang pandai berkata-kata”..”
25. “Kenalilah Allah s.w.t., janganlah rasa bodoh terhadapNya. Taatlah kepadaNya, jangan mendurhakaiNya. Redhalah atas kententuan takdirNya, jangan kau ingkari. Kenalilah Al-Haq Azza Wajalla melalui ciptaanNya. Dialah (Allah) Maha Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin, Yang Qadim, Yang Abadi dan Yang Bebas Berbuat Sesuai Dengan KehendakNya..”
26. “Orang mukmin mengawal dirinya dengan membangun batinnya. Kemudian bari membangun lahirnya. Sebagaimana orang yang membangun rumah, membelanjakan sejumlah wangnya untuk mengisi rumahnya itu sebelum pintunya terbuat rapi.”
27. Wahai mereka2 yang jahil! Pada mulanya engkau haruslah bergaul dengan para syeikh. Membinasakan nafsu, kesenangan dan segala sesuatu selain Allah Azza Wajalla. Engkau harus selalu menghadap pintu rumahnya, yakni para syeikh. Baru setelah itu, pisahkan dirimu dengan mereka. Bersilalah di persadamu sendirian, hanya bersama Allah Azza Wajalla. Jika semuanya itu telah engkau capai, nescaya engkau akan jadi ‘ubat’ bagi makhluk. Menjadi ‘petunjuk’ yang menuntut mereka, atas lain Allah Azza Wajalla.”
28. “Aku mengajak kamu menghadap ke hadirat Allah Azza Wajalla. AKu mengajak kamu ke ambang pintuNya dan untuk taat kepadaNya, bukan kepada dirimu. Orang munafik tidak mungkin mengajak makhluk ke hadapan Tuhan, melainkan mengajak menghadap kepada diri mereka. Mereka mencari penghormatan dan pengakuan serta tamak kepada hal-hal duniawi..”
29. “Tukarkanlah pakaian ‘syahwat’, sombong, ujub, nifak, suka dipuji makhluk, senang disanjung dan senang kepada pemberian segala daya dan kekuatan serta semangat untuk menukarkannya. Letakkanlah dirimu di hadapan Allah Azza Wajalla dengan tiada daya, kekuatan dan tidak bersama apa-apa, juga dengan tanpa syirik dengan makhluk.
Jika semuanya itu sudah kamu penuhi, tentu kamu akan temui ‘kasih sayang’ Allah s.w.t. selalu melimpah kepadamu..”
30. “Para badal (al-abdal) itu adalah ‘khowas al-khowas’ yang memberikan fatwa syarak. Kemudian memandang urusan Allah Azza Wajalla, perbuatan, kehendak dan ilhamNya. Hal2 yang di luar itu adalah benar2 binasa dalam kebinasaan. Para al-abdal sentiasa membantu kamu. Apa yang kamu lakukan. Apakah kamu teguh atau sebaliknya. Kamu benar ataukah bohong,
Barangsiapa yang tidak menyetujui ‘kadar’ (kententuan Allah s.w.t.) maka ia tidak akan dikasihi dan tidak pula diakui. Siapa tidak rela dengan keputusan Allah s.w.t. maka ia tidak diredhainya. Siapa tidak memberi, maka tidak akan diberi, siapa tidak mahu berkunjung, maka ia tidak dikurnia kenderaan.
Firman Allah s.w.t. yang bermaksud,
” Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah……”
(Q.S. al-Hasy: 7).”
31. “Orang yang beriman selalu menyembunyikan apa yang ada padanya. Jika lisannya terlanjur mengucapkan sesuatu, maka ia segera memperbaiki ungkapan yang diucapkan itu. Berusahalah menutupi apa yang telah lahir, dan mohon kemaafan.”
32. “Janganlah kamu menghendaki kelebihan dan kekurangan. Janganlah mencari kemajuan dan kemunduran. Sebab ketentuan telah menetapkan bahagian masing2. Setiap orang di antara kamu, tidak diwujudkan melainkan telah ditentukan catatan mengenai pengalaman hidupnya secara khusus.”
33. Jika dunia dan akhirat datang melayanmu, dengan tanpa susah payah, ketuklah pintu tuhanmu dan menetaplah di dalamnya. Bila kamu telah menetap di dalamnya, akan jelaslah bagimu seperti “buah fikiran”..”
34. “Janganlah engkau menuntut imbuhan atas amal perbuatanmu, baik keduniaan maupun keakhiratan. Janganlah kamu mencari nikmat, carilah Zat yang memberimu nikmat. Carilah tetangga sebelum mendapatkan rumah. Dialah Zat yang mewujudkan segala sesuatu, Zat yang mengaturkannya dan yang wujud sesudah segala sesuatu.
Saudaraku, Janganlah kamu termasuk golongan orang2 yang apabila diberi nasihat, tidak mahu menerima, dan jika mendengar nasihat tidak mahu mengamalkannya. Ketahuilah, bahawa agamamu akan hilang disebabkan empat perkara:
1. Kamu tidak mengamalkan apa yang telah kamu ketahui.
2. Kamu mengamalkan apa yang tidak kamu ketahui.
3. Kamu tidak mahu berusaha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, sehingga tetap bodoh.
4. Kamu melarang manusia untuk berusaha mengetahui apa yang mereka tidak mengetahuinya..”
34. “Kepada mereka yang fasik, takutlah kepada orang yang beriman. Jangan bergaul dengan dengan dia, selagi kamu masih bergelumang dengan kemaksiatan yang keji. Sebab, orang2 mukmin, dengan cahaya Illahi, mengetahui apa yang ada dalam dirimu. Mereka mengetahui syirik dan munafikmu dengan melihat tindakan dan gejolak yang ada di balik dirimu. Mereka melihat cela dan aibmu. Barangsiapa tidak mengetahui tempat keberuntungan, lalu dia jelas tidak akan beruntung. Jika demikian, bererti berubah akalmu, dan teman-temanmu pun berubah akal pula.
Sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud,
“Takutlah kamu dengan firasat seorang mikmin. Sebab ia memandang sesuatu dengan cahaya Illahi.”
35. “Para kekasih Allah (auliya) terhadap makhluk adalah buta, tuli dan bisu. Jika hati mereka telah dekat kepada Allah Azza Wajalla, maka mereka tidak mendengar dan melihat selain-Nya. Mereka berada pada kedudukan antara Al-Jalal dan Al-Jamal, tidak berpaling ke kanan ataupun kiri. Bagi mereka tidak ada belakang, yang ada hanyalah depan. Manusia, jin, malaikat dan makhluk yang lain melayani mereka.
Demikian pula hukum dan ilmu. Kurnia (fadhal) merupakan santapan dan penyegarnya. Mereka makan dari fadhal-Nya dan minum susu-Nya. Mereka minum, mereka merasa bising terhadap suara-suara manusia, tetapi mereka tinggal bersama-samanya (makhluk). Mereka menyuruh makhluk melaksanakan perintah Allah SWT, mencegah makhluk dari mengerjakan larangan-larangan-Nya, sebagai penerus ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Merekalah pewaris yang sebenarnya.
Para kekasih Allah itu tidak pernah bertindak dan bersikap demi diri dan nafsunya sendiri. Mereka mencintai sesuatu kerana Allah Azza Wajalla dan membenci sesuatu juga keranaNya. Semuanya demi Dia, tidak ada bahagian yang diberikan kepada selainNya.
Firman Allah s.w.t. yang bermaksud,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama”. (Q.S. Fathir :28).”
36. Terimalah nasib dengan zuhud, tidak dengan kebencian. Orang yang makan sambil menangis tidak sama dengan orang yang makan sambil ketawa, dalam menerima segala ketentuanNya. Sentiasalah hatimu dengan Allah Azza Wajalla. Berserah dirilah atas keburukan nasib. Kamu makan sesuatu yang diberikan oleh tabib dan sesuai dengan ubatnya adalah lebih baik daripada makan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengetahui asal usulnya. Selama hatimu keras terhadap amanat, maka hilanglah rahmat darimu, dan hilanglah pula segala yang ada padamu. Hukum2 syariat itu amanat yang dibebankan kepadamu, sedangkan kamu meninggalkan dan mengkhianatinya. Tidak guna lagi jika amanat telah lenyap dari hatimu.”
37. “Andaikata tanpa kurnia Allah Azza Wajalla, mana mungkin orang berakal mentadbir negara, bergaul dengan para penghuninya, yang telah dilanda sifat riak, nifak, zalim bergelumang syubahat dan haram. Benar telah tersebar kekufuran, Ya Allah. Kami mohon pertolongan kepadaMu dari kefasikan kelancangan. Telah banyak kelemahan melanda para zindik. Sungguh telah ku bongkar rahsia rumah kamu. Tetapi aku mempunyai dasar yang memerlukan pembina. Aku mempunyai anak-anak yang memerlukan pendidikan. SEANDAINYA KU UNGKAP SEBAHAGIAN RAHSIAKU, tentu hal ini merupakan pangkal perselisihan antara aku dengan kamu..”
38. “Nasihatlah dirimu terlebih dahulu, kemudian baru orang lain. Anda harus memelihara nafsumu. Jangan kamu mengira kesalahan orang lain sebab, dirimu masih memerlukan pembaikan. Adakah anda tahu bagaimana membersihkan orang lain? Bagaimana menonton orang lain? Padahal yang dapat memimpin manusia adalah orang2 yang awas. Hanya peranan ulung yang dapat menyelamatkan orang lain yang tenggelam dalam lautan. Hanya orang yang mengetahui Allah yang dapat mengarahkan umat manusia ke arah jalan-Nya. Tidaklah cakapan yang diperlukan untuk berbakti kepada Allah s.w.t. melainkan perbuatan nyata.”
39. “Nafsu seseorang selalu menentang dan membangkang. Maka barangsiapa ingin menjadikannya baik, hendaklah ia bermujahadah, berjuang melawannya, sehingga terselamat dari kejahatannya. Hawa nafsu semuanya adalah keburukan dalam keburukan, namun apabila telah terlatih dan menjadi tenang, berubahlah ia
menjadi kebaikan di dalam kebaikan.”
40. “Di antara ciri orang yang arif billah Azza Wajalla adalah ia selalu sabar menerima berbagai malapetaka dan rela terhadap semua qadha dan ketentuan-ketentuan takdir-Nya dalam segala ehwalnya, baik berkenaan dengan peribadinya, ahlinya dan semua makhluk sesamanya.”
41. “Kuasailah nafsumu! Kalau tidak, maka ia yang akan menguasaimu. Nafsu selalu mengajak kejahatan dalam soal dunia dan akhirat. Jauhilah orang-orang yang menjauhkan kamu dari Allah Azza Wajalla, seperti kamu menjauhi binatang buas. Berbuatlah sesuatu untuk Allah Azza Wajalla! Sesungguhnya orang yang berbuat sesuatu untuk Allah Azza Wajalla itu akan beruntung. Barang siapa yang mencintai Allah Azza Wajalla, maka Dia akan mencintainya. Dan barang siapa yang menghendaki Allah Azza Wajalla, maka Dia akan menghendakinya. Dan barang siapa yang mengenali Allah Azza Wajalla bererti ia telah mengenal dirinya sendiri.”
42. “Jika kamu terpaksa memerlukan sesuatu, mintalah kepada Allah Azza Wajalla, jangan kepada makhluk. Sesungguhnya yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang meminta dunia kepada sesama makhluk-Nya. Mintalah pertolongan kepada-Nya. Dia Maha Kaya, sedangkan semua makhluk adalah fakir. Mereka tidak dapat memberikan bahaya atau manfaat bagi dirinya sendiri, apa lagi bagi orang lain. Sesungguhnya pada permulaan, Dia menghendaki agar kamu menjadi orang yang mencari kepada-Nya. Sedangkan nanti pada akhirnya kamu menjadi yang dikehendaki oleh-Nya. Seorang budak yang masih kecil akan mencari ibunya, tapi kalau sudah besar, justeru ibu yang akan mencarinya. Carilah kasih sayang-Nya.
Jika Dia mengetahui kesungguhanmu mencari-Nya, maka Dia akan menghendakimu. Jika Dia mengetahui kesungguhan cintamu kepada-Nya, maka Dia akan Mengasihimu, menunjukkan hatimu dan mendekatkanmu kepada-Nya.”
43. Hendaklah engkau selalu ingat kepada Allah Azza Wajalla dan mengadakan hubungan bathin dengan-Nya, sebab Allah Azza Wajalla adalah Zat yang memenuhi keperluanmu di dunia dan di akhirat, memeliharamu di waktu hidup dan matimu. Dia juga yang menghindarimu dari segala macam bencana. Hendaklah engkau sentiasa berpegang kepada kalam yang jelas kebenarannya, sejelas coretan tinta hitam ke atas lembaran putih, mengabdilah kepadanya sehingga ia mengabdimu, dan ia memimpin tangan qalbumu dan membawanya ke hadrat Tuhanmu Allah Azza Wajalla. Mengamalkan isinya menyebabkan hatimu memiliki dua sayap yang dapat kau buat terbang untuk menghadap kepada Tuhanmu Allah Azza Wajalla.”
44. “Dekatilah ulama yang muttaqqin, sebab bergaul dengan mereka dapat mendatangkan barakah. Janganlah kamu dekati ulama yang tidak mengamalkan ilmunya, sebab bergaul dengan mereka dapat menimbulkan ‘aib. Bila kamu berhubungan erat dengan orang yang lebih taqwa dan lebih banyak ilmunya daripadamu, maka kamu akan mendapat barakah daripadanya. Bila kau bergaul dengan orang yang lebih tua umurnya daripada umurmu, tapi ia tidak bertaqwa kepada Allah Azza Wajalla, maka pergaulanmu itu akan menimbulkan aib. Beramallah kerana Allah Azza Wajalla, jangan beramal kerana selain-Nya. Beramal kerana selain-Nya adalah syirik.”
45. “Kembalilah kau kepada Allah Azza Wajalla dengan memperbaharui Islam, memperbaiki taubat dan ikhlasmu, sebelum datangnya maut sebab bila maut telah datang, pintu taubat akan tertutup sehingga kau tidak dapat masuk ke dalamnya. Kembalilah kepada-Nya dengan melangkah kaki qalbumu agar pintu anugerah-Nya tidak dikunci untukmu, kerana bila sudah terkunci jiwamu, kekuatan, kekayaan dan hartamu tidak akan diberkati-Nya.”
46. “Qalbu ini tidak akan beruntung selagi belum sampai ke tingkatan qurban kepada Allah Azza Wajalla, Yang Maha Qadim, Azali dan Abadi selama-lamanya. Janganlah suka mendesak, hai munafik. Apakah yang kau miliki itu lebih baik daripada yang dimiliki selainmu? Engkau adalah hamba rotimu, hamba lauk-paukmu, manisanmu, kudamu dan kekuasaanmu. Qalbu yang jujur pergi menghindar daripaa makhluk, menuju kepada Allah Azza Wajalla. Ia melihat segala sesuatu di tengah jalan, tetapi tidak memperdulikan sedikitpun. Ia terus berjalan sampai ake tempat tujuan.”
46. “Saudara! Tinggalkanlah berbicara tentang urusan makhluk selama engkau masih bergabung dengan hawa nafsumu. Diamlah! Sebab, jika Allah Azza Wajalla menginginkan kau untuk melakukan sesuatu, maka Dia menyiapkan kau untuk sesuatu itu. Jika berkenan, Allah berkuasa menghidupkanmu, mematikanmu dan berkuasa pula mengabdikanmu. Allah Zat yang menampakkan segala sesuatu, bukan engkau. Serahkanlah jiwamu, ucapanmu dan seluruh tingkah lakumu kepada ketentuan taqdir-Nya. Giatkan beramal kerana-Nya, jadilah engkau orang yang giat beramal tanpa banyak cakap, orang yang ikhlas tanpa riak, orang yang bertauhid tanpa syirik, orang yang selalu berkhalwat tanpa jalwat, dan bathin tanpa lahir. Sibukkan bathinmu dengan niat yang mantap. Engkau berdialog dengan Allah Azza Wajalla dan memberi ‘isyarat’ kepada-Nya dengan perkataanmu.”
47. “Jadikanlah seluruh amal perbuatanmu li wajhillah, bukan mencari nikmat-nikmat-Nya. Rela dengan pengaturan-Nya, qadha dan perbuatan-perbuatan-Nya. Bila semua ini kau lakukan, bererti kau mati meninggalkan dirimu dan kau hidup dengan-Nya. Hati sanubarimu menjadi selalu ingat kepada-Nya. Engkau sentiasa dekat dengan-Nya dan lupa dengan selain-Nya.”
48. “Jika kamu orang yang berakal, tentu kamu akan meraih keimanan untuk bekal ketika bertemu dengan Allah Azza Wajalla, dan tentu akan bersahabat dengan orang-orang yang soleh, serta mengambil mereka sebagai suri tauladan yang baik dalam perkataan dan perbuatan. Sehingga hari demi hari keimanan dan keyakinanmu akan bertambah. Lalu kemudian Allah Azza Wajalla akan memurnikan keimananmu dan membina perangaimu, serta menumbuhkan kesedaran hatimu dalam menerima perintah dan larangan.”
49. “Barang siapa telah menunaikan perintah Allah Azza Wajalla berupa dua macam jihad ini, nescaya ia akan memperolehi dua balasan, balasan di dunia dan di akhirat. Luka-luka pada tubuh seorang syahid bagaikan membekam (fasd) pada tangan salah seorang di antaramu yang tidak ada rasa sakit sedikitpun. Mati bagi mujahid linafsihi (orang yang memerangi nafsunya) dan bagi orang yang bertaubat dari semua dosanya bagaikan orang haus dahaga yang minum air ais.”
50. “Kuncilah pintu qalbumu. Hentikan segala sesuatu untuk masuk ke dalamnya. Isilah dengan zikrullah saja. Bertaubatlah setiap kali kau mengerjakan maksiat. Sesalilah perbuatanmu yang kurang sopan. Tangisilah kesalahan-kesalahanmu. Bantulah kaum fakir miskin dengan sedikit hartamu. Janganlah bersikap tamak. Sebentar lagi hartamu akan kau tinggalkan. Orang mukmin yang kuat keyakinannya tidaklah bersikap kedekut. Sikap demikian inilah yang menyebabkan bahagia, baik di dunia mahupun di akhirat kelak.”
51. Nabi Isa a.s. berkata kepada iblis yang bermaksud: “Siapa yang paling kau senangi? Jawab iblis: “Orang mukmin yang bakhil”. Nabi Isa a.s. bertanya lagi: “Siapa yang paling kau benci? Iblis menjawab: “Orang fasiq yang dermawan.” “Mengapa begitu?”, tanya Nabi Isa a.s. Iblis menjawab: “Ya, aku menginginkan dari orang mukmin yang bakhil agar ketamakannya itu menjerumuskannya ke jurang kemaksiatan, dan aku sangat khuatir kalau keburukan-keburukan orang fasiq itu terhapus oleh kedermawannya.”
52. Nabi Isa a.s. berkata kepada iblis yang bermaksud: “Siapa yang paling kau senangi? Jawab iblis: “Orang mukmin yang bakhil”. Nabi Isa a.s. bertanya lagi: “Siapa yang paling kau benci? Iblis menjawab: “Orang fasiq yang dermawan.” “Mengapa begitu?”, tanya Nabi Isa a.s. Iblis menjawab: “Ya, aku menginginkan dari orang mukmin yang bakhil agar ketamakannya itu menjerumuskannya ke jurang kemaksiatan, dan aku sangat khuatir kalau keburukan-keburukan orang fasiq itu terhapus oleh kedermawannya.”
53. “Allah Azza Wajalla menciptakan ubat dan penyakit. Maksiat adalah penyakit, sedangkan taat adalah ubat. Zalim itu penyakit, sedangkan adil itu ubat. Salah itu penyakit, sedangkan benar itu ubat. Menentang Allah itu penyakit, sedangkan taubat dari segala dosa itu ubat.”
54. “Ketahuilah bahawa agamamu akan hilang disebabkan empat perkara:
1. Kamu tidak mengamalkan apa yang telah kamu ketahui.
2. Kamu mengamalkan apa yang tidak kamu ketahui.
3. Kamu tidak mahu berusaha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, sehingga tetap bodoh.
4. Kamu melarang manusia untuk berusaha mengetahui apa yang mereka tidak mengetahuinya.”
55. “Syirik itu ada kalanya dalam lahir dan ada kalanya dalam bathin. Syirik lahir ialah menyembah kepada selain Allah. Adapun syirik bathin ialah menggantungkan nasib kepada sesama makhluk dan menganggap mereka yang mendatangkan bahaya dan manfaat.”
56. “Wahai orang yang tertipu! Tiang atas kehidupanmu telah retak, dinding kehidupanmu juga telah condong, bahkan rumah yang kamu duduki telah roboh. Kamu harus segera meninggalkannya dan pindah ke tempat lain. Carilah rumah akhirat! Langkahkan kakimu ke sana. Apakah kakinya? Kakinya ialah amal yang baik. Persembahkan hartamu untuk akhirat, supaya kelak kamu boleh mendapatkannya di sana.
Wahai orang yang tertipu oleh gemerlapan dunia! Wahai orang yang sibuk dengan sesuatu yang tidak bererti! Wahai orang yang meninggalkan kemuliaan dan sibuk dengan para hamba! Celakalah menanti kamu!.”
57. “Celakalah, engkau melakukan perbuaan ahli neraka, tetapi kau mengharapkan syurga. Engkau tamak bukan pada tempatnya. Janganlah kau tergiur dengan barang pinjaman yang kau kira sebagai milikmu sendiri. Sebentar lagi, barang itu akan diambil dari tanganmu. Allah Azza Wajalla telah meminjamkan kehidupan kepada mu, sehingga dengan itu kau patuh kepadaNya. Kehidupan yang pendek merupakan barang pinjaman itu kau anggap sebagaai milik peribadimu, sehingga kau perlakukan semahu mu.”
58. Jika tauhid, ikhlas, makrifat dan mahabah kepada Allah Azza Wajalla telah benar-benar meresap dalam lubuk hatinya, maka datanglah (kepadanya) keteguhan pendirian dan kelonggaran mutlak. Datang pula kepadanya kekuatan raksasa dari Allah Azza Wajalla. Ia, dengan kekuatannya itu, sanggup memikul beban berat makhluk, tanpa payah. Ia mendekati mereka, ia menuntut mereka. Segala kesibukannya hanya untuk kemaslahatan mereka, namun tidak melalaikannya daripada Tuhannya walau sekejap masa. Orang yang zuhud selalu berusaha lari dari makhluk, tetapi orang zuhud yang kamil tidak demikian. Ia tidak berusaha menghindari mereka, kerana ia sudah mencapai darjat arifbillah (makrifat kepada Allah SWT).”
59. “Keberanian musuh (orang-orang kafir) dinilai dari ketabahannya di saat berhadapan dengan mereka. Tetapi, keberanian orang-orang soleh dinilai dari segi ketabahannya di waktu bertemu dengan hawa nafsu, kesenangan, perwatakan syaitan-syaitan dan teman-teman mereka yang sentiasa mengajak berbuat kejahatan. Sedangkan keberanian orang-orang khas (Khawwash) dinilai dari segi “zuhud”nya dalam urusan dunia dan akhirat dan kebergantungannya kepada Allah Azza Wajalla.”
60. “Alangkah baik keadaan orang mukmin di dunia dan di akhirat. Di dunia ia tidak berdukacita segala sesuatu yang ada padanya setelah ia mengetahui bahawa Tuhannya berkenan meredhainya. Di mana saja ia berada, pasti ia menemui bahagiannya dan merasa puas dengan haknya itu. Ke mana saja ia menghadap, ia selalu memandang dengan Nur Allah Azza Wajalla, tiada kegelapan baginya. Semua isyaratnya tertuju kepada Allah Azza Wajalla. Segala pegangan dan tawakalnya juga hanya tertuju padaNya. Hati-hatilah, jangan sekali-kali anda menyakiti orang mukmin sebab penyakit orang mukmin adalah satu racun dalam tubuh orang-orang yang menyakitinya, dan juga merupakan faktor penyebab kefakiran dan disiksaNya..”
61. “Berserahlah diri kepada Allah Azza Wajalla. Bermohonlah kepadaNya untuk memenuhi keperluan-keperluanmu. Janganlah kau kira amal perbuatan yang kau lakukan saat jatuh miskin. Bukalah lebar-lebar pintu hubunganmu dengan Dia. Akuilah segala dosamu. Mohonlah ampun (maghfirah) kepadaNya atas semua kekuranganmu. Yakinilah bahawa tidak ada kemudaratan, tidak ada yang memberi faedah atau memberi anugerah, dan tidak ada yang mampu menolak kenestapaan kecuali Dia. Pada saat-saat itulah buta hatimu lenyap. Mata hatimu telah terbebas dari segala penderitaan.
Saudaraku! sikap itu bukanlah terdapat pada pakaian atau makanan. Sikap itu bersemayam dalam lubuk hati sanubari yang zuhud. Orang yang benar akan mengenakan pakaian sufi dalam batinnya, baru kemudian mengenakannya pada lahirnya. Secara berturut-turut dikenakan pada dirinya, hatinya, jiwanya, dan kemudian anggota-anggota badannya.
Jika semuanya telah berselimut dengan pakaian itu, maka datanglah tangan kasih sayang dan anugerah yang menggantikannya dengan pakaian sukacita, siksaan berganti dengan kenikmatan, kemarahan berganti dengan kesenangan, kekhuatiran berganti dengan ketenteraman, jauh berganti dekat, dan fakir berganti dengan kaya.”
62. “Saudara! Jika bicara, bicaralah dengan niat yang baik. Jika diam, diamlah dengan niat yang baik. Setiap orang yang tidak berniat dalam beramal, maka tiada berguna baginya amal yang ia kerjakannya itu, amalnya sia-sia. Baik engkau bicara atau diam, kau tetap berdosa sebab engkau tidak membenarkan niatmu, diam dan bicara yang tidak mengikut sunnah. ”
63. “Jika kamu memberikan makanan mu kepada para muttaqin serta membantu dia dalam urusan dunia, lalu kamu mendapatkan bahagian pahala dari amal yang ia lakukan, tidak kurang sedikitpun kerana kamu telah menolong niatnya dan telah menghilangkan kesulitannya. Pendek kata, kamu telah mempercepatkan langkahnya ke hadapan Allah Azza Wajalla. Demikian pula jika kamu memberikan makanan mu kepada orang munafik yang nyata dan melakukan maksiat, serta kamu membantunya dalam urusan dunia, bererti kamu akan mendapat siksa dari kejahatannya, tidak kurang sedikitpun kerana kamu telah menolongnya dalam maksiat kepada Allah Azza Wajalla. Tentu saja keburukannya akan kembali kepadamu.”
64. “Orang mukmin yang berjiwa qanaah hanya perlu sedikit saja harta dunia. Ia masuk ke ribaan Tuhannya dengan mengajukan permintaan, permohonan, tawadhuk dan taubat kepadaNya. Bila diberi sesuatu yang ia inginkan, ia bersyukur kepada Allah SWT atas pemberiannNya itu. Bila tidak, ia sabar menerima apa-apa yang menjadi iradahNya, tanpa mengajukan protes dan tanpa menentang. Ia tidak menuntut kekayaan dengan cara menjual agamanya, menampilkan sikap riak dan nifaq, seperti yang kau lakukan hai orang hipokrit.”
65. “Bila qalbu seorang hamba telah sampai (wusyul) kepada Tuhannya, maka Dia menjadikan hamba itu selalu memerlukanNya, mendekati diri kepadaNya, memberikan kedudukan tinggi kepadaNya.”
“Ilmu pengetahuan itu tidak bermanfaat apabila tidak diamalkan. Dalam kegelapan, kamu memerlukan sedikit sinar, iaitu hukum Allah yang harus diamalkan hari demi hari, tahun demi tahun sehingga buahnya dapat kamu nikmati.”
66. “Jadilah engkau orang yang berakal, dan janganlah jadi pendusta. Kau mengatakan, “Saya ini takut kepada Allah SWT, tetapi engkau justeru takut kepada selain-Nya. Janganlah engkau takut kepada jin, manusia dan malaikat. Janganlah takut kepada haiwan, baik yang dapat berbicara mahupun yang bisu. Juga jangan takut kepada siksaan dunia mahupun akhirat, tetapi takutlah kepada Zat yang menyiksa.”
67. Cintailah Dia, beramallah demi-Nya, bukan demi yang lain selain Dia. Takutlah kepada-Nya, jangan kepada yang lain. Semuanya itu dengan hati, bukan dengan cakapan mulut. Itu semua ada dalam khalwat (bathin), bukan dalam jalwat (lahiriah). Q tauhid di ambang pintu rumah, ternyata syirik bersemayam di dalamnya, maka demikian itu adalah “nifaq” (hipokrit). Hindarilah taqwa di mulut, liar di hati, syukur di lisan dan ingkar di hati. Celaka jika ucapan mulut tidak sama dengan qalbumu.