Kita berkeyakinan, berpegang teguh dan beragama kepada Allah ta’ala
bahwa seutama-utamanya ummat setelah Nabi mereka adalah Abu Bakar
kemudian ‘Umar kemudian ‘Utsman kemudian ‘Ali. Kemudian yang tersisa
dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Kemudian yang tersisa dari
orang-orang yang ikut perang badar. Kemudian yang tersisa dari
orang-orang yang ikut perang uhud. Kemudian yang tersisa dari
orang-orang yang ikut dalam bai’at ridhwan. Kemudian yang tersisa dari
para sahabat (yang belum disebut) semoga Allah meridhai mereka semua.
Definisi Sahabat Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasallam
كُّلَّ مُسْلِمٍ رَأَى رَسُولَ الله فَهُوَ مِنَ الصَّحَابَةِ
Setiap Muslim Yang Melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Dia Adalah Sahabat
Imam Ibnu Sholah rahimahullah mengatakan:
أَنَّ كُّلَّ مُسْلِمٍ رَأَى رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم فَهُوَ مِنَ الصَّحَابَةِ
Setiap muslim yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia adalah sahabat.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:
وَالصَّحَابِي: مَنْ رَأَى رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم فِي حَالِ
إِسْلَامِ الرَّاوِي، وَإِنْ لَمْ تَطُلْ صُحْبَتُهُ لَهُ، وَإِنْ لَمْ
يَرْوِ عَنْهُ شَيْئاً.
هذا قَوْلُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ، خَلَفاً وَسَلَفاً. وَقَدْ نَصَّ عَلَى
أَنَّ مُجَرَّدِ الرُّؤْيَةِ كَافٍ فِي إِطْلَاقِ الصَّحَبَةِ:
اَلْبُخَارِي وَأَبُو زُرْعَةَ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي
أَسْمَاءِ الصَّحَابَةِ، كَابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ، وَابْنِ مَنْدَةَ
وَأَبِي مُوسَى الْمَدِينِي، وَابْنِ الْأَثِيرِ فِي كِتَابِهِ ” الْغَابَة
فِي مَعْرِفَةِ الصَّحَابَة ” . وَهُوَ أَجْمَعُها وَأَكْثَرُهَا
فَوَائِدَ وَأَوْسَعُهَا. أَثَابَهُمُ الله أَجْمَعِينَ.
Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang melihat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masa Islamnya meskipun
tidak lama ia menemani beliau, dan meskipun tidak meriwayatkan sesuatu
pun dari beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Definisi ini adalah pendapat jumhur ulama baik yang belakangan maupun yang terdahulu.
Dan bahkan sejumlah ulama menyatakan bahwa semata melihat Nabi
shallallahu ‘alaihi sudah cukup untuk dimutlakkan padanya gelar sahabat
Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) seperti al-Bukhari, Abu Zur’ah, dan
selain mereka dari para penyusun nama-nama sahabat seperti Ibnu ‘Abdil
Barr, Ibnu Mandah, Abu Musa al-Madini, dan Ibnul Atsir dalam kitabnya
al-Ghabah fi Ma’rifat ash-Shahabah, ktab ini adalah kitab yang paling
lengkap dan paling banyak faedah serta paling luas. Semoga Allah
memberikan pahala kepada mereka.
{Lihat Kitab Baa’itsul Hatsits}.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memberikan definisi sahabat:
“Dan pendapat yang paling benar (dari sejumlah definisi) yang aku dapati
bahwa sahahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan beriman kepadanya serta mati di atas Islam.”
{Lihat Kitab Nukhbatul Fikar}
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۚ
وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti
mendapat kehinaan, sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah
mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti yang
nyata. Dan bagi orang-orang yang kafir ada siksa yang menghinakan.
[al-Mujâdilah/58 ayat 5].
Di antara bentuk penentangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling keji ialah mencaci
para wali-Nya. Dan wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mulia
setelah para nabi dan rasul-Nya, ialah para sahabat yang telah dipilih
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyertai Nabi-Nya, yaitu Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum muslimin yang kami muliakan, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman kepada beliau, dan mati dalam
keadaan muslim. Mereka adalah generasi terbaik dari umat ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi
berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan
oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)
Kata al-qarnu maknanya adalah orang-orang yang hidup dalam satu masa
yang sama dan berdekatan waktunya. Mereka memiliki persekutuan dalam
satu perkara yang dituju. Dan bisa dikatakan pula bahwa kata ini
ditujukan untuk mereka yang khusus berkumpul pada suatu zaman seorang
nabi atau seorang pemimpin yang menyatukan mereka di atas suatu ajaran,
madzhab, atau suatu amalan. (Ibnu Hajar, Fathul Bari)
Keutamaan menjadi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa
disaingi oleh amalan apa pun karena mereka menjadi orang-orang yang
melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun para sahabat
yang benar-benar mendapatkan kesempatan membela beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, mendahului dalam berhijrah dan dalam memberikan
pembelaan, mengukuhkan syari’at yang diterima dari beliau, serta
menyampaikan kepada kaum muslimin setelah mereka, maka keutamaan mereka
tidak akan bisa disaingi oleh seorang pun yang datang setelah mereka.
Karena pada setiap perangai atau sifat yang telah disebutkan pastilah
sahabat yang mendahului dan menyampaikannya mendapatkan pahala seperti
pahala yang mengerjakannya. Maka menjadi teranglah keutamaan mereka.
(diringkas dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar).
Ahlussunnah bersepakat bahwa yang paling utama dan mulia dari kalangan
sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq,
kemudian ‘Umar bin al-Khaththab. Kemudian jumhur Ahlussunnah menyatakan
kemudian ‘Utsman bin ‘Affan kemudian ‘Ali radhiyallahu ‘anhum. Sebagian
Ahlussunnah dari penduduk Kufah mendahulukan ‘Ali di atas ‘Utsman. Dan
pendapat yang benar dan yang masyhur adalah didahulukannya ‘Utsman di
atas ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma mengikuti urutan khalifah. (Selesai
penukilan dari Syarah Muslim karya al-Imam an-Nawawi dengan sedikit
diringkas)
Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan
istimewa di sisi Allah Ta’ala. Mereka telah diberikan anugerah yang
begitu besar yakni kesempatan bertemu dan menemani Nabi-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah memilih mereka untuk mendampingi
dan membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan
agama-Nya. Orang-orang pilihan Allah ini, tentunya memiliki kedudukan
istimewa di bandingkan manusia yang lain. Karena Allah Ta’ala tidak
mungkin keliru memilih mereka.
Shahabat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ
لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ
الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ
قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ
عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ
حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ
“Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati
hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling
baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai
pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah
hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang
paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para
pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang
dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi
Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, I/379, no. 3600. Syaikh Ahmad
Syakir mengatakan bahwa sanadnya shohih).
Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang
paling tinggi ilmunya. Merekalah yang paling paham perkataan dan
perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah manusia yang
paling paham tentang Al-Qur’an, karena mereka telah mendampingi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala wahyu diturunkan,
sehingga para sahabat benar-benar mengetahui apa yang diinginkan oleh
Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemuliaan Keutamaan Dan Berkah Para Shohabat
Allah ‘azza wajalla berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari
golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah
dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di bawahnya mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang besar.” {QS. At-Taubah: 100}.
Allah juga berfirman:
لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ
الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ
يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ
رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat nabi, orang-orang muhajirin
dan orang-orang anshar yang mengikuti nabi dalam masa kesulitan, setelah
hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima
taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
kepada mereka,” {QS. At-Taubah: 117}.
Bandingkanlah kemuliaan mereka dengan para sahabat Nabi Musa ‘alaihis
salam. Tatkala Nabi Musa mengajak mereka untuk beriman, mereka
mengatakan,
يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً (55)
“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 55)
Demikian pula ketika mereka diajak berjuang di jalan Allah, mereka berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam,
يَا مُوْسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوْا فِيْهَا
فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلاَ إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُوْنَ (24)
“… Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua,
sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” (QS. Al-Maidah: 24)
Padahal orang-orang yang Allah Ta’ala ceritakan dalam ayat ini adalah 70
orang terbaik dari kaumnya Nabi Musa. Sebagaimana Allah Ta’ala
berfirman:
وَاخْتَارَ مُوْسَى قَوْمَهُ سَبْعِيْنَ رَجُلاً لِمِيْقَاتِنَا … (155)
“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya..” (QS. Al-A’raaf: 155).
Ayat ini menunjukkan bahwa 70 orang ini adalah manusia terbaik dari Bani
Israil dan manusia pilihan dari kaum Nabi Musa ‘alaihis salam. Akan
tetapi, lihatlah sikap mereka kepada Nabinya, sampai-sampai Allah
memberi teguran kepada mereka dengan bergetarnya bumi yang mereka pijak,
sehingga Nabi Musa pun berkata kepada Allah Ta’ala,
أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا (155)
“Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orangyang kurang berakal di antara kami?”(QS. Al-A’raaf: 155)
Nabi Musa ‘alaihis salam menyebut mereka sebagai orang-orang yang
kurang akal (bodoh), sekali pun mereka adalah orang-orang pilihan dari
kaumnya. Lantas, bagaimana menurut Anda dengan orang-orang yang bersama
Nabi Musa, yang bukan pilihan?
Tentang penghormatan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tidak akan mendapatkan bandingannya
selama-lamanya. Bagaimana mereka menundukkan pandangannya dan memelankan
suara di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula
bagaimana mereka begitu semangat meraih berkah dari riak dan sisa air
wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai mereka berebut.
Sahabat Nabi Adalah Generasi Terbaik Umat Ini
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا النَّضْرُ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ
أَبِي جَمْرَةَ سَمِعْتُ زَهْدَمَ بْنَ مُضَرِّبٍ سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ
حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ
يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي
أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ
قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا
يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذُرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ
{رواه البخاري برقم : 3377}
Telah menceritakan kepada kami Ishaq. Telah menceritakan kepada kami Al
Nadlru. Telah menceritakan kepada kami Syu'batu. Dari Abi Jamrata, aku
mendengar Zahdama bin Mudlarribin, aku mendengar dari 'Imran bin Hushain
radliyyallaahu 'anhuma, beliau berkata : Rasulullaah shalallaahu
'alaihi wasallama telah bersabda :
Sebaik-baik ummatku adalah yang orang-orang hidup pada zamanku
(generasiku) kemudian orang-orang yg datang setelah mereka kemudian
orang-orang yg datang setelah mereka. 'Imran berkata; Aku tak tahu
apakah setelah menyebut generasi beliau, beliau menyebut lagi dua
generasi atau tiga generasi setelahnya. Kemudian akan datang setelah
kalian suatu kaum yg mereka bersaksi padahal tak diminta bersaksi &
mereka suka berkhiyanat (sehingga) tak dipercaya, mereka memberi
peringatan padahal tak diminta memberi fatwa & nampak dari ciri
mereka berbadan gemuk-gemuk.
{HR. Bukhari No.3377}.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ
عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ
يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ
وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا
عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ وَنَحْنُ صِغَارٌ.
{رواه البخاري برقم : 3378}
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir. Telah menceritakan
kepada kami Sufyan. Dari Manshur. Dari Ibrahim. Dari 'Abiidata. Dari
'Abdillaah radliyyallaahu 'anhu : Sesungguhnya Nabi shalallaahu 'alaihi
wasallama telah bersabda :
Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yg hidup pada zamanku
(generasiku) kemudian orang-orang yg datang setelah mereka kemudian
orang-orang yg datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yg
persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya &
sumpahnya mendahului persaksiannya. Ibrahim berkata; Dahulu, mereka
(para shahabat) mengajarkan kami tentang bersaksi & memegang janji
ketika kami masih kecil. (Mereka memukul kami bila melanggar perjanjian
& persaksian).
{HR. Bukhari No.3378}.
Sahabat Nabi sebagai pengawas dan pengaman umat ini.
حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ ، عَنْ أَبِي مُوسَى ، عَنِ الْحَسَنِ ،
قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لِأَصْحَابِهِ : " أَنْتُمْ فِي النَّاسِ كَالْمِلْحِ فِي الطَّعَامِ " ,
قَالَ : ثُمَّ قَالَ الْحَسَنُ : وَلَا يَطِيبُ الطَّعَامُ إلَّا
بِالْمِلْحِ , ثُمَّ يَقُولُ الْحَسَنُ : كَيْفَ بِقَوْمٍ ذَهَبَ
مِلْحُهُمْ ؟ ! .
{رواه ابن أبي شيبة في مسنده رقم الحديث: 31725}
Telah menceritakan kepada kami Husain bin Aliy. Dari Abi Musa. Dari Al
Hasan, beliau berkata : Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallama
bersabda kepada para sahabatnya :
Kalian dikalangan manusia adalah ibarat garam didalam makanan. Rawi (Abi
Musa) berkata : Lalu Al Hasan berkata : Tiada ada kelazatan didalam
makanan tanpa garam. Kemudian Al Hasan mengatakan : Bagaimana dengan
nasib sebuah kaum yang kehilangan garam mereka?
{HR. Ibnu Abi Syaibah no. 31725}
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ
أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ
مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي
بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى
نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ
مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ
الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ
قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى
السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ
فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ
أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا
ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ
لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ
{أخرجه أحمد : 4/398 ، رقم 19584، ومسلم (4/1961 ، رقم 2531 أو 4596،
واللفظ له. وأخرجه أيضًا : البزار (8/104 ، رقم : 3102، وابن حبان (16/234
، رقم : 7249}
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ishaq bin
Ibrahim dan 'Abdullah bin 'Umar bin Aban seluruhnya dari Husain dia
berkata; Abu Bakr Telah menceritakan kepada kami Husain bin 'Ali Al
Ju'fi dari Mujamma' bin Yahya dari Sa'id bin Abu Burdah dari Abu Burdah
dari Bapaknya dia berkata; "Kami pernah melaksanakan shalat berjama'ah
bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian kami berkata;
'Sebaiknya kami duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
sambil menunggu waktu shalat Isya'. Bapak Abu Burdah berkata; 'Kami
duduk-duduk di masjid, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
mendatangi kami seraya bertanya: 'Kalian masih di sini? ' Kami menjawab,
Benar ya Rasulullah! Kami telah melaksanakan shalat Maghrib berjamaah
bersama engkau. Oleh karena itu kami memilih untuk duduk-duduk di masjid
sambil menunggu shalat Isya berjamaah dengan engkau." Rasulullah pun
berkata: "Kalian benar-benar te! ah melakukan kebaikan." Lalu Rasulullah
mengangkat kepalanya ke atas dan berkata: 'Bintang-bintang ini
merupakan stabilisator langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang,
maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah
penenteram para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para
sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku
adalah penenteram umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka
umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka."
{HR. Ahmad no. 19584. Teks Hadits Riwayat Muslim no. 4596. Ibnu Hibban no. 7249. Dan Al Bazzar no. 3102}
قال الإمام النَّووي في "شرح صحيح مسلم": قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
(النُّجُوم أَمَنَة لِلسَّمَاءِ, فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُوم أَتَى السَّمَاء مَا تُوعَد) قَالَ الْعُلَمَاء:
(الْأَمَنَة) الْأَمْن وَالْأَمَان وَمَعْنَى الْحَدِيث أَنَّ النُّجُوم
مَا دَامَتْ بَاقِيَة فَالسَّمَاء بَاقِيَة. فَإِذَا اِنْكَدَرَتْ
النُّجُوم, وَتَنَاثَرَتْ فِي الْقِيَامَة, وَهَنَتْ السَّمَاء,
فَانْفَطَرَتْ, وَانْشَقَّتْ, وَذَهَبَتْ,
وَقَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (وَأَنَا أَمَنَة
لِأَصْحَابِي, فَإِذَا ذَهَبْت أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ) أَيْ مِنْ
الْفِتَن وَالْحُرُوب, وَارْتِدَاد مَنْ اِرْتَدَّ مِنْ الْأَعْرَاب,
وَاخْتِلَاف الْقُلُوب, وَنَحْو ذَلِكَ مِمَّا أَنْذَرَ بِهِ صَرِيحًا,
وَقَدْ وَقَعَ كُلّ ذَلِكَ.
قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (وَأَصْحَابِي أَمَنَة
لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ)
مَعْنَاهُ مِنْ ظُهُور الْبِدَع, وَالْحَوَادِث فِي الدِّين, وَالْفِتَن
فِيهِ, وَطُلُوع قَرْن الشَّيْطَان, وَظُهُور الرُّوم وَغَيْرهمْ
عَلَيْهِمْ, وَانْتَهَاك الْمَدِينَة وَمَكَّة وَغَيْر ذَلِكَ. وَهَذِهِ
كُلّهَا مِنْ مُعْجِزَاته صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Berkata Imam Nawawi tentang makna perkataan Rasulullah 'Bintang-bintang
ini merupakan stabilisator langit. Apabila bintang-bintang tersebut
hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan :
Al Ulama' mengatakan : “Makna hadits di atas adalah selama bintang itu
masih ada maka langit pun akan tetap ada, apabila bintang-bintang itu
runtuh dan bertebaran pada hari kiamat kelak maka langit pun akan
melemah dan akan terbelah dan lenyap.
Dan sabda Rosululloh: ‘Aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada
maka akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan’, yaitu akan terjadi
fitnah, pertempuran, perselisihan, dan pemurtadan.
Dan sabda Rosululloh: ‘Para sahabatku adalah para penjaga umatku,
apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa yang
telah dijanjikan’, maknanya akan terjadi kebid’ahan dan perkara-perkara
baru dalam agama dan juga fitnah, munculnya antek-antek setan, menangnya
kaum rum, rusaknya madinah dan makkah, dan lain sebagainya. Semuanya
ini merupakan mu'jizat Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallama.
{Lihat Kitab Syarh Shohih Muslim Karya Imam Nawawi : 16/ 82}
Sahabat Nabi sebagai sumber rujukan saat perselisihan dan sebagai pedoman dalam memahami Al-Qur`ân dan Sunnah.
حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ
بْنُ الْعَلَاءِ أَبُو الزُّبَيْرِ الدِّمَشْقِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ ، عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ ، قَالَ :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " لَا
تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَآنِي وَصَاحَبَنِي ,
وَاللَّهِ لَا تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ
رَآنِي وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي " .
{رواه ابن أبي شيبة في مصنفه : كِتَابُ الْفَضَائِلِ » مَا ذُكِرَ فِي الْكَفِّ عَنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ... رقم الحديث: 31737}
Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Habbaab, ia berkata : Telah
menceritakan kepada kami ‘Abdullh Al-‘Alaa’ Abu Zabr Ad-Dimasyqiy, ia
berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Aamir, dari
Waatsilah Al-Asqa’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam : “Kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama
ada di tengah-tengah kalian orang yang pernah melihatku dan bershahabat
denganku. Demi Allah, kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan
selama ada di tengah-tengah kalian orang yang pernah melihat orang yang
pernah melihatku dan bershahabat dengan orang yang pernah bershahabat
denganku. Demi Allah, kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan
selama ada di tengah-tengah kalian orang yang pernah melihat orang yang
pernah melihat orang yang pernah melihatku, dan bershahabat dengan orang
yang bershahabat dengan orang yang bershahabat denganku”.
{HR. Ibnu Abi Syaibah no. 31737, Dengan Sanad Hasan].
Ummul Mu'minin 'Aisyah berpesan kepada kemenakannya yang bernama Urwah bin Al Zubeir Radhiyallahu anhu:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ
هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَتْ لِي عَائِشَةُ يَا ابْنَ
أُخْتِي أُمِرُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِأَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبُّوهُمْ و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ
أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ بِهَذَا
الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ.
{رواه مسلم برقم : 5344، واللفظ له. وابن أبي شيبة برقم : . واللفظ هذا
الحديث في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي » بَابُ جِمَاعِ
فَضَائِلِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ ... » سِيَاقُ مَا رُوِيَ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ ... رقم الحديث: 1939}
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengkhabarkan
kepada kami Abu Mu'wiyah dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya berkata:
Telah berkata kepadaku Aisyah: Wahai keponakanku, mereka telah
diperintahkan untuk memintakan ampunan bagi para sahabat Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam lalu mereka mencaci mereka.
Telah menceritakannya kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah
menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepada kami
Hisyam dengan isnad dengan matan serupa.
{HR. Muslim no. 5344. Dan Ibnu Abi Syaibah no. 1939}
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
الْحَنْظَلِيُّ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ عُثْمَانُ حَدَّثَنَا
جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ
الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَبْدُرُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ
يَمِينَهُ وَتَبْدُرُ يَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ كَانُوا
يَنْهَوْنَنَا وَنَحْنُ غِلْمَانٌ عَنْ الْعَهْدِ وَالشَّهَادَاتِ و
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كِلَاهُمَا عَنْ مَنْصُورٍ بِإِسْنَادِ أَبِي
الْأَحْوَصِ وَجَرِيرٍ بِمَعْنَى حَدِيثِهِمَا وَلَيْسَ فِي حَدِيثِهِمَا
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
{رواه مسلم برقم : 4600}
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah dan Ishaq bin
Ibrahim Al Handzoliy. Ishaq berkata : Telah menceritakan kepada kami dan
Utsman berkata : Telah menceritakan kepada kami Jarir. Dari Manshur.
Dari Ibrahim. Dari 'Abidata. Dari 'Abdillaah, beliau berkata :
Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallama ditanya : Siapakah manusia
yang terbaik itu? Rasulullah menjawab :
Yaitu orang-orang pada masaku, kemudian generasi setelahnya, kemudian
generasi setelahnya lagi, lalu akan suatu kaum setelah mereka yg mana
persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, atau
sebaliknya.' Ibrahim berkata; 'Dulu ketika kami masih kecil, mereka
melarang kami dari perjanjian & persaksian. Dan telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna & Ibnu Basysyar keduanya
berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far Telah
menceritakan kepada kami Syu'bah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur
lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna
& Ibnu Basysar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami
Abdur Rahman; Telah menceritakan kepada kami Sufyan keduanya dari
Manshur melalui jalur Abu Al Ahwash & Jarir yg semakna dgn hadits
keduanya. Namun di dalam Hadits tersebut mereka tak menyebutkan;
'Rasulullah ditanya.
{HR. Muslim No.4600}.
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى
ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ
عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ
فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ مَا أَنَا عَلَيْهِ اليَوْمَ وَ أَصْحَابِي
Ketahuilah, sesungguhnya Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah-belah
menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umat ini juga akan terpecah
menjadi 73 golongan. Tujuh 72 di antaranya masuk neraka, dan satu
golongan di dalam surga, yakni golongan yang mengikuti pedoman yang aku
dan para sahabatku berada di atasnya.
Mengikuti pedoman sahabat adalah jaminan mendapatkan kemenangan.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو
قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
يَقُولُ حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ
فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيَقُولُونَ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ
فَيُفْتَحُ لَهُمْ ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ
مِنْ النَّاسِ فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ
لَهُمْ ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنْ
النَّاسِ فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ
فَيُفْتَحُ لَهُمْ
{رواه البخاري برقم : 3376}
Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Abdillah. Telah menceritakan
kepada kami Sufyan. Dari 'Amrin, beliau berkata : Aku mendengar dari
Jabir bin Abdillaah radliyyallaahu 'anhuma beliau mengatakan : Telah
menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al Khudriy beliau berkata :
Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallama telah bersabda :
Akan datang kepada manusia suatu zaman yg ketika itu ada sekelompok
orang yg berperang lalu orang-orang bertanya kepada mereka; Apakah
diantara kalian ada orang yg bersahabat (mendampingi) Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa salam?. Kelompok itu menjawab; Ya ada. Maka
mereka diberi kemenangan. Kemudian akan datang lagi kepada manusia suatu
zaman yg ketika itu ada sekelompok orang yg berperang lalu ditanyakan
kepada mereka; Apakah diantara kalian ada orang yg bershahabat dgn
shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam?. Mereka menjawab; Ya
ada. Maka mereka diberi kemenangan. Kemudian akan datang lagi kepada
manusia suatu zaman yg ketika itu ada sekelompok orang yg berperang lalu
ditanyakan kepada mereka; Apakah diantara kalian ada orang yg
bershahabat dgn orang yg bershahabat dgn shahabat Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa salam?. Mereka menjawab; Ya ada. Maka mereka diberi
kemenangan.
{HR. Bukhari No.3376}.
حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَحْمَدُ بْنُ
عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ
بْنُ عُيَيْنَةَ قَالَ سَمِعَ عَمْرٌو جَابِرًا يُخْبِرُ عَنْ أَبِي
سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ
فَيُقَالُ لَهُمْ فِيكُمْ مَنْ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ ثُمَّ يَغْزُو
فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيُقَالُ لَهُمْ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ صَحِبَ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ
فَيُفْتَحُ لَهُمْ ثُمَّ يَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيُقَالُ لَهُمْ
هَلْ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ صَحِبَ مَنْ صَحِبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ،
{رواه مسلم برقم : 4597}
Telah menceritakan kepada kami Abu Khoitsamata Zuhair bin Harb dan Ahmad
bin 'Abdata Al Dlobbiyyu dan lafadz dari Zuhair, keduanya mengatakan :
Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah, beliau berkata :
'Amrun mendengar dari Jabir yang mengabarkan Dari Abi Sa'id Al Khudri
radliyyallaahu 'anhu. Dari Nabi shalallaahu 'alaihi wasallama, beliau
telah bersabda :
Akan datang pada manusia suatu zaman, sekelompok orang berperang lalu
dikatakan pada mereka, 'Apakah di antara kalian ada sahabat Rasulullah ?
' mereka menjawab; 'Ya, ' lalu mereka diberikan kemenangan. Kemudian
sekelompok orang berperang & dikatakan pada mereka; 'Apakah di
antara kalian ada yg menjadi sahabat dari sahabat Rasulullah ?
' mereka menjawab; 'Ya, ' lalu mereka diberi kemenangan. Kemudian
sekelompok orang berperang lalu dikatakan pada mereka; 'Apakah di antara
kalian ada orang yg menjadi sahabat dari orang yg menjadi sahabat dari
sahabat Rasulullah ?
' mereka menjawab; 'Ya, ' lalu mereka diberi kemenangan.
{HR. Muslim No.4597}.
حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ حَدَّثَنَا
أَبِي حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ
قَالَ زَعَمَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ
يُبْعَثُ مِنْهُمْ الْبَعْثُ فَيَقُولُونَ انْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ
فِيكُمْ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَيُوجَدُ الرَّجُلُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ بِهِ ثُمَّ يُبْعَثُ
الْبَعْثُ الثَّانِي فَيَقُولُونَ هَلْ فِيهِمْ مَنْ رَأَى أَصْحَابَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُفْتَحُ لَهُمْ بِهِ
ثُمَّ يُبْعَثُ الْبَعْثُ الثَّالِثُ فَيُقَالُ انْظُرُوا هَلْ تَرَوْنَ
فِيهِمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَأَى أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَكُونُ الْبَعْثُ الرَّابِعُ فَيُقَالُ
انْظُرُوا هَلْ تَرَوْنَ فِيهِمْ أَحَدًا رَأَى مَنْ رَأَى أَحَدًا رَأَى
أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُوجَدُ
الرَّجُلُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ بِهِ
{رواه مسلم برقم : 4598}
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al Umawiyu.
Telah menceritakan kepada kami Bapakku. Telah menceritakan kepada kami
Ibnu Juraijin. Dari Abi Al Zubair. Dari Jabir. Rawi menduga Abu Sa'id
mengatakan : Bahwasannya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama telah
bersabda :
Akan datang suatu masa yg ketika itu seseorang sedang dicari-cari untuk
memimpin ekspedisi pasukan.' Orang-orang akan berkata; 'Carilah apakah
kalian dapatkan seorang sahabat Rasulullah ?
' Akhirnya ditemukanlah seorang sahabat Rasulullah, yg dengannya mereka
memperoleh kemenangan. Pada ekspedisi yg kedua orang-orang berkata;
'Apakah ada orang yg pernah bertemu dgn para sahabat Rasulullah?
' Maka mereka memperoleh kemenangan dgn dipimpin oleh orang tersebut.
Pada ekspedisi yg ketiga seseorang berkata; 'Carilah apakah ada orang yg
pernah bertemu dgn orang yg pernah bertemu para sahabat Rasulullah?
' Pada ekspedisi yg keempat seseorang berkata; 'Carilah apakah kalian
dapatkan orang yg pernah bertemu dgn orang yg pernah bertemu dgn yg
pernah bertemu para sahabat Rasulullah?
' Akhirnya didapatkanlah orang tersebut, hingga dgn kepemimpinan orang tersebut mereka meraih kemenangan.
{HR. Muslim No.4598}.
Syariat mengharamkan celaan terhadap sahabat Nabi. Siapa saja yang
mencela para sahabat Nabi, maka ia berhak mendapat laknat Allah,
malaikat dan seluruh manusia.
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ , حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ
الْأَعْمَشِ ، قَالَ : سَمِعْتُ ذَكْوَانَ يُحَدِّثُ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ
أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ
وَلَا نَصِيفَهُ " .
{رواه البخاري برقم : 3397، واللفظ له. ومسلم برقم : 4611}
Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas. Telah menceritakan
kepada kami Syu'bah. Dari A'masy, beliau berkata : Aku mendengar Dzakwan
menceritakan dari Sa'id Al Khudriy radliyyallahu 'anhu, beliau berkata :
Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama telah bersabda :
Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Andaikan ada di antara
kalian yang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka tidaklah akan
bisa menyamai satu mud infak mereka dan bahkan tidak pula setengahnya.
[HR. Bukhariy no. 3397. Dan Muslim no. 4611]
Ibnu Hajar rahimahullah memberikan penjelasan yang kesimpulannya adalah sebagai berikut:
Makna hadits: bahwasanya infak dengan emas sebesar gunung Uhud yang
kalian infakkan tidak akan bisa menyebabkan kalian mendapatkan kedudukan
dan pahala salah seorang dari sahabat yang hanya berinfak dengan
segenggam atau setengah genggam makanan.
Konteks larangan ini tertuju kepada sebagian sahabat yang belakangan
masuk Islam ketika mencela sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam.
Sehingga orang yang tidak menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
lebih dilarang lagi untuk mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Sebab perbedaan ini adalah:
1. Keikhlasan yang lebih dan niat yang jujur dan tulus.
2. Keberadaan infak mereka yang bertepatan dengan kebutuhan yang sangat
terhadap infak pada masa itu. Karena sahabat yang berperang dan berinfak
sebelum Fathu Makkah lebih utama dan lebih mulia dibanding sahabat yang
baru ikut berperang dan berinfak setelah Fathu Makkah. Allah ta’ala
berfirman:
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ
أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ
وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan
berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tingi derajatnya
daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah
itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih
baik.(QS.al-Hadid: 10)
Berinfak dan berperang sebelum Fathu Makkah sangat agung dan mulia
karena sangat dibutuhkan ketika itu. Juga masih sedikitnya orang yang
dituju dengan perintah berinfak dan berperang. Berbeda halnya setelah
Fathu Makkah yang menjadi banyak jumlahnya dan orang-orang masuk Islam
secara berbondong-bondong. Sehingga berinfak dan berperang setelah
Fathu Makkah tidak sama kedudukan dan kemuliaannya dengan infak dan
berperang sebelum Fathu Makkah.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَازِمِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ خَالِدٍ
الضَّبِّيُّ ، عَنْ عَطَاءٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، : " مَنْ حَفِظَنِي فِي أَصْحَابِي حَفِظَهُ
اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَبَّ أَصْحَابِي فَعَلَيْهِ
لَعْنَةُ اللَّهِ " .
{رواه احمد في فضائل الصحابة برقم : 8، أو 9، أو 1533. وابن أبي شيبة في
مصنفه برقم : 31739. وأبو نعيم في حلية الأولياء، برقم : 9965. ولفظ الحديث
في حديث أبي الفوارس الصابوني للإمام محمد بن الفضل بن نظيف، رقم الحديث:
77}
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khazimi bin Muhammad bin
Khalid Al Shabiyyu. Dari 'Atho, beliau berkata : Rasulullaah shalallaahu
'alaihi wasallama telah bersabda : Barang siapa menjagaku (dalam
kehormatan) sahabat-sahabatku, maka Allah akan menjaganya kelak dihari
qiyamat. Dan barang siapa mencaci maki sahabat-sahabatku, maka wajib
baginya laknat Allah.
{HR. Ahmad Fi Fadloilu Al Shahabah no. 8, 9, 1533. Ibnu Abi Syaibah
dalam Al Mushannaf no. 31739. Abu Nu'aim dalam Hulyatu Al Auliya' no.
9965. Dan Teks hadits ini ditulis dalam Kitab Hadits Abi Al Fawaris Al
Shabuni karya Syaikh Muhammad bin Al Fadlol bin Nadzif no. 77}
Al-Imam an-Nawawi mengatakan:
وَاعْلَمْ أَنَّ سَبَّ الصَّحَابَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ حَرَام مِنْ
فَوَاحِش الْمُحَرَّمَات ، سَوَاء مَنْ لَابَسَ الْفِتَن مِنْهُمْ وَغَيْره
؛ لِأَنَّهُمْ مُجْتَهِدُونَ فِي تِلْكَ الْحُرُوب ، مُتَأَوِّلُونَ كَمَا
أَوْضَحْنَاهُ فِي أَوَّل فَضَائِل الصَّحَابَة مِنْ هَذَا الشَّرْح
“ketahuilah bahwasanya mencela sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah
perkara haram termasuk keharaman yang sangat keji. Baik sahabat itu
termasuk yang ikut dalam perseteruan fitnah dan yang tidak. Karena
mereka semua adalah para mujtahid dalam peperangan itu. Mereka juga ahli
tafsir sebagaimana yang kami jelaskan dalam permulaan Fadhail
ash-Shahabah dari kitab syarah ini (yang dimaksud adalah Syarah Shahih
Muslim karya an-Nawawi-pen).”
Kemudian al-Imam an-Nawawi rahimahullah membawakan pernyataan dari al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berikut ini:
“Hal ini (sangat mulia dan agungnya infak satu segenggam bahkan setengah
genggam makanan oleh para sahabat) diperkuat oleh penjelasan yang telah
kami kemukakan pada permulaan bab Fadhail ash-Shahabah dari jumhur
tentang diutamakannya seluruh para sahabat di atas seluruh generasi
setelah mereka.”
Dan sebab diutamakannya infak mereka karena dilakukan pada saat-saat
yang sangat darurat dan sangat sempit. Berbeda halnya dengan generasi
selain mereka.
Juga dikarenakan infak mereka benar-benar tertuju langsung dalam
pembelaan dan menjaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kelebihan
dan keutamaan ini tidak akan ada lagi setelah beliau meninggal. Demikian
pula dengan jihad dan ketaatan mereka.
Kemudian al-Imam an-Nawawi rahimahullah melanjutkan:
Keutamaan ini semua dibarengi dengan sifat yang ada pada diri mereka
berupa kasih sayang, saling mencintai, khusyu’, tawadhu’, benar-benar
mendahulukan saudaranya seiman, berjihad di jalan Allah dengan
sebenar-benar jihad.
Keutamaan para sahabat walaupun hanya sebentar bertemu atau melihat Nabi
shallallah ‘alaihi wa sallam tidak bisa ditandingi oleh amalan apa pun.
Dan derajat sebagai sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
bisa diraih dengan amalan apa pun. Sisi keutamaan ini tidak bisa
disimpulkan dengan kiyas. (Selesai penukilan dari Syarah Muslim).
Sahabat Nabi, mereka ialah orang-orang yang telah mendapat ridha dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di
antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi
mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka
kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.
[at-Taubah/9 ayat 100].
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ
الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا﴾ [الفتح: 18
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka
berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang
ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan
memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).
[al-Fath/48 ayat 18].
Bai’at ini dikenal dengan Bai’at Ridhwan yang terjadi di Hudaibiyah yang
jumlah mereka ketika itu adalah 1500 orang dari sabahat Nabi . Dan
Allah mengabarkan bahwa Dia telah ridha kepada mereka semua.
Dalam ayat lain Allah juga berfirman menjelaskan tentang keimanan para sabahabat.
﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ﴾
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan
Allah (orang-orang Muhajirin), dan orang-orang yang memberi tempat
kediaman dan memberi pertolongan (orang-orang Anshar), mereka Itulah
orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan
rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna dengan ayat2 yang telah disebutkan di atas.
Wallohul Muwaffiq Ila Aqwamith Thoriq
Tidak ada komentar:
Posting Komentar