Jumat, 21 Februari 2020

Penjelasan Kisah Ashabul Kahfi


Kisah Ashabul Kahfi merupakan suatu kisah yang benar dan bersumber dari Al Qur’an, yaitu mengenai beberapa orang pemuda yang tertidur di dalam sebuah gua karena teraniaya oleh masyarakat dan penguasa pada masa-nya, dan mereka di“bangun”kan oleh Allah swt setelah 309 tahun kemudian.
Pemuda-pemuda beriman ini hidup pada masa Raja Diqyanus di Rom, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya Nabi Isa as. Mereka hidup di tengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Demi menjaga iman, mereka melarikan diri dari kota, dikejar oleh tentara raja untuk dibunuh. Hingga pada suatu ketika, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai sebagai tempat persembunyian mereka.
Al-Kahfi artinya Gua dan Ashhabul Kahfi yang artinya Penghuni-Penghuni Gua. Cerita tentang ashabul kahfi ini diambil dari al-Qur’an surah al-Kahfi ayat 9-26 yang menceritakan tentang beberapa pemuda yang menghuni gua untuk menghindari kedzoliman penguasa.
ALLAH Swt, Menurunkan kisah ashabul kahfi kepada Rosulullah sebagai hujjah untuk kaumnya yang musyrik yang menanyakan kisah ashabul kahfi kepada beliau yang dengan pertanyaan itu mereka bermaksud menguji apakah benar Rosulullah adalah utusan ALLAH.

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا (9) إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا (10) فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا (11) ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا (12)
“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?.(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).”
Al-Kahf adalah gua yang besar sedangkan gua kecil disebut dengan al-Ghor (الغار), contoh ghor ini adalah gua tempat persembunyian Nabi Saw, dan Abu Bakar ketika dalam pengejaran oleh kafir Quraish. 
Adapun al-Kahf yang dimaksud adalah gua yang terdapat digunung yang diceritakan dalam kisah ini, sedangkan الرَّقِيمُpara ahli takwil berbeda pendapat mengenai arti dari kalimat ini. Sebagian mereka mengatakan bahwa الرَّقِيمُ adalah nama dari sebuah kota dan adapula yang mengatakan bahwa الرَّقِيمُnama sebuah lembah yang dilembah itulah terdapat gua yang ditempati oleh para ashabul kahf. Dan adapula pendapat lain seperti yang dikemukakan oleh Said bin Jubair bahwa الرَّقِيمُ adalah sebuah batu tulis yang disitu dituliskan kisah-kisah tentang ashabul kahfi yang kemudian diletakkan di atas pintu gua.
Nama gua tersebut adalah خيرم yang terdapat di gunung مخلوس.‎
Dalam sebuah hadits Qudsi Berfirman kepada Nabi Muhammad Saw: 

أَمْ حَسِبْتَ يَامُحَمَّدُ أَنَّأ َصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا، فَإِنَّ مَا خَلَقْتُ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَمَا فِيهِنَّ مِنَ الْعَجَائِب ِأَعْجَبُ مِنْ أَمْرِ أَصْحَابِ الْكَهْفِ
“Wahai Muhammad! Apakah engkau menganggap bahwa (kisah) penghuni gua dan (pemilik anjing) mereka adalah termasuk tanda-tanda dari ayat Kami yang mengherankan? Maka sesungguhnya apa yang aku ciptakan dari bumi dan langit serta isinya adalah termasuk keajaiban-keajaiban yang lebih ajaib daripada dari pada kejadian yang dialami oleh ashabul kahfi”
Ayat ke-9 dari surah al-Kahfi dan hadits Qudsi ini tidak berarti menafikan keajaiban yang dialami oleh ashabul kahfi, melainkan ALLAH Swt, Memberi tahukan bahwa masih banyak keajaiban yang jauh lebih ajaib dari pada apa yang terjadi pada ashabul kahfi seperti matahari, bulan, bumi beserta segala isinya dll.
Menurut sebuah Imam Mujahid, para pemuda yang mendapat julukan ashabul kahfi ini adalah putra-putra para pembesar dan orang-orang terhormat dari Negara Rum (Turki). Mereka keluar dari dan berkumpul dibelakang kota tanpa perjanjian.Mereka adalah orang-orang yang tetap memegang teguh bahwa tiada Tuhan selain ALLAH. Mereka kemudian masuk kedalam gua dan menetap di sana selama 30 lebih 9 tahun‎Mereka tertidur dan ALLAH Swt, membolak-balikkan badan mereka ke kanan dan ke kiri agar jasad mereka tidak rusak.
Nama-nama para Ashabul Kahfi sebagaimana yang tercantum dalam al-Tabari: 
1.       Miksalmina (مكسلمينا) adalah yang paling senior (paling tua) dan menjadi juru bicara Ashabul Kahfi.
2.       Mishsimilnina (محسميلنينا)
3.       Tamlikho (يمليخا) dia adalah orang yang diutus untuk mencari makanan ke kota
4.       مرطوس Marteliusus
5.        كشوطوشCasitius
6.       دينموس Sidemius
7.       يطونس Yathbunus
8.       بيرونس Bairunus
9.       Anjing yang beranma Qithmir milik Muksalmina
Sedangkan menurut an-Naisaburi sebagaimana yang tercantum dalam tafsirnya, yang benar yang sesuai dengan khobar dari Rosulullah yang disampaikan dari malaikat Jibril bahwa jumlah mereka semua ada 7. Berikut nama-nama mereka:
1.      يمليخا Tamlikho
2.      مكشلينيا Maksalina
3.      مشلينياMatsalina
Mereka bertiga ini adalah dari golongan kanan kerajaan. Sedangkan dari golongan kiri adalah:
4.      مرنوس Marnusy
5.      دبرنوش Dabarnusy
6.      شادنوش Syadzanusy‎
7.      كفشططوش ‎Kafsyathathinus 
8.    قطمير
 Dan yang terakhir adalah anjing pengembala yang bernama Qithmir dan adapula yang berpendapat bahwa nama anjingnya adalah Royyan ada juga yang berpendapat bahwa namanya adalah Himran sebagaimana dalam tafsir al-Qurtubi.
Demikian nama-nama yang dapat kami tulis. Namun berhubung belajar secara otodidak mengeja bahasa ‘ajami dengan tulisan Arab adalah perkara sulit bagi saya. Jadi harap maklum jika antara tulisan Arab dan abjadnya berbeda atau salah pengejaan.
Mengenai lamanya mereka tidur di dalam gua hanya ALLAH Yang Mengetahuinya secara pasti seperti yang akan diterangkan nanti.
Secara nalar manusia normal, memang mustahil ada orang yang tertidur selama itu. Namun mustahil itu hanya menurut akal manusia yang memang mereka sendiri bersifat lemah. Sedangkan bagi ALLAH Yang Maha Kuasa, Menjadikan hal diluar kebiasan (ajaib) sama sekali tidak sulit.
Para ulama berbeda pendapat mengenai sebab keluarnya para pemuda ini dari kota. Sebagian ulama berpendapat bahwa penyebab mereka keluar dari kotanya adalah karena mereka merupakan orang-orang Islam yang mengikuti agama Nabi Isa as, sedangkan raja mereka adalah seorang raja penyembah berhala dan mengajak mereka untuk ikut menyembah berhala-berhala itu. Akhirnya mereka lari dari raja tersebut karena takut sang raja akan mendzolimi atau membunuh mereka lalu mereka bersembunyi di dalam gua.
  
Dalam kitab tafsir al-A’qom disebutkan bahwa nama raja tersebut adalah raja Diqyanus (دقيانوس). Ada yang mengatakan bahwa raja dikyanus memaksa para pemuda ini untuk ikut menyembah berhala, namun mereka menolak hingga akhirnya mereka dipenjara lalu melarikan diri dari penjara tersebut. Para pemuda ini melarikan diri dan ditengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang pengembala kambing yang memiliki anjing. Lalu pengembala kambing ini mengikuti agama ashabul kahfi dan membawa mereka ke gua tersebut. Para pemuda ini dicari oleh raja Diqyanus kemudian ada yang mengatakan bahwa para pemuda tersebut bersembunyi disebuah gua. Raja diqyanus setelah mendapati gua tersebut lantas menutup gua agar para pemuda tersebut tidak bisa keluar dan mati didalamnya. Namun ALLAH Dzat Yang Maha Penyayang kepada hamba-Nya Mengutus malaikat untuk menghilangkan penutup tersebut.

{ فَضَرَبْنَا على ءاذَانِهِمْ }‎
 
Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu”
Para ahli tafsir mengatakan bahwa maksud dari ayat ini adalah ALLAH Swt, Menjadikan mereka (para pemuda ashabul kahfi) tidur dan menutup telinga mereka sehingga mereka tak terbangun oleh suara apapun. Telinga adalah jalan pertama untuk membangunkan orang tidur, karena tidaklah berat bagi seseorang untuk bangun kecuali jika telinganya tidak berfungsi. Maka dari itulah sabda Rosulullah Saw, ketika mengetahui ada seorang laki-laki yang tidak bangun pagi:
«ذلك رجل قد بال الشيطان في أذنه»
“Laki-laki itu telinganya benar-benar telah dikencingi syetan”
Maksudnya adalah telinganya telah dikencingi setan sehingga mencegah laki-laki itu untuk bangun sebelum matahari terbit.

ثُمّ َبَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا (12)‎
 Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).

المسألة  الرابعة : اختلفوا في الحزب ينفق العطاء عن ابن عباس رضي الله عنهما : المراد بالحزب ينال ملوك الذين تداولوا المدينة ملكاً بعد ملك، فالملوك حزبو أصحاب الكهف حزب . والقول الثاني : قال مجاهد : الحزب انمن هذه الفتية لأن أصحاب الكهف لما انتبهوا اختلفوا في أنهم كم ناموا والدليل عليه قوله تعالى :{ قَالَ قَائِلٌ مّنْهُمْ كَم لَبِثْتُمْ قَالُوا ْلَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْض َيَوْمٍ قَالُواْ رَبُّكُمْأ َعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ } [ الكهف : 19 ] فالحزب انهما هذان، وكان الذين قالوا ربكم أعلم بما لبثتم هم الذين علموا أن لبثهم قد  تطاول . القولالثالث : قال الفراء : إن طائفتين من المسلمين في زمان أصحاب الكهف اختلفوا في مدة لبثهم .
Para ulama berbeda pendapat mengenai siapakah yang dimaksud dengan ‘kedua golongan’ yang disebutkan ALLAH Swt, dalam ayat ini. Pendapat pertama oleh Imam Atho’ ra dari Ibn Abbas ra menyatakan bahwa yang dimaksud adalah golongan raja yang memimpin (karena seiring bergulirnya waktu, raja demi raja silih berganti memimpin) kota dan ashabul kahfi, pendapat kedua menurut Imam Mujahid kedua golongan itu adalah berasal dari ashabul kahfi itu sendiri ketika mereka terbangun dan mereka bertanya berapa lama mereka telah tertidur. Pendapat ini dikuatkan dengan firman ALLAH:

{ قَال َقَائِلٌ مّنْهُمْ كَم لَبِثْتُمْ قَالُواْ لَبِثْنَا يَوْمًا أَو ْبَعْضَ يَوْمٍ قَالُو اْرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ } [ الكهف : 19 ]
“Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)." Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).”
Dan golongan yang mengatakan “Tuhan kamu lebih Mengetahui berapa lama kamu berada (di sini) adalah golongan yang menyadari bahwa mereka telah berada di gua itu dalam waktu yang cukup lama. Sedangkan pendapat ketiga adalah pendapat dari Imam al-Farra’ bahwa yang dimaksud dengan ‘dua golongan’ adalah golongan dari kaum muslimin yang hidup pada masa ashabul kahfi yang mana mereka berbeda pendapat mengenai lamanya mereka tinggal (di gua).

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14) هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (15) وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا (16) وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا (17) وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَات الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا (18)وَكَذَلِكَ بَعَثْنَا هُمْ لِيَتَسَاءَلُواب َيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ  فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَة ِفَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَايُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا (19) وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا (19) إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا (20) وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا (21) سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا (22) وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24) وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا (25) قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (26)
13. Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. 14. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran." 15. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? 16. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu 17. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. 18. Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. 19. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)." Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. 20. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya." 21. Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka." Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya." 22. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya." Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit." Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. 23. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, 24. kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini." 25. Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). 26. Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan."
{إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ} ‎
 
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka
ALLAH Swt, Menjelaskan kepada Rosulullah Saw, bahwa para pemuda yang bersembunyi di dalam gua yang ditanyakan oleh kaum musyrikin pada Rosulullah, para pemuda itu adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhannya. ALLAH Swt, Menceritakan tentang para pemuda ini dengan perantara malaikat Jibril. Mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka yaitu ALLAH Azza wa Jalla Yang tidak ada Tuhan selain Dia. Tuhan Yang telah Menciptakan beberapa langit dan bumi.
{ وَزِدْنَاهُمْ هُدىً }‎
dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.
Menurut Ibnu Abbas, ALLAH Swt, Menambahkan petunjuk kepada mereka dengan ucapan dari anjing milik pengembala yang menuntun mereka untuk berlindung di dalam sebuah gua.ALLAH juga menguatkan hati mereka dengan iman, komitmen, dan kesabaran untuk berpisah dari tanah kelahirannya, dari keluarganya, dari harta mereka dan juga dari kehidupan yang menyenangkan.
{ وَرَبَطْنَاعَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْقَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ }
Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi;
Dan ALLAH Swt Menjadikan mereka sabar untuk meninggalkan kaumnya dan kota mereka. Meninggalkan segala macam bentuk kemewahan hidup yang mereka dapatkan di kotanya, karena (sesuai pendapat banyak ahli tafsir dari ulama salaf ataupun kholaf) sesungguhnya para pemuda ini adalah putera-putera para petinggi dan orang-orang terhormat dari kerajaan rum (Turki).
Suatu hari mereka keluar untuk mengikuti salah satu kebiasaan kaumnya. Mereka memiliki satu hari disetiap tahun yang hari itu mereka berkumpul untuk menyembah berhala dan menyembelih hewan untuk berhala-berahala itu. Mereka memiliki raja yang bernama raja Dikyanus yang memerintah rakyatnya untuk sujud kepada berhala-berhala itu dan melakukan penyembelihan hewan untuk berhala-berhala tersebut.‎
Maka kemudian satu persatu dari mereka (para ashabul kahfi) memisahkan diri dari kaumnya. Awalnya satu orang memisahkan diri dan duduk dibawah naungan pohon, lalu datanglah seorang lagi dan mereka duduk berdua. Kemudian datang seorang lagi yang juga ikut duduk bersama mereka berdua, lalu datang seorang lagi dan seorang lagi dan seorang lagi dan seorang lagi. Mereka berkumpul ditempat itu dengan tanpa saling mengenal satu sama lain. Mereka berkumpul tanpa ada perjanjian dan yang membuat mereka berkumpul adalah panggilan iman dari hati mereka.
( إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ )‎
 
diwaktu mereka berdiri lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi
Dalam tafsir at-Tabari disebutkan bahwa ucapan ini mereka ucapkan saat mereka berada dihadapan raja dikyanus dan juga para petinggi-petinggi kerajaan lainnya. Akan tetapi dalam kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, ayat ini memungkinkan tiga macam cerita yaitu:
1- Sebenarnya ucapan mereka ini mereka ucapkan dihadapan raja sebagaimana yang tercantum dalam tafsir al-Tabari. Ketika ucapan ini diucapkan dihadapan raja maka tentulah mereka butuh kekuatan batin untuk mengucapkannya sebagaimana firman ALLAH:
 
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ
 
2- Sebenarnya ucapan ini tidak mereka ucapkan dihadapan raja, melainkan ketika mereka berkumpul tanpa perjanjian dibelakang kota mereka saling bercerita tentang isi hati mereka tentang keimanan kepada ALLAH Swt, lalumereka berdiri dan mengatakan:

إذ ْقَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِوَالأرْضِ
 
3- Mereka bertekad dengan kesungguhan hati untuk menuju ALLAH Swt, yang kesungguhan tekad ini digambarkan dengan lafadz القيام.
Sebenarnya ada beberapa riwayat tentang cerita para pemuda ini diantaranya adalah mereka dengan keteguhan hati mengatakan dihadapan raja Dikyanus (sesuai cerita nomer satu) lalu mereka dipenjara dan akhirnya melarikan diri dari penjara tersebut dan bersembunyi di gua. Akan tetapi jika dipadukan dengan tafsir Ibnu Katsir yang dicantumkan di atas, maka tentu saja cerita yang kedua yang sesuai yaitu ketika mereka berkumpul lalu mereka kompak mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan seluruh langit dan bumi.والله اعلم
{ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَالشِّمَالِ }
Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri
ALLAH Swt, Membolak-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri selama mereka tidur agar tubuh mereka tidak rusak karena terlalu lama diam. Pun demikian ALLAH Swt, juga Membuat mereka tertidur dengan mata yang tetap terbuka dengan tujuan agar mata mereka tidak rusak. Firman ALLAH:

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ
Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur
Menurut Ibnu Abbas mereka berbalik setiap 6 bulan sekali.
Setelah mereka bangun dari tidur panjangnya, lalu mereka bertanya sudah berapa lama mereka tidur. Hal ini mereka sadari setelah mereka melihat perubahan pada rambut dan kuku mereka.

{ فَابْعَثُواأَحَدَكُمْبِوَرِقِكُمْهَذِهِإِلَىالْمَدِينَةِ } ‎
Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini
Para pemuda ashabul kahfi ini setelah mereka terbangun mereka mengutus salah seorang diantara mereka sendiri (dalam tafsir an-Naisaburi disebutkan bahwa pemuda yang diutus ini bernama Yamlikho/يمليخا) untuk pergi mencari makanan yang halal dan baik. Mereka membawa uang saat keluar dari rumahnya untuk kebutuhan mereka. Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud makanan yang baik ini adalah makanan yang disembelih secara halal karena mayoritas penduduk kota itu beragama majusi.

{ يَرْجُمُوكُمْأَوْيُعِيدُوكُمْفِيمِلَّتِهِمْ }‎
niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka,
Mereka meminta pada Yamlikho agar berhati-hati takut-takut keberadaan mereka diketahui oleh anak buah dikyanus sehingga mereka akan terus disiksa dengan berbagai siksaan sampai mereka kembali kepada agama lamanya atau mereka akan mati. Dan jika mereka kembali kepada agama lamanya maka tidak aka nada keberuntungan di dunia maupun akhiratnya. Maka dari itulah mereka mengatakan

 وَلَنْتُفْلِحُواإِذًاأَبَدًا } =‎
kamu tidak akan beruntung selama lamanya
Orang yang diutus ini begitu ia keluar dari pintu gua dia melihat pemandangan yang tidak dikenalnya yang membuatnya hendak kembali. Kemudian ia melewatinya hingga masuk ke kota dan ia pun kembali tak mengenali lokasi itu. Ketika ia hendak berbelanja ia mengeluarkan uangnya (uang yang dimilikinya waktu itu adalah uang perak atau dikenal dengan dirham) kemudian masyarakat heran kepadanya dan juga heran pada uang yang ia miliki. Mereka berkata padanya “dari mana kamu mendapatkan (uang) ini?” ini bukanlah uang yang digunakan pada zaman sekarang”. Sergah masyarakat.
Selain tentang cerita ashabul kahfi, dari ayat ini juga menjadi dalil tentang diperbolehkannya akad wakalah dalam transaksi jual beli yang tentu saja apabila transaksi tersebut sesuai dengan hukum syari’at dan tidak melanggar.
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَمِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا (25) قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَايُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (26)
25. Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). 26. Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan."
Sudah masyhur kita ketahui bahwa para ashabul kahfi tertidur di dalam gua selama 300 lebih 9 tahun. Namun menurut Imam Qatadah, ucapan itu itu adalah ucapan ahlul kitab kemudian dibantah oleh ALLAH Swt, dengan firman-Nya:‎
قُلِ اللَّه ُأَعْلَم ُبِمَا لَبِثُوا
Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua)
dan menurut Mathor al-Warraq, ucapan 300 tahun itu adalah ucapan yang disampaikan oleh kaum yahudi yang kemudian dibantah oleh ALLAH Swt dengan firman:
قُلِ اللَّهُ أَعْلَم ُبِمَا لَبِثُوا
Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua)
Penjelasan Ilmiyyah
Mereka serasa tertidur satu hari didalam gua, namun zaman ternyata telah berganti selama 309 tahun (pendapat lain menyatakan 350 tahun).

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعاً
“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS 18:25)
Bagaimana bisa?
Hal ini bisa dibuktikan dengan analisis melalui fisika modern, yaitu teori relativitas Einstein.“Jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu (mendekati kecepatan cahaya), maka benda tersebut akan mengalami dilatasi waktu dan kontraksi panjang.”Dan didalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 18 termaktub :

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظاً وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَاراً وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْباً
“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.” (QS 18:18)
“…Kami balik-balikkan mereka kekanan dan kekiri…” yang berarti mereka di dalam gua bergerak (digerakkan) dengan kecepatan tertentu. Berapa kecepatan mereka, sehingga mereka dapat hidup melitasi zaman? Dari data-data yang kita dapatkan dari Al-Quran berikut analisis untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus pembuktian kebenaran Ashabul Kahfi dalam Al-Quran.
Dari Al-Quran diperoleh data bahwa waktu menurut mereka (Ashabul Kahfi yang bergerak) t0 = 1 hari. Sedangkan waktu yang sebenarnya adalah t = 309 tahun = 109386 hari (tahun qomariah 1 tahun = 354 hari).
Dan jika nilai t1 dan t0 dimasukkan kedalam rumus :
V2 = 0,99999.C2
V = 0,999999C
Dari penjabaran diatas, jika para Ashabul Kahfi bergerak (digerakkan) mendekati kecepatan cahaya, maka ini membutktikan bahwa peristiwa tersebut sangatlah masuk akal untuk terjadi.
Kemudian penjelasan lainnya.
“…Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka…”
Mengapa orang yang melihat mereka ketakutan?
Seperti penjelasan teori relativitas diatas, bahwa jika suatu benda bergerak dengan kecepatan tinggi maka selalu mengalami dilatasi waktu juga mengalamai kontraksi panjang dengan perumusan ;
Jika V mendekati kecepatan cahaya, maka nilai L1 ( panjang benda yang diamati oleh kerangka acuan yang berbeda) akan mendekati nol. Ini berarti Ashabul Kahfi sudah hampir tidak terlihat wujudnya oleh orang yang melihatnya dari luar.Namun bahwa mereka digerakkan ke kakan dan ke kiri , yang berarti mereka bergerak bolak balik, sesuai dengan teori fisika bahwa sebuah benda yang bergerak dengan arah yang berlawanan dengan arah semula, maka benda tersebut akan mengalami berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat ini, maka panjangnnya akan kembali seperti semula. Sehingga setiap saat mereka akan berubah dari ukuran semula… mengecil… menghilang… membesar… ukuran semula. Begitu seterusnya. Dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana wujud mereka. 
Tentulah sangat mengerikan bukan?
Penjelasan berikutnya.
فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَداً
“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,” (QS 18:11)
Mengapa telinga mereka ditutup?
Sebagaimana kita semua telah mengetahui bahwa bunyi ditimbulkan dari suatu benda yang bergetar atau bergerak dan getaran benda itu menggetarkan udara. Selanjutnya udara tersebut menggetarkan selaput telinga, gendang telinga yang frekwensi getarannya sama dengan getaran frekwensi getaran benda, maka kita mendengar bunyi.
Namun apabila suatu benda bergerak diatas kecepatan bunyi, maka akan terjadi patahan gelombang (supersonic fracture) yang menimbulkan ledakan suara yang luar biasa kuatnya, bahkan mengakibatkan pecahnya kaca dan bengunan-bangunan. Misalnya pada pengemudian pesawat supersonic yang mengakibatkan suara yang meledak-ledak dan meruntuhkan bangunan dan kaca-kaca disekitarnya.
Demikian pula dengan Ashabul Kahfi. Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa gerakannnya mendekati kecepatan cahaya sehingga juga berlaku patahan-patahan gelombang, yang akan menimbulkan ledakan suara seperti halnya pesawat supersonic. Oleh karena itu sesuai dengan ayat 11 surat Al Kahfi telinga mereka ditutup selama beberapa tahun, ternyata guna melindungi gendang telinga meraka dari ledakan-ledakan suara yang ditimbulkan dari gerakan mereka yang terlalu cepat.
Dari analisis diatas kita dapat membuktikan secara ilmiah kebenaran cerita Ashabul Kahfi yang dulu oleh orang-orang barat dianggap cerita fantasi. Karena mereka mengganggap cerita itu tidak masuk akal, dan selama ini belum terbukti orang mampu hidup tanpa makan dan minum sampai bertahun-tahun.
Dan mereka memvonis semua cerita yang tidak masuk akal tidak dapat diterima sebagi suatu kebenaran. Persepsi yang demikian itu salah, analisis diatas membuktikan bahwa sesuatu yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Ini membuktikan bahwa akal manusia itu terbatas, karena mungkin akal manusia belum mampu mencerna dan menganalisis hal-hal tersebut.
Di dalam kisah ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata yang harus kita ambil pelajaran. Di antaranya:
 
1. Walaupun menakjubkan, kisah para penghuni gua ini bukanlah ayat Allah yang paling ajaib. Karena sesungguhnya Allah mempunyai ayat-ayat yang menakjubkan yang di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi mereka yang mau memerhatikannya.
 
2. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah melindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk). Di sini, Allah telah bersikap lembut terhadap mereka dalam tidur yang panjang ini, untuk menyelamatkan iman dan tubuh mereka dari fitnah dan pembunuhan masyarakat mereka. Allah menjadikan tidur ini sebagai bagian dari ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan berlimpahnya kebaikan-Nya. Juga agar hamba-hamba-Nya mengetahui bahwa janji Allah itu adalah suatu kebenaran.
 
3. Anjuran untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekaligus mencarinya. Karena sesungguhnya Allah mengutus mereka adalah untuk hal itu. Dengan pembahasan yang mereka lakukan dan pengetahuan manusia tentang keadaan mereka, akan menghasilkan bukti dan ilmu atau keyakinan bahwa janji Allah adalah benar, dan bahwa hari kiamat yang pasti terjadi bukanlah suatu hal yang perlu disangsikan.
 
4. Adab kesopanan bagi mereka yang mengalami kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu masalah ilmu adalah hendaklah mengembalikannya kepada yang mengetahuinya. Dan hendaknya dia berhenti dalam perkara yang dia ketahui.
5. Sahnya menunjuk wakil dalam jual beli, dan sah pula kerjasama dalam masalah ini. Karena adanya dalil dari ucapan mereka dalam ayat:
 
فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَة‎
“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19)
6. Boleh memakan makanan yang baik dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil:‎
فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ
 
“Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19)
7. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati dan mengasingkan  diri atau menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah dalam agama. Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.‎
8. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, ‘awaid(???)mereka pada Allah.‎
9. Disebutkan dalam kisah ini betapa luasnya akibat buruk dari kemudaratan dan kerusakan yang berbuah kebencian dan upaya meninggalkannya (???). Dan sesungguhnya jalan ini adalah jalan yang ditempuh kaum mukminin.‎
10. Bahwa firman Allah:‎
 
قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sungguh kami tentu akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas mereka’.” (Al-Kahfi: 21)
Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa masyarakat di mana mereka hidup (setelah bangun dari tidur panjang) adalah orang-orang yang mengerti agama. Hal ini diketahui karena mereka sangat menghormati para pemuda itu sehingga sangat berkeinginan membangun rumah ibadah di atas gua mereka. Dan walaupun ini dilarang –terutama dalam syariat agama kita– tetapi tujuan diceritakannya hal ini adalah sebagai keterangan bahwa rasa takut yang begitu besar yang dirasakan oleh para pemuda tersebut akan fitnah yang mengancam keimanannya, serta masuknya mereka ke dalam gua telah Allah gantikan sesudah itu dengan keamanan dan penghormatan yang luar biasa dari manusia. Dan ini adalah ‘awaid (???) Allah terhadap orang yang menempuh suatu kesulitan karena Allah, di mana Dia jadikan baginya akhir perjalanan yang sangat terpuji.‎
11. Pembahasan yang berbelit-belit dan tidak bermanfaat adalah suatu hal yang tidak pantas untuk inhimak, berdasarkan firman Allah:
فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا
 
“Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang keadaan mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.” (Al-Kahfi: 22)
12. Faedah lain dari kisah ini bahwasanya bertanya kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang yang tidak dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang. Karena Allah menyebutkan:
 
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
 
“Dan jangan pula bertanya mengenai mereka (para pemuda itu) kepada salah seorang di antara mereka itu.” (Al-Kahfi: 22)

Penjelasan Kisah Sayidina Ashif Bin Barkhoya


Namanya Ashif ibnu Barkhoya. Dialah figur penting dalam kisah pertemuan Nabi Sulaiman AS dengan Ratu Balqis. Dia bisa memindahkan singgasana sang ratu dalam sekedipan mata.siapakah sebenarnya Ashif  ibnu Barkhoya…?
Jati diri Ashif ibnu Barkhoya banyak diceritakan dalam kitab-kitab klasik, salah satunya dalam Ihya Ulum al-Din karya sufi besar Imam Al-Ghazali. Ada yang mengatakan bahwa Ashif adalah sepupu Nabi Sulaiman AS, ada juga yang bilang bahwa dia adalah juru tulis Nabi Sulaiman.
Ashif, tulis Al-Ghazali, dahulunya adalah seorang pemboros. Dia sering melakukan maksiat namun kemudian bertoba. Diceritakan bahwa Allah berfirman kepada nabi Sulaima, “Hai pemimpin ahli ibadah, sampai kapan sepupumu akan berbuat maksiat kepada-Ku sedangkan Aku sangat mengasihinya? Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika ia sampai terkena tiupan badai-Ku maka akan aku tinggalkan dirinya agar menjadi contoh bagi orang-orang yang semasanya dan yang bagi umat sesudahnya.”
Ketika Ashif dan Sulaiman bertemu, Sulaiman menyampaikan apa yang diwahyukan Allah tentang dirinya. Mendengar penjelasan tersebut Ashif keluar dan menaiki bukit pasir, disana ia menengadahkan kepala ke langit dan berseru, “Tuhanku junjunganku, Engkau ya Engkau, aku ya aku, bagaimana aku akan bertobat sedangkan Engkau tidak menerima tobatku? Bagaimana aku akan meminta perlindungan dari dosa sedangkan Engkau tidak menjagaku? Aku pasti kembali.”
Kemudian Allah berfirman. “Engkau benar hai Ashif, engkau ya engkau, Aku ya Aku, Aku menerima tobatmu dan aku telah mengampunimu karena sesungguhnya Aku Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.”
Al-Ghazali berkata, sebetulnya perkataan Ashif tersebut adalah bentuk ungkapan rayuan kepada Allah. Kadang seorang hamba seolah memberitahukan kepada Allah padahal sebenarnya dia menginginkan sesuatu untuk dirinya, kadang seolah dia menjauh dari Allah padahal sebenarnya dia ingin menuju Allah. Hal semacam ini sering terjadi pada hamba-hamba-Nya sejak dahulu hingga masa yang akan datang, sesuai dengan apa yang ditentukan-Nya sejak masa azali.
Demikianlah akhirnya Ashif mau menerima pertolongan dari Allah sehingga dirinya berubah drastic, dari seorang yang selalu melakukan maksiat menjadi orang yang taat, hidupnya yang selama ini jauh dari jalan Allah, kini selalu patuh kepada perintah-Nya. Allah pun selalu membantunya dalam melakukan ibadah, ketaatan, pengakuan terhadap dosanya, serta tobatnya.
Dan ditengah kesungguhannya kembali kepada-Nya itulah Allah mengajarkan Al-Ismullah Al-A`zhom (kalimat keagungan) yang jika digunakan untuk berdoa maka akan dikabulkan.
Sebagian penafsir Al-Quran dalam sejumlah kitab klasik disebutkan bahwa Ashif lah yang menghadirkan singgasana Ratu Balqis di Yaman untuk Nabi Sulaiman di Baitul Maqdis, Palestina. Dalam tafsir al-Thabari dijelaskan sebagai berikut:
Ibnu Humaid telah bercerita kepada kami, beliau berkata, Salamah telah bercerita kepada kami dari Ibnu Ishaq dari sebagian ahli ilmu dari Wahab ibn Munabah, beliau berkata, mereka mengatakan bahwa Ashif Ibnu Barkhiya berwudhu kemudian dia melakukan shalat sunah dua rakaat, setelah itu dia berkata kepada Nabi Sulaiman, “Wahai Nabi Allah, arahkan pandanganmu kearah yang jauh!” Nabi Sulaiman pun mengarahkan pandangannya ke arah Yaman. Setelah itu Ashif berdoa memohon bantuan Allah, maka tiba-tiba singgasana Ratu Balqis yang berada di Yaman muncul di hadapan Nabi Sulaiman dan ketika melihat kejadian tersebut beliau berkata (firman Allah),”Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku” (QS Al-Naml:40)

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَن يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (38) قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40)
 
“38. berkata Sulaiman:
“Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. 
 
39. berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin:
“Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. 
 
40. berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab:
“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.
 
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:
“Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
 
قَالَ الَّذِي عِنْده عِلْم مِنْ الْكِتَاب " قَالَ اِبْن عَبَّاس وَهُوَ آصَف كَاتِب سُلَيْمَان وَكَذَا رَوَى مُحَمَّد بْن إِسْحَاق عَنْ يَزِيد بْن رُومَان أَنَّهُ آصَف بْن بَرْخِيَاء وَكَانَ صِدِّيقًا يَعْلَم الِاسْم الْأَعْظَم وَقَالَ قَتَادَة كَانَ مُؤْمِنًا مِنْ الْإِنْس وَاسْمه آصَف وَكَذَا قَالَ أَبُو صَالِح وَالضَّحَّاك وَقَتَادَة إِنَّهُ كَانَ مِنْ الْإِنْس زَادَ قَتَادَة مِنْ بَنِي إِسْرَائِيل وَقَالَ مُجَاهِد كَانَ اِسْمه أَسْطُوم قَالَ قَتَادَة فِي رِوَايَة عَنْهُ كَانَ اِسْمه بليخا وَقَالَ زُهَيْر بْن مُحَمَّد هُوَ رَجُل مِنْ الْإِنْس يُقَال لَهُ ذُو النُّور وَزَعَمَ عَبْد اللَّه بْن لَهِيعَة أَنَّهُ الْخَضِر وَهُوَ غَرِيب جِدًّا وَقَوْله " أَنَا آتِيك بِهِ قَبْل أَنْ يَرْتَدّ إِلَيْك طَرْفك " أَيْ اِرْفَعْ بَصَرك وَانْظُرْ مَدّ بَصَرك مِمَّا تَقْدِر عَلَيْهِ فَإِنَّك لَا يَكِلّ بَصَرك إِلَّا وَهُوَ حَاضِر عِنْدك وَقَالَ وَهْب اِبْن مُنَبِّه اُمْدُدْ بَصَرك فَلَا يَبْلُغ مَدَاهُ حَتَّى آتِيك بِهِ فَذَكَرُوا أَنَّهُ أَمَرَهُ أَنْ يَنْظُر نَحْو الْيَمَن الَّتِي فِيهَا هَذَا الْعَرْش الْمَطْلُوب ثُمَّ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَدَعَا اللَّه تَعَالَى قَالَ مُجَاهِد قَالَ يَا ذَا الْجَلَال وَالْإِكْرَام وَقَالَ الزُّهْرِيّ قَالَ : يَا إِلَهنَا وَإِلَه كُلّ شَيْء إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَه إِلَّا أَنْتَ اِئْتِنِي بِعَرْشِهَا قَالَ فَمَثَلَ بَيْن يَدَيْهِ قَالَ مُجَاهِد وَسَعِيد بْن جُبَيْر وَمُحَمَّد بْن إِسْحَاق وَزُهَيْر بْن مُحَمَّد وَغَيْرهمْ لَمَّا دَعَا اللَّه تَعَالَى وَسَأَلَهُ أَنْ يَأْتِيه بِعَرْشِ بِلْقِيس وَكَانَ فِي الْيَمَن وَسُلَيْمَان عَلَيْهِ السَّلَام بِبَيْتِ الْمَقْدِس غَابَ السَّرِير وَغَاصَ فِي الْأَرْض ثُمَّ نَبَعَ مِنْ بَيْن يَدَيْ سُلَيْمَان وَقَالَ عَبْد الرَّحْمَن بْن زَيْد بْن أَسْلَم لَمْ يَشْعُر سُلَيْمَان إِلَّا وَعَرْشهَا يُحْمَل بَيْن يَدَيْهِ قَالَ وَكَانَ هَذَا الَّذِي جَاءَ بِهِ مِنْ عُبَّاد الْبَحْر فَلَمَّا عَايَنَ سُلَيْمَان وَمَلَأَهُ ذَلِكَ وَرَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْده " قَالَ هَذَا مِنْ فَضْل رَبِّي " أَيْ هَذَا مِنْ نِعَم اللَّه عَلَيَّ " لِيَبْلُوَنِي " أَيْ لِيَخْتَبِرَنِي " أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُر وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُر لِنَفْسِهِ " كَقَوْلِهِ " مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا " وَكَقَوْلِهِ " وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ " وَقَوْله " وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيّ كَرِيم " أَيْ هُوَ غَنِيّ عَنْ الْعِبَاد وَعِبَادَتهمْ كَرِيم أَيْ كَرِيم فِي نَفْسه فَإِنْ لَمْ يَعْبُدهُ أَحَد فَإِنَّ عَظَمَته لَيْسَتْ مُفْتَقِرَة إِلَى أَحَد وَهَذَا كَمَا قَالَ مُوسَى " إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْض جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّه لَغَنِيّ حَمِيد " وَفِي صَحِيح مُسْلِم " يَقُول اللَّه تَعَالَى : يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلكُمْ وَآخِركُمْ وَإِنْسكُمْ وَجِنّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْب رَجُل مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلكُمْ وَآخِركُمْ وَإِنْسكُمْ وَجِنّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَر قَلْب رَجُل مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّه وَمَنْ وَجَدَ غَيْر ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسه
Berkenaan dengan firman Allah, “Berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari Alkitab” Ibnu Katsir mengatakan sebagai berikut:
Orang itu adalah Ashif seorang juru tulis Nabi Sulaiman. Demikian pula dengan yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn Ishaq dari Yazid ibn Ruman bahwa orang itu adalah Ashif ibn Barkhiya. Dia adalah seorang yang jujur dan mengetahui Al-ismullah Al- A`zhom.
Qatadah berkata, dia adalah seorang mukmin dari golongan manusia, dia bernama Ashif. Demikian pula dengan apa yang dikatakan oleh Abu Shalih, Dlahak dan Qatadah, dia (Ashif) itu dari golongan manusia. Qatadah menambahkan, (tepatnya) dari kaum Bani Israil.
Sedangkan Imam Al- Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya sebagai berikut: Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa orang yang diberikan Al-ism `Al-A`zhom itu adalah Ashif ibn Barkhoya dari kaum Bani Israil, dia adalah seorang yang jujur dan selalu menjaga Ismullah Al-A`zhom yang jika digunakan untuk meminta maka akan diberikan dan jika digunakan untuk berdoa maka akan dikabulkan.
“Sungguh demi Allah, aku tahu dia bukanlah seorang raja dan kita tidak memiliki kemampuan serta tidak kuasa untuk menentangnya sedikitpun. Aku akan mengutus kepadanya untuk mengabarkan bahwa aku akan datang membawa raja-raja kaumku, untuk aku lihat apa perintahnya dan agama apa yang ia serukan kepada kami.”
 
Kemudian dia memerintahkan penjagaan singgasana kerjaan tempat duduknya, lalu dibuatlah 7 buah pertahanan yang saling menyambung dan dikuncinya pintu-pintu tersebut. Lalu ia berkata kepada para pengawal yang yang ditinggal di kerajaannya:
“Jagalah apa yang sudah ada sebelummu dan singgasana kerajaanku. Jangan ada seorang hamba Allah yang mampu lolos menembusnya dan jangan pula ada seorang pun yang melihatnya sampai aku datang.”
 
Lalu sang ratu menuju kerajaan Sulaiman dengan didampingi 12.000 orang. Satu pendapat mengatakan bahwa para raja Yaman berada di bawah kekuasaannya. Pendapat lain mengatakan, lebih dari 12.000 orang, hingga Sulaiman mengutus jin untuk mengawasi mereka, baik di perjalanan maupun di tempat sampainya, sepanjang siang dan malam. Sehingga ketika rombongan itu sudah dekat, Sulaiman mengumpulkan bala tentaranya di kalangan jin dan manusia yang berada di bawah kekuasaannya.
Lalu ia berkata:
"yaa ayyuHal mala-u ayyukum ya’tinii bi’arsyiHaa qabla ay ya’tuunii muslimiiin (“Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”)"
 
Qaala ‘ifritum minal jinni (“Berkata ‘ifrit [yang cerdik] dari golongan jin”) Mujahid berkata, “Yaitu jin pembangkang.” Syu’aib al-Jubba-i berkata: “Namanya adalah Kuzan.” Demikian yang dikatakan oleh Muhammad bin Ishaq, dari Yazid bin Ruman dan dikatakan pula oleh Wahb bin Munabbih.
Sedangkan Abu Shalih berkata, “Dia seakan-akan seperti gunung.”Ana aatiika biHii qabla an taquuma mim maqaamik (“Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari maqammu.”)
Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu sebelum engkau berdiri dari majelismu.” Mujahid berkata, “Yaitu dari tempat dimana ia duduk untuk memberikan keputusan dan hukuman kepada manusia serta untuk makan dari pagi hingga tergelincir matahari.”
 
Wa innii ‘alaiHi laqawiyyun amiin (“Sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya dan dapat dipercaya.”)
Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu kuat untuk membawanya dan dapat dipercaya untuk menjaga perhiasan yang ada di dalamnya.” Lalu Sulaiman as. berkata, “Aku ingin yang lebih cepat dari itu.”
 
Dari sini tampak jelas bahwa Sulaiman ingin mendatangkan singgasana tersebut untuk menujukkan kebesaran kerajaan yang diberikan Allah kepadanya serta bala tentara yang dikuasainya, dimana hal tersebut belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumnya serta tidak ada sesudahnya.Begitu pula hal tersebut menjadi hujjah kenabiannya di hadapan ratu Balqis dan rakyatnya. Karena hal ini merupakan peristiwa yang sangat besar dan luar biasa, dimana ia dapat membawa singgasana sang ratu sebelum mereka datang, padahal semuanya ditutup secara rapat dan terjaga.
 
Ketika Sulaiman berkata, “Aku ingin yang lebih cepat daripada itu.” Qaalal ladzii ‘indaHuu ‘ilmum minal kitaabi (“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu Ashif, sekretaris Sulaiman.” Demikian yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq, dari Yazid bin Ruman bahwa laki-laki itu adalah Ashif bin Barkhiya. Dia adalah orang shiddiq [patuh beragama] yang mengetahui ismun A’zham.
 
Ana aatiika biHii qabla ay yartadda ilaika tharfuka (“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”) yaitu angkat pandanganmu dan lihatlah sepanjang kemampuan pandanganmu, karena engkau tidak akan melelahkan pandanganmu itu kecuali singgasana itu sudah hadir di hadapanmu. Wahb bin Munabbih berkata, “Tutuplah matamu, maka tidak mencapai sekejap pasti aku sudah membawanya kepadamu. Mereka menceritakan bahwa dia diperintahkan untuk memandang Yaman, tempat singgasana yang dicari itu berada, kemudian ia berdiri dan berwudlu’ serta berdoa kepada Allah Ta’ala.”
 
Muhahid berkata, “Dia berdoa: yaa dzal jalaali wal ikraam [wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan.].” az-Zuhri berkata: “Ia berdoa: yaa IlaHanaa wa ilaaHa kullu syai-in ilaaHaw waahidal laa ilaaHa illaa anta i’tunii bi’arsyiHaa (ya Ilah kami dan Ilah segala sesuatu, Ilah yang Esa, tidak ada Ilah kecuali Engkau, datangkanlah kepadaku singgasananya). Dia mencontohkannya di hadapannya.”
 
Mujahid, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ishaq, Zubair bin Muhammad dan selain mereka berkata:
“Tatkala ia berdoa dan meminta kepada Allah untuk didatangkan singgasana Balqis yang berada di Yaman, sedangkan Sulaiman berada di Baitul Maqdis, tiba-tiba singgasana itu hilang menembus bumi, kemudian muncul di hadapan Sulaiman.”‘
 
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata,
“Sulaiman tidak merasakan sesuatu kecuali singgasana itu telah berada di hadapannya.” Dia berkata: “Ini dibawa oleh para hamba [Allah yang ada di] laut.” Ketika Sulaiman dan para pembesarnya menyaksikan hal itu serta melihatnya berada di sisinya, qaala Haadzaa min fadl-li rabbii (“Ia pun berkata, ‘ Ini termasuk karunia Rabb-ku.’”) yaitu ini adalah di antara nikmat-nikmat Allah kepadaku, liyabluwanii; yaitu untuk mengujiku, a asykuru am akfuru wa man syakara fa innamaa yasykuru linafsiHi (“apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk [kebaikan] dirinya sendiri.”
 
Perkataannya: wa man kafara fa inna rabbii ghaniyyun kariim (“dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya dan Mahamulia.”) yaitu Dia Mahakaya terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak membutuhkan peribadahan mereka. dia Mahakarim, yaitu Maha-mulia pada diri-Nya sendiri meskipun tidak ada satu pun yang beribadah kepada-Nya. Karena kebesaran-Nya tidak membutuhkan kepada seseorang pun.
 
Dalam shahih Muslim dijelaskan: “Allah Ta’ala berfirman:
‘Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kamu, manusia maupun jin semuanya bertakwa kepada-Ku seperti orang yang paling bertakwa di antara kamu, maka hal tersebut tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kamu, manusia maupun jin berhati jahat seperti orang paling jahat di antara kamu, maka hal tersebut tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya semua itu adalah perbuatanmu, kemudian Aku akan membalasnya. Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah menyesali kecuali dirinya sendiri.”
 
Semoga Bermanfaat 

Sayyidina 'Ali Pernah Membakar Kaum Zindiq Dan Syi'ah


Dalam setiap dakwah dan argumentasinya, Syiah selalu menisbatkan diri sebagai pecinta Ali dan keturunannya. Pujian berlebihan dialamatkan kepada Khalifah keempat ini. Padahal, Sayyidina Ali mencerca orang yang mengkultuskan dirinya secara berlebihan. Bahkan pernah menghukum kelompok tersebut.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dalam akidah Syiah adalah Imam tertinggi, yang diyakini mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki manusia lain.

Ulama’ Syiah kontemporer, Ibrahim al-Amili, menulis sebuah sya’ir yang menisbatkan Ali r.a dengan sifat-sifat ketuhanan: “Wahai ayah Husein, kau adalah esensi Tuhan dan lambang kekuasaan-Nya yang luhur. Engkau lah yang meliputi segala sesuatu dengan ilmu ghaib. Tidak ada perkara samar dari pengetahuanmu” (Min ‘Aqa’id al-Syiah I/8).

Syiah menilai, beliau bukan sekedar menduduki jabatan politis sebagai Khalifah/Imam pengganti Nabi sallahu ‘alai wa sallam, namun jabatan Imamahnya kata Khomeini menyamai jabatan kenabian (nubuwwah). Maka, siapa saja yang inkar terhadap keimamahannya maka, kaum Syiah menilai sama dengan ingkar dalam mengimani Nabi Saw.

Hampir-hampir antara imamah dan nubuwwah hanya sekedar perbedaan istilah. Dalam konteks kesakralan, Syiah hampir menyamakan keduanya.

Salah satu kitab standar Syiah, Bihar al-Anwar, al-Majlisi pernah berfatwa: “Keyakinan kami (Syiah) terhadap orang yang mengingkari keimaman Ali bin Abi Thalib dan para imam setelah beliau, adalah sama halnya mengingkari kenabian para Nabi”.

Tetapi, akidah ghuluw (ekstrim) tersebut tidak pernah diajarkan oleh Imam Ali r.a. Justru sebaliknya Ali mengecam keras orang-orang yang mengkultuskan di luar batas kewajaran itu.

Sayyidina Ali menganjurkan untuk mencintai Ahlul Bait. Tapi cinta yang dikehendaki beliau adalah cinta yang proporsional, tidak ekstrim. Ali memang memiliki keistimewaan. Tapi harusnya penghormatan pada beliau tidak sampai melampaui kenabian apalagi ketuhanan. Beliau sahabat istimewa, namun Ali tetap manusia biasa.

Telah masyhur kisah ‘Aliy bin Abi Thaalib  radliyallaahu ‘anhu yang membakar satu kaum Atheis/zindiq yang memberhalakan dirinya. Tercantum baik dalam kitab-kitab hadits maupun sejarah.

عن عكرمة : أن عليا رضي الله عنه حرق قوما، فبلغ ابن عباس فقال: لو كنت أنا لم أحرقهم، لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (لا تعذبوا بعذاب الله). ولقتلتهم، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: (من بدل دينة فاقتلوه).

Dari ‘Ikrimah : Bahwasannya ‘Aliy radliyallaahu ‘anhupernah membakar satu kaum. Sampailah berita itu kepada Ibnu ‘Abbas, lalu ia berkata : “Seandainya itu terjadi padaku, niscaya aku tidak akan membakar mereka, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Janganlah menyiksa dengan siksaan Allah’. Dan niscaya aku juga akan bunuh mereka sebagaimana disabdakan oleh Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 3017].

Dalam riwayat At-Tirmidziy disebutkan :
فبلغ ذلك عليا فقال صدق بن عباس

“Maka sampailah perkataan itu pada ‘Aliy, dan ia berkata : ‘Benarlah Ibnu ‘Abbas” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1458; shahih].

Diriwayatkan pula oleh Asy-Syafi’iy 2/86-87, ‘Abdurrazzaaq no. 9413 & 18706, Al-Humaidiy no. 543, Ibnu Abi Syaibah 10/139 & 12/262 & 14/270, Ahmad 1/217 & 219 & 282, Abu Dawud no. 4351, Ibnu Maajah no. 2535, An-Nasaa’iy 7/104, Ibnul-Jaarud no. 843, Abu Ya’laa no. 2532, Ibnu Hibbaan no. 4476, dan yang lainnya.

Sebagian orang yang bukan ahlinya dalam ilmu hadits mendla’ifkan riwayat ini karena anggapan adanya keterputusan antara ‘Ikrimah dengan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Abu Zur’ah mengatakan bahwa riwayat ‘Ikrimah dari ‘Aliy adalah mursal [lihat Jaami’ut-Tahshiil fii Ahkaamil-Maraasil oleh Al-‘Alaaiy, hal. 239 no. 532,  Maktabah ‘Aaalamil-Kutub, Cet. 2/1403].

Tentu saja anggapan itu keliru, karena ‘Ikrimah menerima khabar tersebut dari Ibnu ‘Abbaas, bukan dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum ajma’iin. Para Pembaca budiman bisa secara mudah melihat dhahir lafadh hadits yang dibawakan ‘Ikrimah di atas. Dan mari kita perhatikan lafadh riwayat berikut :
أخبرنا بن عيينة عن أيوب بن أبي تميمة عن عكرمة قال لما بلغ بن عباس أن عليا رضى الله تعالى عنه حرق المرتدين والزنادقة قال لو كنت أنا لم أحرقهم ولقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدل دينه فاقتلوه ولم أحرقهم لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم لا ينبغي لأحد أن يعذب بعذاب الله

Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari Ayyuub bin Abi Tamiimah, dari ‘Ikrimah, ia berkata : “Ketika sampai khabar kepada Ibnu ‘Abbaas bahwa ‘Aliy radliyallaahu ta’alaa ‘anhu telah membakar orang-orang murtad dan zindiq, ia berkata : “Seandainya itu terjadi padaku, niscaya aku tidak akan membakar mereka. Dan niscaya aku akan bunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia”. Aku tidak membakar mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak boleh bagi seorang pun mengadzab/menyiksa dengan siksaan Allah (yaitu api)”[Diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad no. 1616, tahqiq : Dr. Maahir bin Yaasin Al-Fahl; Cet. 1/1425. Dari jalan Asy-Syaafi’iy ini, diriwayatkan pula oleh Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 10/238 no. 2561 dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 8/195 & Al-Ma’rifah no. 5018].

Atau dalam bentuk lafadh lain :

حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ ذَكَرَ نَاسًا أَحْرَقَهُمْ عَلِيٌّ، فَقَالَ: لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أَحْرِقْهُمْ بِالنَّارِ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ "، وَلَوْ كُنْتُ أَنَا لَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ، فَاقْتُلُوهُ "

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari Ayyuub, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas, bahwasannya ia (Ibnu ‘Abbaas) menyebutkan orang-orang yang dibakar ‘Aliy, maka ia berkata : “Seandainya itu terjadi padaku, niscaya aku tidak akan membakar mereka dengan api, karena larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :‘Janganlah menyiksa dengan siksaan Allah’. Dan niscaya aku juga akan bunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 7/655].

Dapat kita lihat dalam tiga bentuk lafadh ini bahwa ‘Ikrimah itu kemungkinan besar mendapatkan riwayat tentang pembakaran yang dilakukan ‘Aliy dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhum.

Hadits ini mempunyai penguat di antaranya :

1.    Hadits Anas radliyallaahu ‘anhu :

أخبرنا محمد بن المثنى قال: حدثنا عبد الصمد قال: حدثنا هشام عن قتادة، عن أنس : أن عليا أتي بناس من الزط يعبدون وثنا فأحرقهم قال ابن عباس: إنما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من بدل دينه فاقتلوه.

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdush-Shamad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Qataadah, dari Anas : Bahwasannya dihadapkan kepada ‘Aliy orang dari Az-Zuth yang menyembah berhala. Kemudian ia (‘Aliy) membakar mereka. Ibnu ‘Abbaas berkata : “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia" [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 4076; shahih - Lihat Shahih Sunan An-Nasaa’iy 3/92; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1419 dan Irwaa’ul-Ghaliil 8/124-125 no. 2471; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 1/1399. Namun di sini terdapat Qataadah yang membawakan riwayat dengan ‘an’anah, sedangkan ia seorang mudallis].

2.    Hadits Suwaid rahimahullah :

حدثنا أبو بكر بن عياش عن أبي حصين عن سويد بن غفلة أن عليا حرق زنادقة بالسوق ، فلما رمى عليهم بالنار قال : صدق الله ورسوله ، ثم انصرف فاتبعته ، فالتفت إلي قال : سويد ؟ قلت ، نعم ، فقلت : يا أمير المؤمنين سمعتك تقول شيئا ؟ فقال : يا سويد ! إني بقوم جهال ، فإذا سمعتني أقول : " قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " فهو حق

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy, dari Abu Hushain, dari Suwaid bin Ghafalah : Bahwasannya ‘Aliy pernah membakar orang-orang zindiq di pasar. Ketika ia membakarnya, ia berkata : “Allah dan Rasul-Nya benar”. Kemudian ia berpaling dan akupun mengikutinya. Ia menengok kepadaku dan berkata : “Suwaid ?”. Aku berkata : “Benar”. Aku lalu berkata : “Wahai Amiirul-Mukminiin, aku telah mendengarmu mengatakan sesuatu”.’Aliy berkata : “Wahai Suwaid, sesungguhnya aku tinggal bersama kaum yang bodoh. Jika engkau mendengarku mengatakan : ‘Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka itu benar” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 10/141 & 12/391-392; sanadnya hasan].

Ibnu Abi Syaibah dalam periwayatannya dari Abu Bakr bin ‘Ayyaasy mempunyai mutaba’ah dari Khalaad bin Aslaam sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 570, Yahyaa bin ‘Abdil-Hamiid sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah no. 384, dan Asy-Syaafi’iy sebagaimana dalam Al-Umm 7/200. Oleh karena itu, riwayat ini menjadi shahih.

3.    Hadits ‘Ubaid bin Nisthaas rahimahullah.
حدثنا عبد الرحيم بن سليمان عن عبد الرحمن بن عبيد عن أبيه قال : كان أناس يأخذون العطاء والرزق ويصلون مع الناس ، وكانوا يعبدون الاصنام في السر ، فأتى بهم علي بن أبي طالب فوضعهم في المسجد ، أو قال : في السجن ، ثم قال : يا أيها الناس ! ما ترون في قوم كانوا يأخذون معكم العطاء والرزق ويعبدون هذه الاصنام ؟ قال الناس : اقتلهم ، قال : لا ، ولكن أصنع بهم كما صنعوا بأبينا إبراهيم ، فحرقهم بالنار

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Sulaimaan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Ubaid, dari ayahnya, ia berkata : “Ada sekelompok orang yang mengambil bagian harta dari baitul-maal, shalat bersama orang-orang lainnya, namun mereka menyembah berhala secara diam-diam. Maka didatangkanlah mereka ke hadapan ‘Aliy bin Abi Thaalib, lalu menempatkan mereka di masjid – atau di penjara – . ‘Aliy berkata : ‘Wahai sekalian manusia, apa pendapat kalian tentang satu kaum yang mengambil bagian harta dari baitul-maal bersama kalian, namun mereka menyembah berhala-berhala ini ?’. Orang-orang berkata : ‘Bunuhlah mereka !’. ‘Aliy berkata : ‘Tidak, akan tetapi aku melakukan sesuatu kepada mereka sebagaimana mereka dulu (yaitu para penyembah berhala) melakukannya kepada ayah kita Ibraahiim’.  Lalu ia membakar mereka dengan api” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 10/142 & 12/392; sanadnya shahih].

4.    Hadits Qabiishah bin Jaabir rahimahullah.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا قَيْسُ بْنُ الرَّبِيعِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو حَصِينٍ، عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ جَابِرٍ، قَالَ: " أُتِيَ عَلِيٌّ بِزَنَادِقَةٍ فَقَتَلَهُمْ ثُمَّ حَفَرَ لَهُمْ حُفْرَتَيْنِ فَأَحْرَقَهُمْ فِيهَا "

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ja’d, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Qais bin Ar-Rabii’, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Hushain, dari Qabiishah bin Jaabir, ia berkata : “Didatangkan kaum Zanadiqah kepada ‘Aliy, lalu ia membunuhnya. Kemudian ia menggali dua buah lubang/parit, dan ‘Aliy pun membakar mereka di dalamnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunyaa dalam Al-Isyraaf fii Manaazilil-Asyraaf no. 270, dla’iif].

5.    Hadits Al-Husain bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa.

عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، " أَنَّهُ حَرَقَ زَنَادِقَةً مِنَ السَّوَادِ بِالنَّارِ "

Dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia membakar orang-orang Zanaadiqah berkulit hitam dengan api” [Diriwayatkan oleh Zaid bin ‘Aliy dalam Musnad-nya 1/303; shahih].

Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata :

وزعم أبو المظفر الاسفرايني في الملل والنحل إن الذين أحرقهم علي طائفة من الروافض ادعوا فيه الألاهية وهم السبائية وكان كبيرهم عبد الله بن سبأ يهوديا ثم أظهر الإسلام وابتدع هذه المقالة وهذا يمكن أن يكون أصله ما رويناه في الجزء الثالث من حديث أبي طاهر المخلص من طريق عبد الله بن شريك العامري عن أبيه قال قيل لعلي أن هنا قوما على باب المسجد يدعون أنك ربهم فدعاهم فقال لهم ويلكم ما تقولون قالوا أنت ربنا وخالقنا ورازقنا فقال ويلكم انما أنا عبد مثلكم أكل الطعام كما تأكلون وأشرب كما تشربون إن أطعت الله أثابني إن شاء وإن عصيته خشيت أن يعذبني فأتقوا الله وأرجعوا فأبوا فلما كان الغد غدوا عليه فجاء قنبر فقال قد والله رجعوا يقولون ذلك الكلام فقال ادخلهم فقالوا كذلك فلما كان الثالث قال لئن قلتم ذلك لأقتلنكم بأخبث قتلة فأبوا إلا ذلك فقال يا قنبر ائتني بفعلة معهم مرورهم فخد لهم أخدودا بين باب المسجد والقصر وقال أحفروا فابعدوا في الأرض وجاء بالحطب فطرحه بالنار في الأخدود وقال اني طارحكم فيها أو ترجعوا فأبوا أن يرجعوا فقذف بهم فيها حتى إذا احترقوا قال اني إذا رأيت أمرا منكرا أوقدت ناري ودعوت قنبرا وهذا سند حسن

“Abul-Mudhaffar Al-Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh ’Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yang mengklaim sifat ketuhanan pada diri ’Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah ’Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thaahir Al-Mukhlish dari jalan ’Abdullah bin Syariik Al-’Aamiriy, dari ayahnya ia berkata : Dikatakan kepada ’Ali : ’Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah Rabb mereka’. Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka : ’Celaka kalian, apa yang kalian katakan ?’. Mereka menjawab : ’Engkau adalah Rabb kami’., pencipta kami, dan pemberi rizki kami’. ’Aliy berkata : ’Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat, maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan kemballah’. Tetapi mereka tetap enggan.

Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada ’Ali, kemudian datanglah Qanbar dan berkata,’Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu’. ’Ali pun berkata,’Masukkan mereka kemari’. Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga. Ketiga hari ketiga, beliau berkata,’Jika kalian masih mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk’. Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka ’Ali berkata,’Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana’. Beliau juga berkata,’Galilah dan dalamkanlah galiannya’.

Kemudian ia memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut. Ia berkata,’Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah)’. Maka ’Aliy melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, ia pun berkata :

Ketika aku melihat perkara yang munkar

Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar

Ini adalah sanad yang hasan” [Fathul-Baari, 12/270].

Ibnu Hajar berkata saat menjelaskan biografi Ibnu Saba’ :

قال بن عساكر في تاريخه كان أصله من اليمن وكان يهوديا فأظهر الإسلام وطاف بلاد المسلمين ليلفتهم عن طاعة الأئمة ويدخل بينهم الشر ودخل دمشق لذلك ثم أخرج من طريق سيف بن عمر التميمي في الفتوح له قصة طويلة لا يصح إسنادها ومن طريق بن أبي خيثمة حدثنا محمد بن عباد ثنا سفيان عن عمار الدهني سمعت أبا الطفيل يقول رأيت المسيب بن نجبة أتى به دخل على المنبر فقال ما شأنه فقال يكذب على الله وعلى رسوله حدثنا عمرو بن مروزق حدثنا شعبة عن سلمة بن كهيل عن زيد بن وهب قال قال علي رضى الله تعالى عنه ما لي ولهذا الخبيث الأسود يعني عبد الله بن سبأ كان يقع في أبي بكر وعمر رضى الله تعالى عنهما ومن طريق محمد بن عثمان بن أبي شيبة ثنا محمد بن العلاء ثنا أبو بكر بن عياش عن مجالد عن الشعبي قال أول من كذب عبد الله بن سبأ وقال أبو يعلى الموصلي في مسنده ثنا أبو كريب ثنا محمد بن الحسن الأسدي ثنا هارون بن صالح عن الحارث بن عبد الرحمن عن أبي الجلاس سمعت عليا يقول لعبد الله بن سبأ والله ما أفضى إلي بشيء كتمه أحدا من الناس ولقد سمعت يقول إن بين يدي الساعة ثلاثين كذابا وإنك لأحدهم وقال أبو إسحاق الفزاري عن شعبة عن سلمة بن كهيل عن أبي الزعراء عن زيد بن وهب أن سويد بن غفلة دخل على علي في غمارته فقال إني مررت بنفر يذكرون أبا بكر وعمر يرون أنك تضمر لهما مثل ذلك منهم عبد الله بن سبأ وكان عبد الله أول من أظهر ذلك فقال علي ما لي ولهذا الخبيث الأسود ثم قال معاذ الله أن أضمر لهما إلا الحسن الجميل ثم أرسل إلى عبد الله بن سبأ فسيره إلى المدائن وقال لا يساكنني في بلدة أبدا ثم نهض إلى المنبر حتى اجتمع الناس فذكر القصة في ثنائه عليهما بطوله وفي آخره إلا ولا يبلغني عن أحد يفضلني عليهما إلا جلدته حد المفتري وأخبار عبد الله بن سبأ شهيرة في التواريخ وليس له رواية ولله الحمد وله أتباع يقال لهم السبائية معتقدون الأهية على بن أبي طالب وقد أحرقهم علي بالنار في خلافته

”Ibnu ’Asakir berkata dalam Tarikh-nya : ’Asalnya dari Yaman, dulunya dia seorang Yahudi kemudian dia menampakkan kesialaman. Kemudian dia berkeliling ke negeri-negeri muslimin untuk memalingkan mereka dari ketaatan kepada penguasa dan menyusupkan keburukan di tengah-tengah mereka. Dia memasuki kota Damaskus untuk tujuan tadi pada masa ’Utsman’.

Kemudian ia (Ibnu ’Asakir) meriwayatkan dari jalan Saif bin ’Umar At-Tamimi dalam Al-Futuh dengan kisah yang panjang, tetapi sanadnya tidak benar. Juga dari jalan Ibnu Abi Khaitsamah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ’Abbaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ’Ammar Ad-Duhni, ia mengatakan : Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata : Aku melihat Al-Musayyib bin Najbah datang menyeretnya (yaitu Ibnu Saba’), sementara ’Aliy sedang berada di atas mimbar. Lantas ia (’Aliy) berkata : ’Ada apa dengannya ?’. Al-Musayyib berkata : ’Dia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya’.

Ibnu ’Asaakir juga berkata : Telah menceritakan kepada kami ’’Amru bin Marzuuq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, ia berkata : ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ta’ala ’anhu berkata : ’Apa urusanku dengan al-hamil yang hitam ini – yaitu ’Abdullah bin Saba’ - ?. Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar radliyalaahu ta’ala ’anhuma'.

Dari jalan Muhammad bin ’Utsmaan bin Abi Syaibah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-’Allaa’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ayyaasy, dari Mujaalid, dari Asy-Sya’bi, ia berkata : ’Orang pertama yang berbuat kedustaan adalah ’Abdullah bin Saba’.

Abu Ya’laa Al-Muushiliy berkata dalam Musnad-nya : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Asadiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Shaalih, dari Al-Haarits bin ’Abdirrahman, dari Abul-Jalas, ia berkata : Aku mendengar ’Ali berkata kepada ’Abdullah bin Saba’ :

’Demi Allah, beliau tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatupun yang beliau sembunyikan dari manusia. Benar-benar aku mendengar beliau bersabda : Sesungguhnya sebelum terjadinya kiamat ada tiga puluh pendusta’; dan engkau adalah salah satu dari mereka’.

Abu Ishaq Al-Fazaariy berkata : Dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’raa’, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya Suwaid bin Ghafalah masuk menemui ’Ali radliyallaahu ’anhu di masa kepemimpinannya. Lantas ia berkata : ’Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakr dan ’Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu’. Lantas ’Aliy berkata : ’Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan’. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Ia juga berkata : ’Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya’. Kemudian ia bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas ia menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua (Abu Bakar dan ’Umar), dan akhirnya ia berkata : ’Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta’.

Berita tentang ’Abdullah bin Saba’ ini sangatlah masyhur dalam buku-buku sejarah dan dia tidak mempunyai satu riwayat hadits pun,  walhamdulillah. Dia mempunyai pengikut yang dikenal dengan Saba’iyyah yang meyakini sifat ketuhanan ’Aliy bin Abi Thalib dan ’Aliy telah membakarnya dengan api pada masa kekhalifahannya” [Lisaanul-Miizaan, 4/483-485 no. 4253, tahqiq : ’Abdul-Fattaah Abu Ghuddah; Maktabah Al-Mathbuu’aat Al-Islaamiyyah, Cet. 1/1424].

Ada lagi syubhat lain yang mengatakan bahwa dalam riwayat Al-Humaidiy [Al-Musnad, 1/461 no. 543, tahqiq : Husain Saliim Asad] terdapat perkataan ‘Ammaar Ad-Duhniy yng menegaskan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu tidak membakar kaum penyembah berhala dan atheis itu (yaitu Saba’iyyah).

Dan diriwayatkan bahwa Ammar Ad Duhni berkata kalau Imam Ali tidak membakar mereka hanya membuat lubang lalu memasukkan mereka ke dalamnya dan mengalirkan asap ke lubang tersebut kemudian membunuh mereka [Musnad Al Humaidi 1/244 no 533]. Ammar Ad Duhni adalah tabiin kufah yang otomatis menyaksikan persitiwa tersebut sehingga kesaksiannya patut diambil dan melalui penjelasannya Imam Ali tidak membakar kaum murtad yang dimaksud. Wallahu’alam.

‘Ammaar Ad-Duhniy termasuk tingkatan shighaarut-taabi’iin yang meninggal pada tahun 133 H. Adapun ‘Aliy adalah shahabat pada thabaqah yang pertama, meninggal pada tahun 40 H. Lantas bagaimana bisa dipastikan bahwa ‘Ammaar menyaksikan peristiwa tersebut ? Alih-alih menyaksikan peristiwa, kepastian ‘Ammaar pernah bertemu/melihat dengan ‘Aliy bin Abi Thaalib saja masih menjadi pertanyaan besar. Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal (21/208-209) dan juga Ibnu Hajar dalam Tahdziibut-Tahdzib (7/406) tidak menyebutkan ‘Aliy bin Abi Thaalib sebagai syaikh dari ‘Ammaar Ad-Duhniy.

Apakah jenis kesaksian seperti ini bisa dianggap/dipertimbangkan ? Ibnu Hajar setelah menyebutkan riwayat Al-Humaidiy dan Ismaa’iiliy dari Sufyaan yang menyebutkan mudzkarah antara ‘Amru bin Diinaar, Ayyuub, dan ‘Ammaar Ad-Duhniy – dan juga perkataan Ad-Duhniy di atas - , menjelaskan bahwa ‘Amru bin Diinaar menyanggah perkataan Ad-Duhniy dengan hadits dan syi’ir [lihat Fathul-Baariy, 6/151]. Tentu saja perkataan ‘Amru bin Diinaar lebih patut untuk diambil karena berkesesuaian dengan dalil daripada perkataan ‘Ammaar Ad-Duhniy rahimahumallaah.

Ada syubhat terakhir yang mengatakan :

Jika kita menerima kedua perkataan ini maka yang dimaksud oleh Imam Ali dengan “benarlah Ibnu Abbas” adalah membenarkan hadis yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW bahwa tidak boleh menyiksa dengan siksaan Allah SWT dan orang murtad cukup dibunuh saja karena Beliau Imam Ali juga mengetahui hadis tersebut. Dan yang dimaksud dengan perkataan “kasihan Ibnu Abbas” adalah Imam Ali mengasihani Ibnu Abbas yang terlalu mudah mempercayai apa saja yang disampaikan kepadanya.

Riwayat yang dimaksudkan adalah :

حدثنا أحمد بن محمد بن حنبل، ثنا إسماعيل بن إبراهيم، أخبرنا أيوب، عن عكرمة : أن عليّاً عليه السلام أحرق ناساً ارتدُّوا عن الإِسلام، فبلغ ذلك ابن عباس فقال: لم أكن لأحرقهم بالنار، إن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم قال: "لاتعذبوا بعذاب اللّه" وكنت قاتلهم بقول رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم، فإِن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم قال: " من بدل دينه فاقتلوه" فبلغ ذلك عليّا عليه السلام، فقال: ويح ابن عباس.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim : Telah mengkhabarkan kepada kami Ayyuub, dari ‘Ikrimah : Bahwasannya ‘Aliy ‘alaihis-salaam pernah membakar orang-orang yang murtad dari Islam. Lalu sampailah berita itu kepada Ibnu ‘Abbaas hingga ia berkata : "Sungguh, aku tidak akan membakar mereka dengan api. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam  bersabda : ‘Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah’. Dan aku memerangi mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallambersabda : ‘Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah ia’. Maka sampailah perkataan itu pada ‘Aliy, dan ia berkata : ‘Waiha Ibna ‘Abbaas’ [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4351].

Apa makna waiha Ibn ‘Abbaas (وَيْحَ ابْنِ عَبَّاسٍ) ? Kata وَيحٌdalam bahasa ‘Arab bisa bermakna iba, kasih sayang, kecelakaan, pujian, atau kaguman;  tergantung konteks kalimatnya. Di sini – sesuai konteks kalimatnya – kata tersebut bermakna pujian, kekaguman, dan sekaligus pembenaran, sebab kata وَيحٌ telah dijelaskan dalam riwayat yang dibawakan oleh At-Tirmidziy dengan : صَدَقَ ابْنُ عَبَّاسٍ (‘Benarlah Ibnu ‘Abbas’). Oleh karena itu, antara riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidziy ini bukan riwayat yang bertolak belakang, namun saling menjelaskan satu dengan yang lainnya [lihat An-Nihaayah fii Ghariibil-Hadiits oleh Ibnul-Atsiir, hal. 993, taqdim : Aliy Al-Halabiy, Daar Ibnil-Jauziy, Cet. 1/1421; Al-Mu’jamul-Wasiith hal. 1061, Maktabah Asy-Syuruuq Ad-Dauliyyah, Cet. 4/1425; dan Lisaanul-‘Arab oleh Ibnul-Mandhur, hal. 4937-4938, Daarul-Ma’aarif].

Kalaupun misal kata ini dibawa kepada makna iba atau kasih sayang, maka ini tidak  ‘nyambung’ dengan makna penerjemahan si penebar syubhat di atas. Dalam bahasa Arab, makna tarahhum atau tawajju’ ini diberikan kepada orang yang meninggal atau tertimpa musibah. Intinya,syubhat di atas muncul karena ketidakpahaman dalam bahasa ‘Arab.

Perlu diketahui bahwa peristiwa pembakaran ini pun juga disitir dalam beberapa referensi kitab-kitab Syi’ah.

Masih ada beberapa keterangan lain dalam buku hadits, biografi, atau sejarah yang tidak ditampilkan di sini. Semuanya menunjukkan satu keterangan yang pasti bahwa ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu memang pernah membakar orang-orang zindiq di masa kekhalifahannya. Membantah satu kenyataan dan kebenaran tidaklah menghasilkan apa-apa kecuali kepayahan dan kepenatan.

Di sini mengandung satu pelajaran berharga bagi kita bahwa di kalangan shahabat itu ada yang lebih, ada pula yang kurang dalam hal ilmu. Ada di antara mereka yang punya satu ilmu yang tidak dimiliki shahabat lain. Tidaklah ada satu shahabat pun yang memiliki semua perbendaharaan ilmu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak terkecuali dalam hal ini ‘Aliy bin Abi Thaalibradliyallaahu ‘anhu. Dalam satu atau beberapa hal, ada ilmu yang tidak diketahuinya yang itu berada di tangan shahabat lainnya, sehingga menyebabkan ijtihadnya keliru.

‘Aliy bin Abi Thaalib bukanlah sosok ma’shum yang semua pendapat, perkataan, atau perbuatannya diterima dan tidak salah. Dalam riwayat hadiitsul-ifk, ‘Aliy dan Usaamah pernah dimintai pendapat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang permasalahan yang sedang beliau hadapi terkait dengan ‘Aaisyah. Usaamah memberikan pendapat agar beliau mempertahankan ‘Aaisyah, sedangkan ‘Aliy berpendapat sebaliknya.

Dalam sebuah hadits yang panjang, ‘Aisyah menceritakan :
وَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ حِينَ اسْتَلْبَثَ الْوَحْيُ يَسْتَشِيرُهُمَا فِي فِرَاقِ أَهْلِهِ قَالَتْ فَأَمَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ فَأَشَارَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالَّذِي يَعْلَمُ مِنْ بَرَاءَةِ أَهْلِهِ وَبِالَّذِي يَعْلَمُ فِي نَفْسِهِ لَهُمْ مِنْ الْوُدِّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُمْ أَهْلُكَ وَلَا نَعْلَمُ إِلَّا خَيْرًا وَأَمَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لَمْ يُضَيِّقْ اللَّهُ عَلَيْكَ وَالنِّسَاءُ سِوَاهَا كَثِيرٌ وَإِنْ تَسْأَلْ الْجَارِيَةَ تَصْدُقْكَ قَالَتْ فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِيرَةَ فَقَالَ أَيْ بَرِيرَةُ هَلْ رَأَيْتِ مِنْ شَيْءٍ يَرِيبُكِ مِنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَهُ بَرِيرَةُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنْ رَأَيْتُ عَلَيْهَا أَمْرًا قَطُّ أَغْمِصُهُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ أَنَّهَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ تَنَامُ عَنْ عَجِينِ أَهْلِهَا فَتَأْتِي الدَّاجِنُ فَتَأْكُلُهُ

“Dan, ketika itu Rasulullah shallaallaahu 'alaihi wa sallam memanggil ‘Aliy bin Abi Thaalib dan Usaamah bin Zaid untuk mengajak keduanya bermusyawarah dalam rangka memisahkan (menceraikan) isterinya selama wahyu belum turun. Adapun Usaamah bin Zaid, ia menunjuki kepada Rasulullah shallaallaahu 'alaihi wa sallam dengan apa yang ia ketahui akan jauhnya istri beliau dari perbuatan tersebut dan dengan apa yang ia ketahui tentang kecintaannya kepada beliau. Usaamah berkata : 'Wahai Rasulullah, mereka adalah isteri-isterimu, kami tidak mengetahui kecuali kebaikan'. Adapun ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata : ‘Allah 'azza wa jalla tidak akan memberi kesempitan kepadamu. Masih banyak wanita-wanita lain selain dirinya. Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada budakmu, pasti dia akan jujur". Aisyah berkata : "Kemudian Rasulullahshallaallaahu 'alaihi wa sallam memanggil Bariarah. Beliau bertanya : "Wahai Bariirah, apakah engkau melihat ada sesuatu yang meragukan bagimu dari diri ‘Aaisyah?". Bariirah menjawab : ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak melihat pada dirinya suatu yang kurang selain tak lebih saat ia masih kecil umurnya, ia ketiduran dari menunggu adonan tepung di keluarganya lantas ada binatang jinak yang memakan tepung itu" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2770. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhaariy dalam beberapa tempat dalam Shahih-nya].

Ternyata beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah mempertimbangkannya lebih memilih pendapat Usaamah yang akhirnya Allah ta’ala menurunkan wahyu untuk membebaskan ‘Aaisyah dari segala macam tuduhan. Dapat kita lihat bahwa pendapat/pertimbangan yang diberikan Usaamah bin Zaid kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih tepat dibandingkan Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhumaa.

Banyak sebenarnya contoh yang dapat diberikan dari perkara-perkara yang semisal. Namun kita – Ahlus-Sunnah – bukanlah orang yang gemar mensensus kekeliruan para shahabat dan menyebarkannya. Jika bukan karena ghulluw yang dilakukan orang-orang Syi’ah terhadap ‘Aliy bin Abi Thaalib dan sebagian keturunannya, niscaya kita tidak berhajat untuk menuliskannya di sini.